Fresh New Look: Street Investing

Setelah sekian lama menempuh jalur indie, akhirnya buku saya masuk ke jalue mainstream dan dapat diperoleh di toko buku. Dengan demikian, saya berharap ide-ide tentang analisis fundamental saham akan bisa tersebar lebih luas. Terima kasih untuk bro Santo Vibby dengan WealthyGrow-nya  yang telah memberikan saya kesempatan :)

Ok, apa yang bisa didapatkan dari Street Investing?

Buku ini bercerita tentang ide-ide tentang analisis fundamental saham yang dikemas dengan gaya jalanan. Apa maksudnya? Buku ini sebagian besar bersifat praktikal yang didapatkan dari pengalaman berinvestasi saya selama ini. Selama ini analisis fundamental mungkin terasa membosankan dan mirip bahan kuliah. Saya berusaha untuk melepaskan stigma tersebut dengan mencoba untuk memaparkannya dalam bahasa sehari-hari. Jikalau ada istilah-istilah yang ruwet, saya akan memberikan penjelasan lebih lanjut pada box tersendiri, tentunya dengan bahasa sehari-hari.

Jika tidak ada aral melintang, buku ini akan mulai beredar di toko-toko buku sekitar awal Februari.

Bagaimana penampakan bukunya? Eng ing eng… :)

Posted in Books for Sale | Tagged , | 4 Comments

ACES: The Hardware King (Bag. 3) – Valuasi

Sampai sejauh ini, terlihat bahwa kinerja ACES cukup mengesankan. Adanya riak-riak kecil pada tahun 2009 saya anggap wajar karena seperti umumnya perusahaan retail, ACES pasti terpengaruh oleh krisis global. Yang penting, ACES berhasil bangkit dan kembali ke jalan yang benar. Artikel sebelumnya tentang ACES dapat dibaca di:

ACES: The Hardware King (Bag. 1)

ACES: The Hardware King (Bag. 2)

Valuasi ACES adalah sbb:

Seperti yang telah diduga, saat ini ACES dijual dengan harga premium. Dengan P/E ratio 28x, sepertinya pasar telah memfaktorkan potensi ACES di masa mendatang. Mengapa harga ACES overshoot? Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, pasar telah memfaktorkan penurunan risk premium sebagai akibat dari masuknya Indonesia ke level investment grade. Artikel tentang investment grade dapat dibaca di http://parahita.wordpress.com/2011/05/19/indonesia-menuju-investment-grade/. Kemungkinan kedua adalah penggunaan proyeksi P/E ratio dan potential growth pada model valuasi secara konservatif (maksimum 17 untuk P/E ratio dan 15% untuk growth).  Ada kemungkinan jika kita lebih loose dalam pembatasan P/E ratio dan potential growth serta memfaktorkan penurunan risk premium, harga saat ini dapat terjustifikasi. Anyway, saya lebih suka bersikap konervatif dalam valuasi dan ACES ini akan masuk ke dalam waiting list saya.

Disclaimer is on.

Posted in Valuasi | Tagged | 1 Comment

Sebuah Cerita Tentang Krisis Eropa dari Seorang Sahabat di Belanda

“Euro Crisis Update”. Saat ini ketika keluar istirahat makan siang ketemu para pekerja di sektor “Kebersihan” (Schoonmaak sector) yg sedang berdemo.                                          Foto oleh Roy Marto Tamba

Kemarin sore ketika membuka wall facebook saya, muncul mention dari salah seorang sahabat ketika kuliah dahulu, Roy Marto Tamba. Beliau memasang foto para pekerja kebersihan di Belanda yang sedang berdemonstrasi berkaitan dengan krisis Eropa. Kontan saja saya tertarik karena bisa langsung bertanya pada orang yang menjadi saksi langsung apa yang sedang terjadi di sana. Sebagai informasi, sahabat saya ini walaupun sudah cukup lama tinggal negeri Belanda, seringkali menulis tentang perkembangan Indonesia di facebook-nya. Rindu tanah air rupanya kau Lae :)

Berikut adalah petikan obrolan saya dengan Beliau di facebook:

Parahita Irawan: Memang Belanda kena krisis juga?

Roy Marto Tamba: Sialnya… Iya. Belanda salah satu negara penyumbang dana terbesar ke Uni Eropa (setelah German dan Perancis). Negeri kecil ini juga kena dampaknya tetapi tidak separah Yunani dan Italy. :)

Parahita Irawan: Efek di kehidupan sehari-hari apa?

Roy Marto Tamba: Buat siapa dulu bro?Buat mereka yang berdemo tadi atau buat siapa?

Yang pasti iklim usaha masih lamban bergerak bahkan menurut prediksi/proyeksi ekonomi dikatakan bahwa ekonomi bertumbuh menjadi 0,2% di tahun 2012 (setelah sebelumnya malah minus) dan angka pengangguran di tahun 2012 ini naik menjadi 5,3% dan 6% di tahun 2013 (Sumber: De Nederlandsche Bank /Bank Central Belanda). Angka ini tentu saja diakibatkan karena krisis di Eropa yang masih berlangsung telah “memakasa” mau tidak mau, pemerintah Belanda melakukan apa yang dinamakan pengetatan anggaran belanjanya, sebesar 5,5 milyar euro.

Nah, bagi mereka yang terkena langsung dampak krisis ekonomi seperti yang dipecat dari pekerjaan nya, maka untuk sementara mereka akan mendapatkan uang bulanan sesuai UU Tenaga Kerja Belanda. Jumlahnya adalah (rata-rata) 70% dari gaji terakhir sebelum dia dipecat yang diterimanya setiap bulan. Berapa lama dia mendapatkan uang tersebut? Tergantung berapa lama orang tersebut bekerja di perusahaan tersebut (ada hitungan nya) tetapi kalau tidak salah waktunya maksimal 2 tahun (angka 2 tahun ini kalau tidak salah loh ya, pastinya aku harus cek lagi UU nya bro). Lalu, duit nya dari mana? Jawabannya adalah dari instansi asuransi tenaga kerja. Sebelumnya setiap pekerja atas perintah UU Tenaga Keja Belanda, wajib diasuransikan oleh si pemberi kerja jikalau suatu saat tenaga kerja tersebut harus dipecat dari kerjaan nya karena berbagai alasan tertentu termasuk karena alasan krisis ekonomi ini.

