Street Investing: Redevelop The Ideas & The Fundamental Puzzle

20140703_210557

Street Investing: Redevelop The Ideas

Setelah sekian lama, akhirnya buku Street Investing kembali diterbitkan. Kali ini penerbitannya secara Indie melalui www.nulisbuku.com. Pada edisi kali ini, ada beberapa update yang cukup penting, yaitu:

  • Update study case agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.
  • Tambahan topik mengenai pengelolaan portfolio. Pada edisi sebelumnya topik ini tidak terlalu banyak disinggung.
  • Revisi dan update pada beberapa bab di edisi sebelumnya.

The Fundamental Puzzle

Puzzle adalah teka-teki yang harus dipecahkan dengan menggabungkan kepingan-kepingannya satu persatu. Pada awalnya, Anda akan kebingungan harus memulai dari mana. Untuk mengatasinya, tidak ada jalan lain. Kita harus berani untuk mencoba memulai dengan meletakkan kepingan pertama pada tempatnya. Selalu ada risiko kita akan melakukan kesalahan dan terpaksa mengulanginya kembali. Lambat laun, kepingan yang tercecer mulai tersusun rapi dan gambaran besarnya mulai terlihat.

Investasi saham adalah sebuah puzzle raksasa. Seringkali kita menemui berbagai fenomena yang membuat kita menyadari bahwa apa yang kita ketahui selama ini sangatlah sedikit. Mau tidak mau kita harus mencoba melaluinya. Terkadang prosesnya terasa amat berat. Walaupun begitu, seperti halnya puzzle semakin lama kita memainkannya semakin terasa mudah menyelesaikannya.

Siapkah Anda untuk mulai meletakkan kepingan pertama pada tempatnya?

Pemesanan Buku

Kedua buku ini formatnya hardcopy dan  bersama dengan buku Behind Investing Ideas yang telah diterbitkan bisa dipesan melalui situs nulisbuku.com. Klik link untuk pemesanan:

Hope u enjoy the books :)

 

Posted in Berita, Books for Sale | Tagged , | 9 Comments

Kinerja Keseluruhan Emiten Selama Satu Dekade

 

“Those who cannot remember the past are condemned to repeat it”

-George Santayana-

 

Satu dekade bukanlah waktu yang singkat, terutama jika mengingat banyaknya informasi yang masuk ke smartphone kita setiap menit atau bahkan setiap detik. Banyak sekali yang bisa terjadi dalam satu dekade, dan tidak kalah banyak pula hal yang bisa kita pelajari dalam kurun waktu tersebut.

Kali ini saya akan membawa Anda dalam perjalanan menyusuri satu dekade di bursa saham kita. Umumnya, sebuah siklus ekonomi dari periode ekspansi sampai dengan konstraksi terjadi dalam 5-10 tahun. Oleh karena itu cukup tepat kiranya apabila kita mencoba untuk mengamati perubahan dan tren yang terjadi selama itu.

Saya menggunakan data mulai dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2013. Seperti yang kita ketahui, pada awal dekade tersebut Indonesia mulai bangkit kembali setelah didera oleh krisis moneter yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia terjun ke titik nadir dan menyebabkan terjadinya pergantian rezim pemerintahan. Walaupun sempat terseok-seok pada awalnya, pada pertengahan dekade Indonesia mulai berjalan tegak dengan ditandai oleh tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi. Pada akhir tahun 2000-an, pertumbuhan ekonomi ditandai dengan maraknya golongan menengah yang jumlahnya terus meningkat pesat. Kita menyaksikan bagaimana kencangnya roda ekonomi berputar. Walaupun begitu, seperti lazimnya sebuah siklus ekonomi, Indonesia pun mulai mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013. Setelah selama tiga tahun berturut-turut ekonomi melaju di atas 6% per tahun, pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi menurun menjadi 5,78%. Sampai dengan pertengahan tahun 2014, tercatat pertumbuhan ekonomi (year-on-year) terus menurun hingga menyentuh level 5,12%.

