Apakah Laba Ditahan Dipergunakan secara Efisien?


Ketika perusahaan berhasil mencetak laba, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dengan laba tersebut. Biasanya laba akan dibagikan sebagian sebagai dividen dan sisanya dipergunakan untuk membiayai operasional perusahaan atau membiayai ekspansi. Pada beberapa kesempatan, ada kemungkinan perusahaan akan membeli kembali sahamnya (buyback) apabila harga sahamnya dirasa masih terlalu murah.

Laba yang dibagikan dalam bentuk dividen tidak akan menjadi masalah bagi investor karena mereka dapat membelanjakannya atau menginvestasikannya ke tempat lain. Yang perlu menjadi perhatian adalah porsi dari laba yang diinvestasikan kembali oleh perusahaan ke dalam bisnisnya. Idealnya, setiap rupiah yang diinvestasikan akan memberikan pendapatan tambahan bagi perusahaan dan secara tidak langsung akan menyebabkan harga sahamnya naik. Jika itu tidak terjadi, bagi investor lebih baik labanya dibagikan sebagai dividen.

Alurnya kira-kira begini. Laba yang tidak dibagikan sebagai dividen (laba ditahan/retained earnings) akan dipergunakan untuk ekspansi yang biasanya berarti pembelian aset. Pertambahan jumlah aset yang efektif akan meningkatkan penjualan dan pada akhirnya meningkatkan laba.

Berdasarkan alur tersebut, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian kita, yaitu:

  1. Apakah pertumbuhan aset sebanding dengan kenaikan laba?
  2. Apakah  laba yang ditahan (retained earnings) memberikan kenaikan laba yang memuaskan?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita bisa membandingkan ROA (return on assets)-nya dari waktu ke waktu. Dengan asumsi perusahaan menjaga debt to equity ratio di level tertentu, alokasi retained earnings yang bagus akan tercermin pada konsistennya ROA. Akan lebih baik lagi jika ROA terus meningkat. Periode pengamatan saya biasanya adalah 5 tahun, akan lebih baik lagi jika bisa 10 tahun. Jika ROA konsisten dan aset terus tumbuh, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa capex yang telah digelontorkan tidaklah sia-sia.

Berkaitan dengan pertanyaan kedua, kita bisa mempergunakan pemikiran Warren Buffett mengenai retained earnings. Bandingkan antara selisih laba bersih selama periode tertentu dengan selisih retained earnings pada periode yang sama dan kita akan memperoleh besaran yang disebut dengan Return on Retained Earnings (RORE). Mari kita perhatikan contoh berikut:

rRORE Terlihat bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, RORE ASII adalah 27%, jauh lebih tinggi daripada AMFG yang memiliki RORE hanya 9.13%. Hal ini mengindikasikan bahwa ASII lebih baik dalam pengalokasian retained earnings. Uang investor yang dicemplungkan lagi ke dalam bisnisnya mampu untuk membuat labanya tumbuh pesat.

Walaupun cukup penting, popularitas RORE yang memang “kurang standar” sangat rendah. Hal tersebut ditambah dengan periode yang dibutuhkan cukup panjang agar dapat melihat efek capex bekerja. Selain itu, periode pengamatan yang panjang memungkinkan kita mengetahui bagaimana kinerja perusahaan dalam berbagai kondisi ekonomi.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Apakah Laba Ditahan Dipergunakan secara Efisien?

  1. Novan says:

    Pak Parahita, bagaimana penjelasan mengenai TOTL yg di tahun 2012 membagi dividennya 120% kali lebih besar daripada EPS. Apakah dpt diasumsikan sektor infrastruktur konstruksi tidak membutuhkan banyak modal usaha utk menjalankan aktivitasnya ? Tks

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s