Hal ini dimaksudkan agar dalam waktu tertentu pekerja sudah menemukan kerjaan baru selama 2 tahun yang aku maksudkan di atas tadi. Lalu bagaimana setelah 2 tahun, sang pekerja juga belum menemukan kerjaan yang baru?Maka orang tersebut dapat meminta tunjangan sosial ke pemerintah Belanda? Seberapa besar?Sebesar biaya hidup minimum di Belanda?Berapa lama? SE-UMUR HIDUP (setidaknya sampai UU Jaminan Sosial nya tidak berubah di tengah jalan).

Kembali ke pertanyaanmu di atas Hit. Aku harap kamu sendiri bisa menyimpulkan kira-kira apakah yang terjadi di kehidupan sehari-hari buat mereka yang terkena dampak/efek langsung krisis Eropa yang sedang berlangsung sekarang ini. *Tabik*

Parahita Irawan: Kalau baca penjelasannya, sepertinya belanda rentan krisis karena tunjangan hidup yg bisa diberikan pemerintah pasti ada batasnya. Sampai di mana batasnya? Itu yg harus dipelajari lebih mendalam.

Roy Marto Tamba: Untuk Parahita Irawan, batasnya untuk “besaran angka” adalah tidak lebih dari biaya hidup minimal di Belanda. Tetapi kalau yang dimaksud dengan batasan nya adalah “sampai kapan diberi”, ya intinya sampai dia menemukan pekerjaan baru untuk menghidupi dirinya sendiri atau keluarganya. Kalau tidak bisa menemukan ya tetap terus disantun oleh pemerintah.

Aku tidak sependapat dengan mu kalau mengatakan Belanda rantan krisis karena model tunjangan hidup/sosial seperti itu. Belanda dan negara-negara Eropa lainnya yang menganut sistem tunjangan sosial seperti itu sudah berkali-kali menghadapi krisis, dan berkali-kali juga masih hidup dan bergerak sampai saat ini.

Belanda terkenal sebagai negara yang memiliki investasi besar di Luar Negeri (kalau tidak salah 10 negara investor terbesar di dunia). Dan mayoritas investasinya ada di AS jadi jika AS goyang maka riaknya dapat menyentuh perekonomian nya sendiri. Nah kalaupun mau dicari rentan krisis disebebakan oleh apa, maka yang paling logis dan mendekati jawabanya adalah investasinya harus disebar ke berbagai negara dunia yang memiliki prospek perekonomian bagus, jadi tidak menumpuk di satu negara besar seperti AS saja. Ini kalau mau mencari cepat jawaban nya apa.

Parahita Irawan: Ya memang historinya belanda bisa bertahan dari krisis ke krisis. Maksudku ketika tingkat pengangguran semakin tinggi, maka pemerintah harus mengeluarkan budget lebih besar utk memberikan tunjangan. Kalau tidak waspada akibatnya akan seperti Yunani yg rakyatnya hidup dgn standar di atas kemampuan sebenarnya.

Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena negara sebesar AS pun harus berpikir ribuan kali utk meloloskan UU jaminan kesehatan karena berpotensi membebani anggaran negara.

Bagaimanapun Lae, Belanda adl negara maju yg sudah bisa mengatur negara selama berabad-abad sehingga mestinya tidak semudah itu takluk pada krisis.

Aku berharap Indonesia bisa belajar banyak dari negara-negara maju untuk mengatur negeri ini. Indonesia negara kaya Lae, kalau gak, gak bakalan banyak direbutin oleh negara lain. Harapanku gede Lae, Indonesia bisa semaju negara-negara tsb.

Roy Marto Tamba: Aduh mas, harapan mas itulah yang menjadi mimpiku juga kepada negeri tercinta Indonesia.Negaranya kaya raya, orang pintar dan bijak berlimpah, orang beriman dan beragama ada dimana-mana, motivator-motivator ulung di setiap channel saluran TV ada. Lalu apakah aku “berdosa” memimpikan seperti yang Mas harapkan itu? Hmmm… rasa-rasanya tidak! :-|

Posted in obrolan investasi, Obrolan Warung Kopi | Tagged | 4 Comments

ACES: The Hardware King (Bag. 2)

Setelah pada artikel sebelumnya kita membicarakan bagaimana kinerja operasional ACES, pada artikel ini kita akan berdiskusi tentang kinerja keuangannya.

Sumber: Laporan Tahunan ACES 2010

Terlihat bahwa dari tahun ke tahun, ACES berhasil memperbaiki gross profit margin sehingga naik cukup signifikan dari 36,90% pada tahun 2007 menjadi 43,18% pada tahun 2010. Hal ini membuat operating margin dan net profit margin pun meningkat.

Pada tahun 2010, ROE ACES adalah 17,26% yang walaupun menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya namun masih cukup menarik dan yang jelas ada peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan ROE pada tahun 2007 yang hanya 10,42%. Hal yang sama pun terjadi pada ROA ACES yang cukup tinggi.

Hal yang sangat menarik adalah bahwa ACES tidak mempunyai utang (berbunga). Hal ini sangat penting karena ACES akan mampu bertahan ketika masa krisis datang.

Net profit growth ACES dari tahun ke tahun pun cukup stabil di luar lonjakan yang terjadi pada tahun 2007.

Karena ACES adalah perusahaan retail, sangat penting bagi kita untuk menganalisis perputaran uangnya. Semakin cepat uangnya berputar semakin besar keuntungan yang diperoleh ACES. Bagaimana cara untuk mengetahuinya? Mari kita perhatikan tabel berikut:

Sumber: Laporan Keuangan ACES

 Apa maksud dari angka-angka pada tabel tersebut?

