pojok ide – pemikiran dan obrolan mengenai investasi

Entries from June 2009

BUMI: The Black Ace

June 9, 2009 · 1 Comment

Semenjak melakukan pembelian KPC pada tahun 2005, saham BUMI harganya terus meroket dari Rp 25,00 per lembar menjadi Rp 2.175,00 per lembar saat ini. Bahkan pada bulan Juni 2008, harga saham BUMI sempat mencapai level Rp 8.000,00 per lembar sebagai akibat dari kenaikan tajam harga batu bara.

BUMI memang sangat fenomenal. Sayangnya kasus repo yang melanda holding company-nya, BNBR sempat menjerumuskan BUMI sampai ke level Rp 500,00 walaupun sekarang telah naik kembali.

Pertanyaan yang tentu sangat menggelitik adalah: Berapa harga wajar BUMI?

Kinerja perusahaan berbasis komoditas tentunya tidak terlepas dari harga komoditasnya, dalam hal ini adalah batu bara.

Dengan penjualan 50 juta ton batu bara sebesar US$ 3.378 mio pada tahun 2008, maka harga jual batu bara rata-rata adalah US$ 67,6 per ton.

Tahun 2009, perusahaan menargetkan penjualan sebesar 60 juta ton. Pada tahun ini diperkirakan harga batu bara turun sekitar 25% sehingga harga jual rata-rata batu bara adalah sekitar US$ 51 per ton.

Dengan demikian diperkirakan penjualan batu bara BUMI pada tahun 2009 adalah sebesar 60 juta ton x US$ 51 per ton =  US$ 3.041 mio atau turun sekitar 10% dari tahun 2008.

Berdasarkan statistik 5 tahun terakhir, rata-rata persentase laba bersih (profit margin) terhadap penjualan adalah 17% sehingga diperkirakan laba bersih BUMI untuk tahun 2009 adalah US$ 517 mio atau turun sekitar 20% dari tahun 2008.

Berdasarkan perkiraan tersebut, maka valuasi BUMI adalah sebagai berikut:

BUMI

Terlihat bahwa harga termahal yang patut kita bayarkan jika menginginkan return 18% per tahun adalah 2,850. Jika menggunakan safety margin 30%, maka harga termahal yang patut kita bayarkan adalah 1,995 per lembar. Saat ini BUMI diperdagangkan di harga 2,175 pada penutupan perdagangan tanggal 8 Juni 2009. Return 18% per tahun merupakan required return untuk saham dengan menyertakan faktor country risk.

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Keuntungan maupun kerugian sebagai akibat dari isi tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Categories: Investasi · Valuasi

Midyear BEI: Pertambangan dan Pertanian Paling Perkasa

June 6, 2009 · Leave a Comment

Krisis keuangan yang melanda dunia sejak tahun 2007 telah merontokkan bursa saham di seluruh dunia, tidak terkecuali BEI. IHSG yang sempat mencapai level tertingginya di 2.840 pada bulan Januari 2008 harus tersungkur di level terendah 1.100 pada bulan Oktober 2009. Dengan kata lain IHSG terjun bebas sebesar sekitar 60% dari titik tertingginya.

Level 1.100 tersebut ternyata telah menjadi bottom dan sampai dengan saat ini (5 Juni 2009), IHSG telah rebound ke level 2.078 atau telah naik sekitar 89% dari titik terendahnya. Pada kurun waktu bulan Oktober – November 2008 IHSG sempat rebound sementara ke level 1.366 dan kemudian jatuh kembali ke level 1.100 pada tanggal 21 November 2008. Tanggal tersebut ternyata menjadi titik balik kebangkitan IHSG.

IHSG

Pada tulisan kali ini saya akan membahas mengenai saham-saham dan sektor-sektor yang bangkit seiring dengan IHSG.  Berikut adalah kinerja industri-industri yang terdapat di BEI:

IndexChangeTampak bahwa indeks seluruh industri mengalami kenaikan. IHSG sendiri telah mengalami kenaikan sebesar 81%. Terdapat 3 industri yang kenaikannya melebihi IHSG yaitu pertambangan (152%), pertanian (141%),  dan aneka industri (122%).  Kenaikan industri pertambangan dan pertanian tidak lepas dari kenaikan harga minyak dunia yang saat ini telah mencapai level US$ 68 per barrel.  Kenaikan indeks aneka industri tidak terlepas dari kenaikan harga saham ASII yang memiliki bobot cukup besar.

