Street Investing: Redevelop The Ideas & The Fundamental Puzzle

20140703_210557

Street Investing: Redevelop The Ideas

Setelah sekian lama, akhirnya buku Street Investing kembali diterbitkan. Kali ini penerbitannya secara Indie melalui www.nulisbuku.com. Pada edisi kali ini, ada beberapa update yang cukup penting, yaitu:

  • Update study case agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.
  • Tambahan topik mengenai pengelolaan portfolio. Pada edisi sebelumnya topik ini tidak terlalu banyak disinggung.
  • Revisi dan update pada beberapa bab di edisi sebelumnya.

The Fundamental Puzzle

Puzzle adalah teka-teki yang harus dipecahkan dengan menggabungkan kepingan-kepingannya satu persatu. Pada awalnya, Anda akan kebingungan harus memulai dari mana. Untuk mengatasinya, tidak ada jalan lain. Kita harus berani untuk mencoba memulai dengan meletakkan kepingan pertama pada tempatnya. Selalu ada risiko kita akan melakukan kesalahan dan terpaksa mengulanginya kembali. Lambat laun, kepingan yang tercecer mulai tersusun rapi dan gambaran besarnya mulai terlihat.

Investasi saham adalah sebuah puzzle raksasa. Seringkali kita menemui berbagai fenomena yang membuat kita menyadari bahwa apa yang kita ketahui selama ini sangatlah sedikit. Mau tidak mau kita harus mencoba melaluinya. Terkadang prosesnya terasa amat berat. Walaupun begitu, seperti halnya puzzle semakin lama kita memainkannya semakin terasa mudah menyelesaikannya.

Siapkah Anda untuk mulai meletakkan kepingan pertama pada tempatnya?

Pemesanan Buku

Kedua buku ini formatnya hardcopy dan  bersama dengan buku Behind Investing Ideas yang telah diterbitkan bisa dipesan melalui situs nulisbuku.com. Klik link untuk pemesanan:

Hope u enjoy the books :)

 

Posted in Berita, Books for Sale | Tagged , | 9 Comments

(Mencoba) Mengalahkan Pasar

Di kalangan akademis, hipotesis pasar efisien (efficient market hypothesis) atau biasa disebut dengan EMH mendapatkan perhatian yang sangat besar. Berlandaskan teori tersebut, tidak ada seorang pun yang mampu untuk memperoleh imbal hasil lebih besar dari pasar secara terus-menerus. Informasi yang ada saat ini diasumsikan telah terefleksi pada harga saham sehingga secara keseluruhan ekspektasi imbal hasil yang kita peroleh adalah setara dengan pasar. Kepercayaan pada hipotesis tersebut mencapai puncaknya manakala pada tahun 2013 Eugene Fama, Lars Peter Hansen, dan Robert Shiller berhasil memperoleh hadiah Nobel di bidang ilmu ekonomi terkait dengan risetnya yang terkait dengan hipotesis tersebut. Di dunia akademis, perlawanan terhadap EMH merupakan bunuh diri dan membuat Anda terkucil.

Sebagai referensi, bunyi dari EMH adalah sebagai berikut:

  1. Pada bentuk lemah, harga saat ini telah merefleksikan informasi yang dibawa oleh harga di masa lalu. Dengan demikian, analisis teknikal yang menggunakan harga masa lalu sebagai acuan tidak dapat dipergunakan untuk mengungguli pasar secara terus menerus.
  2. Pada bentuk semi-kuat, harga saat ini telah merefleksikan informasi tidak hanya pada harga masa lalu, namun juga seluruh informasi yang telah dipublikasikan (misalnya berita atau laporan keuangan). Pada bentuk ini, kita tidak bisa menggunakan analisis teknikal ataupun fundamental untuk mengungguli pasar secara terus menerus.
  3. Pada bentuk kuat, harga telah merefleksikan seluruh informasi yang ada sehingga kita tidak akan bisa menemukan saham murah secara konsisten.

