Memanfaatkan Opportunity Window


Bayangkanlah sebuah jalan yang memiliki 3 buah lajur. Lajur paling kanan diperuntukkan bagi kendaraan yang hendak berbelok ke arah kanan. Lajur tengah diperuntukkan bagi kendaraan yang hendak lurus. Lajur paling kiri diperuntukkan bagi kendaraan yang hendak berbelok ke kiri. Lajur paling kiri cenderung kosong karena kendaraan diperkenankan langsung belok kiri tanpa harus menunggu lampu lalu-lintas berwarna hijau, sementara di lajur tengah cenderung terjadi antrian. Suatu kali ada seorang pengendara yang sedang mengantri di lajur tengah mendapatkan ide untuk berpindah ke lajur kiri beberapa saat sebelum lampu hijau menyala. Dengan demikian ia bisa langsung menghindari antrian yang panjang (ini hanya cerita dan sebaiknya tidak dilakukan di dunia nyata karena melanggar aturan šŸ˜€ ). Sampai beberapa hari pengendara tersebut bisa menikmati keuntungan dengan cara seperti itu. Lama-kelamaan pengendara lain menyadari hal tersebut dan melakukan hal yang sama. Pada awalnya tindakan tersebut cukup menguntungkan sampai pada suatu hari ketika terlalu banyak pengendara yang sedang mengantri di lajur tengah melakukannya. Akibatnya, lajur kiri menjadi terhambat dan menghalangi pengendara yang memang akan berbelok ke kiri. Tak lama kemudian kemacetan pun mulai terjadi dan menjadi pemandangan sehari-hari.

Fenomena tersebut saya alami di sebuah jalan di Jakarta dan bisa menjadi analogi yang baik bagi strategi investasi atau trading saham. Jika merujuk pada cerita di atas, kita akan menamakan lajur kiri yang pada awalnya kosong tersebut sebagai opportunity window (istilah ini tiba-tiba saja melintas di otak saat mengalami kejadian tersebut). Semakin banyak yang memanfaatkannya, semakin cepat opportunity window tersebut tertutup.

Ketika sebuah sebuah strategi investasi/trading pertama kali ditemukan, keuntungan yang didapatkan dari penerapannya bisa sangat besar karena pelakunya bisa memanfaatkan opportunity window yang muncul. Manakala semakin banyak orang yang menerapkan strategi yang sama, opportunity window akan semakin cepat menutup dan peluang untuk mengeksploitasinya akan semakin kecil dari waktu ke waktu.

Karena banyak menekuni soal analisis fundamental saham, pembahasan tentang opportunity window akan saya arahkan ke sana.

Dalam melakukan analisis fundamental, sebagai bahan pertimbangan umumnya investor akan melihat beberapa rasio keuangan seperti ROE, DER, PER, dll. Jika kita berbicara dalam konteks opportunity window, ada kemungkinan tingkat keefektifan rasio-rasio tersebut sebagai indikator untuk mencari saham yang bagus dan murah akan berubah-ubah. Sebagai contoh, jika semua orang berasumsi bahwa saham-saham dengan PER rendah akan berpotensi memberikan keuntungan besar di masa mendatang, maka dengan segera kita akan kesulitan mencari saham-saham dengan PER yang rendah.

Permasalahan lain yang mungkin muncul adalah kesalahan penafsiran akan adanya opportunity window. Perusahaan dengan growth yang stabil dan kondisi keuangan yang solid bisa ditafsirkan terlalu mahal karena PER-nya tinggi walaupun pada kenyataannya memang wajar saja. Sebaliknya, perusahaan dengan PER rendah namun buruk kinerjanya dapat ditafsirkan murah harganya dan membuat kita terjebak.

Pada umumnya opportunity window yang nyata terlihat ketika bursa mengalami crash. Pada kondisi tersebut, hampir semua saham terseret turun harganya dan saham-saham bagus akan dijual dengan harga relatif murah. Menariknya, biasanya ketika pasar mengalami crash, opportunity window akan terbuka cukup lama karena secara psikologis investor dalam keadaan tertekan dan membutuhkan sinyal yang dapat meyakinkan mereka sebelum masuk kembali ke pasar.

Kita harus terus memperbaiki strategi investasi yang digunakan agar dapat mendeteksi adanya opportunity window dengan lebih baik. Selalu terbuka kemungkinan bahwa strategi yang kita gunakan akan menjadi obsolete dan kurang relevan dengan kondisi terkini. Contoh yang bagus adalah bagaimana Ben Graham dan Warren Buffett memiliki perbedaan pandangan dalam melakukan stock picking. Jarang sekali orang menyangsikan bahwa Ben Graham adalah seorang guru value investing. Kenyataannya, sangat sulit bagi kita untuk menerapkan strateginya karena strategi tersebut disusun ketika bursa saham berada dalam masa depresi besar tahun 1929. Kita semua tahu bahwa ketika itu saham dijual dengan harga yang keterlaluan murah sehingga walaupun dengan screening yang paling ketatpun masih banyak saham yang lolos. Ketika kondisi ekonomi mulai membaik, strategi tersebut menjadi kurang relevan dan kemudian diperbaiki oleh Warren Buffett yang mengambil sudut pandang lain dalam memilih saham.

Apakah metode Warren Buffett sudah sempurna?

Mungkin kita bisa melihatnya seperti berikut. Saat ini informasi tidaklah seasimetris dahulu. Investor ritel saat ini dengan mudah mendapatkan informasi tentang suatu emiten, suatu hal yang dahulu secara eksklusif dimiliki oleh investor institusi. Akibatnya, gap kualitas analisis antara keduanya semakin menyempit. Konsekuensinya, mau tidak mau kita harus melakukan pendekatan analisis yang berbeda agar dapat mengeksploitasi opportunity window dengan baik. Bahkan strategi yang digunakan oleh Buffett pun berevolusi dari waktu ke waktu

http://can-turtles-fly.blogspot.com/2011/12/warren-buffetts-evolution-and-his-three.html

Kesimpulannya: dare to be different, my friend!

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Memanfaatkan Opportunity Window

  1. market whisper says:

    zigging when market zagging..

    Like

  2. Citra Indah says:

    Thanks gan atas informasinya , bagus-bagus

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s