The Art of Sensible Investing

Bayangkanlah sebuah dunia di mana bursa saham hanya memperkenankan kita untuk membeli saham dan tidak diperbolehkan menjualnya. Anda tentu mengatakan hal tersebut tidak masuk akal karena jika kita membeli saham pastilah ada pihak yang menjualnya. Untuk kali ini, anggaplah kenyataannya adalah seperti itu.

Apa yang Anda hadapi setelah membeli saham sebuah emiten? Anda tidak bisa mengharapkan untuk mendapatkan capital gain dari kenaikan harga sahamnya. Anda akan menghadapi kenyataan sesungguhnya bahwa ketika membeli saham suatu perusahaan, Anda telah membeli bisnisnya.

Let’s talk about business!

Sebenarnya hal tersebut mirip dengan apa yang terjadi ketika kita berinvestasi pada sebuah perusahaan tertutup yang sahamnya tidak dijual di bursa saham atau manakala kita membeli sebuah franchise.

Apakah karena kita tidak bisa menjual sahamnya kembali di bursa, bisnisnya juga ikut berhenti? Tidak. Perusahaan tersebut tetap menjalankan bisnisnya tidak perduli apakah sahamnya bisa diperjualbelikan secara bebas di bursa atau tidak. Perusahaan tersebut tetap berekspansi dan mencari peluang-peluang baru untuk menumbuhkan bisnisnya. Setiap tahunnya perusahaan tetap melaporkan pada Anda mengenai kondisi keuangannya, termasuk juga berapa laba yang diperoleh. Sebagian dari laba yang diperoleh akan dipergunakan untuk membiayai operasional bisnis dan ekspansi sementara sisanya akan dibagikan sebagai dividen yang merupakan imbal hasil kita sebagai pemegang sahamnya.
Dividen, sebuah kata yang seringkali terlupakan manakala kita terlalu fokus dalam mengejar capital gain dan tidak menyadari bahwa dividenlah imbal hasil sebenarnya dari sebuah bisnis.

Katakanlah Anda membeli saham tersebut di harga 2.000 rupiah sementara laba per lembar yang dihasilkan adalah 160 rupiah. Keuntungan per tahun dari modal yang sudah kita tanamkan adalah 8% (160 / 2000). Dengan kata lain, P/E ratio saham tersebut adalah 12.5x. Apakah sudah selesai sampai di situ? Belum. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak seluruh keuntungan dibagikan ke pemegang saham. Ada laba yang ditahan dan dipergunakan untuk membiayai operasional perusahaan serta ekspansi. Katakanlah perusahaan tersebut membagikan 40% labanya sebagai dividen dan sisanya ditahan. Itu artinya bagian keuntungan usaha yang kita peroleh adalah 64 rupiah (40% x 160 rupiah) per lembar saham yang kita miliki. Jumlah dividen dibagi dengan harga pembelian saham kita ini disebut dengan dividend yield dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Untuk kasus perusahaan dalam cerita ini, dividend yield-nya adalah 3.2% (64 / 2000).

Jika kita terbiasa mengharapkan capital gain yang cukup tinggi dari saham, imbal hasil 3.2% per tahun sepertinya terlihat sangat kecil. Sebagai informasi, imbal hasil per tahun rata-rata IHSG adalah 20% atau sepuluh kali lipat dari dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam cerita ini. Bahkan jika dibandingkan dengan imbal hasil sukuk sebesar 8.75% per tahun pun dividend yield-nya jauh lebih kecil.

Apakah ceritanya berhenti sampai di situ? Belum.

Masih ingatkah sebagian laba yang ditahan oleh perusahaan dan dipergunakan untuk mengembangkan bisnisnya? Dengan menggunakan laba yang ditahan tersebut, perusahaan membangun pabrik baru dan membuka wilayah pemasaran baru. Sebagai akibatnya, penjualan perusahaan pun meningkat dan demikian juga dengan labanya. Sebagai hasil dari ekspansi, laba perusahaan tumbuh 15% setiap tahunnya. Dalam cerita ini, pada tahun setelahnya labanya naik 15% dari 160 rupiah menjadi 184 rupiah per lembarnya. Seperti tahun sebelumnya, 40% laba yang diperoleh dibagikan sebagai dividen dan Anda sebagai pemegang saham menerima 74 rupiah per lembarnya.
Jika perusahaan terus tumbuh seperti itu, dividen yang Anda terima akan terus meningkat sebesar 15% setiap tahunnya.

