Lebih Dalam Memahami Industri Ritel


Di samping parameter dan rasio standar yang kita gunakan ketika melakukan analisis fundamental, kita juga harus mengetahui parameter dan rasio yang secara spesifik terkait dengan industri tertentu. Secara umum kita dapat membandingkan kinerja beberapa emiten dengan melihat rasio-rasio seperti profit margin, ROE, atau DER. Sayangnya seringkali analisis kita tidak dapat berhenti di situ karena masing-masing industri memiliki beberapa aspek penting yang khas.

Pada industri ritel, beberapa parameter yang harus kita perhatikan antara lain:

1.        SSG (Same Store Growth).  Dengan SSG kita akan mengetahui apakah pertumbuhan bisnisnya disebabkan oleh kenaikan penjualan per gerai atau karena adanya penambahan gerai. Untuk mempertajam analisis.

2.       Penambahan luasan gerai. Kita juga sebaiknya melakukan tracking terhadap penambahan luasan gerai yang biasanya dinyatakan dalam m2. Dengan melakukan tracking terhadap kedua parameter tersebut, kita bisa mengetahui dengan lebih terperinci bagaimana sebuah bisnis ritel tumbuh.

3.       Penjualan per gerai. Perhitungannya secara sederhana dapat dilakukan dengan membagi nilai penjualan dengan jumlah gerai. Kegunaan terpentingnya adalah untuk mengetahui seberapa besar scale gerainya.

4.       Penjualan per m2. Tentu saja jika kita membandingkan emiten dengan pangsa yang berbeda, kesimpulan yang didapatkan akan menjadi bias jika hanya melihat penjualan per gerai. Dengan mengetahui seberapa besar penjualannya per m2 akan membantu kita mengetahui di pangsa pasar mana bisnis ritel suatu perusahaan berada.

5.       Cakupan geografis. Apakah bisnisnya berskala nasional ataukah hanya lokal saja? Jika saat ini jumlah gerainya terbatas hanya di daerah tertentu, coba gali keinginan dan kemungkinan keberhasilannya jika manajemen bermaksud untuk berekspansi ke daerah lain. Jika memang terbukti mereka bisa menduplikasi keberhasilannya di daerah lain, peluang besar bagi kita sebagai investor akan terbuka.

Umumnya untuk mendapatkan nilai dari keempat parameter tersebut di atas, kita hanya perlu melihat laporan keuangan dan laporan tahunannya. Analisis kita akan menjadi lebih tajam apabila kita membandingkannya dari tahun ke tahun.

Bagi saya sendiri, terkadang analisis kuantitatif saja belumlah cukup. Kita perlu juga melakukan analisis kualitatif yang walaupun terkesan lebih subjektif namun akan menghindarkan kita dari pengambilan kesimpulan yang keliru. Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain:

1.       Mengunjungi gerainya. Banyak sekali informasi yang kita dapatkan dengan melakukan hal ini. Kita bisa tahu seperti apa kualitas produknya, siapa saja pangsa pasarnya, seberapa ramai gerainya. Akan lebih baik lagi jika kita juga menyempatkan diri mengunjungi gerai kompetitornya. Kita akan bisa merasakan perbedaan ‘hawa’ dengan kompetitornya.

2.       Menganalisis program promosi. Di sini mau tidak mau kita juga harus belajar pemasar an. Apakah program promosinya bertujuan untuk meningkatkan laba ataukah hanya ingin menghabiskan stok yang tidak laku? Memberikan potongan harga yang besar karena produknya tidak laku akan tercermin pada tipisnya margin. Tentang laku tidaknya produknya sebenarnya bisa kita lihat di laporan keuangan dengan menghitung receivable turnover dan inventory turnover. Kita perlu waspada jika kedua rasio tersebut terus turun dari tahun ke tahun.

Sebagai tambahan, berdasarkan pengalaman saya analisis terhadap expense sangatlah penting pada perusahaan ritel karena pada umumnya profit margin-nya rendah.  Kenaikan expense yang tidak terkontrol akan secara signifikan menggerus margin. Sebagai contoh kita bisa melihat bagaimana efek kenaikan opex terhadap laba MAPI belakangan ini. Kenaikan tarif dasar listrik, UMR, dan biaya sewa gerai membuat expense MAPI membengkak dan menggerus labanya.

Sebenarnya metode analisis untuk ritel dapat juga diterapkan terhadap industri restoran. Tentu saja tidak sama persis namun secara garis besar mirip.

Jadi?

Jangan terjebak membandingkan perusahaan dengan menggunakan rasio yang umum.  Angka di atas kertas bisa terlihat luar biasa dan ada kemungkinan tidak menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Semakin dalam kita memahami suatu industri dan bisnisnya, semakin bagus kita dalam melakukan proyeksi dan valuasi.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Lebih Dalam Memahami Industri Ritel

  1. Gandhi says:

    Saya setuju bahwa jangan terjebak membandingkan rasio keuangan yang umum untuk melihat fundamental perusahaan. Rasio keuangan adalah kinerja masa lalu. Perlu dilihat indikator non keuangan seperti yang diuraikan oleh bapak Parahita. Mungkin perusahaan yang banyak melakukan R n D kinerjanya belum tercermin pada masa lampau tetapi baru terlihat di yang akan datang. Perlu dilihat juga aktiva tak berwujudnya, yaitu modal intelektual.

    Gandhi

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s