Entries from June 2008
Kondisi market yang tidak menentu sekarang ini menyentil saya untuk mencoba mengolah data masa lalu IHSG. Di sini saya akan mencoba mencari efek musiman IHSG. Bulan apa saja return IHSG tertinggi dan terendah?Bagaimana perilaku IHSG saat Pemilu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya coba jawab melalui artikel ini.
Artikel ini khusus ditujukan untuk investor reksa dana saham walaupun tidak tertutup kemungkinan investor reksa dana campuran juga melihat karena RDC juga mengandung komponen saham.
Berdasarkan data bulanan IHSG dari tahun 1989 s.d 2008, ada beberapa hal menarik yang didapatkan. Saya menggunakan data IHSG karena return RDS secara umum biasanya tidak jauh berbeda dengan pergerakan IHSG. (more…)
Categories: Investasi · Strategi Investasi
Salah satu strategi yang populer dalam berinvestasi di reksa dana adalah Dollar Cost Averaging (DCA). Konsep dari strategi ini adalah melakukan investasi yang rutin dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan berapa NAB saat itu. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengurangi risiko yang muncul jika kita berinvestasi secara lump-sum.
Dengan DCA, kita bisa terhindar dari kerugian yang lebih besar saat market turun setelah kita melakukan investasi.
Tentu saja ada beberapa hal yang harus kita korbankan jika kita menerapkan strategi ini: (more…)
Categories: Strategi Investasi
Saat berinvestasi di instrumen reksadana, mungkin sebagian dari kita hanya mempertimbangkan MI yang ‘bonafid’ serta catatan return masa lalu yang cukup tinggi. Memang cara tersebut adalah cara yang termudah. Lagi pula, reksadana memang didesain agar investor tidak perlu memusingkan bagaimana mengalokasikan dana untuk berinvestasi. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai reksadana Anda, salah satu parameter yang bisa kita perhatikan adalah volatilitas. Apa itu volatilitas? Volatilitas adalah kecepatan naik turunnya return sebuah reksadana. Volatilitas tidak hanya terbatas pada reksadana namun juga seluruh instrumen investasi, baik saham, emas, obligasi atau instrumen-instrumen lainnya. Semakin tinggi volatilitasnya, maka ’kepastian’ return suatu reksadana semakin rendah. Biasanya yang digunakan untuk mengukur volatilitas adalah standar deviasi. Nilai standar deviasi suatu reksadana dapat dihitung menggunakan Microsoft Excel.
Volatilitas itu bagaikan pedang bermata dua. Semakin tinggi volatilitas, maka potensi return akan semakin tinggi. Volatilitas yang rendah menunjukkan kestabilan nilai return, akan tetapi umumnya returnnya tidak terlalu tinggi. Cukup adil bukan?
Sekarang coba kita mencoba lebih memahami arti dari volatilitas. Mulai saat ini, saya akan mengganti volatilitas dengan standar deviasi. Perhatikan contoh berikut: (more…)
Categories: Reksadana
Tentu sebagian pembaca akan bertanya-tanya, apakah yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini? Ada beberapa kemungkinan mengenai topik yang akan saya sampaikan. Sebagian dari Anda mungkin berpikir mengenai liburan yang menyenangkan bersama keluarga di kota-kota tersebut (bagi yang bertempat tinggal di luar kota Jakarta). Warga Jakarta sendiri sepertinya tidak banyak yang menyadari bahwa kota mereka adalah tempat liburan karena sudah terlalu lelah bergulat dengan kemacetan, keruwetan, dan panasnya ibukota tercinta ini. Beberapa dari Anda mungkin berpikir bahwa tulisan ini bermuatan politis. Tidak, tidak. Saya tidak akan berbicara mengenai politik di sini. Lalu apa? (more…)
Categories: Obrolan Warung Kopi
Tagged: Add new tag, pasar modal
Sebuah Tinjauan Ulang Mengenai Crash Industri Reksa Dana di Indonesia Tahun 2005
Satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya adalah apakah industri reksa dana di Indonesia masih memiliki masa depan setelah diterpa berbagai macam goncangan yang cukup hebat?Badai terakhir yang menghantam industri reksa dana hampir sepanjang tahun 2005 telah mengikis Nilai Aktiva Bersih (NAB) keseluruhan reksa dana dari Rp 113,7 triliun pada bulan Februari 2005 menjadi hanya Rp 34 triliun pada akhir bulan September 2005. Tentu saja hal tersebut menjadi mimpi buruk bagi para manajer investasi, terlebih manajer investasi yang menerbitkan produk reksa dana pendapatan tetap yang terkena pukulan paling telak. Secara kasar dapat dikatakan bahwa pendapatan para manajer investasi yang berasal dari management fee anjlok hingga sepertiga dari jumlah sebelumnya.
Bapepam sebagai pemegang otoritas pasar modal kemudian berinisiatif untuk mengizinkan penerbitan jenis reksa dana yang baru yaitu reksa dana terproteksi. Pada awalnya, reksa dana ini bertujuan untuk menerima limpahan investor reksa dana pendapatan tetap yang tidak tahan melihat NAB reksa dana yang dimilikinya terus-menerus menurun dari waktu ke waktu sebagai akibat dari adanya gelombang massive redemption. Perkembangan reksa dana terproteksi ini cukup menggembirakan. Pada bulan Oktober 2005, NAB keseluruhan reksa dana terproteksi adalah Rp 2,8 triliun. Jumlah ini meningkat tajam sepanjang tahun 2006. Pada akhir bulan September 2006, NAB reksa dana terproteksi telah mencapai Rp 9,8 triliun atau 24% dari jumlah seluruh NAB reksa dana yang ada. (more…)
Categories: Obrolan Warung Kopi
Tagged: Add new tag, pasar modal, risiko investasi