Bagaimana Faktanya? (Bag. 1): Price to Earning Ratio (PER)


Mungkin inilah rasio yang paling sering digunakan oleh investor untuk mengetahui mahal atau murahnya suatu saham. Nilai PER atau P/E Ratio bisa dihitung dengan mudah dengan membagi harga saham dengan laba per lembar saham (earnings per share / EPS). Meskipun terlihat sederhana, jangan meremehkan PER karena dalam banyak kasus bisa menyelamatkan kita dari pembelian saham di harga yang terlampau tinggi.

Secara intuitif, semakin rendah PER semakin murah suatu saham karena harga yang harus kita bayarkan untuk labanya semakin murah. Walaupun begitu, ada pendapat yang mengatakan bahwa seringkali PER yang murah itu menipu karena PER yang murah bisa saja merupakan hukuman dari pasar karena kinerja bisnisnya tidak bagus.

PER yang tinggi pun bukan berarti suatu saham sudah dijual terlalu mahal. Saham-saham seperti ASII ataupun UNVR pada kondisi normal hampir selalu dijual dengan PER yang tinggi. Hal ini merupakan bentuk penghargaan pasar atas konsistensi kinerjanya dari waktu ke waktu.

Pandangan-pandangan tentang PER begitu bermacam-macam dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Ok, lalu bagaimana dengan kondisi sebenarnya yang terjadi? Bagi saya, pengujian tersebut amat penting sebagai panduan investasi ke depannya.

Tulisan ini terbagi atas beberapa bagian yang masing-masing bercerita tentang fakta mengenai hubungan antara sebuah rasio keuangan dengan kinerja sahamnya di pasar. Saya tidak menampik anggapan bahwa sebuah rasio akan memiliki arti yang berbeda pada kondisi ekonomi yang berbeda. Oleh karena itulah saya membagi analisisnya menjadi 2 bagian. Bagian pertama akan menjelaskan kinerja sebuah rasio di masa ekspansi dan bagian lainnya akan menjelaskan sebuah rasio di masa krisis.

Sebagai contoh, saya akan menghitung PER suatu saham di tahun 2008 dan kemudian memeriksa perkembangan sahamnya selama setahun ke depan (2009). Dengan demikian akan terlihat apakah benar nilai PER tertentu berkorelasi dengan kenaikan harga sahamnya di masa depan.

Bagaimana hasilnya?


Di Masa Ekspansi

Saya menggunakan data tahun 2010 sebagai dasar perhitungan PER dan kemudian memantau kinerja harga sahamnya setahun ke depan (sampai dengan akhir tahun 2011). Terlihat bahwa saham-saham dengan PER yang rendah berkinerja cukup bagus. Hal ini sesuai pendapat umum bahwa saham-saham dengan PER yang rendah menarik untuk dibeli. Namun ada hal lain yang kita bisa ambil sebagai pelajaran. Saham-saham dengan PER 15x – 25x pun memberikan return yang cukup baik. Saham-saham yang berada di dalam range PER tersebut biasanya memiliki kinerja yang cukup baik sehingga PER yang relatif tinggi pun bisa memberikan return yang bagus.

Hal menarik kita dapatkan jika mencermati saham-saham dengan PER yang tinggi (35x – 50x) dan lebih ekstrim lagi saham-saham dengan PER di atas 100x. Ternyata saham-saham yang masuk dalam range tersebut memberikan return yang cukup tinggi. Ada 2 kemungkinan penjelasannya. Yang pertama, saham-saham dengan PER tinggi biasanya tumbuh dengan cepat atau biasa disebut dengan growth stock sehingga pasar berharap tingginya PER akan diimbangi dengan kinerjanya di masa mendatang. Kemungkinan kedua adalah bahwa saham-saham tersebut adalah saham gorengan yang harganya naik tajam tanpa ada penjelasan yang memuaskan. Saya tidak bisa berkomentar tentang kemungkinan tersebut J

Di Masa Krisis

Saya menggunakan data tahun 2008 sebagai acuan karena pada tahun tersebut krisis global sedang hebat-hebatnya mengamuk. Apakah ada perbedaan dengan masa ekspansi? Terlihat bahwa saham-saham dengan PER yang rendah memberikan imbal hasil yang jauh lebih tinggi daripada saham-saham dengan PER yang tinggi. Hal ini wajar-wajar saja mengingat di masa krisis banyak sekali perusahaan yang bagus ikut jatuh harganya sehingga PER nya pun turun.