Tabel tersebut berbicara tentang bagaimana cepatnya uang kas ACES berputar. Sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu konsepnya

  • Ketika ACES mengambil barang dari supplier biasanya tidak harus dibayar pada saat itu juga. Umumnya ada tenggang waktu yang diberikan oleh supplier bagi ACES untuk melunasinya. Lamanya waktu yang bisa didapatkan oleh ACES kita sebut dengan days payable outstanding. Semakin lama ACES bisa menangguhkan pembayaran piutang ke supplier, semakin cepat uangnya berputar.
  • Barang yang didapat dari supplier akan disimpan di warehouse dan selanjutnya dipajang di gerai sampai dengan dibeli. Lamanya waktu dari penerimaan barang sampai dengan terjual kita sebut dengan days in inventory. Semakin cepat barang terjual, semakin bagus efeknya bagi ACES karena uangnya lebih cepat berputar.
  • Barang yang telah terjual ada yang dibayar pada saat pembelian, ada pula yang dibayar kemudian.  Terlebih pada masa kini di mana kartu kredit sudah umum digunakan sehingga ACES menerima uang hasil penjualan sedikit terlambat. Lamanya waktu mulai dari barang terjual hingga pembayaran diterima kita sebut dengan days sales outstanding. Semakin cepat pembayaran dilakukan, semakin cepat uang ACES berputar.

Lamanya waktu mulai dari pembayaran barang ke supplier sampai dengan uang hasil penjualan diterima oleh ACES disebut dengan cash conversion cycle. Semakin pendek cash conversion cycle, semakin cepat uang ACES berputar sehingga keuntungannya pun semakin meningkat. Cash conversion cycle dapat dihitung dengan rumus berikut:

Cash conversion cycle = days in inventory + days sales outstanding – days payable outstanding

Terlihat bahwa dari ke tahun ke tahun, days payable outstanding ACES terus menurun dari 29,3 hari menjadi hanya 19,8 hari. Dengan kata lain, tenggang waktu pembayaran ke supplier semakin sempit. Hal ini kurang bagus. Oleh karena itu, kita harus memeriksa komponen yang lain. Cukup melegakan ketika saya mengetahui bahwa dari tahun ke tahun, barang yang disimpan oleh ACES semakin cepat terjual. Hal ini terlihat dari days in inventory yang turun dari 73,5 hari menjadi hanya 45,2 hari. Satu hal lagi yang saya apresiasi adalah terus menurunnya jangka waktu pembayaran dari pelanggan. Hal ini terlihat dari days sales outstanding yang turun dari 6 hari menjadi hanya 3,9 hari.

Secara keseluruhan, terlihat bahwa dari tahun ke tahun perputaran uang ACES semakin cepat dari 50,2 hari pada tahun 2007 menjadi hanya 29,3 hari pada tahun 2010.

Update Kinerja Kuartalan ACES

Jika dari tahun ke tahun kinerja ACES terlihat menarik, mari kita mencoba melihat bagaimana perkembangan terakhirnya.

Sumber: Laporan Keuangan ACES

Terlihat bahwa baik revenue, gross profit, operating income, dan net income ACES terus meningkat dari kuartal ke kuartal. Hal ini adalah pertanda baik. Sepertinya ACES terlihat menarik untuk dilirik. Langkah terakhir adalah mencari berapa harga wajar ACES yang akan kita diskusikan pada artikel berikutnya.

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 2 Comments

ACES: The Hardware King (Bag. 1)

Yang terlintas pertama kali di kepala saya ketika mendengar Ace Hardware adalah sebuah gerai yang menjual berbagai macam perkakas dan peralatan rumah tangga. Seperti yang dinyatakan sendiri oleh mereka, Ace Hardware (kode BEI: ACES) adalah peritel untuk produk home improvement dan gaya hidup.  Walaupun mereka memiliki beberapa kompetitor namun tampaknya merekalah market leader di bisnis ini. Kekuatan Ace Hardware ini tidak terlepas dari dukungan dari PT Kawan Lama Sejahtera sebagai pemegang saham mayoritas (59,97%) yang telah dikenal sebagai pemain lama untuk penyedia perkakas dan alat-alat rumah tangga. Pada tahun 2010, Ace Hardware membuka Toys Kingdom yang merupakan ritel mainan yang menyasar segmen anak-anak, remaja, dan dewasa. Namun sepertinya karena masih baru, segmen usaha mainan ini belum mampu untuk menyumbang penjualan bagi  Ace Hardware secara signifikan seperti terlihat pada tabel berikut:

Sumber: Laporan Tahunan ACES 2010, diolah

Segmen mainan hanya menyumbang 0,51% pendapatan total ACES. Penyumbang utama penjualan ACES adalah produk-produk perbaikan rumah (home improvement) (64,14%) sementara produk gaya hidup (life style) memberikan kontribusi 35,35% terhadap penjualan total.

Hal menarik yang saya temui di laporan keuangan ACES adalah besarnya persentase opex/ SGA expense (selling, general & administration expense) terhadap laba kotor yaitu 69%. Seperti yang diketahui laba operasi merupakan laba kotor setelah dikurangi opex. Dengan demikian tingginya opex akan membuat tergerusnya laba usaha dan laba bersih. Dari LK ACES terlihat bahwa komponen gaji karyawan menempati urutan teratas yang menyumbang 39,4% opex. Urutan kedua ditempati oleh biaya sewa yang menyumbang 14,8% opex.

Apa kesimpulannya?

Seperti umumnya bisnis retail, karyawan memegang peranan sangat penting karena mereka akan langsung berhubungan dengan pelanggan. Gaji karyawan yang terlalu rendah akan menurunkan motivasi kerja dan pada akhirnya berakibat buruk bagi layanan mereka. Sebaliknya, gaji yang terlalu tinggi akan membuat laba kotor tergerus sehingga kinerja perusahaan akan menurun. Di sinilah letak peranan manajemen untuk mengelolanya sehingga komponen gaji karyawan persentasenya optimal.

