Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.3): Cash Flow Statement


Setelah selesai membahas mengenai income statement dan balance sheet, laporan keuangan ketiga yang tidak kalah penting adalah cash flow statement. Pada cash flow statement, perusahaan akan melaporkan keluar masuknya kas.

Cash flow statement dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Cash flow from operations, berisikan aliran kas yang berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan.
  2. Cash flow from investing, berisikan aliran kas yang berkaitan dengan investasi yang dilakukan oleh perusahaan, a.l: capex, penerimaan dividen, dll.
  3. Cash flow from financing, berisikan aliran kas yang berkaitan dengan pembiayaan perusahaan untuk menjalankan operasinya.

Penjumlahan ketiga komponen tersebut disebut dengan net change in cash yang akan menambah ataupun mengurangi posisi cash sebelumnya (yang terdapat di balance sheet).

Pada dasarnya, perusahaan yang sehat akan membukukan cash flow yang positif dari tahun ke tahun. Cash flow perusahaan akan terlihat lebih sehat lagi apabila cash flow from operations jumlahnya dapat menutup cash outflow dari bagian lainnya. Di samping itu, cash flow from operations yang sehat umumnya jumlahnya hampir sama dengan net income.

Mari kita melihat cash flow statement APOL di bawah ini:

Jika kita lihat tabel di atas, terlihat bahwa total cash flow from operations sampai dengan tahun 2008 cukup baik dan cenderung meningkat, namun ada warning flag yang sangat mengkhawatirkan. Perusahaan mengeluarkan dana untuk capex (capital expenditure) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejatinya, capex ini digunakan untuk melakukan ekspansi usaha, seperti membeli alat produksi, tanah, bangunan. Sebagai sebuah perusahaan shipping, capex-nya digunakan untuk membeli kapal dengan harapan semakin besar volume pengirimannya. Sayangnya, capex yang dikeluarkan ini dari tahun ke tahun selalu lebih besar daripada cash flow yang dihasilkan oleh bisnisnya.

Artinya: APOL harus mencari pembiayaan capex dari sumber lain. Pada bagian total cash flow from financing, terlihat bahwa capex-nya harus ditambal dengan penerbitan surat utang (Iss (Retirmnt) of Debt). Mengingat debt-to equity ratio APOL sudah cukup tinggi, hal ini berpotensi untuk mengancam bisnisnya. Utang harus dibayar, dan dalam utang terdapat bunga yang harus dibayar. Saya sengaja menandai tulisan pada bagian cash interest dengan warna merah yang menunjukkan besarnya bunga yang harus dibayar. Terlihat bahwa akibat penambahan utang terus menerus, cash yang didapatkan dari bisnisnya semakin banyak tergerus untuk membayar bunganya. Hal ini diperparah ketika pada tahun 2009, APOL menambah kebutuhan operasionalnya seperti terlihat pada bagian change in working capital. Total cash from operations kontan menurun tajam. Kondisi ini semakin memburuk ketika perubahan kurs semakin menggerus cash flow-nya.

Pada tahun 2009, cash flow APOL mengalami bleeding sebesar 467 miliar rupiah. Apa maksudnya? APOL memiliki kewajiban yang harus dibayar sebesar 467 M dan tidak ada sumber dana yang dapat digunakan untuk membayarnya!

Setelah browsing di internet, saya mendapati sebuah berita yang muncul pada bulan April lalu mengenai APOL ini:

…JAKARTA – Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat selective default kepada PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL). Analis Pefindo Ronald Hertanto dalam keterv bukaan informasi mengatakan, peringkat ini mencerminkan ketidakmampuan perusaaan memenuhi kewajiban finansial terhadap utang-utangnya…

…Pefindo juga memberikan peringkat CCC atas obligasi perusahaan II/A/2008 senilai Rp 276 miliar yang jatuh tempo pada 2013, obligasi Il/B/2008 senilai Rp 324 miliar yang jatuh pada 2015 serta Syariah Ijarah Medium Term Notes 11/2008 senilai Rp2008 senilai Rp 150 miliar yang jatuh tempo pada 2011… (Sumber: Bataviase)

Jika kita jeli dalam melakukan analisa terhadap laporan keuangan APOL, tentu kita sudah sejak jauh-jauh hari mulai waspada.