Kesimpulan

Saya pribadi akan memilih saham-saham dengan bisnis bagus walaupun PER nya tidak terlalu rendah. Dari hasil analisis terlihat bahwa saham-saham dengan PER antara 15x sampai dengan 25x memberikan kinerja yang cukup baik. Khusus untuk masa krisis, amat jelas terlihat bahwa kita sebaiknya membeli saham dengan PER yang rendah. Prinsip “kalau ada yang murah, mengapa harus beli yang mahal?” berlaku di sini.

Pada artikel berikutnya, saya akan membahas kaitan rasio-rasio lain (PBV, Price to Sales Ratio (PSR), PEG ratio) dengan kinerja harga sahamnya di masa depan.

Disclaimer is on.

About these ads
Gallery | This entry was posted in Aneka Ria Riset Investasi, Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

9 Responses to Bagaimana Faktanya? (Bag. 1): Price to Earning Ratio (PER)

  1. aryo moerdo says:

    pak parahita,
    data ini didapat dari research bapak mengkalkulasi seluruh emiten di BEI satu per satu atau diambil dari suatu website ?
    trm ksh

    Like

  2. parahita says:

    @aryo moerdo
    Saya mengkalkulasi seluruh emiten di BEI :) untuk data mentahnya saya ambil dari ft.com dan reuters.com

    Like

  3. aryo moerdo says:

    mantaaaapppp…
    terima kasih banyak pak.
    sukses buat bapak :)

    Like

  4. aneka says:

    Terima kasih sudah berbagi pak. Mau tanya nih, jika beberapa emiten dalam satu sektor memiliki PER yang relatif tinggi, katakan >25%, jadi sebaiknya sektor tersebut dihindari ya pak ? Atau tetap memilih emiten dlm sektor tersebut yang paling rendah PER nya dengan catatan growthnya bagus ? Terima kasih

    Like

  5. Indra says:

    Pak parahita number of stock itu artinya apa ya??? Masa iya c artinya nomor pada saham??
    maklum pak, nubiee.. hehehee…

    Like

  6. parahita says:

    @aneka
    Btw, PER itu tidak pakai % :) Sektor yang sedang tumbuh memang biasanya PER nya cukup tinggi karena pasar mengharapkan kinerja yang lebih baik di masa mendatang. Jika memang PER nya relatif tinggi, coba cek kinerja masa lalunya. Apakah memang benar perusahaan pertumbuhan labanya stabil? Kalau masih kurang yakin, coba gunakan metode PEG. Jika memang ada 2 perusahaan dalam satu sektor yang hampir sama kinerjanya, maka bolehlah dibilang perusahaan yang lebih rendah PER nya lebih murah.

    @Indra
    Itu artinya jumlah saham yang memiliki PER dalam kisaran tersebut.

    Like

  7. Pingback: Bagaimana Faktanya? (Bag. 3): Price to Earning-Growth (PEG) Ratio | Pojok Ide Investasi

  8. kodokgoreng says:

    Pandangan saya, PER di atas 100 selain gorengan tanpa alasan,
    bisa jadi emiten mau melakukan corporate action yang didahului kenaikan harga sahamnya duluan.
    Sudah pasti beritanya bukanlah info public. yang menjadikannya saham gorengan juga. Hehe..

    Seperti biasa, tulisan bapak selalu membuat saya kaget duluan, baru sadar.
    Terima kasih sudah berbagi pak. =)

    Like

  9. wah keren pak,, terinspirasi,, ditunggu ilmunya selanjutnya,,

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s