Ok, mari kita menyelami kondisi operasionalnya lebih mendalam dengan memperhatikan tabel berikut:

Sumber: Laporan Tahunan ACES 2010

SSG (Same Store Growth) ACES sempat mengalami penurunan -1,7% pada tahun 2009 karena krisis global dan kembali positif di tahun 2010 (+5,6%). SSG yang positif sangat penting untuk mengetahui apakah meningkatnya penjualan hanya disebabkan oleh penambahan jumlah gerai atau tidak.  Yang jelas, store area ACES terus meningkat dari tahun ke tahun, sebanding dengan bertambahnya jumlah gerainya. Nilai SSG yang positif dan pertumbuhan store area serta jumlah gerai merupakan kombinasi yang bagus untuk menopang pertumbuhan ACES. Hal ini terlihat pada net profit yang terus meningkat dari tahun ke tahun seperti terlihat pada chart di bagian kanan bawah. Untuk kontrol saya menyertakan chart operating cash flow. Terlihat bahwa net profit naik beriringan dengan operating cash flow sehingga dapat dikatakan kinerja ACES cukup bagus.

Secara operasional dapat dikatakan bahwa ACES cukup mengesankan. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi membuat penjualan perusahaan-perusahaan retail secara umum meningkat. Pada bagian kedua kita akan berdiskusi tentang kinerja keuangan dan valuasi ACES.

Bagian kedua dapat dibaca di sini:

ACES: The Hardware King (Bag. 2)

Posted in Strategi Investasi | Tagged , | 6 Comments

Kursus Dasar Reksadana (KDR) ke-4 di Bandung

Untuk rekan-rekan di Bandung yang ingin mengikuti Kursus Dasar Reksadana, simak infonya berikut ini. Kebetulan saya menjadi salah satu pembicara untuk acara tersebut.

Untuk info lebih lengkap, silakan cek di: http://www.portalreksadana.com/node/567

Rekans sekalian, tahun 2012 akan menjadi momentum yang bersejarah, dimana 4 tahun semenjak diselenggarakannya KDR Perdana, akhirnya untuk pertama kalinya KDR akan berkunjung ke berbagai kota di Indonesia. Pada bulan Januari 2012, para kontributor legendaris PortalReksadana akan singgah di kota Bandung.

Jika masih ada keraguan seperti apa iklim investasi di 2012, peserta KDR-4 akan menjadi yang pertama mendapatkan ulasan Market Outlook 2012 yang akan disajikan oleh tim analis ekonomi dari Commonwealth Bank.

Waktu dan Lokasi Kegiatan

KDR-4 akan diselenggarakan di Bandung, pada tanggal 21 Januari 2012, bertempat di:
Hotel Lingga, Jl. Soekarno Hatta 464, Bandung.

Agenda Acara

08.00 – 09.00 Registrasi dan Coffee Break
09.00 – 10.30 Financial Planning
Narasumber: Eko Endarto, RFA

  • Kenapa financial goal itu penting
  • Holistic view dari personal finance
  • Goal setting & criteria
  • Menyusun goal dengan MyPlan
10.30 – 12.00 Proteksi Kekayaan
Narasumber: Rina Dewi Lina, CFP, LUF

  • Produk perlindungan kekayaan sesuai dengan manfaat
  • Apa dan siapa yang perlu dilindungi
  • Menghitung jumlah kebutuhan perlindungan
  • Mengapa klaim tidak dibayar?
12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 14.00 Market Outlook 2012
Narasumber: PT. Bank Commonwealth
14.00 – 15.30 Optimalisasi Return Investasi Reksadana
Narasumber: Passion4U, Dunkz

  • Mengenal jenis-jenis reksadana
  • Portfolio design: influencing factor & composition
  • Cara memilih reksadana
  • Panduan penggunaan PortalReksadana Matrix™
  • Strategi investasi reksadana: DCA, Value Averaging, Periodic Portfolio Rebalancing, Economic Cycle Allocation, Market Cycle Allocation
15.30 – 16.00 Closing session

  • Diskusi informal
  • Foto bersama

Doorprize dan Souvenir

    • Buku buah karya Eko Endarto, RFA: Koki Duit, Rahasia Mudah Mengelola Gaji, Jangan Mau Diperbudak Kartu Kredit
    • Doorprize dan souvenir dari Commonwealth Bank

Biaya Pendaftaran

        • Donatur: Rp. 250.000
        • Member: Rp. 300.000 (rate early bird, untuk pendaftaran sebelum tanggal 8 Januari 2012)
        • Member: Rp. 350.000 (rate normal)

Prosedur Pendaftaran

      • Pendaftaran hanya dapat dilakukan secara online, silakan isi form dibawah (klik “signup for …”). Mohon mengisikan nama lengkap dan nomor kontak yang dapat dihubungi. Pendaftaran hanya dapat dilakukan oleh member PortalReksadana, pastikan rekan sekalian sudah login.
      • Pembayaran dilakukan melalui transfer ke:
        • Bank BCA Yogyakarta No. 037.2668910 atas nama ADITYO HIDAYAT
        • Bank Mandiri Yogyakarta No. 137-0098154608 atas Nama ADITYO HIDAYAT
      • Pastikan menuliskan username Anda pada berita/keterangan transfer. Tanpa adanya keterangan ini, pendaftaran Anda tidak dapat diverifikasi.
      • Mengingat terbatasnya kapasitas peserta (hanya 100 kursi), maka time-limit pembayaran adalah 2 hari sejak tanggal pendaftaran. Lebih dari itu, nama peserta akan dihapus guna memberikan kesempatan bagi rekan lainnya untuk mendaftar.
      • Jika transfer telah kami verifikasi, nama peserta akan tampil sebagai “Attended” dalam daftar peserta di artikel publikasi KDR-4. Peserta juga akan menerima email Konfirmasi Registrasi KDR-4 yang harus ditunjukkan kepada panitia pada saat kegiatan untuk ditukarkan dengan goodybags dan name tag.
      • Pendaftaran dan pembayaran langsung pada hari H tetap diterima, namun panitia tidak dapat menjamin ketersediaan fasilitas KDR, seperti: kursi, goodybags.
Posted in obrolan investasi | 2 Comments

Kisah Sebuah Perusahaan Raksasa Bernama IHSG (Bagian 2: Industry Showdown)

Setelah menggabungkan laporan keuangan setiap perusahaan, kali ini kita akan mencoba untuk melihat kinerja keuangan per industri yang ada di BEI.


