Entries categorized as ‘Strategi Investasi’
November 13, 2008 · 1 Comment
Jika berinvestasi dengan strategi buy and hold mulai terasa membosankan, sepertinya kita bisa mencoba alternatif lain. Bukan berarti strategi buy and hold jelek. Strategi tersebut bagus dan kita tidak perlu repot-repot mengawasinya. Namun jika kita mau sedikit repot, mungkin kita bisa mencoba strategi lain. Kali ini kita akan membicarakan mengenai analisa teknikal.
Berbicara analisa teknikal kita tidak akan jauh-jauh dari apa yang namanya indikator. Salah satu indikator yang cukup mampu untuk merefleksikan kehendak pasar adalah Moving Average. Mengapa moving average? Yang pasti perhitungan moving average cukup sederhana. Moving average merupakan rata-rata harga beberapa periode ke belakang dari suatu efek. Jumlah periode bisa kita tentukan. Kita bisa memilih 5 periode, 20 periode, 50 periode, dan seterusnya. Bahan-bahan untuk mempelajari dasar-dasar analisa teknikal bisa Anda dapatkan di internet dengan mudah.
Sehubungan dengan indikator moving average, saya mencoba mengoptimalkan penggunaan moving average pada IHSG.
Kira-kira hasilnya adalah seperti ini:
(more…)
Categories: Strategi Investasi
Tagged: Saham, Strategi Investasi
Kondisi market yang tidak menentu sekarang ini menyentil saya untuk mencoba mengolah data masa lalu IHSG. Di sini saya akan mencoba mencari efek musiman IHSG. Bulan apa saja return IHSG tertinggi dan terendah?Bagaimana perilaku IHSG saat Pemilu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya coba jawab melalui artikel ini.
Artikel ini khusus ditujukan untuk investor reksa dana saham walaupun tidak tertutup kemungkinan investor reksa dana campuran juga melihat karena RDC juga mengandung komponen saham.
Berdasarkan data bulanan IHSG dari tahun 1989 s.d 2008, ada beberapa hal menarik yang didapatkan. Saya menggunakan data IHSG karena return RDS secara umum biasanya tidak jauh berbeda dengan pergerakan IHSG. (more…)
Categories: Investasi · Strategi Investasi
Salah satu strategi yang populer dalam berinvestasi di reksa dana adalah Dollar Cost Averaging (DCA). Konsep dari strategi ini adalah melakukan investasi yang rutin dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan berapa NAB saat itu. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengurangi risiko yang muncul jika kita berinvestasi secara lump-sum.
Dengan DCA, kita bisa terhindar dari kerugian yang lebih besar saat market turun setelah kita melakukan investasi.
Tentu saja ada beberapa hal yang harus kita korbankan jika kita menerapkan strategi ini: (more…)
Categories: Strategi Investasi
Saat kita berinvestasi di reksa dana atau investasi apapun, seiring dengan pertumbuhan investasi kita, seringkali masing-masing aset yang kita miliki memiliki pertumbuhan yang berbeda-beda. Hal ini ke depannya akan menyebabkan komposisi aset-aset penyusun portfolio kita akan berubah dan tidak sesuai dengan komposisi awal yang kita inginkan. Oleh karena itu, secara berkala kita perlu melakukan rebalancing portfolio. Detail dari rebalancing portfolio dan optimalisasinya akan kita bahas dalam tulisan ini.
Masalah terbesar dari investor adalah diri sendiri. Greed dan Fear yg
seharusnya tidak ada biasanya sering muncul pada kondisi market yang
sangat volatile seperti saat ini.
Konsep dari strategi ini adalah selalu membuat komponen penyusun portfolio kita akan memiliki komposisi yg sama.
Contoh yg akan saya berikan adalah portfolio yg terdiri dari RD Fortis
Ekuitas(RDS) dan RD Dana Tetap Optima(RDPT). Apa keuntungan yg kita
dapatkan dengan menggabungkan kedua jenis RD tersebut?
- Diversifikasi aset
- Meminimalisasikan greed and fear. Karena saat jika salah satu RD
naik, maka kelebihannya akan ditransfer ke RD yg lebih rendah
returnnya. Pengaturan ini akan berguna saat market sedang jatuh atau
naik tinggi.
Gambarannya adalah sebagai berikut. (more…)
Categories: Strategi Investasi
Dalam berinvestasi, kita perlu melakukan diversifikasi. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah strategi penempatan dana investasi kita ke instrumen yang berbeda-beda. Yang dimaksud dengan berbeda-beda di sini adalah potensi return, risiko dan likuiditasnya. Sebagai contoh, potensi return investasi di saham tentu saja berbeda dengan obligasi.