Di bursa saham, kebangkitan ekonomi Indonesia juga diikuti oleh menanjaknya IHSG. Siapa yang menyangka IHSG yang sempat menyentuh level 350 pada tahun 2001 bisa menyentuh level 5200 pada tahun 2013? Jika dihitung-hitung, dalam satu dekade IHSG telah meningkat 15 kali lipat. Walaupun sempat terkoreksi cukup tajam akibat peningkatan nilai impor, IHSG kembali bertengger di level tersebut pada tahun 2014.

Satu Dekade di Bursa Saham

Untuk meneliti lebih lanjut, saya akan mengajak Anda melintasi masa sepuluh tahun di bursa saham. Yang akan saya sajikan adalah data rata-rata dari seluruh emiten. Tentu saja bisa dibilang ini membutuhkan usaha yang cukup besar. Tidaklah mudah untuk mengumpulkan angka-angka di dalam laporan keuangan seluruh emiten selama belasan tahun. Yang saya percaya, segala susah payah saya ini akan bisa memberikan manfaat. Jika kita selama ini hanya bisa memantau rasio keuangan untuk masing-masing emiten, pada tulisan berikut kita bisa memantau pergerakan keseluruhan emiten.

Perjalanan akan kita mulai dengan pertumbuhan laba bersih. Ada dua grafik pada gambar di bawah. Grafik pertama menggambarkan tingkat pertumbuhan per tahun sementara grafik kedua menggambarkan tingkat pertumbuhan laba pada tahun 2013. Keduanya dijabarkan pada level industri.

Earnings_CAGR

Hasilnya yang diperoleh cukup mengejutkan. Industri pertambangan menempati peringkat pertama dengan CAGR 53,2% dan diikuti oleh industri infrastruktur dengan CAGR 46,9%. Hal tersebut dapat dipahami mengingat sampai dengan tahun 2007 (sebelum krisis global) harga komoditas mengalami masa kejayaan. Krisis global menandai kejatuhan harga komoditas. Hal tersebut terlihat lebih jelas manakala kita melihat grafik pertumbuhan tahun 2013. Pertumbuhan industri pertambangan turun drastis menjadi hanya 4,7% dan menduduki peringkat ketiga dari bawah.

Seperti yang bisa diduga, industri properti yang ‘booming’ beberapa tahun belakangan terlihat pada kedua grafik di atas. Properti menempati peringkat ketiga selama satu dekade terakhir dengan CAGR laba bersih 42,1% dan bahkan pada tahun 2013 memimpin dengan pertumbuhan 42,8%. Hal menarik lainnya adalah lemahnya sektor pertanian yang menempati peringkat terbawah. Pada tahun 2013 bahkan laba rata-ratanya turun 17,8%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan rata-rata emiten pada tahun 2013 lebih rendah daripada CAGR selama dekade terakhir. Hal tersebut sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013.

Secara keseluruhan, sebenarnya grafik di atas khususnya CAGR laba bersih cukup mengejutkan saya. Sektor pertanian yang menempati peringkat terbawah ternyata masih memiliki CAGR 25,2%. Apakah Anda bisa membayangkan memiliki saham yang labanya terus tumbuh sebesar 25,2% per tahun selama 10 tahun? Dan itu adalah yang kita dapatkan jika kita memiliki saham dari industri yang paling rendah pertumbuhannya. Tentu saja banyak juga saham yang berkinerja buruk dan untuk itulah kita melakukan analisis dalam usaha untuk terhindar dari saham-saham buruk tersebut.

Perjalanan akan kita lanjutkan kembali. Kali ini kita akan memantau perkembangan return on capital (ROE).

Avg_ROE

Terlihat bahwa selama 10 tahun terakhir ROE rata-rata emiten cenderung meningkat. Jika sampai dengan tahun 2008 ROE masih single digit, mulai pada tahun 2010 kita bisa menyaksikan ROE rata-rata meningkat menjadi double digit. Sayangnya pada tahun 2013, ROE rata-rata kembali turun ke level 9,7%.

Dari grafik tersebut, ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Terlihat bahwa sejak tahun 2010, ROE rata-rata terus menurun dari 11,8% menjadi 9,7% pada tahun 2013. Walaupun masih terbilang tinggi dibandingkan dengan rata-rata selama 10 tahun, kita harus tetap waspada karena ada kemungkinan banyak emiten yang pertumbuhan asetnya terlalu cepat dibandingkan dengan permintaan.

