Jepang, Raksasa Ekonomi Yang Mencoba untuk Bangkit


Apa yang terjadi di Jepang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Bank of Japan (BOJ) yang dipimpin oleh Haruhiko Koruda secara agresif membanjiri ekonomi Jepang dengan likuiditas dengan cara membeli obligasi pemerintah, termasuk yang long-term  Kebijakan yang cukup radikal ini kontan menyebabkan yield obligasi dan nilai Yen turun dalam.

Target dari kebijakan ini adalah menggandakan kepemilikan obligasi untuk mencapai tingkat inflasi 2% dalam 2 tahun sekaligus mengakhiri masa deflasi yang telah berlangsung selama 15 tahun. Kebijakan BOJ ini merupakan salah satu dari program “three arrows” perdana menteri Jepang, Shinzo Abe.

Apa saja program “three arrows” tersebut?

  1. Melakukan pelonggaran moneter secara agresif (mengucurkan likuiditas untuk mencapai target inflasi sebesar 2% dalam 2 tahun). Pada akhir program, jumlah uang beredar di Jepang akan menjadi dua kali lipat saat ini.
  2. Memperbesar belanja pemerintah (memperbesar defisit budget).
  3. Meluncurkan program untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menstimulasi private investment.

Jepang menyebut kebijakan pelonggaran moneternya dengan “quantitative and qualitative monetary easing”. Ada beberapa orang yang menyebutnya Q-Squared.

Apa saja isi dari Q-Squared?

  • Menambah jumlah uang beredar sampai dengan ¥70 triliun (sekitar 6.800 triliun rupiah) per tahun sampai dengan target inflasi 2% tercapai. Pada akhir tahun 2015 diperkirakan jumlah uang beredar akan menjadi dua kali lipat saat ini.
  • Membeli aset jangka panjang. Selama ini BOJ menghindari pembelian obligasi jangka panjang karena sangat rentan jatuh nilainya. BOJ mengatakan akan membeli obligasi pemerintah dengan waktu jatuh tempo sampai dengan 40 tahun. Hal ini akan mengakibatkan durasi rata-rata obligasi yang dimiliki BOJ naik dari kurang dari 3 tahun menjadi sekitar 7 tahun.
  • Secara agresif membeli aset keuangan yang terkait dengan saham dan pasar properti agar harganya naik. BOJ juga mendorong para investor untuk melakukan hal yang sama.

Dekade Yang Hilang (Japan’s Lost Decade)

Kebijakan pemerintah Jepang ini cukup dapat dipahami jika kita memperhatikan perkembangan ekonomi Jepang selama beberapa dekade terakhir. Pada tahun ’70-an,  GNP Jepang mencapai posisi kedua dunia setelah Amerika Serikat dan pada akhir tahun ’80-an Jepang tercatat memiliki GNP per kapita tertinggi di dunia. Kondisi tersebut berubah berakhir pada awal tahun ’90-an ketika kondisi ekonominya mulai memburuk dan membawa Jepang memasuki dekade yang hilang.

Penyebab jatuhnya perekonomian Jepang adalah spekulasi yang berlebihan di bursa saham dan pasar properti selama masa booming ekonomi tahun ’80-an. Sebagai gambaran, ketika itu sebuah area kecil di Tokyo lebih mahal daripada seluruh negara bagian California. Untuk meredam spekulasi tersebut, Jepang menaikkan suku bunga yang mengakibatkan Nikkei crash, krisis kredit, dan puncaknya krisis perbankan yang membutuhkan bailout.

LostDecade

Sumber: Yahoo! Finance, diolah

Rangkaian krisis tersebut mengantarkan Jepang memasuki masa ‘dekade yang hilang (lost decade)’ di mana pertumbuhannya sangat lambat diiringi dengan deflasi yang berkepanjangan. Nikkei turun tajam dan harga properti kembali ke masa sebelum booming.

Risiko Yang Mengintai

Jika inflasi terjadi lebih cepat dari kenaikan upah, ekonomi Jepang akan semakin tertekan. Selain itu, turunnya Yen memang menyebabkan produk Jepang akan semakin kompetitif namun jika penurunannya terlalu dalam, kondisinya akan berbalik karena biaya bahan baku yang harus diimpor akan meroket.

Yang perlu dicermati juga adalah bahwa debt service saat ini menghabiskan 25% APBN Jepang. Jika target inflasi tercapai, suku bunga akan ikut naik dan APBN Jepang akan habis untuk debt service.

FYI: debt service adalah total bunga utang beserta sebagian pokok utang yang harus dibayar per tahun.

Selain itu, jika yield obligasi terus turun, neraca bank akan terancam dan jika tidak ditindaklanjuti akan berbahaya bagi bank.

Dampaknya Terhadap Indonesia

Secara intuitif membanjirnya likuiditas secara mendadak ini akan berpotensi menyebabkan terjadinya aliran dana ke negara lain, tidak terlepas pula Indonesia.

Jika kita cermati, Indonesia cukup diuntungkan dengan situasi ini karena Indonesia merupakan konsumen produk-produk Jepang.  Turunnya Yen akan membuat produk Jepang semakin murah dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia juga diuntungkan jika aktivitas ekonomi Jepang membaik. Jepang akan banyak membutuhkan barang komoditas dan bahan setengah jadi yang selama ini banyak diimpor dari Indonesia.

Apa yang saya pikirkan?

Membanjirnya likuiditas dunia yang dimulai dari Amerika, Eropa, dan terakhir Jepang ini berpotensi membuat aset-aset keuangan seperti saham dan obligasi akan melambung harganya. Yang saya kuatirkan adalah potensi terjadinya bubble.

Pada kondisi pasar yang terus membubung harganya beberapa bulan terakhir, seringkali yang menjadi perhatian utama adalah growth emiten. Bagi saya, justru ini adalah saatnya bagi kita untuk mengevaluasi seberapa rasionalkah kondisi pasar saat ini. Seperti yang telah saya paparkan mengenai Japan’s lost decade, krisis hampir selalu dimulai dari spekulasi yang berlebihan pada suatu aset.

Tentu saja tidak semua emiten overvalued dan untuk itu mau tidak mau kita harus melakukan analisis mendalam terhadap masing-masing emiten. Pastikan bahwa eforia growth emiten didukung oleh neraca yang kuat dan kontrol yang seksama terhadap capex dan opex.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Dongeng Investasi, Strategi Investasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Jepang, Raksasa Ekonomi Yang Mencoba untuk Bangkit

  1. ask says:

    Terima kasih Pak atas sharingnya. Saya masi bingung dg hubungan antara target inflasi 2% dan jumlah uang yang beredar menjadi 2x lipat. bkn kah dg kenaikan jumlah uang 2x artinya nilai uang turun 2x?
    Terima kasih.

    Like

  2. Andi Novanto says:

    Saham sektor apakah yg akan bergerak dan naik dahulu krn banjir likuiditas? Properti, komoditi, konsumsi? Terimakasih.

    Like

  3. Cakep nih informasinya …
    Jangan lupa juga kunjungi blog saya Cara Belajar Main Saham

    Like

  4. Dr.y says:

    Cash is king

    Like

  5. Pingback: MITOS PROPERTI: investasi tidak pernah rugi | Investor Saham - Bangka

  6. foodyfloody says:

    japan lost decade apakah sampe tahun 2014 masih berlaku?

    Like

  7. parahita says:

    Sampai sekarang pun Jepang masih struggling

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s