Mari kita telusuri saham-saham di dalam industri tersebut satu-persatu.

mining

Terlihat bahwa indeks pertambangan telah mengalami kenaikan sebesar 152%. Kenaikan ini disumbang oleh saham-saham pada sektor batubara (155%), minyak bumi (115%), dan logam mineral (93%).

agri

Terlihat bahwa kenaikan indeks industri pertanian ditunjang sebagian besar oleh saham-saham perkebunan seperti AALI, LSIP, UNSP, dll.

Sektor Pertambangan Batu Bara

coalsector

Terlihat bahwa kenaikan rata-rata sektor pertambangan batu bara adalah 155% dengan P/E rata-rata saham penyusunnya adalah 8,8x. Kenaikan tertinggi pada sektor ini dialami oleh saham BYAN yang mencapai 274%. Sayangnya P/E ratio saham ini saat ini sudah cukup tinggi yaitu 28,9x. Saham lainnya yang mengalami kenaikan yang tinggi adalah ITMG, yaitu sebesar 212%. Yang menarik, P/E ratio ITMG saat ini masih cukup rendah, yaitu 5,4x. P/E ratio yang lebih rendah daripada rata-rata P/E sektor pertambangan batu bara memungkinkan ITMG untuk naik lagi harganya. Saham lain yang mengalami kenaikan lebih tinggi dari kenaikan rata-rata sektornya adalah BUMI. Saham yang kontroversial dan sangat sering menduduki peringkat pertama saham teraktif di bursa ini mencatat kenaikan sebesar 206% dan P/E ratio yang cukup menarik, yatu 7,3x. Saham lain yang cukup menarik adalah ADRO (175%) dengan P/E ratio 9,2x dan PTBA (146%) dengan P/E ratio 8,3. PTBA layak unutk dikoleksi karena secara fundamental masih menjanjikan.

Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi

oilgas

Saham-saham sektor pertambangan minyak dan gas bumi terkena efek langsung dari kenaikan harga minyak.  ELSA mengalami kenaikan tertinggi sebesar 248% dengan P/E ratio saat ini adalah 17,8. MEDC mencatat kenaikan harga sahamnya sebesar 113% dengan P/E ratio yang sangat rendah yaitu 3,8. Dengan P/E yang masih rendah tersebut, MEDC layak untuk untuk masuk ke dalam portfolio investasi kita.

Sektor Perkebunan

plant

Pada sektor perkebunan, UNSP mencatat kenaikan tertinggi yaitu sebesar 300%, sayangnya P/E ratio saham ini masih negatif.  Saham perkebunan lainnya yang melejit adalah AALI dengan kenaikan sebesar 194% dan LSIP dengan kenaikan sebesar 188%. Sektor perkebunan sampai dengan saat ini masih dibayang-bayangi oleh penurunan harga CPO. Khusus untuk sektor ini, TBLA dan GZCO masih memiliki P/E ratio di bawah rata-rata sektornya (69,8) yaitu masing-masing 14,7 dan 16,8. Apakah kedua saham ini akan mengalami kenaikan lebih lanjut?

Kecenderungan kenaikan harga minyak dunia akan membuat saham-saham pertambangan dan energi berpotensi untuk mengalami kenaikan lebih lanjut, terutama untuk saham-saham yang valuasinya masih cukup bagus. So, apakah Anda berani menjadi seorang highlander? :)

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Keuntungan maupun kerugian sebagai akibat dari isi tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Categories: Investasi · Valuasi