Apabila kita telah memutuskan untuk menjadi investor aktif, kebenaran EMH akan menjadi sebuah dilema. Apa gunanya kita bersusah payah melakukan analisis terhadap suatu saham sebelum berinvestasi apabila pada akhirnya imbal hasil yang diperoleh sama dengan imbal hasil pasar? Pada kondisi tersebut, akan lebih baik kita berinvestasi pada reksa dana atau ETF yang mencerminkan indeks dan menggunakan waktu kita yang berharga untuk hal-hal lain.

Terus terang saja, EMH ini cukup kontroversial karena berlandaskan pada asumsi yang susah kita temui pada kenyataan di lapangan. Sebagai contoh, EMH mengasumsikan bahwa pelaku pasar secara rasional menanggapi sebuah informasi. Pada kenyataannya, pemahaman setiap orang terhadap informasi yang sama sangat mungkin berbeda-beda sehingga keputusan yang diambil pun juga bermacam-macam. Akibatnya, secara kolektif keputusan yang mereka ambil yang tercermin pada harga saham akan cenderung bias. Adanya perilaku manusia yang susah untuk ditebak dan seringkali irasional menjadi tantangan tersendiri bagi EMH.

Tantangan terhadap EMH ini pun tak urung dilontarkan oleh Warren Buffett. Isi argumen Sang Begawan Investasi tersebut pada intinya adalah jika memang EMH benar, tidaklah masuk akal sekelompok investor dengan filosofi investasi tertentu dan pilihan saham yang berbeda-beda bisa secara konsisten mengalahkan pasar selama belasan hingga puluhan tahun.

Bagaimana dengan Bursa Efek Indonesia (BEI)? Berdasarkan pengalaman saya, pada kondisi normal pasar cenderung efisien namun pada kurun waktu tertentu bisa berubah menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, ketika berita buruk muncul, pasar akan merespon dengan melakukan aksi jual sehingga harga cenderung turun. Akan tetapi, seberapa akurat para pelaku pasar menerjemahkan dampak dari berita buruk tersebut ke dalam harga saham? Kadangkala para pelaku pasar melakukan tindakan yang over reaktif sehingga ada kemungkinan penurunan harga saham yang terjadi terlalu besar. Pada kondisi demikian, apabila jeli kita bisa memanfaatkannya dengan membeli saham-saham yang dijual terlalu murah. Hal sebaliknya terjadi manakala pasar dalam kondisi bullish? Apakah kenaikan tersebut ditopang oleh kondisi fundamental yang membaik ataukah hanya sentimen saja? Jika memang harga saham naik lebih tinggi daripada kondisi fundamentalnya, ada baiknya kita berpikir untuk mulai menjual saham yang sudah terlalu mahal.

Bagi seorang investor yang jeli, kondisi pasar yang tidak efisien dapat dimanfaatkan untuk dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari pasar.

Posted in Investasi | Tagged | Leave a comment

Saham = Obligasi dengan Bunga Yang Terus Naik

Obligasi adalah instrumen investasi yang akan memberikan kupon (bunga) secara berkala dengan jumlah tetap sampai dengan jatuh tempo. Nilai pokok investasi kita akan dikembalikan pula saat jatuh tempo. Sebagai contoh, jika kita berinvestasi sebesar 10 juta rupiah dengan kupon 8,5%, maka kita akan mendapatkan kupon sebesar 850 ribu rupiah setiap tahunnya sampai dengan jatuh tempo.

Sementara itu, saham adalah instrumen investasi yang memberikan kita dividen sebagai bagi hasil dari laba bersih. Dividen yang kita terima bergantung pada kebijaksanaan pihak manajemen serta kinerja dari perusahaan. Pada kondisi normal, dividend yield biasanya lebih kecil dari kupon obligasi. Walaupun begitu, jika laba perusahaan terus meningkat, kemungkinan besar dividen yang kita terima pun akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Lalu, lebih menguntungkan mana?