dividend_growth
Dalam 5 tahun, dividen yang Anda terima adalah 112 rupiah per lembar. Jumlah itu mengalami peningkatan sebesar 75% dari jumlah dividen yang Anda terima pada tahun pertama sebesar 64 rupiah per lembar. Jika dibandingkan dengan harga pembelian sahamnya yaitu 2,000 rupiah per lembar, Anda mendapatkan keuntungan sebesar 5.6%.
Sebagai gambaran jika modal yang Anda tanamkan adalah 100 juta rupiah, pada tahun pertama Anda akan mendapatkan dividen 3.2 juta rupiah. Pada tahun kelima, Anda akan mendapatkan dividen sebesar 5.6 juta rupiah.

Sampai pada titik ini mungkin Anda akan berkata, “Yah, masih kecil juga. Masa Cuma dapat 5.6% per tahun? Mendingan beli sukuk.”

Apa yang Anda pikirkan benar. Oleh karena itu, mari kita maju selangkah lagi.

Saya Mau Beli Murah

Bagaimana jika ternyata Anda bisa membeli saham tersebut dengan harga hanya 1,000 rupiah per lembar? (jika sudah terbiasa dengan dunia saham, hal tersebut sangat mungkin terjadi).

Karena Anda membeli dengan harga 50% lebih murah, otomatis jumlah lembar saham yang Anda dapatkan lebih banyak dan yang menarik, dividen yang Anda terima per lembar sahamnya tetap sama berapapun harga yang Anda bayarkan untuk membeli sahamnya. Dividend yield pada tahun pertama melonjak menjadi 6.4% (dua kali lipat) dan pada tahun kelima menjadi 11.2%. Dengan modal 100 juta rupiah, pada tahun pertama Anda akan mendapatkan dividen sebesar 6.4 juta rupiah dan pada tahun kelima Anda akan mendapatkan dividen sebesar 11.2 juta rupiah.
Kali ini, pada tahun kelima imbal hasil yang Anda dapatkan telah melebihi imbal hasil sukuk yang hanya 8.75%. Bahkan pada tahun kesepuluh, dividen yang Anda terima akan menjadi 22.5% dari investasi Anda semula. Nilai tersebut bahkan melebihi imbal hasil rata-rata IHSG.

Terlihat bahwa dividen mampu untuk memberikan imbal hasil investasi yang cukup bagus. Dan hal tersebut dicapai tanpa harus memperhatikan pergerakan sahamnya dari waktu ke waktu karena pada dunia tersebut tidak ada istilah capital gain.

Sekarang marilah kita kembali ke dunia nyata. Bursa saham yang ada adalah bursa yang normal di mana kita bisa memperjualbelikan saham secara bebas. Ya, Anda bisa mengharapkan capital gain :)

Walaupun begitu, kali ini Anda seharusnya sudah menyadari bahwa tanpa mengandalkan capital gain-pun Anda bisa memperoleh keuntungan investasi yang cukup memuaskan dari dividen yang diperoleh. Satu hal lagi, jika kita belajar dari cerita di atas kita akan memahami bahwa semakin murah harga pembelian saham, semakin besar imbal hasil yang akan kita terima.

Study Case: PT Adira Multifinance, Tbk (kode BEI: ADMF)

Seperti halnya emiten lain, ADMF tak urung terseret turun harganya ketika terjadi krisis global pada tahun 2008. Pada akhir tahun tersebut, kita bisa membeli saham ADMF di harga 1,450 rupiah per lembar. Padahal pada tahun yang sama ADMF berhasil mencetak laba sebesar 1,020 rupiah per lembarnya. Dengan kata lain, saham ADMF dijual dengan P/E ratio hanya 1.2x. Dari laba yang diperoleh, dividen yang dibagikan adalah sebesar 280 rupiah per lembar. Dengan demikian imbal hasil dari dividen adalah sebesar 19.3%.
Dari tahun ke tahun, laba ADMF terus tumbuh. Pada tahun 2012, EPS ADMF mencapai 1,419 rupiah per lembar dengan jumlah dividen yang dibagikan 792 rupiah per lembar. Itu artinya, jika dibandingkan dengan harga pembelian semula pada tahun 2008, imbal hasil yang kita terima adalah sebesar 54.6%.