Pada umumnya, saham memberikan return yang lebih besar daripada obligasi. Namun tentu saja risiko berinvestasi di saham lebih besar karena fluktuasi harga saham cenderung lebih besar daripada obligasi. Aspek ketiga adalah likuiditas. Likuiditas di sini artinya adalah kemudahan untuk membeli dan menjual sebuah instrumen investasi. Contoh yang bagus untuk ini adalah properti. Kalau kita mengiklankan rumah kita belum tentu hari itu juga bisa terjual. Bisa besok, minggu depan atau bahkan bulan depan rumah kita baru laku. Berbeda dengan saham yang dapat kita perdagangkan saat itu juga kalau kita inginkan.
Berdasarkan perbedaan karakter masing-masing instrumen investasi seperti yang telah dikatakan di atas, seorang investor perlu melakukan diversifikasi. Mengapa diversifikasi diperlukan? Jika kita berinvestasi, kita tentu mengharapkan investasi kita terus tumbuh. Namun ada kalanya keadaan tidak memihak kita. Saat ini jika kita menaruh seluruh investasi kita di saham atau reksadana saham tentu akan melihat nilai investasi kita menurun karena pengaruh krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Lain halnya jika kita menaruh sebagian portofolio kita dalam bentuk emas atau reksadana pasar uang. Kerugian kita tidak akan sebesar investor yang menaruh seluruh investasinya di saham.
Melakukan diversifikasi dengan baik
Diversifikasi itu seperti memasak. Bahan-bahan yang kita masukkan dalam takaran tertentu akan menghasilkan masakan yang enak. Tidak semua bahan masakan dapat kita masukkan karena mungkin akan menyebabkan rasanya menjadi tidak enak. Demikian pula halnya dengan diversifikasi. Jika kita terlampau banyak memecah dana investasi kita ke instrumen yang berbeda-beda belum tentu hasilnya akan memuaskan. Istilahnya adalah ”overdiversification”. Bagaimana caranya melakukan diversifikasi dengan baik?
Jangan melakukan diversifikasi dalam instrumen-instrumen yang memiliki karakter yang sama. Sebagai contoh adalah reksadana saham. Umumnya reksadana saham akan mengalokasikan portfolionya ke saham-saham blue chip sehingga returnnya biasanya tidak berbeda jauh satu sama lain. Tentu saja setiap fund manager memiliki resep yang berbeda-beda dan hal tersebut memungkinkan kita untuk berinvestasi di lebih dari satu macam reksadana saham. Yang perlu diingat adalah jangan terlalu banyak macam reksadana saham yang kita beli.
Alokasikan investasi kita dengan membandingkan karakter suatu instrumen investasi dalam hal potensi return, risiko, dan likuiditas.
Selalu sediakan uang tunai yang disediakan khusus untuk investasi. Ingat uang ini berbeda dengan uang tunai yang kita gunakan untuk operasional sehari-hari. Kita tidak akan pernah tahu bila suatu saat akan ada peluang investasi yang bagus. Jangan sampai kita tidak memiliki uang tunai untuk masuk ke investasi tersebut.
Apa kerugian ”overdiversification”?
Diversifikasi yang berlebihan akan memiliki dampak negatif, yaitu:
- Kita akan kesulitan untuk mengontrol perkembangan investasi kita. Bayangkan kesulitan yang akan kita alami kalau kita berinvestasi di lebih dari 15 macam investasi.
- Pertumbuhan investasi yang kurang memuaskan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa diversifikasi akan menyebabkan kita kehilangan peluang untuk berinvestasi sepenuhnya dalam instrumen yang akan memberikan return yang besar. Jika harga saham sedang naik, return investasi kita yang terdiversifikasi dalam aset lain mungkin tidak sebesar return portofolio investor lain yang mengalokasikan dana investasinya sepenuhnya dalam saham.
- Munculnya biaya-biaya tak terduga. Mengelola investasi yang ”overdiversified” akan membuat kita cenderung lebih sering mengubah-ubah alokasi dana kita sehingga akan memunculkan biaya-biaya yang terlalu berlebihan.
Strategi diversifikasi yang cocok
Pada dasarnya setiap orang memiliki profil dan tujuan investasi yang berbeda-beda. Dalam melakukan diversifikasi selalu pertimbangkan ketiga karakter instrumen investasi seperti yang telah dibahas di atas.
- Potensi return
- Risiko
- Likuiditas
Selamat berinvestasi!
Categories: Strategi Investasi