Back to The Basic: Valuasi Saham dengan Menggunakan Metode Dividend Discount Model (DDM)


Dividend Discount Model (DDM) adalah salah satu metode klasik yang digunakan untuk menentukan harga wajar saham. Idenya sederhana, harga wajar dari suatu saham merupakan present value dari seluruh dividen yang akan didapatkan di masa datang. Pemikirannya cukup logis karena memang jika seorang investor membeli suatu saham dan memegangnya selama-lamanya, maka hasil investasinya hanyalah dividen yang diberikan oleh perusahaan. Value perusahaan adalah present value dari potensi keseluruhan dividen yang akan diterimanya.

Formula DDM adalah sebagai berikut:

Di mana:

V = Harga wajar suatu saham

D0 = Dividen tahun sebelumnya

g =long term growth

k = cost of equity (return minimal yang diharapkan oleh pemegang saham)

Untuk cost of equity sendiri bisa didapatkan dengan menggunakan formula CAPM:

Di mana:

k = cost of equity

Rf = risk free rate (biasanya menggunakan BI rate).

RM = return pasar (dalam hal ini adalah IHSG)

β = beta (sensitivitas perubahan harga saham terhadap perubahan pasar).

Dari formula DDM di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa growth harus konsisten untuk waktu yang sangat panjang bahkan kalau bisa selamanya. Tentu saja hal ini hampir tidak mungkin dalam kehidupan nyata. Namun yang agak mendekati mungkin adalah apabila suatu perusahaan yang berada dalam tahap mature dan cenderung memiliki growth yang konsisten.

Contoh kasus: PT. Unilever Indonesia (UNVR)

Saya memilih UNVR karena memang bisnisnya sudah berada dalam tahap mature dan secara historis, dividen yang dibagikan cukup konsisten baik jumlah maupun pertumbuhannya.

Mari kita cek satu-persatu komponen pembentuk valuasinya.

D0 adalah dividend per share untuk tahun 2009, yaitu sebesar Rp 320 per lembar saham.

g saya dapatkan dari reuters.com adalah sebesar 15%

Yang cukup tricky adalah mencari nilai cost of equity (k). Mungkin penjelasannya membutuhkan satu artikel tersendiri karena melibatkan analisis regresi. Dari hasil regresi diperoleh nilai β untuk UNVR adalah 0.32. Untuk nilai Rf, saya menggunakan BI rate yaitu 6.75%. Return pasar (RM) adalah 46.13%.

Dengan demikian cost of equity (k) UNVR adalah sebesar 6.75% + 0.32(46.13% – 6.75%) = 19.35%.

Jadi, value dari UNVR adalah:

VUNVR = 320(1+15%)/(19.35%-15%) = Rp 8,460 per lembar saham.

Sebagai catatan, jika menggunakan metode yang biasa saya gunakan di blog ini, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

Tampak bahwa dengan menggunakan metode yang biasa saya gunakan, fair value UNVR adalah 8,827. Hasilnya hanya sedikit berbeda dengan metode DDM sebelumnya (8,460). Mengapa bisa hampir sama hasilnya? Kuncinya adalah karena UNVR adalah perusahaan yang stabil membagikan dividen sehingga kedua metode valuasi tersebut dapat diaplikasikan.

Metode DDM sendiri sebenarnya sudah sangat jarang digunakan karena sangat sulit untuk mencari perusahaan yang memenuhi persyaratan agar metode tersebut dapat digunakan. Selain itu, DDM memiliki kelemahan mendasar yaitu saat cost of equity lebih kecil daripada growth, valuasi akan memberikan hasil yang negatif. Apabila cost of equity sama dengan growth, maka harga wajar sahamnya menjadi tak terhingga.

Walaupun begitu, metode DDM ini cukup bagus untuk memberikan insight awal bagi Anda yang ingin mempelajari tentang valuasi saham.

About these ads
Gallery | This entry was posted in Stock Picking Strategies, Valuasi and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Back to The Basic: Valuasi Saham dengan Menggunakan Metode Dividend Discount Model (DDM)

  1. Andy Jaya says:

    Selamat pagi pak ,
    kalau saya baca post terakhir bapak tentang asgr, risk premium sebesar 7%an dan deposito bukankah seharusnya 6,75%?

    Like

  2. herballvr says:

    kalo menggunakan beta dari reuters gmn pak? bisa apa tidak? soalnya ribet kalo harus ngitung sendiri :)
    thanks

    Like

  3. Pingback: Bagaimana Cara Menentukan Harga Wajar Saham? | Pojok Ide Investasi

  4. Aberden says:

    Tanya Pa Parahita, untuk RM = return pasar (dalam hal ini adalah IHSG) bagaimana menghitungnya Pa, atau ada situs yang bisa dilihat, dan β = beta apakah sama dengan yang ada di web reuter/blomberg? Thanks.

    Like

  5. Janice Natassya says:

    Halo pak parahita, kalo boleh saya mau tanya, perbedaan valuasi saham dgn metode DDM dan FCFE? Manakah yg lebih akurat digunakan utk menghitung nilai wajar saham2 yg terdapat di saham LQ45? trims

    Like

  6. parahita says:

    @herballvr bisa saja kok
    @Aberden market return didapatkan dengan mencari rata-rata return tahunan IHSG
    @Janice Natassya
    DDM dan FCFE pada prinsipnya sama. Perbedaannya jika pada DDM menggunakan dividend sementara pada FCFE menggunakan Free Cash Flow to Equity.

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s