Investor atau Matematikawan?


Ketika sedang mendalami laporan keuangan, tidak jarang kita harus crunching numbers untuk membuat angka-angka berbicara. Terkadang perhitungannya sangat sederhana dan hanya melibatkan tanda tambah dan kurang. Sebagai contoh, untuk mendapatkan besarnya modal kerja (working capital), kita hanya perlu mengurangi current assets dengan current liabilities.  Kejadian yang lebih sering mungkin berkaitan dengan perkalian dan pembagian. Untuk menghitung ROE, kita terlibat dengan pembagian antara laba bersih dengan jumlah ekuitas, seperti juga debt to equity ratio yang melibatkan utang dan ekuitas.

Perhitungan akan sedikit rumit ketika kita hendak menggunakan metode DCF (Discounted Cash-Flow) untuk melakukan valuasi. Banyak sekali parameter dan penggunaan konsep time value of money yang terlibat. Lagi-lagi dalam hal ini matematika berperan sangat besar. Saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang berbagai macam rumus kompleks tentang suku bunga yang mungkin hanya akan mendapatkan perhatian dari kalangan akademis.

Lalu apakah seorang investor haruslah seorang pakar matematika?

Sebelum menjawabnya mungkin kita harus memahami satu hal bahwa matematika hanyalah alat bantu yang tidak akan memiliki arti apabila sesuai dengan konteks. Kita bisa saja menghitung ROE, akan tetapi apakah kita paham apa makna dari ROE? Banyak orang bilang bahwa yang memiliki ROE lebih dari 20% biasanya perusahaan yang bagus. Mengapa harus begitu? Mengapa bukan 15% atau 20%? Lalu bagaimana pengaruh utang terhadap ROE?

Begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab untuk sebuah bilangan yang dihasilkan dari operasi matematis sederhana tersebut.

Mari kita berbicara tentang DCF. Selama ini DCF bagaikan sebuah kartu as dalam menilai harga wajar saham. Seorang investor yang melakukan valuasi dengan DCF bisa langsung memvonis apakah sebuah perusahaan layak dibeli atau tidak. Ok, jika kita kembali pada paragraf sebelumnya maka kita tidak akan berpikir senaif itu. Sebuah bilangan sederhana seperti ROE saja bisa menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Bisa kita bayangkan apabila kita mencoba menafsirkan hasil valuasi dari DCF. Di dalam DCF ada growth, discount rate, free cash flow, risk premium, dll. Begitu banyak faktor yang bisa menyumbangkan potensi kesalahan dalam perhitungan. Tanpa mendapatkan asupan input yang akurat saya pesimis bahwa hasil valuasinya akan akurat.

Mari kita kembali pada pertanyaannya. Apakah seorang investor haruslah seorang matematikawan? Sama sekali tidak. Seorang investor sebaiknya memahami prinsip dasar matematika, paling tidak “tambah, kurang, kali, bagi”. Menyimak problem tentang valuasi di atas, ada satu hal yang menjadi pelajaran penting bagi kita. Seorang matematikawan yang handal dapat dengan mudah melakukan valuasi dengan menggunakan DCF yang rumit namun hanya seorang investor yang handal lah yang dapat memberikan asumsi perhitungan yang akurat.

Jika keberhasilan investasi berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan, maka semua orang jenius adalah orang paling kaya di dunia. Anda akan memahaminya jika telah mendengar cerita investasi Isaac Newton di South Sea ataupun LTCM.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Dongeng Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Investor atau Matematikawan?

  1. chuckQ d' Anger says:

    The essence of mathematics is not to make simple things complicated, but to make complicated things simple — Stanley Gudder, mathematician and author

    Like

  2. Windalfin says:

    Sekedar koreksi. salah ketik di “Sebagai contoh, untuk mendapatkan besarnya modal kerja (working capital), kita hanya perlu mengurangi current assets dengan current assets.”

    Like

  3. parahita says:

    Ups, terima kasih atas koreksinya 🙂

    Like

  4. market whisper says:

    karena buffet sendiri tidak bisa pake komputer…:D

    Like

  5. Philip says:

    sebenernya, investor terbaik di dunia itu seorang mathematician / engineer bernama Claude Shannon. Kalo yang pernah sekolah electrical engineering atau computer science pasti kenal nama beliau, the father of information theory.

    Average annual return dia dari tahun 1950-1986s itu sekitar 28%. Dia perform sedikit lebih baik dibanding Warren Buffet.

    Karena Claude Shannon seorang mathematician, dia test semua metoda investasi, trading, mau itu dari charting, momentum, valuation. Dan buat dia, yang paling make sense hanya buy and hold di company yang menurut dia bagus dan dia mengerti prospect and growth nya.

    Tapi dia nggak sekedar buy and hold di company itu, yang paling penting menurut dia adalah money management method yang namanya kelly formula untuk memaksimumkan risk/reward ratio semua investment dia. dia selalu pakai kelly formula untuk semua investment decision dia.

    lebih lengkapnya tentang hal ini, baca buku Fortune’s Formula by William Poundstone. disitu juga diceritakan tentang LTCM dan penjelasan scientificnya kenapa LTCM bisa parah seperti itu.

    Saya setuju kalo nggak perlu ilmu mathematics yang tinggi untuk bisa investing, tapi kita tetap perlu common sense dan rational thinking seorang mathematician untuk bisa making consistent profit di market 🙂

    Salam kenal Pak Parahita, tulisan2 anda sangat bermanfaat. Terima kasih ya.

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s