Membandingkan Saham dengan Obligasi

Untuk membandingkan saham dengan obligasi, ada beberapa asumsi yang akan digunakan, yaitu:

  • Obligasi jatuh tempo dalam 5 tahun. Agar sebanding, diasumsikan saham yang dimiliki akan dijual pula 5 tahun mendatang. Saat jatuh tempo 5 tahun mendatang, pokok awal investasi kita akan dikembalikan sementara nilai penjualan saham akan naik sebanding dengan pertumbuhan labanya.
  • Kupon dan dividen yang didapatkan tidak diinvestasikan kembali
  • Kupon obligasi 8.5% per tahun, dividend yield5%
  • Required return obligasi sama dengan BI rate yaitu 7.5% sementara required return saham adalah 11.1%. Required return saham lebih tinggi dari obligasi karena mengandung risiko yang lebih tinggi.

Untuk membandingkannya, saya menggunakan metode discounted cash flow. Artinya, seluruh cash flow sampai 5 tahun mendatang akan dicari nilai masa kininya (present value) untuk mengetahui manakah yang lebih menguntungkan.

Hasil simulasinya adalah sebagai berikut:

Stock_vs_Bond

Terlihat bahwa dalam waktu 5 tahun, hasil penjualan saham adalah 25,505 sementara nilai obligasi tetap sebesar 10,000 ditambah dengan kupon terakhir sebesar 850 sehingga totalnya menjadi 10,850. Internal rate of return (IRR) obligasi sama dengan kuponnya yaitu 8.5% sementara IRR saham adalah 23%. Pada kondisi normal, saham akan memberikan keuntungan lebih tinggi dari obligasi.

Bagaimana Jika Membeli Saham Terlalu Mahal?

Ilustrasi di atas menggambarkan apabila kita membeli saham pada harga yang normal. Saham dibeli dengan P/E ratio 20x yang sama dengan rata-rata historisnya. Bagaimana jika kita membeli saham dengan harga yang lebih mahal, katakanlah pada P/E ratio 30x? Karena harga beli lebih mahal, maka secara logis internal rate of return juga akan turun. Sebagai contoh, jika kita membeli saham dengan P/E ratio 30x sementara secara historis saham tersebut dihargai dengan P/E ratio rata-rata hanya 20x, IRR akan turun menjadi hanya 13%. Walaupun masih lebih tinggi daripada IRR obligasi (8.5%), tentu saja sebagai investor kita sebaiknya membeli saham pada P/E ratio yang lebih rendah untuk memperbesar keuntungan.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

IRR_Tracking

Terlihat bahwa semakin tinggi harga pembelian kita (P/E ratio lebih tinggi), maka internal rate of return akan semakin mengecil. Pada kasus ini, jika kita membeli saham tersebut dengan P/E ratio di atas 33x, maka IRR akan lebih kecil dari required return (11.1%) sehingga hasil investasi kita tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kesimpulan

  1. Untuk bisa membandingkan saham dengan obligasi, kita menganggap saham adalah obligasi dengan kupon yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Nilai dividen sangat bergantung pada kinerja perusahaan. Jika perusahaan merugi, kita tidak akan mendapatkan dividen. Oleh karena itu, kita harus sangat memperhatikan aspek fundamental dalam berinvestasi saham.
  2. Semakin tinggi harga pembelian, tingkat keuntungan kita semakin menurun. Ben Graham mengantisipasi hal ini dengan mengenalkan konsep margin of safety yang bisa mengurangi kerugian kita manakala skenario tidak berjalan seperti yang diharapkan.
  3. Sangatlah penting untuk berinvestasi pada saham yang kinerja dan labanya tumbuh secara konsisten. Laba yang susah diprediksi akan membuat estimasi investasi menjadi lebih sulit dan meningkatkan ketidakpastian.

Catatan:

Dividend yield = dividend per share / stock price

Jika diatur ulang,

Dividend yield = (DPS/EPS) x (EPS/stock price) = dividend payout ratio x (1/PER) = DPO/PER

P/E ratio rata-rata IHSG adalah 14,8x. Secara historis, dividend payout ratio rata-rata historis adalah 28%. Dengan demikian dapat diestimasikan dividend yield rata-rata adalah 1,9%.