Kesimpulannya, jika kita bisa membeli pada harga yang cukup murah, imbal hasil yang diperoleh akan sangat memuaskan.

Dan kita sama sekali tidak memperdulikan di harga berapa saham ADMF diperjualbelikan setelahnya.

That’s what I call a sensible investing.

Posted in Strategi Investasi | Tagged , | 4 Comments

Bagaimana Warren Buffett Memilih Saham? (Bagian 3 – Back Test)

Bagian ini merupakan bagian terakhir dari artikel mengenai metode pemilihan saham Warren Buffett. Kali ini saya akan membahas bagaimana jika seandainya metode pemilihan saham Warren Buffett diterapkan di Indonesia. Back test dilakukan sejak tahun 2007 s.d 2013.

Agar back test yang dilakukan mampu mendekati kondisi sebenarnya, terdapat beberapa pengkondisian sbb:

  • Pengukuran kinerja dimulai pada bulan April setiap tahunnya mengingat umumnya laporan keuangan tahunan dirilis pada bulan Maret. Dengan demikian diasumsikan kita mulai membeli saham dan menyusun portfolio setelah laporan keuangan diterbitkan.
  • Interval pengukuran kinerja adalah bulanan.
  • Kinerja portfolio dibandingkan dengan IHSG sebagai benchmark.
  • Dilakukan rebalancing portfolio dan penggantian saham setiap tahun.

Sebagai contoh, berdasarkan laporan keuangan tahun 2012 didapatkan saham-saham berikut:

Stock_List

Bagaimana hasilnya?

BackTestResult

Terlihat bahwa dengan menggunakan metode pemilihan saham ala Warren Buffett, imbal hasil tahunan yang didapatkan jauh melebihi imbal hasil pasar, dalam hal ini IHSG.

Chart_BackTest

Jika kita modelkan portfolio ala Warren Buffett dan IHSG sebagai seakan sebuah reksadana yang NAB awalnya 1,000, terlihat bahwa portfolio model Warren Buffett naik hingga 7x lipat dalam 7 tahun terakhir. Sementara itu, untuk periode yang sama IHSG hanya naik 2x lipat.

Hasil dari metode pemilihan saham Warren Buffett cukup memuaskan mengingat pada kurun waktu tersebut paling tidak IHSG diterpa dua gelombang dahsyat yaitu krisis global 2008 dan koreksi tajam pasar 2013.

Jadi, bagaimana menurut Anda?

Posted in Aneka Ria Riset Investasi, Stock Picking Strategies, Valuasi | Tagged , | 11 Comments

Bagaimana Warren Buffett Memilih Saham? (Bagian 2 – Valuasi)

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana cara pemilihan saham Warren Buffett berdasarkan buku “The Guru Investor: How to Beat Market Using History’s Best Investment Strategies” yang ditulis oleh John P. Reese dan Jack M. Forehand, CFA. Pada bagian ini, kita akan membahas mengenai metode valuasinya dengan sumber dari buku yang sama.

Dalam melakukan valuasi terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

  • The Initial Rate of Return

Initial Rate of Return = EPS / Harga Saham

  • Initial Rate of Return ≥ BI Rate –> PASS
  • Initial Rate of Return < BI Rate –> BUANG

Keterangan: Untuk alasan tertentu, saya cukup fleksibel pada kriteria ini. Ada beberapa saham yang tidak lolos pada kriteria ini masih masuk dalam daftar saya.

  • The Return on Equity Method

Langkah Pertama. Hitung Percent Average ROE After Payout (5 years).

Percent Average ROE After Payout  = ROE rata-rata 5 tahun terakhir x (1 – rata-rata Dividend Payout Ratio 5 tahun terakhir)

Langkah Kedua. Proyeksikan equity/share untuk  5 tahun ke depan.

Proyeksi equity/share = FV (PV, i, n) à gunakan excel untuk menghitung

di mana:

PV = equity per share

i =  Percent Average ROE After Payout

n = 5

Persamaan ini sebenarnya adalah persamaan time value of money biasa. Kita mencari nilai masa depan dari equity/share saat ini.

Langkah Ketiga. Konversikan Future Equity menjadi Future EPS.

