Skenario Valuasi: Study Case KBLI


Dalam melakukan valuasi, membuat asumsi adalah hal yang tak terhindarkan. Jika merujuk pada model valuasi yang biasa saya gunakan, asumsi yang harus kita tetapkan adalah estimasi growth, risk premium, dan EPS (Earning per Share). Artinya, akurasi hasil valuasi kita bergantung pada akurasi asumsi yang kita buat. Apabila di kemudian hari asumsi kita tidak tepat, hasil valuasi kita pun akan diragukan validitasnya. Sebenarnya hal ini telah diantisipasi oleh adanya Margin of Safety (MoS). Sayangnya, MoS tidak bias mengantisipasi kemungkinan adanya skenario yang lebih buruk. Contohnya, berdasarkan hasil valuasi, MoS dari suatu saham adalah 30%. Selama tingkat kesalahan kita kurang dari 30%, MoS akan melindungi investasi kita. Sayangnya pada kondisi tertentu kita akan mengalami hal yang lebih ekstrim daripada yang bisa ditanggung oleh MoS.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saya biasanya membuat skenario valuasi. Pada masing-masing skenario, asumsi yang dipergunakan berbeda-beda sesuai dengan kemungkinan kondisi yang bisa terjadi. Membuat skenario seperti ini sangat berguna ketika kondisi fundamental lingkungan yang melingkupi suatu emiten tinggi tingkat ketidakpastiannya. Seperti yang kita tahu, beberapa bulan belakangan ini ada perubahan fundamental yang kita alami, di antaranya adalah pelemahan rupiah yang diikuti oleh inflasi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan melambat. Mau tidak mau hal-hal tersebut membuat kita menyesuaikan asumsi yang sebelumnya dipergunakan.

Sebagai contoh saya akan mencoba membuat beberapa skenario valuasi untuk KBLI.

Skenario Valuasi KBLI

Model valuasi yang dipergunakan masih sama seperti yang biasa saya gunakan di blog ini. Perbedaannya, kali ini kita memiliki tiga skenario yaitu pesimis, fair dan optimis. Sesuai dengan namanya, asumsi pada tiap-tiap skenario menggambarkan kondisi yang sesuai. Pada skenario pesimis, saya menurunkan asumsi EPS dan menaikkan estimasi risk-free rate (akibatnya membuat risk premium naik). Pada skenario optimis, saya menaikkan estimasi EPS namun tidak menurunkan estimasi risk-free rate karena belum ada tanda-tanda dari BI untuk menurunkan BI rate. Setelah selesai membuat asumsi untuk masing-masing skenario, kita perkirakan probabilitas kejadian untuk masing-masing skenario. Pada contoh di atas untuk skenario fair saya perkirakan probabilitas terjadinya adalah 50%. Sementara itu untuk skenario pesimis dan optimis masing-masing probabilitas terjadinya adalah 30% dan 20%. Tidak ada patokan baku mengenai asumsi ataupun probabalitas kejadian. Semuanya kembali kepada penilaian kita pribadi.

Terlihat bahwa pada skenario fair (sesuai dengan kondisi saat ini) harga wajar KBLI adalah 229. Sementara itu pada skenario pesimis 193 dan pada skenario optimis 252. Harga wajar terimbang untuk ketiga skenario tersebut adalah 223.

Lalu apa artinya?

Berdasarkan asumsi pada kondisi saat ini, harga wajar KBLI adalah 229. Jika kemudian BI menaikkan suku bunga, kita sudah antisipatif. Harga wajar KBLI bisa turun sampai ke 193. Demikian pula jika kondisi fundamental membaik, kita pun telah mengantisipasinya. Hal tersebut akan meminimalisasikan adanya faktor emosi kita dalam pengambilan keputusan.

Untuk memudahkan Anda melakukan analisis scenario valuasi, spreadsheet untuk studi kasus ini bisa diunduh di  http://www.4shared.com/file/uXzdLcbU/Skenario_Valuasi_KBLI.html

Update KBLI (16 Feb 2014)

Setelah membaca laporan keuangan Q3 2013, sepertinya efek kenaikan USD terhadap IDR berpengaruh cukup besar dan melebihi estimasi saya sebelumnya pada skenario pesimis. Jika melihat USD/IDR yang masih bertengger di kisaran 12,000 pada akhir tahun 2013, sepertinya kuartal 4 masih terasa berat bagi KBLI.

Jika dihitung ulang, EPS KBLI untuk FY 2013 adalah sekitar 11.2 dengan proyeksi tahun 2014 sebesar 12.9. Hal ini menyebabkan valuasi KBLI turun menjadi 144 (dan saya pun ikut terseret).

Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa akurasi asumsi sangatlah penting. Kita harus lebih jeli dalam membaca perkembangan faktor-faktor yang mempengaruhi aspek fundamental suatu saham.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi, Valuasi and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Skenario Valuasi: Study Case KBLI

  1. Dana says:

    Wuih, KBLI ternyata sejalan dengan Fundamental Analisis toh. Padahal saya belinya pake Teknikal Analisis. 🙂

    Like

  2. market whisper says:

    @masparahita..terima kasih..blog nya selama ini sangat membantu para investor…keep writing

    Like

  3. market whisper says:

    Karena fundamental terlalu di simpan rapat..sama investor yg gajah2x.

    Like

  4. davisukses says:

    Pak Parahita, itu angka risk premium dapet dari mana ya? Thanks….

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s