pojok ide – pemikiran dan obrolan mengenai investasi

Entries categorized as ‘Valuasi’

MEDC: Runs with Low Octane Gasoline

October 3, 2009 · 2 Comments

Di tengah gonjang-ganjingnya harga minyak dunia tentu saja akan sangat menarik jika kita membahas mengenai MEDC. Saham ini kinerjanya sangat ditentukan oleh harga minyak dunia. Pada tahun 2008, perusahaan ini berhasil membukukan laba yang cukup fantastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sayangnya, sebagian besar laba perusahaan disumbangkan oleh pelepasan anak perusahaan, yaitu sekitar 260 juta US$. Walaupun begitu dengan asumsi harga minyak dunia pada tahun 2009 berada di kisaran $65 per barrel, hasil valuasi MEDC menunjukkan bahwa saham ini masih cukup pantas untuk dilirik. Selama beberapa tahun terakhir, harga saham MEDC memang cenderung tidak stabil sehingga diperlukan perhatian ekstra dalam melakukan valuasi.

Berikut adalah hasil valuasi MEDC:

MEDC_Val

Ternyata value MEDC saat ini adalah 3,217. Saat ini MEDC diperdagangkan di level 3,250. Jika kita cukup optimis, maka bisa saja kita membeli saham ini, walaupun secara valuasi, harga MEDC sudah berada di kisaran fair valuenya.

Disclaimer is on.

Categories: Investasi · Valuasi

BUMI: The Black Ace

June 9, 2009 · 1 Comment

Semenjak melakukan pembelian KPC pada tahun 2005, saham BUMI harganya terus meroket dari Rp 25,00 per lembar menjadi Rp 2.175,00 per lembar saat ini. Bahkan pada bulan Juni 2008, harga saham BUMI sempat mencapai level Rp 8.000,00 per lembar sebagai akibat dari kenaikan tajam harga batu bara.

BUMI memang sangat fenomenal. Sayangnya kasus repo yang melanda holding company-nya, BNBR sempat menjerumuskan BUMI sampai ke level Rp 500,00 walaupun sekarang telah naik kembali.

Pertanyaan yang tentu sangat menggelitik adalah: Berapa harga wajar BUMI?

Kinerja perusahaan berbasis komoditas tentunya tidak terlepas dari harga komoditasnya, dalam hal ini adalah batu bara.

Dengan penjualan 50 juta ton batu bara sebesar US$ 3.378 mio pada tahun 2008, maka harga jual batu bara rata-rata adalah US$ 67,6 per ton.

Tahun 2009, perusahaan menargetkan penjualan sebesar 60 juta ton. Pada tahun ini diperkirakan harga batu bara turun sekitar 25% sehingga harga jual rata-rata batu bara adalah sekitar US$ 51 per ton.

Dengan demikian diperkirakan penjualan batu bara BUMI pada tahun 2009 adalah sebesar 60 juta ton x US$ 51 per ton =  US$ 3.041 mio atau turun sekitar 10% dari tahun 2008.

Berdasarkan statistik 5 tahun terakhir, rata-rata persentase laba bersih (profit margin) terhadap penjualan adalah 17% sehingga diperkirakan laba bersih BUMI untuk tahun 2009 adalah US$ 517 mio atau turun sekitar 20% dari tahun 2008.

Berdasarkan perkiraan tersebut, maka valuasi BUMI adalah sebagai berikut:

BUMI

Terlihat bahwa harga termahal yang patut kita bayarkan jika menginginkan return 18% per tahun adalah 2,850. Jika menggunakan safety margin 30%, maka harga termahal yang patut kita bayarkan adalah 1,995 per lembar. Saat ini BUMI diperdagangkan di harga 2,175 pada penutupan perdagangan tanggal 8 Juni 2009. Return 18% per tahun merupakan required return untuk saham dengan menyertakan faktor country risk.