Future EPS (5 tahun ke depan) = future equity/share (5 tahun ke depan) X rata-rata ROE 5 tahun terakhir

Langkah Keempat. Hitung Future Stock Price.

Future Stock Price (5 tahun ke depan) = EPS (5 tahun ke depan) x P/E ratio historis (atau

P/E ratio saat ini, mana yang lebih rendah)

Langkah Kelima. Hitung Future Dividends dan jumlahkan dengan Future Stock Price untuk mendapatkan Future Stock Price plus Dividends.

-          Hitung EPS sampai dengan 5 tahun ke depan dengan growth sebesar percent average ROE after payout

-          Hitung jumlah dividend per share (DPS)sampai dengan 5 tahun ke depan (DPS = EPS X dividend payout ratio)

-          Future stock price with dividend = Future stock price + total dividend s.d 5 tahun ke depan

Langkah Keenam. Hitung Expected Rate of Return berdasarkan metode Average ROE

Expected return berdasarkan metode average ROE = i (FV, PV, n)

di mana:

FV = Future stock price plus dividend

PV = Harga saham saat ini

n = 5

Expected rate of return dengan metode average ROE:

  • ≥ 15% –> PILIH (Best Case)
  • ≥ 12% dan < 15% –> PILIH
  • < 12% –> BUANG
  • The EPS Growth Method

Langkah Pertama. Hitung expected future stock price (dengan dividends) berdasarkan metode average EPS growth

-          Hitung EPS growth rate 5 tahun terakhir

-          EPS (5 tahun ke depan) = (1 + EPS growth rate)^5 x EPS saat ini

-          Future Stock Price (5 tahun ke depan) = EPS 5 tahun ke depan x  rata-rata P/E 5 tahun terakhir (atau P/E saat ini, jika lebih rendah)

-          Hitung EPS sampai dengan 5 tahun ke depan dengan growth EPS growth yang telah dihitung.

-          Hitung jumlah dividend per share (DPS)sampai dengan 5 tahun ke depan (DPS = EPS X dividend payout ratio)

-          Future stock price dengan dividend = Future stock price + total dividend s.d 5 tahun ke depan

Langkah Kedua. Hitung expected rate of return based on the average EPS growth method

Expected rate of return berdasarkan metode EPS growth = i (FV, PV, n)

di mana:

-          FV = Future stock price with dividend

-          PV = Harga saham saat ini

-          n = 5 tahun

Expected rate of return berdasarkan metode EPS growth:

  • ≥ 15% –> PILIH (Best Case)
  • ≥ 12% dan < 15% –> PILIH
  • < 12% –> BUANG
  • Mencari Rata-Rata Prediksi Return di Masa Datang

Average final return = (Expected return of ROE method + Expected return of EPS method) / 2

Range of expected return:

  • ≥ 15% –> PILIH (Best Case)
  • ≥ 12% dan < 15% –> PILIH
  • < 12% –> BUANG

Contoh Kasus Valuasi: INTP

Pada artikel sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa INTP lolos dari screening kuantitatif. Bagaimana dengan valuasinya? Pada bagian ini kita akan mencoba menghitung harga wajar INTP berdasarkan formula yang sudah dituliskan pada bagian sebelumnya. Seperti halnya contoh sebelumnya, data yang digunakan juga berasal dari laporan keuangan tahun 2012.

  • The Initial Rate of Return

Initial                       

Walaupun masih di bawah BI rate, saya tetap melanjutkan proses untuk INTP.

  • The Return on Equity Method

Langkah Pertama. Hitung Percent Average ROE After Payout (5 years).

ROE_after

 

Langkah Kedua. Proyeksikan equity/share untuk  5 tahun ke depan.

Equitypershare

Langkah Ketiga. Konversikan Future Equity menjadi Future EPS.

FutureEPS

Langkah Keempat. Hitung Future Stock Price.

FutureStockPrice

Langkah Kelima. Hitung Future Dividends dan jumlahkan dengan Future Stock Price untuk mendapatkan Future Stock Price plus Dividends.

FutStockPricediv

 

Langkah Keenam. Hitung Expected Rate of Return berdasarkan metode Average ROE.

ROR_ROE

 

  • The EPS Growth Method

Langkah Pertama. Hitung expected future stock price (dengan dividends) berdasarkan metode average EPS growth.