Sementara itu, imbal hasil rata-rata IHSG dari tahun 1997 s.d 2013 adalah sekitar 23% (di luar dividen). Jika kita asumsikan laba rata-rata emiten tumbuh sama dengan imbal hasil IHSG, maka IRR rata-rata emiten adalah 25,3%. Artinya, jika dividen ditambahkan sebagai imbal hasil, maka imbal hasil rata-rata kita per tahun adalah sebesar itu. Jika kita hanya menginginkan imbal hasil sebesar 11.1%,maka P/E ratio maksimum saat pembelian adalah 26.4x.

Posted in Strategi Investasi | Tagged , | Leave a comment

Membedah Sumber Pertumbuhan Penjualan

Salah satu indikasi perusahaan yang sehat adalah adanya pertumbuhan penjualan. Saya menyukai perusahaan yang penjualannya tumbuh secara konsisten. Walaupun begitu, kita tidak bisa hanya berhenti sampai di situ. Ada baiknya kita mencoba untuk mengetahui apa yang menyebabkan penjualan meningkat.

Pada dasarnya, nilai penjualan adalah harga rata-rata penjualan dikalikan dengan volume penjualan. Oleh karena itu dengan mengetahui kedua faktor tersebut kita bisa mengetahui apakah meningkatnya penjualan diakibatkan oleh volume penjualan atau kenaikan harga. Selain itu, kita juga bisa mengetahui apakah perusahaan mampu untuk menyesuaikan harga produknya dengan inflasi dan tidak kehilangan pelanggannya.

Untuk analisis lebih lanjut, kita juga bisa membandingkan dengan perusahaan lain di dalam industri yang sama. Hal tersebut akan membantu kita untuk mengetahui apa perbedaan perusahaan-perusahaan tersebut dalam meningkatkan penjualannya.

Kali ini saya akan mengambil contoh industri semen. Industri ini cukup menarik karena karakteristik antar pemainnya cukup homogen. Hanya ada 3 emiten yang saya masukkan yaitu Semen Indonesia (SMGR), Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), dan Semen Holcim (SMCB). Semen Baturaja (SMBR) sebagai pendatang baru tidak saya masukkan ke dalam analisis karena relatif masih baru terdaftar di BEI sehingga data historisnya kurang panjang.

cement_sales

Terlihat bahwa secara umum pertumbuhan penjualan ketiga emiten tersebut cukup bagus. Selama 8 tahun terakhir terlihat bahwa penjualan terus meningkat. Bahkan krisis global yang terjadi pada tahun 2008 pun tidak banyak mempengaruhi tingkat penjualan mereka. Khusus untuk 3 tahun terakhir, secara visual SMGR terlihat memimpin.

Mari kita mulai bedah driver penjualannya.

cement

Untuk melihat lebih jelas, saya menghitung tingkat pertumbuhan rata-rata selama 3 tahun ke belakang dan kemudian menghitung ulang pada tahun ke depannya. Bisa dibilang metodenya mirip dengan moving average. Dengan menggunakan moving average, kita bisa mengetahui perubahan tren yang terjadi. Pada grafik di atas saya menampilkan moving average untuk pertumbuhan penjualan dan pertumbuhan volume penjualan.

Pada grafik moving average pertumbuhan penjualan di sebelah kiri, terlihat bahwa walaupun secara nominal penjualan terus meningkat, laju pertumbuhan penjualan ketiga emiten sempat mengalami penurunan. Yang menarik, pada tahun 2013 laju pertumbuhan SMGR mengalami peningkatan manakala kedua kompetitornya menurun.

Untuk memperjelasnya, kita bisa melihat grafik sebelah kanan. Terlihat bahwa volume penjualan SMGR terus meningkat sejak tahun 2010. Sementara itu, INTP dan SMCB mengalami penurunan pertumbuhan.