Apa kesimpulan dari chart di atas? Silakan disimpulkan sendiri :)

Disclaimer is on.

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 2 Comments

Kisah Sebuah Perusahaan Raksasa Bernama IHSG

Dalam melakukan analisis fundamental, kita biasanya berbicara tentang PER, DER, ataupun growth. Pada umumnya, analisis dilakukan terhadap suatu perusahaan. Kali ini saya mempunyai ide untuk melakukan analisis terhadap IHSG dengan mengasumsikan IHSG adalah sebuah perusahaan yang memiliki parameter-parameter tersebut. Sulitkah? Bagi saya sangat sulit karena mengolah data keuangan lebih dari 400 emiten yang terdaftar di BEI pasti akan sangat memusingkan kepala. Walaupun masih banyak lubang di sana sini, saya akan coba memaparkan datanya.

Lalu apakah berguna? Tentu. Dengan melihat seluruh emiten secara komprehensif kita akan dapat memiliki gambaran yang lebih jelas dibandingkan dengan apabila kita melakukan analisis hanya terhadap masing-masing emiten saja.

Ide ini mungkin agak gila namun sangat berguna untuk memberikan kita panduan berinvestasi di bursa saham.

Apakah datanya valid? Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, masih banyak kekurangan di sana-sini. Namun jika kita menunggu datanya benar-benar sempurna mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama. Tujuan saya di sini adalah memberikan gambaran umum tentang kinerja historis emiten secara keseluruhan. Banyak sekali emiten yang memiliki kinerja yang mempesona namun apakah jika digabungkan dengan emiten yang biasa-biasa saja IHSG tetap menarik?

Ok, tanpa berlama-lama mari kita lihat chart berikut di mana masing-masingnya merepresentasikan penjumlahan total dari sekitar 400-an emiten yang terdaftar di BEI.

Apa kesimpulan penting yang bisa kita peroleh dari keempat grafik di atas?

  1. IHSG adalah sebuah perusahaan raksasa di mana net income (laba bersih) sejak tahun 2003 hingga tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup tajam (dari 40 triliun pada tahun 2003 terus naik menjadi 173 triliun pada tahun 2010). Angka tersebut merepresentasikan kenaikan sebesar 20,39% per tahun.
  2. Hal yang sama juga terjadi pada nilai ekuitasnya yang naik dari 146 triliun pada tahun 2003 menjadi 1.003 triliun pada tahun 2010 atau tumbuh sebesar 22,33% per tahun.
  3. Chart keempat bagi saya sangat menarik karena menunjukkan bahwa debt to equity ratio turun drastis dari 1,18 pada tahun 2003 menjadi hanya 0,6 pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa emiten secara keseluruhan mampu memanfaatkan pertumbuhan bisnis yang baik untuk mengurangi risiko. Secara umum, debt to equity ratio(DER) dianggap aman jika bernilai kurang dari 1.
  4. Selaras dengan pertumbuhan laba bersih, assets dan capex (capital expenditure) emiten secara keseluruhan juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 terlihat bahwa capex mengalami penurunan. Hal ini cukup wajar mengingat emiten agak mengerem laju bisnisnya karena adanya krisis global yang terjadi pada tahun sebelumnya.
  5. Bagaimana dengan Price to Earning ratio (PER) IHSG? Terlihat bahwa PER IHSG terombang-ambing di antara level 9,78x hingga 18,81x. Apa informasi penting yang dapat kita peroleh dari chart tersebut? Terlihat bahwa meskipun secara keseluruhan emiten memiliki kinerja yang cukup bagus, tidak demikian halnya dengan harga sahamnya. Harga saham dalam jangka pendek dipengaruhi oleh behavior investor. Jika kita cukup bersabar untuk menunggu PER menjadi cukup murah, maka kemungkinan besar kita akan mendapatkan keuntungan yang besar.
  6. Chart terakhir menunjukkan data historis ROE (Return on Equity) selama 7 tahun terakhir. Secara umum dapat dikatakan bahwa ROE IHSG cukup stabil di kisaran 15,35% hingga 19,56%. Nilai ROE sebesar itu tidak bisa dipandang sebelah mata karena biasanya ROE dianggap cukup tinggi jika lebih tinggi dari 15%.

Secara umum dapat dikatakan bahwa emiten-emiten BEI menunjukkan performa yang cukup mengesankan. Lalu apakah kita bisa asal comot saham? Tidak. Kita tetap harus melakukan analisis secara komprehensif terhadap tiap-tiap emiten sebelum berinvestasi. There is no free lunch unfortunately :)


Disclaimer is on.

(Artikel ini bukanlah ajakan untuk membeli ataupun menjual suatu saham melainkan hanyalah opini pribadi dari penulis)

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 2 Comments

Kisah Dua Saudara

Mengawali tahun 2012 ini, saya mempunyai sebuah cerita yang semoga dapat memberikan hikmah bagi kita semua.

Alkisah terdapatlah  dua bersaudara yang masing-masing bernama Mr. Company dan Mr. Stock. Meskipun bersaudara mereka memiliki lingkungan pergaulan yang berbeda. Mr. Company cenderung pilih-pilih dalam berteman. Ia biasanya hanya berteman dengan orang-orang pilihan. Tidak semua orang bisa menjadi sahabatnya. Walaupun terkesan angkuh, apa yang dilakukan oleh Mr.Company dapat dipahami karena ia memiliki tujuan hidup yang jelas. Seiring berjalannya waktu, Mr. Company dan teman-temannya mulai mewujudkan berbagai hal untuk kepentingan bersama.

Lalu bagaimana dengan Mr. Stock? Berbeda dengan saudaranya, Mr.Stock tidak memilih-milih dalam berteman. Wajar saja ia memiliki banyak sekali teman. Sayangnya, hal tersebut harus dibayar mahal oleh Mr. Stock. Kelemahannya yang paling kentara adalah sifatnya yang mudah dipengaruhi oleh orang lain. Manakala ia bertemu dengan teman-temannya yang berperangai buruk, ia pun akan turut memiliki sifat yang sama dengan mereka. Ketika ia bertemu dengan teman-teman yang budiman, ia bisa menjadi baik hati bagaikan malaikat. Saat ia bersama dengan teman-teman yang pemalas, ia pun menjadi pemalas pula.