Pada tahun 2013, industri konsumsi, keuangan, dan properti menempati peringkat teratas dengan ROE masing-masing secara berturut-turut mencapai 13,4%, 11,9%, dan 11,5%. Sementara itu, ROE rata-rata pada tahun 2013 untuk seluruh emiten adalah 9,7%.

Saya sempat menyinggung mengenai adanya kemungkinan banyak emiten yang terlalu agresif berekspansi sehingga menurunkan ROE-nya. Untuk melihat dengan lebih jelas, kita akan mengamati bagaimana perkembangan nilai belanja modal (capital expenditure atau capex).

Mengapa capex?

Pertumbuhan jumlah aset terutama aset tetap terkait langsung dengan besarnya capex. Kenaikan capex adalah salah satu indikasi bahwa emiten cukup optimis memandang potensi pendapatan ke depan. Oleh karena itu, kita bisa melakukan pengamatan dengan membandingkan nilai capex relatif terhadap pendapatannya (revenue).

Capex_Revenue

Pada grafik di atas, terlihat bahwa perbandingan capex terhadap revenue selama satu dekade terakhir cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Manakala pada tahun 2002 rasio capex to revenue berada di level 6,4%, pada tahun 2013 rasio tersebut melonjak drastis menjadi 10,2%. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan capex lebih tinggi daripada pertumbuhan revenue. Sebenarnya hal ini cukup wajar terjadi pada kondisi ekonomi yang sedang dalam fase ekspansi. Walaupun begitu, kita perlu mewaspadai adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang secara langsung berpotensi menurunkan pertumbuhan revenue.

Jika kita melihat data tahun 2013, industri infrastruktur memiliki rasio capex to revenue tertinggi yaitu 17%. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan program MP3EI pemerintah yang menekankan pada pembangunan infrastruktur. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki masalah ketersediaan infrastruktur, khususnya di daerah luar Jawa. Untuk memaksimalkan potensi yang ada, mau tidak mau pembangunan infrastruktur harus mendapatkan perhatian khusus.

Terkait dengan belanja modal, ada satu rasio lagi yang perlu kita perhatikan yaitu debt to equity rasio (DER). Tingginya jumlah belanja modal tentu membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Pada kondisi normal, biaya untuk belanja modal ini dapat dipenuhi dari arus kas internal perusahaan. Hal yang berbeda terjadi apabila perusahaan berekspansi secara agresif. Mau tidak mau perusahaan harus mencari sumber pendanaan eksternal melalui penerbitan saham baru atau berutang. Grafik berikut menggambarkan perkembangan DER dari tahun ke tahun untuk melihat apakah ada pengaruh kenaikan rasio capex to revenue terhadap besarnya utang.

DER

Terlihat bahwa selama tiga tahun terakhir, DER rata-rata keseluruhan emiten cenderung terus naik. Hal ini sejalan dengan meningkatnya rasio capex to revenue seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa emiten-emiten berekspansi cukup agresif dan mulai lebih banyak berutang untuk mengantisipasi pertumbuhan pendapatan ke depan.

Walaupun cenderung naik, nilai DER rata-rata pada tahun 2013 (0,68) masih sedikit di bawah rata-rata untuk satu dekade (0,69). Berdasarkan data tersebut, kita bisa menduga bahwa ekspansi yang dilakukan walaupun cukup agresif namun masih berada dalam tingkat yang normal.

Untuk lebih meyakinkan lagi, kita akan mencoba memastikan apakah beban bunga sebagai hasil dari kenaikan utang belum sampai pada tahap yang memberatkan operasionalnya. Rasio yang bisa kita gunakan adalah time interest earned (TIE) yang merupakan perbandingan antara laba operasional dengan beban bunga. Semakin tinggi TIE, semakin bagus karena besarnya utang perusahaan masih sejalan dengan pertumbuhan pendapatannya.

TIE

Sampai dengan tahun 2012, terlihat bahwa nilai TIE cenderung terus meningkat. Jika pada tahun 2002 nilai TIE rata-rata hanyalah 3,4x, pada tahun 2012 nilai TIE melonjak menjadi 16,2x. Artinya untuk setiap 100 rupiah laba usaha, 16,2 rupiah dipergunakan untuk membayar bunga utang.

