Kapan Kita Harus Menjual Saham?


Jawaban dari pertanyaan ini seringkali jauh lebih sulit daripada jawaban untuk pertanyaan mengenai saham mana yang menarik untuk dibeli. Kenyataannya, ada kalanya kita harus dihadapkan pada pilihan untuk tetap memegang suatu saham ataukah menjualnya. Ketika Anda memutuskan untuk menjual suatu saham, pastikan bahwa Anda memiliki alasan yang tepat.

1. Anda membuat keputusan yang salah. Investasi adalah tentang prospek di masa depan. Untuk itu, kita akan membuat asumsi sebagai hasil dari analisis yang mendalam terhadap suatu bisnis. Dalam perjalanannya ada kemungkinan ada faktor yang sebelumnya tidak kita perhatikan namun ternyata berpengaruh besar pada kinerjanya. Sebagai contoh, kita memutuskan untuk berinvestasi pada perusahaan yang bergerak di bisnis mini market. Setelah mengkalkulasi kondisi keuangan, prospek pangsa pasar dan berbagai macam risikonya, kita akhirnya membeli sahamnya. Setelah beberapa waktu, kinerjanya ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Setelah menggali informasi lebih mendalam, kita menemukan bahwa ternyata perusahaan tersebut terbentur pada masalah perijinan dan berpotensi memperlambat ekspansi yang telah direncanakannya. Apabila kita tidak terlalu yakin masalah tersebut tidak akan cepat terselesaikan, jangan ragu-ragu untuk melakukan cut-loss.

2. Kondisi fundamental telah berubah. Tidak ada yang menjamin sebuah bisnis akan langgeng selamanya. Mungkin saja saham yang telah kita miliki selama bertahun-tahun ternyata mulai melambat kinerjanya karena sudah tidak memiliki cukup ruang untuk berekspansi lebih lanjut. Jika kita tetap bersikukuh untuk tetap memegang sahamnya, ada kemungkinan imbal hasil yang kita
dapatkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Keadaan akan menjadi lebih buruk apabila imbal hasil yang kita dapatkan ternyata lebih rendah dari kinerja indeks acuan, misalnya IHSG atau bahkan lebih rendah dari suku bunga deposito. Jika tetap ngotot untuk tetap mempertahankan saham tersebut di dalam portfolio, kita harus memiliki alasan yang kuat bahwa kondisi fundamental perusahaan tersebut akan membaik di masa mendatang. Seringkali pada kondisi tersebut akan lebih bijak bagi kita untuk mengganti saham tersebut dengan saham lain yang lebih prospektif.

3. Nilai saham tidak dapat menjustifikasi harga.  Sebagai seorang investor, kita harus memahami bahwa Mr. Market mengidap manic-depressive. Mood-nya mudah berubah-ubah dari waktu ke waktu. Bagi seorang investor, perilaku tersebut akan memberikan keuntungan tersendiri. Ada kemungkinan tanpa disangka-sangka Mr. Market sedang riang gembira dan dengan senang hati bersedia membeli saham kita dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga wajarnya. Pada kondisi seperti itu, tidak ada salahnya kita mempertimbangkan untuk menjual sahamnya dan menunggu harganya kembali ke harga wajarnya untuk kita beli kembali. Walaupun terlihat sederhana, pada beberapa kasus kita sebaiknya tidak melakukan hal tersebut. Jika kita yakin saham kita memiliki competitive advantage yang sangat kuat mungkin akan lebih baik bagi kita untuk tidak menjual sahamnya. Apabila saham tersebut tidak memiliki competitive advantage yang kuat, keputusan akan menjadi lebih  mudah.

4. Proporsi saham di dalam portfolio terlalu besar. Ada kalanya suatu saham akan naik harganya karena bisnisnya terus membaik dari waktu ke waktu. Tanpa terasa saham tersebut telah memiliki proporsi yang besar di dalam portfolio kita. Apakah kita harus menjualnya? Jawaban dari pertanyaan ini harus kita pikirkan masak-masak. Apabila saham tersebut kita yakini masih akan memberikan kinerja yang cemerlang di masa mendatang, tidak ada cukup alasan bagi kita untuk menjualnya. Pilihan untuk menjual dapat kita ambil jika kita bisa menemukan saham lain dengan prospek bisnis minimal dengan saham tersebut. Untuk mengurangi risiko, kita dapat menukarkan sebagian saham dengan saham baru yang prospektif tersebut.

Seperti halnya memilih saham, menjual saham adalah sebuah seni dan tidak 100% ilmiah. Pengalaman akan melatih kita untuk dapat membuat keputusan yang tepat saat menjual saham.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kapan Kita Harus Menjual Saham?

  1. stocktr4der says:

    like this …..

    Like

  2. Giyono says:

    Ada yg kurang nih, kalau kita sedang benar2 butuh uang untuk keperluan mendesak ….

    Like

  3. aswanto says:

    Hebat !

    Like

  4. market whisper says:

    dan kata pak fiser..sekali kita milih saham bagus,…itu layak nya milih temen kelas..

    kalo kita udah seleksi,
    kenapa musti kita milih yang dulu sudah kita sisihkan dari list terbaik kita.

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s