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Keuntungan maupun kerugian sebagai akibat dari isi tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Categories: Investasi · Valuasi

Midyear BEI: Pertambangan dan Pertanian Paling Perkasa

June 6, 2009 · Leave a Comment

Krisis keuangan yang melanda dunia sejak tahun 2007 telah merontokkan bursa saham di seluruh dunia, tidak terkecuali BEI. IHSG yang sempat mencapai level tertingginya di 2.840 pada bulan Januari 2008 harus tersungkur di level terendah 1.100 pada bulan Oktober 2009. Dengan kata lain IHSG terjun bebas sebesar sekitar 60% dari titik tertingginya.

Level 1.100 tersebut ternyata telah menjadi bottom dan sampai dengan saat ini (5 Juni 2009), IHSG telah rebound ke level 2.078 atau telah naik sekitar 89% dari titik terendahnya. Pada kurun waktu bulan Oktober – November 2008 IHSG sempat rebound sementara ke level 1.366 dan kemudian jatuh kembali ke level 1.100 pada tanggal 21 November 2008. Tanggal tersebut ternyata menjadi titik balik kebangkitan IHSG.

IHSG

Pada tulisan kali ini saya akan membahas mengenai saham-saham dan sektor-sektor yang bangkit seiring dengan IHSG.  Berikut adalah kinerja industri-industri yang terdapat di BEI:

IndexChangeTampak bahwa indeks seluruh industri mengalami kenaikan. IHSG sendiri telah mengalami kenaikan sebesar 81%. Terdapat 3 industri yang kenaikannya melebihi IHSG yaitu pertambangan (152%), pertanian (141%),  dan aneka industri (122%).  Kenaikan industri pertambangan dan pertanian tidak lepas dari kenaikan harga minyak dunia yang saat ini telah mencapai level US$ 68 per barrel.  Kenaikan indeks aneka industri tidak terlepas dari kenaikan harga saham ASII yang memiliki bobot cukup besar.

Mari kita telusuri saham-saham di dalam industri tersebut satu-persatu.

mining

Terlihat bahwa indeks pertambangan telah mengalami kenaikan sebesar 152%. Kenaikan ini disumbang oleh saham-saham pada sektor batubara (155%), minyak bumi (115%), dan logam mineral (93%).

agri

Terlihat bahwa kenaikan indeks industri pertanian ditunjang sebagian besar oleh saham-saham perkebunan seperti AALI, LSIP, UNSP, dll.

Sektor Pertambangan Batu Bara

coalsector

Terlihat bahwa kenaikan rata-rata sektor pertambangan batu bara adalah 155% dengan P/E rata-rata saham penyusunnya adalah 8,8x. Kenaikan tertinggi pada sektor ini dialami oleh saham BYAN yang mencapai 274%. Sayangnya P/E ratio saham ini saat ini sudah cukup tinggi yaitu 28,9x. Saham lainnya yang mengalami kenaikan yang tinggi adalah ITMG, yaitu sebesar 212%. Yang menarik, P/E ratio ITMG saat ini masih cukup rendah, yaitu 5,4x. P/E ratio yang lebih rendah daripada rata-rata P/E sektor pertambangan batu bara memungkinkan ITMG untuk naik lagi harganya. Saham lain yang mengalami kenaikan lebih tinggi dari kenaikan rata-rata sektornya adalah BUMI. Saham yang kontroversial dan sangat sering menduduki peringkat pertama saham teraktif di bursa ini mencatat kenaikan sebesar 206% dan P/E ratio yang cukup menarik, yatu 7,3x. Saham lain yang cukup menarik adalah ADRO (175%) dengan P/E ratio 9,2x dan PTBA (146%) dengan P/E ratio 8,3. PTBA layak unutk dikoleksi karena secara fundamental masih menjanjikan.

Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi

oilgas

Saham-saham sektor pertambangan minyak dan gas bumi terkena efek langsung dari kenaikan harga minyak.  ELSA mengalami kenaikan tertinggi sebesar 248% dengan P/E ratio saat ini adalah 17,8. MEDC mencatat kenaikan harga sahamnya sebesar 113% dengan P/E ratio yang sangat rendah yaitu 3,8. Dengan P/E yang masih rendah tersebut, MEDC layak untuk untuk masuk ke dalam portfolio investasi kita.

Sektor Perkebunan

plant

Pada sektor perkebunan, UNSP mencatat kenaikan tertinggi yaitu sebesar 300%, sayangnya P/E ratio saham ini masih negatif.  Saham perkebunan lainnya yang melejit adalah AALI dengan kenaikan sebesar 194% dan LSIP dengan kenaikan sebesar 188%. Sektor perkebunan sampai dengan saat ini masih dibayang-bayangi oleh penurunan harga CPO. Khusus untuk sektor ini, TBLA dan GZCO masih memiliki P/E ratio di bawah rata-rata sektornya (69,8) yaitu masing-masing 14,7 dan 16,8. Apakah kedua saham ini akan mengalami kenaikan lebih lanjut?

Kecenderungan kenaikan harga minyak dunia akan membuat saham-saham pertambangan dan energi berpotensi untuk mengalami kenaikan lebih lanjut, terutama untuk saham-saham yang valuasinya masih cukup bagus. So, apakah Anda berani menjadi seorang highlander? :)

Disclaimer: Tulisan ini tidak bertujuan untuk memberikan rekomendasi pembelian atau penjualan saham tertentu. Keuntungan maupun kerugian sebagai akibat dari isi tulisan ini bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Categories: Investasi · Valuasi

AUTO: Saham yang Sering Terlewatkan

February 12, 2009 · 5 Comments

AUTO (Astra Otoparts) adalah salah satu anak perusahaan Astra International.  Perusahaan ini merupakan perusahaan manufaktur suku cadang dan distribusinya. Suku cadang yang diproduksi oleh AUTO tidak hanya dipasarkan di dalam negeri namun juga diekspor ke negara lain.  Pelanggan AUTO adalah agen penjual otomotif utama dan ATPM seperti BMW, Bimantara, Chrysler, Chevrolet, Daihatsu, Daewoo, Ford, Hino, Honda, Hyundai, Isuzu, Kawasaki, Mazda, Mercedes Benz, Mitsubishi, Nissan, Opel, Peugeot, Suzuki, Toyota, Vespa, dan Yamaha.

Saham AUTO tidak banyak diperdagangkan sehingga harganya cenderung stabil. Tidak disangka ternyata perusahaan ini dinilai terlalu murah oleh pasar. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa krisis finansial yang saat ini melanda dunia tentu akan berpengaruh pada penjualan AUTO. Oleh karena itulah kita harus selalu memberikan margin of safety terhadap hasil valuasi kita. (more…)

Categories: Valuasi

ASII: The Automotive Giant Revisited

January 5, 2009 · 5 Comments

Jika kita berbicara mengenai ASII, asosiasi kita adalah suatu kerajaan otomotif terbesar di Indonesia. Walaupun pemikiran itu tidak sepenuhnya benar (di dalam ASII ada perkebunan, bank, dan juga alat berat), tidak dapat dipungkiri bahwa trade mark ASII adalah otomotif. Di saat krisis seperti ini, harga saham ASII terombang-ambing karena badai. Harga sahamnya sempat turun tajam ke 7,100 dan sekarang sudah kembali ke level 12,200. Sebagai catatan, harga saham ASII sempat mencapai rekor tertinggi di 30,100 pada tanggal 14 Januari 2008. Sangat tragis bagi pemegang sahamnya namun sebuah peluang bagus bagi pemburunya.

Bagaimana dengan harga wajar ASII? Tentu kita harus melakukan valuasi sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi. Mari kita mulai. (more…)

Categories: Investasi · Valuasi
Tagged: , , , , ,