Ketika Anda Harus Membayar 100 Ribu Rupiah untuk Sepiring Nasi

June 6, 2009 · 3 Comments

Terkadang jika sedang bosan makan siang di kantor, saya pergi ke warteg yang ada di belakang kantor saya. Makanan favorit saya adalah sayur lodeh dengan telur dadar dan ditambah dengan tahu tempe dan sambal. Dengan lauk seperti itu, saya harus membayar sekitar 6 – 8 ribu rupiah. Jika ditambah dengan ayam goreng mungkin harga yang harus saya bayar menjadi sekitar 10 ribu rupiah. Apakah Anda masih ingat berapa harga yang harus Anda bayarkan untuk lauk yang sama 2 – 3 tahun yang lalu. Hampir pasti tentu lebih murah. Mungkin dahulu sepiring makan siang dengan lauk-pauk seperti itu harganya hanya 5 ribu rupiah. Mungkin sampai sini Anda sudah bisa menerka apa yang akan kita bicarakan. Ya, saya ingin berbicara mengenai inflasi. Selama kita menggunakan uang kertas, selama itu pula kita akan menyaksikan harga akan naik setiap tahunnya. Berikut adalah data tingkat inflasi di Indonesia selama 28 tahun terakhir:

inflation

Sumber: IMF, World Economic Outlook Database, April 2009


Dari tahun 1980 hingga 2008, tingkat inflasi tahunan rata-rata di Indonesia adalah 11,1%. Dalam kurun waktu tersebut, tingkat inflasi tertinggi terjadi pada tahun 1998, yaitu 77,5% yang disebabkan oleh krisis moneter yang melanda negeri ini.

Saat ini mungkin kita sedang dalam masa produktif dan sedang bekerja/berwirausaha. Jika Anda pegawai kantoran, Anda bisa berharap untuk mendapatkan uang pensiun. Pernahkah Anda membayangkan apa yang Anda hadapi saat masa pensiun menjelang?

Katakanlah Anda saat ini berusia 30 tahun. Anda masih memiliki 25 tahun masa kerja sebelum pensiun. Dengan asumsi tingkat inflasi rata-rata adalah 11,1% maka harga sepiring nasi yang sekarang adalah 8 ribu rupiah akan menjadi sekitar 111 ribu rupiah. Terlihat fantastis? Menurut saya itu realistis. Kita baru berbicara masalah makan siang. Jika saat ini kebutuhan hidup bulanan adalah 5 juta rupiah, maka saat Anda pensiun, Anda membutuhkan dana 70 juta rupiah per bulan hanya untuk menjaga agar standar hidup Anda tidak turun. Silakan mencari tahu mengenai program pensiun yang Anda ikuti saat ini. Berapakah yang akan Anda dapatkan saat pensiun nanti. Apakah jumlah tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan hidup Anda nantinya?

Sepertinya sebagian besar akan menjawab tidak :D
Sebaiknya kita jangan menyalahkan pemakaian uang kertas yang menyebabkan inflasi. Akan lebih bermanfaat bagi kita untuk memikirkan bagaimana caranya mengalahkan inflasi. Anda bisa saja merampok bank dan memperoleh uang yang cukup sampai anak cucu, akan tetapi tentu saja tidak disarankan karena Anda bisa masuk penjara :) . Cara yang lebih tepat adalah berinvestasi atau lebih tepatnya berinvestasi yang returnnya dapat mengalahkan tingkat inflasi. Investasi apa saja? Banyak alternatifnya. Bisa saham, obligasi, atau mungkin tanah. Return dari instrumen-instrumen tersebut biasanya dapat mengungguli tingkat inflasi. Sebagai contoh, dalam jangka panjang harga saham akan naik sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Logikanya, semakin tinggi tingkat inflasi, maka perusahaan akan dapat menjual barang dengan harga yang lebih tinggi kan? Oleh karenanya dengan adanya inflasi saja harga saham akan cenderung naik.

Bagi saya, investasi saja belum cukup. Kita harus lebih fokus lagi dengan membuat suatu perencanaan investasi agar tujuan-tujuan keuangan kita dapat tercapai. Rasanya petuah orang tua kita dahulu untuk menabung ada benarnya, namun sayangnya dengan menabung saja kita akan kesulitan menghadapi laju inflasi. Mari berpindah dari budaya menabung ke budaya berinvestasi!

Categories: Investasi · Obrolan Warung Kopi
Tagged: , ,