About these ads
Gallery | This entry was posted in Analisa Fundamental Saham (Bedah Bisnis) and tagged , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.3): Cash Flow Statement

  1. Rena says:

    Pak, saya pernah mendengar metode Discounted Cash Flow. Rumus untuk mencari Free Cash Flow kan Cash Flow From Operation – Capital Expenditure = Free Cash Flow. Nah saya bingung apanya yang di Discounted dan jalan valuasinya seperti apa. Bisa Bapak buatkan metode valuasi dengan DCF Pak ? terima kasih.

    Like

  2. Candra says:

    Selamat malam, saya ingin tanya untuk analisis cash flow adakah metode perhitungannya Pak ? seperti menggunakan analisis rasio.

    Like

  3. parahita says:

    @Rena
    Discounted cash flow adalah metode valuasi yang dilakukan dengan cara mendiskon (free) cash flow di masa depan sesuai dengan required return sehingga didapatkan nilai saat ini (present value).

    @Candra
    Coba cek di sheet rasio yang saya post di artikel sebelumnya

    Like

  4. Rena says:

    Misalkan Free Cash Flow nya 1.000.000 Rp dengan Discount Rate 10 % menjadi 900.000 Rp. Nah 900.000 Rp ini diapain lagi Pak ?

    Like

  5. Candra says:

    Bisa kasih link nya Bapak Parahita ?

    Like

  6. Candra says:

    Pak, dari Cash Flow cuma bisa dapatkan informasi Free Cash Flow doang ya ? itu download dari spreadsheet Bapak bagian bawahnya ada Cash Flow from operation – CapEx = Free Cash Flow.

    Pak, saya masih bingung bagaimana mengolah cash flow menjadi informasi ya baik. Kalau di balance sheet kan bisa diolah dengan Rasio Likuiditas, sedangkan Income Statement bisa digunakan rasio Profitabilitas. Nah, Cash Flow bagaimana ne cara ngolahnya ? adakah perhitungan matematika untuk mengolah cash flow ? thx ya Pak.

    Like

  7. Candra says:

    Pak, rumus Capex apa ya Pak ? Saya search di google tidak ketemu rumus Capital Expenditure.

    Like

  8. sriyanto says:

    saya mau bahas NWC (net change in working capital) pak
    dalam pehitungan Free Cash Flow

    FCF = CFO-Capex-Net change in working capital

    nah NWC = (Current (CA-CL)-Last(CA-CL))

    case
    if WC 2011 = -140
    if WC 2010 = – 40

    so NWC nya = -100 (kalo kita omong bilangan)
    nah dengan rumus

    FCF=CFO-Capex-NWC–> minus
    ex
    CFO = 200
    CApex = 150
    NWC= -100

    jadi FCF = 150

    masa dengan menghutang kita menambahkan nilai tambah bagi nilai kas murni
    ada kesalahan aritmatika disini

    NWC itu menyatakan change

    kalo saya dulu gak salah belajar fisika
    change itu menyatakan jarak bukan bilangan, (perhitangan jarak tidak pernah minus)

    jadi dalam kasus NWC apapun nilai nya mau minus atau plus
    kita harus membuat menjadi nilai mutlak
    agar perhitungan menjadi relevan

    terima kasih pak, mungkin bisa bantu idea ini supaya bisa di excell kan

    Like

  9. Parahita says:

    @sriyanto

    Sepertinya ada kesalahan dalam memahami konsepnya.

    Yang pertama, Free cash flow = cfo – capex. Tidak ada nwc di sana. Coba diperiksa lagi.

    Yang kedua, kita harus memahami apa makna kenaikan atau penurunan net working capital. Kenaikan net working capital artinya ada penambahan modal utk aktivitas operasional. ‘Change’ tidak berarti absolut karena kenaikan dan penurunan working capital akan memberikan arti yang berbeda.

    Saya terus terang saja bingung kok Anda mengaitkan formula nwc dgn ilmu fisika karena menurut saya di luar konteks. Saya sarankan utk memahami filosofinya dahulu baru mempelajari teknisnya.

    Like

  10. putri says:

    saya mau tanya pak, kita harus mengeluarkan dana untuk biaya operasional tapi cash flow kita lagi sekarat, apa yang harus kita lakukan?
    terimakasih

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s