FutStockPricediv_EPS

Langkah Kedua. Hitung expected rate of return based on the average EPS growth method

RORE_EPS

 

  • Mencari Rata-Rata Prediksi Return di Masa Datang

Avg_Exp_Return

Terlihat bahwa expected return INTP baik menggunakan metode ROE maupun EPS growth masih di atas ambang batas 12% sehingga INTP lolos screening Buffett.

Posted in Stock Picking Strategies, Valuasi | Tagged , | 11 Comments

Bagaimana Warren Buffett Memilih Saham? (Bagian 1 – Strategi Pemilihan Saham)

Bagi seorang investor, pembahasan tentang bagaimana seorang Warren Buffett berinvestasi seakan tiada habis-habisnya. Tak terhitung jumlah buku dan artikel di internet yang mengulas tentang Warren Buffett. Pada artikel ini, saya akan mencoba membahas mengenai bagaimana Warren Buffett melakukan stock picking (pemilihan saham). Agar lebih komprehensif, saya juga akan membahas penerapan metode stock picking Buffett di Bursa Efek Indonesia. Selama ini contoh yang diberikan sebagian besar menggunakan saham-saham yang terdaftar di NYSE atau NASDAQ.

Strategi pemilihan saham dan valuasinya saya kutip dari buku berjudul “The Guru Investor: How to Beat Market Using History’s Best Investment Strategies” yang ditulis oleh John P. Reese dan Jack M. Forehand, CFA.

Untuk menyesuaikan dengan konteks bursa saham Indonesia, saya melakukan beberapa penyesuaian terhadap pemaparan mereka. Di antaranya:

-          Karena terbatasnya data historis sebagian saham, saya hanya menggunakan data 5 tahun. Pada format aslinya, data historis yang digunakan adalah 10 tahun ke belakang. Apabila Anda ingin lebih ‘plong’, silakan menggunakan data historis selama 10 tahun.

-          Beberapa kriteria yang melibatkan EPS terkadang saya ganti dengan net earnings. Saya melakukan hal tersebut untuk menghindari misinterpretasi data apabila terjadi konversi saham seperti stock split atau stock reverse.

Rasanya masih ada yang kurang apabila kita hanya sekedar menentukan saham apa yang akan dipilih. Untuk memfasilitasi hal tersebut, saya juga melakukan back test (pengujian dengan menggunakan data terdahulu) untuk meyakinkan bahwa metode ini juga efektif diterapkan di bursa saham Indonesia. Pembagian artikelnya adalah sbb:

Bagian 1: Metode pemilihan saham (beserta contoh kasus)

Bagian 2: Metode valuasi (beserta contoh kasus)

Bagian 3: Hasil back test 2007 – 2013

Bagi saya pribadi, hasil penggalian pengetahuan ini sangatlah berharga. Besarnya usaha yang saya lakukan untuk memperoleh hasil ini terbayar dengan hasil temuan yang cukup memuaskan, khususnya untuk konteks bursa saham Indonesia.

Mari bergabung dengan saya dalam perjalanan ini :)

Pada bagian pertama ini, saya akan membahas tentang metode pemilihan saham Buffett. Seperti yang kita ketahui, dalam melakukan pemilihan saham, Warren Buffett menggunakan baik metode kualitatif maupun kuantitatif. Karena metode kualitatif lebih cenderung subjektif, apa yang akan saya bahas adalah aspek kuantitatifnya.

Secara umum terdapat enam kriteria pemilihan saham ala Buffett yaitu:

1. Earnings Predictability

  • Laba bersih naik selama 5 tahun berturut-turut dan pernah rugi  –> PILIH (Best Case)
  • Laba bersih naik selama 5 tahun berturut-turut dan tidak pernah rugi (pengecualian apabila ada satu tahun laba turun yang tidak lebih dari 45% dari tahun sebelumnya) –> PILIH
  • Kombinasi lain –> BUANG

2.       Level of Debt

  • Long-term debt ≤ 2x earnings –> PILIH (Best Case)
  • 2X earnings < Long-term debt ≤ 5x earnings –> PILIH
  • Long-term debt > 5x earnings –> BUANG

Keterangan: long-term debt adalah utang jangka panjang yang mengandung bunga. Anda bisa mendapatkan nilainya dari web http://www.ft.com

