Earnings vs Cash Flow, Long-term Relation


Bisa dibilang laba bersih suatu perusahaan mendapatkan perhatian sangat besar dari para investor. Hal ini dapat dimaklumi karena sejatinya tujuan dari sebuah perusahaan adalah menghasilkan keuntungan bagi investornya. Sebagus apapun model bisnisnya jika tidak bisa menghasilkan laba tentu saja perlu mendapatkan perhatian serius.

Di bursa saham pun, laba bersih mendapatkan perhatian utama dari para pelakunya. Sebagai contoh, secara de facto kenaikan/penurunan laba bersih akan sangat berpengaruh pada pergerakan harga sahamnya. Saham yang secara konsisten tumbuh laba bersihnya biasanya diganjar dengan tingginya PER dan demikian pula sebaliknya.

Tentu saja keyakinan tersebut memiliki justifikasi yang kuat dan saya tidak bermaksud menyanggahnya. Pada artikel ini saya hanya ingin mengemukakan pentingnya memeriksa relasi antara laba bersih dengan operating cash flow. Laba bersih dihitung secara akrual yang tidak mensyaratkan adanya pergerakan cash dalam pencatatannya. Sebagai contoh, penjualan secara kredit akan tercatat pada laporan laba rugi namun tidak (belum) muncul pada laporan arus kas sampai dengan adanya pembayaran dari pelanggan. Adanya perbedaan waktu terjadinya transaksi dan aliran kas menyebabkan ada gap sementara antara laba bersih dengan operating cash flow. Walaupun tentu saja tidak bisa dibilang cash flow sama dengan laba bersih, perbandingan antara kedua pos tersebut biasanya cenderung stabil.  Selain itu, jika operating cash flow jauh lebih kecil daripada laba bersih, kita sebaiknya memeriksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. Dalam jangka panjang, besarnya laba bersih dengan operating cash flow biasanya setara.  Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan bisa mengelola utang usaha dan piutang usahanya dengan baik.

Mari kita perhatikan contoh berikut:

OCF_NI

Terlihat pada tabel di atas selama 7 tahun terakhir perbandingan antara operating cash flow dengan laba bersih untuk ASGR cukup tinggi. Kondisi tersebut berubah pada tahun 2011 di mana rasionya turun drastis ke 0.39. Jika kita hanya melihat data setahun, penilaian kita bisa menjadi bias (walaupun tetap harus diperiksa).  Kita sebaiknya memeriksa apakah benar penurunan tersebut hanyalah bersifat sementara ataukah permanen.

Untuk INTP kita tidak melihat ada permasalahan. Rasio OCF/NI cukup tinggi (>1) dan mengindikasikan kondisi yang sehat.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Earnings vs Cash Flow, Long-term Relation

  1. Halim says:

    Pak parahita mohon diulas dampak UMP, PHK Massal dan nilai tukar rupiah serta defisit exim pada ihsg. Bisa crash tidak?

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s