Walaupun dua bersaudara ini memiliki sifat yang berbeda, ada kalanya mereka bisa menjadi sangat kompak. Biasanya hal ini terjadi ketika mereka memiliki teman-teman yang sama. Mr. Company,  Mr. Stock dan teman-temannya akan bermain bersama. Mr. Company pun akan merasa senang karena merasa bahwa Mr. Stock dapat memahami jalan pikirannya. Ketika hal tersebut terjadi, teman-teman Mr. Stock pun merasa sangat senang karena persahabatan mereka telah menghasilkan sesuatu yang berguna.

Posted in Obrolan Warung Kopi | Tagged | Leave a comment

IHSG vs Inflation, A Long Term View (1984 – 2011)

Karena ada yang bertanya bagaimanakah kinerja IHSG jika dibandingkan dengan tingkat inflasi, mari kita perhatikan chart berikut:

IHSG naik sebesar 55x lipat sementara inflasi yang diwakili oleh harga rata-rata konsumen pada kurun waktu yang sama naik menjadi 12x lipat. A good sign :) Dan itupun belum memasukkan faktor dividen.

Data inflasi diperoleh dari World Economic Outlook (WEO) Databases milik IMF untuk bulan September 2011.

Posted in Investasi | Tagged , | 1 Comment

Perjalanan Panjang IHSG (1984 – 2011)

Semoga chart di bawah bisa menjadi bahan renungan. Layakkah kita berinvestasi di saham.

Sejak tahun 1984, IHSG telah naik sebesar lebih dari 40 kali lipat atau setara dengan 15,8% per tahun.

Terlihat kecil? Bisakah Anda secara konsisten memperoleh return sebesar itu dalam jangka panjang?

Terlihat kecil? Nilai tersebut tidak memasukkan faktor dividen. Karena keterbatasan data saya tidak bisa memasukkan dividen ke dalam perhitungan.

Siap untuk investasi jangka panjang?

Posted in Investasi | Tagged | 7 Comments

Jangan Terbalik dalam Menimbang Risiko

Mind set bahwa investasi saham sangat berisiko sudah tertanam cukup kuat di  benak kebanyakan orang. Sudah umum kita mendengar orang berkata bahwa “main saham itu seperti judi”, “main saham itu bisa bikin bangkrut”, “mendingan bisnis riil, hasilnya keliatan” dan berbagai macam ungkapan lainnya. Tidaklah mengherankan apabila jumlah investor saham di Indonesia terbilang sangat sedikit. Saat ini jumlah investor saham di Indonesia hanya sekitar 0,2% dari jumlah penduduk atau sekitar 350 ribu orang. Jumlah ini terbilang sedikit. Sebagai gambaran, jumlah investor saham di negara tetangga kita, Malaysia, mencapai 12% dari jumlah penduduknya.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa investasi saham tidak berisiko. Saya mengakui bahwa investasi saham mengandung risiko yang cukup tinggi. Sebagai contoh, krisis global tahun 2008 telah menyebabkan harga saham rata-rata turun sekitar 50%. Walaupun saat ini harga saham telah pulih kembali, kenangan atas kejadian tersebut kemungkinan masih membekas di dalam ingatan kita. Lalu mengapa hingga saat ini saya masih tetap bertahan berinvestasi saham?

Ijinkan saya untuk memberikan suatu gambaran. Beberapa tahun belakangan ini bisnis model franchise sangat marak. Modal yang dibutuhkan untuk terjun ke dalamnya cukup variatif, mulai dari 3 juta rupiah hingga milyaran rupiah. Oleh karena itu kita mempunyai banyak pilihan. Kalkulasi potensi keuntungannya pun terlihat sangat menggiurkan. Namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa setiap bisnis mengandung risiko, demikian pula bisnis model franchise. Walaupun banyak franchise didukung oleh kekuatan merk dari franchisor nya, jangan lupa bahwa kita harus memulai bisnis dari awal. Pada fase tersebut, potensi keuntungannya besar dan begitu pula risikonya pun cukup besar. Tidak dapat dipungkiri, jika kita berhasil modal akan cepat kembali dan laba akan terus terkumpul. Di sisi lain, apabila kita gagal maka ada kemungkinan kita akan kehilangan seluruh modal kita. Keadaan akan bertambah rumit apabila modal kita berasal dari utang. Ketika bisnis kita bangkrut, cicilan utang masih tetap menghadang di depan mata.

Lalu bagaimana dengan saham? Secara teori, potensi kerugian terbesarnya adalah hilangnya seluruh modal kita. Sama seperti bisnis riil, kita akan terlilit utang apabila kita memanfaatkan fasilitas margin trading. Saat membeli saham suatu perusahaan, kita tidak ubahnya membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut, mirip seperti ketika memulai bisnis di sektor riil. Jika bisnis perusahaan tersebut maju, maka kita akan mendapatkan dividen dan capital gain. Perbedaan utama dan merupakan keuntungan investasi saham dibandingkan dengan bisnis riil adalah kita tidak harus mengelolanya sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah mencari perusahaan yang kinerjanya bagus dan memiliki bisnis yang prospektif. Kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan pembayaran sewa ataupun mengelola karyawan. Bisa dikatakan hampir tidak ada pekerjaan yang mengharuskan kita secara fisik ketika berinvestasi saham.

Jika kita membeli saham-saham blue chip, dapat dikatakan risiko kita akan semakin mengecil. Saham blue chip umumnya adalah saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang kuat secara fundamental dan memiliki kinerja yang bagus. Sebut saja Indofood, BCA, Astra, dan lain-lain. Secara logis, manakah yang lebih berisiko, memulai bisnis rill atau berinvestasi di saham yang bisnisnya telah teruji? Berapa persen kemungkinan Astra akan bangkrut dalam lima tahun ke depan? Tentunya sangat kecil. Berapa persen kemungkinan usaha yang baru kita rintis akan gagal? Anda sendiri yang dapat menjawabnya.
Mungkin masih ada satu hal yang mengganjal. Investasi pada saham blue chip ‘kan potensi keuntungannya kecil. Yah, memang ada beberapa yang seperti itu. Namun bagaimana dengan saham Kalbe Farma atau Astra International yang naik beberapa kali lipat harganya selama beberapa tahun terakhir? Tentu saja keuntungan yang lebih besar akan kita dapatkan apabila kita berinvestasi pada saham-saham second liners yang notabene mengandung risiko yang lebih tinggi dibandingkan saham-saham blue chip.

