Mencari ‘Pemenang’ di Antara ‘Pecundang’


Umumnya, saham yang kinerjanya memenuhi atau bahkan melebihi ekspektasi para analis akan cenderung naik harganya. Saham-saham tersebut bisa kita temukan dengan melakukan due diligence. Untuk mencari saham-saham seperti itu, sudah banyak artikel di blog ini yang bisa dijadikan acuan. Saham-saham yang bagus kinerjanya dan banyak di-cover oleh para analis umumnya banyak diperebutkan orang. Hasilnya dapat diduga, walaupun kinerja keuangannya bagus, harganya akan menjadi mahal. Pada kondisi normal, sangat sulit bagi kita untuk mencari saham-saham bagus yang dijual dengan harga murah.  Harga terbaik yang bisa kita dapatkan umumnya adalah harga wajarnya.  Untuk mendapatkan saham-saham bagus dengan harga murah, kita harus menunggu ada koreksi pasar yang cukup dalam dan hal tersebut cukup jarang terjadi.

Jika ingin sedikit berbeda, cobalah untuk mencari saham-saham yang harganya turun cukup dalam selama 1 tahun terakhir . Salah satu cara untuk mencarinya adalah dengan memanfaatkan fasilitas screener dari FT.com. Dengan sedikit usaha, kita akan mendapatkan saham-saham seperti itu. Mengapa saham-saham tersebut harganya terjun bebas? Penyebab yang paling sering terjadi adalah adanya penurunan kinerja. Setiap kuartal, para analis sekuritas akan mengeluarkan hasil riset mereka dan menetapkan target harganya. Saham-saham yang masuk ke dalam daftar akan mereka ikuti terus sembari memperbarui target harganya apabila terjadi perubahan kinerja. Saham-saham yang kinerjanya di bawah ekspektasi dengan segera ‘dihukum’ sehingga harganya langsung turun. Apakah hal ini bisa menjadi masalah bagi para investor? Bisa ya bisa tidak. Jika kita yakin bahwa saham tersebut masih berada dalam kondisi yang cukup baik, downgrading terhadap saham tersebut akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membeli lebih banyak lagi. Lain halnya jika dasar pembelian saham kita hanyalah hasil riset tersebut. Adanya downgrading akan memaksa kita untuk menjual saham walupun dalam kondisi rugi.

Jika Anda berpikir bahwa institusi cenderung memiliki horison investasi yang panjang mungkin ada benarnya. Sayangnya kenyataannya tidak selalu seperti itu. Para fund manager akan selalu dikejar-kejar target kinerja secara kontinyu. Akibatnya, horison investasi mereka akan menjadi lebih singkat. Jika seorang fund manager memiliki portfolio yang secara fundamental bagus akan tetapi selama dua kuartal harganya turun terus akan menjadi masalah baginya karena menjadi sorotan para investor. Pada kondisi seperti itu, mereka akan cenderung memegang saham-saham blue chip yang menjadi anak kesayangan investor. Saham-saham tersebut memiliki kinerja ciamik namun harganya juga tidak kalah ciamik. Jika pasar terkoreksi dan mereka memiliki saham-saham ‘berdarah biru’ tersebut, investor akan lebih toleran. Masalah akan menjadi sulit bagi mereka apabila saham-saham yang mereka pegang adalah saham-saham second liners atau bahkan third liners yang bahkan namanya pun jarang didengar orang. Bisa ditebak bagaimana pandangan para investor terhadap mereka.

Hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi para investor recehan. Tidak ada tekanan bagi kita untuk membeli saham-saham tertentu.  Kita bisa melirik saham-saham yang jarang dimiliki oleh institusi. Tentu saja biasanya kurang likuid namun kita akan menemukan saham-saham yang berfundamental cukup baik dan dijual dengan harga murah. Jika kita investor long-term, bargain seperti itu akan menjadi sangat menarik.

Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan menghadapi risiko yang lebih besar. Kita akan lebih sulit mencari informasi tentang saham-saham yang terlupakan tersebut. Kita harus menggali informasi dari awal dan biasanya akan membuahkan hasil yang manis.