Apa pendorong SMGR mampu mempertahankan laju pertumbuhan volume penjualan pada tahun 2013? Tampaknya mulai beroperasinya pabrik semen Tuban IV pada bulan Juli 2012 serta pabrik semen Tonasa V pada bulan Februari 2013 turut memberikan andil. Jangan lupakan juga kontribusi dari hasil akusisisi Thang Long Cement Joint Stock Company, produsen semen yang berlokasi di Vietnam.

Dengan membedah secara sederhana, kita bisa mendapatkan informasi penting mengenai kinerja penjualannya. Tentu saja analisis tersebut hanyalah indikasi awal yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar bisa memperoleh gambaran yang lebih besar dan terperinci.

Posted in Strategi Investasi | Leave a comment

Thomas Rowe Price, Jr: The Icon of Growth Investing

19investment-guru15

Sumber: http://www.rediff.com

Seorang investing besar bisa berlatar belakang apa saja, dan Thomas Rowe Price, Jr adalah salah satu di antaranya. Setelah memperoleh gelar sarjana Kimia, ia banting setir menjadi seorang investor. Pada tahun 1937, ia mendirikan perusahaan investasi T. Rowe Price di Baltimore, Maryland. Agar lebih mudah, selanjutnya saya akan menyebutnya dengan T. Rowe Price, sesuai dengan perusahaan investasinya. Coca Cola, IBM, dan P&G adalah beberapa saham yang dimilikinya dan kemudian terbukti tumbuh pesat menjadi raksasa, bahkan hingga saat ini.beberapa saham yang dimilikinya dan kemudian terbukti tumbuh pesat menjadi raksasa, bahkan hingga saat ini.

Dedikasinya yang luar biasa terhadap pemikiran mengenai growth investing tak ayal membuatnya disebut sebagai “The Father of Growth Investing”. Price mempercayai bahwa investor bisa mendapatkan imbal hasil yang tinggi dengan berinvestasi pada perusahaan yang dikelola dengan baik, beroperasi di industri yang prospektif dengan laba dan dividen yang diharapkan dapat tumbuh melebihi inflasi serta pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut adalah esensi dari growth investing. Sementara itu, Price sendiri mendefinisikan growth stocks sebagai saham dari suatu bisnis yang telah menunjukkan pertumbuhan laba jangka panjang yang meyakinkan dan setelah dipelajari dengan seksama, memberikan indikasi akan melanjutkan pertumbuhannya di masa mendatang.

Price mempercayai bahwa perubahan adalah satu-satunya kepastian bagi investor. Perubahan tren sosial, politik, ekonomi, dan industri akan mengubah pilihan saham kita.

Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang yang menganggap bahwa pada growth investing, kita bisa membeli saham pada harga berapa saja asalkan bisnisnya tumbuh, T. Rowe Price menaruh perhatiannya yang cukup besar tentang hal tersebut. Ia tidak menyukai Price to Earnings ratio (PER) yang tinggi. Price berpendapat bahwa waktu terbaik untuk membeli growth stock adalah ketika pasar tidak menyukai saham. Pada kondisi tersebut, kita bisa memperoleh saham yang bisnisnya tumbuh tinggi dengan harga yang lebih masuk akal.

Berbeda dengan Buffett yang melakukan pendekatan bottom up dalam berinvestasi, Price memilih pendekatan top down. Ia akan mempertimbangkan kondisi ekonomi serta mencoba mendeteksi titik-titik kritis dalam perjalanan suatu industri. Setelah itu ia akan memilih saham apa yang sesuai dengan hipotesisnya.

Laba dan Siklus Ekonomi

Pada setiap puncak dari siklus ekonomi, laba perusahaan akan cenderung meningkat. Price akan mendeteksi data laju pertumbuhan historis pada setiap puncak siklus ekonomi dan mempergunakannya untuk memproyeksikan laba perusahaan.