Sayangnya, pada tahun 2013 nilai TIE turun drastis menjadi hanya 10,7x. Walaupun masih bisa dibilang tinggi (nilai TIE sebesar 3x masih bisa dibilang cukup wajar), fenomena ini perlu mendapatkan perhatian. Kombinasi antara penurunan pertumbuhan pendapatan dan kenaikan jumlah utang menjadi penyumbang utama penurunan TIE rata-rata.

Jika kita melihat data tahun 2013, terlihat bahwa industri properti memiliki TIE tertinggi yaitu sebesar 16,5x. Sementara itu, industri infrastruktur menempati peringkat terbawah. Secara intutitif, kita bisa menduga ada kemungkinan pembangunan infrastruktur menjadi penyebabnya.

What Next?

Setelah melihat data historis, apa kemungkinan yang terjadi di tahun-tahun mendatang? Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian.

  1. Perusahaan harus lebih berhati-hati dan bersikap selektif dalam berekspansi. Kesalahan dalam berekspansi akan membebani kinerja di masa mendatang.
  2. Perhatikan sektor-sektor yang tumbuh secara konsisten.
  3. Satu atau dua tahun ke depan adalah masa transisi. Perusahaan yang prudent dan piawai dalam menjalankan bisnisnya akan bertahan. Perusahaan yang ceroboh akan mengalami masa-masa yang berat.
Posted in Aneka Ria Riset Investasi | Tagged , | 3 Comments

Hasil Screening Saham ala Warren Buffett 2014, Masihkah Relevan?

Bagi saya, menguji kehandalan strategi investasi para maestro adalah kesenangan tersendiri. Tidak dapat dipungkiri, mereka sangat berdedikasi dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang luar biasa bagi perkembangan ilmu investasi saham. Salah satu di antara mereka, dan mungkin bisa disebut yang terbesar adalah Warren Buffett. Aksi investasinya selalu mengundang perhatian dan banyak memberikan pelajaran berharga.

Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk memperlihatkan bagaimana pemikiran Warren Buffett diterjemahkan dan diterapkan di Bursa Efek Indonesia. Apakah strategi investasinya relevan untuk diterapkan di Indonesia?

Meniru strategi Buffett secara keseluruhan bisa dibilang hampir tidak mungkin karena pada prakteknya ia banyak menekankan pemilihan saham dengan menggunakan parameter kualitatif. Yang bisa terukur adalah aspek kuantitatif dari strategi pemilihan sahamnya.

Sebelumnya, strategi pemilihan saham Warren Buffett ini pernah saya tuliskan di sini dan sini. Artikel tersebut menjadi acuan saya untuk mencoba mengetahui apakah sampai dengan saat ini masih relevan.

Saya menggunakan data dari laporan keuangan tahun 2013 dan kemudian melakukan back test dengan memeriksa imbal hasil yang diberikan dari akhir tahun 2013 sampai dengan tanggal 19 September 2014. Sebagai informasi, dalam kurun waktu yang sama IHSG memberikan imbal hasil sebesar 22.3%. Pada akhir tahun 2013, IHSG bertengger di level 4,274 dan pada tanggal 19 September 2014, IHSG berada di level 5,228.

Bagaimanakah hasilnya?

WB_Screen_2013

Tercatat ada 8 saham yang lolos screening, termasuk dalam hal valuasi. Sampai dengan tanggal 19 September 2014, portfolio modelnya telah memberikan imbal hasil sebesar 58.3%. Nilai ini jauh lebih tinggi daripada imbal hasil pasar (IHSG). Jika Anda lihat, pada portfolio model tersebut imbal hasil CITA jauh lebih tinggi daripada yang lain dan menjadi terlalu dominan menyumbang imbal hasil portfolio. Untuk menghilangkan keraguan, jika kita mengeluarkan CITA dari portfolio, imbal hasil yang diperoleh adalah 46.5%. Nilai tersebut tetaplah mengesankan.