3.       Return on Equity / ROE (rata-rata 5 tahun)

  • ROE ≥ 15% –> PILIH
  • ROE < 15% –> BUANG

Keterangan: ROE = net earnings / equity

4.       Return on Total Capital / ROTC (rata-rata 5 tahun)

  • ROTC ≥ 12% –> PILIH
  • ROTC < 12% –> BUANG

Keterangan: ROTC = net earnings / (debt + equity)

5.       Capital Expenditures

  • Free Cash Flow > 0 –> PILIH
  • Free Cash Flow ≤ 0 –> BUANG

Keterangan: Free Cash Flow (FCF) = Operating Cash Flow – Capital Expenditure

  1. 6.       Use of Retained Earnings (RORE)

RORE = (EPS (y) – EPS (y-5)) / (Retained Earnings (y) – Retained earnings (y-5))

  • RORE ≥ 15% –> PILIH (Best Case)
  • 12% ≤ RORE < 15% –> PILIH
  • RORE < 12% –> BUANG

Contoh Kasus: INTP

Setelah mengetahui apa saja kriteria kuantitatif Buffett, mari kita mencoba untuk menguji satu saham. Saham yang akan kita gunakan sebagai contoh adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (kode BEI: INTP). INTP adalah salah satu produsen semen terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 30.9%. Data yang digunakan pada contoh ini berasal dari laporan keuangan tahun 2012.

1.       Earnings Predictability

Predictability

Terlihat bahwa bahwa laba bersih INTP terus naik selama 5 tahun terakhir dan tidak pernah rugi. Oleh karena itu untuk kriteria ini INTP lolos.

2.       Level of Debt

Filter_2

Long-term debt/earnings INTP sangatlah kecil sehingga juga lolos untuk kriteria ini.

3.       Return on Equity / ROE (rata-rata 5 tahun)

Filter_3

Return on Equity (ROE) rata-rata INTP adalah 23.67%, jauh di atas batas minimum 15% sehingga lolos untuk kriteria ini.

4.       Return on Total Capital / ROTC (rata-rata 5 tahun)

Filter_4

Return on Total Capital (ROTC) rata-rata INTP adalah 22.85%, jauh di atas batas minimum 12% sehingga lolos untuk kriteria ini.

5.       Capital Expenditures

Filter_5

Terlihat bahwa Free Cash Flow (FCF) INTP cukup besar sehingga lolos untuk kriteria ini.

6.       Use of Retained Earnings (RORE)

Filter_6

Terlihat bahwa Return on Retained Earning INTP adalah 27.67%, jauh melebihi batas bawah 12% sehingga lolos untuk kriteria terakhir.

INTP telah berhasil lolos untuk keenam kriteria kuantitatif pemilihan saham Buffett sehingga bisa dilanjutkan untuk proses selanjutnya (valuasi).

Artikel selanjutnya akan membahas tentang metode valuasi Buffett.

Posted in Stock Picking Strategies | Tagged | 14 Comments

Lebih Jeli Memandang Pertumbuhan Laba

This gallery contains 2 photos.

Salah satu faktor penting yang membuat harga saham berubah dari tahun ke tahun adalah pertumbuhan (growth). Yang saya maksud dengan growth adalah pertumbuhan laba bersih. Secara umum, harga akan naik apabila sebuah emiten terus tumbuh labanya. Walaupun begitu, kita harus … Continue reading

Gallery | Tagged , | 1 Comment

Hubungan Antara Harga Saham dan Nilai Wajarnya

This gallery contains 2 photos.

Pada kondisi normal, nilai wajar saham umumnya terefleksikan pada harga sahamnya. Walaupun begitu bukan berarti kita tidak bisa berinvestasi. Nilai wajar yang terefleksikan dalam harga saham mengindikasikan bahwa jika kita membeli di saham tersebut, kita akan memperoleh imbal hasil normal … Continue reading

Gallery | Tagged | 1 Comment

Apakah Kita Terlalu Optimis?

This gallery contains 2 photos.

Sejak terjadinya krisis perumahan yang diikuti oleh krisis global pada tahun 2008, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Booming middle class menjadi mesin pendorongnya. Pada artikel sebelumnya di sini (data tahun 2011), kita bisa melihat bahwa kinerja emiten-emiten BEI … Continue reading

Gallery | Tagged , | 2 Comments