Price sangat memperhatikan siklus hidup perusahaan. Ia akan mencoba untuk mendeteksi perusahaan yang berada pada fase pertumbuhan awal yang belum banyak mendapatkan perhatian dari publik. Ia menekankan bahwa kita harus bisa mengenali tren pertumbuhan laba riil dari perusahaan dengan menghilangkan distorsi dari siklus ekonomi. Dalam hal ini, Price cenderung menjauhi perusahaan-perusahaan cyclical yang labanya sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi.

Kriteria Pemilihan Saham

Untuk mempermudah, saya akan membagi kriteria pemilihan saham Price menjadi dua aspek, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kriteria-kriteria berikut saya kutip dari buku Lessons from The Legends of Wall Street yang ditulis oleh Nikki Ross, CFP.

  • Aspek Kualitatif
  1. Apakah manajemen memiliki kapabilitas serta reputasi yang baik?
  2. Apakah top level manajemen memiliki saham perusahaan dengan jumlah yang substansial?
  3. Apakah produknya lebih baik dari kompetitor dan diinginkan oleh pelanggan?
  4. Apakah perusahaan memiliki divisi R&D yang bagus yang ditunjukkan dengan rekam jejak produk yang luar biasa?
  5. Apakah perusahaan adalah pemimpin pasar yang memiliki keunggulan kompetitif?
  6. Apakah perusahaan memiliki hubungan yang baik dengan karyawannya dan mampu menarik karyawan-karyawan berkualitas terbaik?
  7. Apakah perusahaan memiliki credit rating yang bagus dan utang yang kecil atau masuk akal?
  • Aspek Kuantitatif
  1. Apakah pertumbuhan penjualan, laba, dan dividen konsisten?
  2. Apakah profit margin cukup tinggi dana dapat bertahan di masa mendatang?
  3. Apakah manajemen mampu memberikan return on shareholder equity (ROE) dan return on total invested capital (ROIC) yang tinggi?
  4. Apakah sahamnya dijual dengan harga yang wajar jika dibandingkan dengan PER historis dan potensi laba di masa depan?

Selain kriteria-kriteria tersebut, Price juga sangat tidak menyukai campur tangan pemerintah dalam bisnis. Kriteria lain yang mungkin dimasukkan adalah kuatnya free cash flow.

Pendapat Pribadi Saya

Berdasarkan penjabaran di atas, terlihat bahwa walaupun T. Rowe Price menggunakan pendekatan yang berbeda dari investor lain seperti Warren Buffett atau Peter Lynch, terdapat beberapa kesamaan di antara mereka. Mereka bertiga memperhatikan prospek suatu bisnis sebelum berinvestasi serta mengapresiasi manajemen yang bagus.

Price menyukai perusahaan yang sedang dalam fase pertumbuhan awal. Dalam kenyataannya, tidak banyak perusahaan seperti ini walaupun bukan berarti tidak ada. Pada beberapa tahun terakhir, beberapa saham yang seingat saya memenuhi kriteria tersebut antara lain Arwana Citramulia (ARNA), Tiga Pilar Sejahtera (AISA), Ace Hardware (ACES), Selamat Sampurna (SMSM). Beberapa di antaranya adalah perusahaan lama yang mengalami kebangkitan kembali dan kemudian memulai era pertumbuhan tinggi.

Sebagai informasi, pada tahun 2013 terdapat kurang lebih 60 saham yang labanya selama 5 tahun berturut-turut tumbuh secara konsisten dengan laju minimal 15% per tahun. Berangkat dari situ, Anda bisa memeriksa ROE, ROIC, serta dividennya untuk membuat jumlahnya menjadi lebih sedikit dan mudah untuk diteliti dengan lebih seksama.

Posted in Stock Picking Strategies | Tagged , | 1 Comment

Kinerja Keseluruhan Emiten Selama Satu Dekade

This gallery contains 5 photos.

  “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it” -George Santayana-   Satu dekade bukanlah waktu yang singkat, terutama jika mengingat banyaknya informasi yang masuk ke smartphone kita setiap menit atau bahkan setiap detik. Banyak sekali yang … Continue reading

Gallery | Tagged , | 3 Comments