Berdasarkan hasil tersebut, ada kemungkinan Anda bertanya-tanya. Mengapa sangat sedikit saham yang lolos dari screening. Terus terang saja penyebabnya adalah adanya filter initial return yang cukup sulit untuk dipenuhi oleh kebanyakan saham. Initial return adalah EPS dibagi dengan harga saham. Dengan kata lain, initial return adalah kebalikan dari P/E ratio. Buffett mensyaratkan initial return harus lebih besar dari imbal hasil sekuritas bebas risiko. Di Indonesia yang biasa dijadikan acuan adalah BI rate. Saat ini BI rate adalah 7.5%. Jika kita balik, nilai tersebut setara dengan P/E ratio 13.3x. Dalam pemilihan saham, P/E ratio-nya tidak boleh melebihi 13.3x. Tidak banyak saham yang memiliki P/E ratio di bawah itu.

Bagaimana jika kita mengabaikan filter itu dalam menyeleksi saham? Apakah hasilnya akan berbeda? Mari kita lihat.

WB_Screen_2013_excl

Terlihat bahwa jika kita mengabaikan filter initial return, jumlah saham yang lolos seleksi membengkak menjadi 23 jenis. Kita bisa melihat banyak nama besar di sana seperti HMSP, SMGR, dan UNVR. Namun apa yang kita dapatkan? Imbal hasil portfolio turun menjadi hanya 36.1% dan apabila kita mengeluarkan CITA dari portfolio, imbal hasilnya hanyalah 31.3%. Tentu saja dibandingkan dengan IHSG yang memberikan imbal hasil 22.3%, angka tersebut bisa dibilang cukup tinggi.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa sebagus apapun sahamnya, kita tidak bisa membelinya di harga berapapun. Kita sebaiknya memilih saham yang tidak terlalu mahal harganya walaupun secara fundamental sangat meyakinkan kinerjanya.

Satu hal lagi yang bisa menjadi bahan renungan. Kinerja seperti itu bisa kita dapatkan dengan hanya menseleksi saham-saham yang memenuhi syarat dan selanjutnya tidak perlu ditengok-tengok lagi. Dengan begitu pun, portfolio kita mampu mengalahkan IHSG bahkan lebih dari 2x lipat.

Tentu saja ada beberapa problem yang harus kita pikirkan solusinya. Salah satunya adalah biasanya emiten merilis laporan keuangan tahunan pada bulan Maret atau ada jeda tiga bulan. Bagaimana cara memecahkan masalah tersebut? Mau tidak mau kita harus membuat proyeksi dan memperkirakan kinerja full year berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga. Walaupun cukup sulit, hal tersebut bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Yang saya percaya, tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Siapkah Anda?

Posted in Aneka Ria Riset Investasi, Stock Picking Strategies | Tagged | 9 Comments

ROE Breakdown: Studi Kasus SMSM

This gallery contains 1 photo.

Artikel ini bisa dibilang adalah kelanjutan dari artikel mengenai SMSM di sini. Jika Anda memperhatikan grafik ROE SMSM pada artikel tersebut, terlihat bahwa ROE-nya terus naik dari tahun ke tahun. Secara umum dapat dikatakan bahwa ini adalah indikasi yang bagus. Perusahaan … Continue reading

Gallery | Tagged | Leave a comment

Tracking Terhadap Laba Per Kuartal

This gallery contains 1 photo.

Pada umumnya, membangun portfolio dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan tahunan sudah cukup. Walaupun begitu, ada baiknya minimal setiap enam bulan kita mengamati perkembangannya. Apabila ada indikasi yang kurang baik pada fundamentalnya, tidak ada salahnya kita mulai waspada. Kali ini … Continue reading

Gallery | Tagged | 1 Comment

SMSM: Growing and Growing

This gallery contains 4 photos.

Selamat Sampurna adalah produsen komponen otomotif dengan merk Sakura dan ADR. Penguatan dollar AS cukup mendorong kinerjanya mengingat 70% produksinya diperuntukkan bagi pasar mancanegara. Sampai dengan saat ini, SMSM telah mengekspor ke 110 negara tujuan. Lini usaha yang menyumbang pendapatan … Continue reading

Gallery | Tagged , , | 5 Comments