Sebagai gambaran, mari kita perhatikan grafik kinerja DILD sbb (sumber: FT.com):

Harga saham DILD telah turun sebesar 53% dalam 1 tahun terakhir. Coba perhatikan kinerja keuangannya.

Apa pendapat Anda?

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Analisa Fundamental Saham (Bedah Bisnis), Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

12 Responses to Mencari ‘Pemenang’ di Antara ‘Pecundang’

  1. Teddy Wijaya says:

    Kalau melihat kinerja keuangannya sepertinya menarik Pak, tapi kalau dibandingkan dengan saham properti lain (JSPT), menurut pendapat saya JSPT sedikit lebih menarik

    1. Dari LK Q3-2011, laba periode berjalan DILD mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya (112 M vs 314 M), total hutangnya meningkat (1,5 T vs 975 M) sebaliknya laba periode berjalan JSPT meningkat (153 M vs 130 M) dan total hutangnya menurun (942 M vs 1 T)
    2. Melihat grafik revenue di situs FT, kenaikan revenue JSPT dalam 5 tahun terakhir relatif lebih stabil dari DILD (yang melonjak banyak sekali di tahun 2010)
    3. Dari situs FT, ROA, ROE, dan ROI JSPT (7.62, 10.72, 11.25) lebih tinggi dari DILD (3.43, 4.52, 4.63)
    4. Dari situs FT, Price/Cash flow per share JSPT (5.51) lebih rendah dari PE DILD (12.12)
    5. Dari situs FT, PE JSPT (12.9) lebih rendah dari PE DILD (14.1)

    tapi untuk lebih pastinya mungkin kita tunggu hingga laporan Q4-nya keluar Pak.
    bagaimana menurut pendapat Bapak?

    Like

  2. parahita says:

    @Teddy Wijaya
    Coba cek laporan tahunan DILD 🙂
    Analisa fundamental tidak hanya tentang faktor kuantitatif 🙂

    Like

  3. Teddy Wijaya says:

    Hmm…secara kualitatif bagaimana DILD dibandingkan saham properti lainnya menurut Bapak? 😉

    Dari apa yang saya baca dan tangkap (mohon maaf kalau salah, masih belajar) tentang DILD, sepertinya prospek peningkatan pendapatan DILD memang lebih besar (banyak proyeknya yang direncanakan mulai memberi kontribusi di 2012). DILD juga lebih agresif dalam mengembangkan jaringan budget hotelnya (Whiz) dibandingkan JSPT (Formule 1) dan lini bisnisnya lebih lengkap (DILD juga membangun dan mengoperasikan kawasan industri)

    tapi di sisi lain, DILD lebih sering right issue (1992, 1994, 2010). Bagi saya ini sedikit mengurangi daya tarik DILD.

    Oh ya, menurut Bapak bagaimana saham2 sektor properti dibanding sektor lainnya (CPO, Consumer, Multifinance, atau Asuransi)? Apakah saat ini saham perusahaan properti lebih atraktif? 🙂

    Like

  4. Davi says:

    Pak Parahita, untuk saham properti, apakah ada rasio tertentu atau hal2 unik yang harus diperhatikan ? Seperti perbankan misalnya, ada istilah NIM, LDR atau NPL. Atau kalo retail, ada same-store sales.

    Like

  5. jim bon says:

    Kompor gas! Lanjut gan!!

    Like

  6. belajar says:

    Jangan lupa jumlah saham beredar DILD bertambah 2x lipat, tak heran kalo harga nya turun tajam.

    Like

  7. parahita says:

    @belajar
    DILD sudah 295 skrg. Sudah naik sekitar 40%. yang saya tekankan di sini adalah potensinya, bukan hanya kondisi saat ini

    Like

  8. randi says:

    mas, mau nanya, ft.com untuk marketnya kok berbayar ya? mas pake akun berbayar ya di ft.com?

    Like

  9. randi says:

    mas, mau nanya, ft.com untuk marketnya kok berbayar ya? mas pake akun berbayar ya di ft.com? gmn mas?

    Like

  10. parahita says:

    @randi
    Kemarin saya coba masih free kok.

    Like

  11. BWE says:

    Wow.. Thanks Pak Parahita..

    Like

  12. Citra Indah says:

    Thanks bro atas infonya , super

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s