Jika kita memandang dari sisi bisnis, jika kita memulai suatu usaha potensi keuntungannya besar karena masih berada dalam tahap growth. Hal tersebut cukup wajar. Kondisi yang setara akan kita alami apabila apabila kita membeli saham yang baru saja IPO, terlebih jika perusahaan tersebut belum lama berdiri. Risiko kita akan semakin berkurang apabila kita membeli perusahaan yang telah berada dalam fase selanjutnya di mana growth masih cukup besar namun mulai memiliki brand equity dan laba mulai terlihat. Risiko akan semakin menurun lagi apabila kita membeli saham perusahaan yang telah sukses dan menjadi market leader.

Berbisnis di sektor riil ataupun berinvestasi saham memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Pilihan ada di tangan Anda.

Posted in obrolan investasi | Tagged | 1 Comment

Saham-Saham dengan PER Rendah

Salah satu langkah awal untuk mendapatkan saham-saham bagus dengan harga murah adalah dengan mencari saham dengan P/E ratio rendah. Walaupun P/E ratio cukup kontroversial untuk digunakan sebagai patokan harga wajar, kita dapat menggunakannya untuk referensi awal. Tentu saja kita harus melakukan analisis lebih terperinci untuk mengetahui apakah saham-saham yang terpilih memang benar memiliki fundamental yang bagus.

Untuk mendapatkan saham-saham dengan PER rendah, kita dapat memanfaatkan fasilitas screener di website Financial Times (FT.com). Setelah melakukan screening untuk mencari saham-saham dengan PER < 10, saya mendapatkan hasil sbb:

Sebenarnya jika hanya menggunakan filter PER, ada 129 saham yang memenuhi syarat. Untuk lebih mempersempit pencarian, saya mensortir saham-saham yang memiliki DER lebih dari 1 serta membuang saham-saham dengan net profit margin < 10% sehingga tersisa 53 saham.

Karena untuk melakukan analisis satu persatu membutuhkan usaha yang cukup besar, saya mempersilakan pembaca untuk mencoba melakukan analisis (yang mendasar saja) dan saya akan mencoba untuk melakukan analisis yang akan saya tampilkan di blog.

Sebutkan saham yang Anda pilih di komentar dan saya akan mencoba melakukan analisis semampu saya.

 

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 30 Comments

Mencari ‘Pemenang’ di Antara ‘Pecundang’

Umumnya, saham yang kinerjanya memenuhi atau bahkan melebihi ekspektasi para analis akan cenderung naik harganya. Saham-saham tersebut bisa kita temukan dengan melakukan due diligence. Untuk mencari saham-saham seperti itu, sudah banyak artikel di blog ini yang bisa dijadikan acuan. Saham-saham yang bagus kinerjanya dan banyak di-cover oleh para analis umumnya banyak diperebutkan orang. Hasilnya dapat diduga, walaupun kinerja keuangannya bagus, harganya akan menjadi mahal. Pada kondisi normal, sangat sulit bagi kita untuk mencari saham-saham bagus yang dijual dengan harga murah.  Harga terbaik yang bisa kita dapatkan umumnya adalah harga wajarnya.  Untuk mendapatkan saham-saham bagus dengan harga murah, kita harus menunggu ada koreksi pasar yang cukup dalam dan hal tersebut cukup jarang terjadi.

Jika ingin sedikit berbeda, cobalah untuk mencari saham-saham yang harganya turun cukup dalam selama 1 tahun terakhir . Salah satu cara untuk mencarinya adalah dengan memanfaatkan fasilitas screener dari FT.com. Dengan sedikit usaha, kita akan mendapatkan saham-saham seperti itu. Mengapa saham-saham tersebut harganya terjun bebas? Penyebab yang paling sering terjadi adalah adanya penurunan kinerja. Setiap kuartal, para analis sekuritas akan mengeluarkan hasil riset mereka dan menetapkan target harganya. Saham-saham yang masuk ke dalam daftar akan mereka ikuti terus sembari memperbarui target harganya apabila terjadi perubahan kinerja. Saham-saham yang kinerjanya di bawah ekspektasi dengan segera ‘dihukum’ sehingga harganya langsung turun. Apakah hal ini bisa menjadi masalah bagi para investor? Bisa ya bisa tidak. Jika kita yakin bahwa saham tersebut masih berada dalam kondisi yang cukup baik, downgrading terhadap saham tersebut akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membeli lebih banyak lagi. Lain halnya jika dasar pembelian saham kita hanyalah hasil riset tersebut. Adanya downgrading akan memaksa kita untuk menjual saham walupun dalam kondisi rugi.

Jika Anda berpikir bahwa institusi cenderung memiliki horison investasi yang panjang mungkin ada benarnya. Sayangnya kenyataannya tidak selalu seperti itu. Para fund manager akan selalu dikejar-kejar target kinerja secara kontinyu. Akibatnya, horison investasi mereka akan menjadi lebih singkat. Jika seorang fund manager memiliki portfolio yang secara fundamental bagus akan tetapi selama dua kuartal harganya turun terus akan menjadi masalah baginya karena menjadi sorotan para investor. Pada kondisi seperti itu, mereka akan cenderung memegang saham-saham blue chip yang menjadi anak kesayangan investor. Saham-saham tersebut memiliki kinerja ciamik namun harganya juga tidak kalah ciamik. Jika pasar terkoreksi dan mereka memiliki saham-saham ‘berdarah biru’ tersebut, investor akan lebih toleran. Masalah akan menjadi sulit bagi mereka apabila saham-saham yang mereka pegang adalah saham-saham second liners atau bahkan third liners yang bahkan namanya pun jarang didengar orang. Bisa ditebak bagaimana pandangan para investor terhadap mereka.

Hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi para investor recehan. Tidak ada tekanan bagi kita untuk membeli saham-saham tertentu.  Kita bisa melirik saham-saham yang jarang dimiliki oleh institusi. Tentu saja biasanya kurang likuid namun kita akan menemukan saham-saham yang berfundamental cukup baik dan dijual dengan harga murah. Jika kita investor long-term, bargain seperti itu akan menjadi sangat menarik.

Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan menghadapi risiko yang lebih besar. Kita akan lebih sulit mencari informasi tentang saham-saham yang terlupakan tersebut. Kita harus menggali informasi dari awal dan biasanya akan membuahkan hasil yang manis.

Sebagai gambaran, mari kita perhatikan grafik kinerja DILD sbb (sumber: FT.com):

Harga saham DILD telah turun sebesar 53% dalam 1 tahun terakhir. Coba perhatikan kinerja keuangannya.

Apa pendapat Anda?

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 6 Comments

Membedah Laporan Tahunan Perusahaan

Salah satu laporan yang tidak bisa kita lewatkan saat melakukan analisis fundamental saham adalah laporan tahunan.  Di dalam laporan tersebut kita akan menemukan banyak sekali informasi penting tentang emiten tersebut.  Meskipun begitu, banyaknya informasi bisa membuat kita bingung membacanya tidak sistematis. Sebuah laporan tahunan biasanya terdiri atas 100 halaman atau lebih (belum termasuk laporan keuangan). Dengan demikian untuk membaca 5 laporan tahunan saja akan menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Oleh karena itulah sebelum membacanya kita harus mengetahui terlebih dahulu informasi apa saja yang ingin kita peroleh.

Biasanya ketika membaca laporan tahunan, perhatian pertama saya tujukan pada riwayat singkat perusahaan. Dari sana kita bisa mengetahui seluk beluk perusahaan tersebut dimulai dari awal berdirinya hingga saat ini. Tidak lupa juga saya akan membaca bagian tentang milestones perusahaan. Ketika sampai pada bagian ini, kita akan mendapatkan kesimpulan sementara apakah kita layak berinvestasi pada perusahaan ini.

Langkah berikutnya adalah membaca ikhtisar keuangan perusahaan. Biasanya data yang ditampilkan adalah data selama lima tahun terakhir. Perhatikan bagaimana perusahaan berkembang dari waktu ke waktu. Apakah bisnisnya semakin menguntungkan, stagnan atau malahan menurun. Tentu saja angka-angka yang ditampilkan hanyalah angka-angka yang penting saja. Untuk menelaah lebih lanjut, kita sebaiknya langsung membaca laporan keuangannya.

Bagian selanjutnya yang saya baca biasanya adalah laporan dewan komisaris dan laporan direksi. Apa informasi yang bisa kita dapatkan? Biasanya bagian tersebut membahas tentang pencapaian selama setahun dan yang lebih penting lagi, apa langkah-langkah strategis yang telah dan akan ditempuh oleh perusahaan di masa datang. Biasanya pada bagian ini, direksi akan memaparkan latar belakang dilakukannya sebuah aksi korporasi sehingga dapat menjadi bahan bagi kita untuk melakukan analisis lebih lanjut. Tak lupa juga, selalu bandingkan laporan dewan komisaris dan direksi dari tahun ke tahun. Kita akan melihat apakah mereka mampu untuk mencapai tujuan-tujuan yang dicanangkan serta apakah mereka cenderung konservatif atau malahan terlalu berani dalam mengelola perusahaan. Sekedar tips, perhatikan penggunaan kata-kata seperti ‘tantangan’ atau ‘penundaan’. Cobalah untuk melakukan analisis lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi. Jarang sekali manajemen mengatakan hal-hal buruk tentang perusahaannya. Kita sebagai investorlah yang harus mampu untuk menafsirkan maksud di balik pernyataan-pernyataan mereka.

Ok, mari kita beranjak lebih jauh. Mari kita cek bagian tinjauan usaha, tinjauan keuangan, dan tinjauan operasional. Pada bagian ini mereka akan mengkomunikasikan pencapaian-pencapaiannya dengan lebih terperinci serta melakukan pembahasan terhadap masing-masing segmen secara lebih mendalam. Saran dari saya, pastikan Anda telah membaca laporan keuangannya terlebih dahulu. Berdasarkan pengalaman saya, pada bagian ini perusahaan akan cenderung menonjolkan hal-hal yang bagus dan kurang memberikan penekanan terhadap hal-hal lain. Walaupun begitu, pada bagian ini kita akan mendapatkan informasi mengenai kinerja masing-masing segmen usaha. Kita akan mengetahui segmen mana yang menjadi andalan dan memberikan kontribusi terbesar bagi perusahaan. Pastikan bahwa di masa mendatang mereka tidak lengah dalam mengelola segmen usaha tersebut. Jika Anda dapat mendeteksi segmen usaha yang terlemah, carilah informasi lebih lanjut apa yang akan dilakukan oleh pihak manajemen terkait dengan hal tersebut.

Bagian selanjutnya yang sangat penting untuk diperhatikan adalah analisis dan diskusi manajemen. Pada bagian ini, pihak manajemen akan menjelaskan mengenai angka-angka di dalam laporan keuangan. Jika misalnya pendapatan menurun, pastikan mereka memiliki penjelasan yang cukup masuk akal untuk itu.  Bagian yang paling menarik bagi saya adalah pandangan mereka tentang prospek bisnis ke depannya. Apakah mereka cukup optimis? Apakah target yang hendak dicapai cukup masuk akal? Perhatikan juga rencana pembenahan sisi operasional dan strategis yang hendak mereka lakukan untuk menjadi bekal analisis kita saat membaca laporan tahun depan.

Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya, perhatikan bagaimana penerapan GCG oleh perusahaan tersebut. Biasanya semakin terperinci penjelasannya, biasanya semakin baik. Perusahaan dengan GCG yang bagus akan memiliki komitmen yang lebih kuat untuk melayani kepentingan para stakeholders.

Posted in Strategi Investasi | Tagged | 6 Comments