The Indonesia’s Economic Saga


Beberapa tahun belakangan ini, di Indonesia terjadi booming middle class. Tiba-tiba mal-mal & tempat liburan terisi penuh. Mobil dan motor laku bak kacang goreng. Fenomena ini pernah dibahas di blog ini pada awal tahun 2011 di sini.

Fenomena itu berlanjut dan ekonomi terus melaju. Harga properti melambung dan di beberapa tempat terasa tidak masuk akal. Kenyataannya, penjualan rumah memang luar biasa pesat kenaikannya. Kenaikan daya beli yang ditunjang oleh penurunan suku bunga membangkitkan demand yang selama ini tertahan. Memang benar jika demand perumahan di Indonesia itu sangat tinggi. Perbedaannya, baru kali ini konsumen mendapatkan leverage yang dibutuhkan sehingga mampu untuk membelinya.

Tak disangka-sangka, pada bulan Juni 2013 IHSG tiba-tiba anjlok. Terdengar kabar bahwa banyak hot money yang ditarik keluar. IHSG yang semula bertengger di level 5.200 pun terjerembab hingga ke level 3.800 dan sampai dengan saat ini belum mampu untuk kembali ke level tertingginya tersebut.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya akan mencoba menjelaskan sudut pandang saya. Ternyata apa yang kita alami selama beberapa tahun belakangan tidaklah terjadi begitu saja. Ceritanya dimulai dari gambar berikut:

US_China_GDP

Seperti yang kita tahu, pada tahun 2008 ekonomi dunia mengalami guncangan hebat yang dipicu oleh krisis perumahan di AS. Tak ayal, ekonomi Cina pun ikut goyang karena AS merupakan pangsa pasar yang sangat besar. Gejolak ini pun diperkuat oleh krisis utang yang melanda beberapa negara di Eropa seperti Yunani, Irlandia, dan Spanyol. Guncangan-guncangan tersebut menyebabkan harga komoditas turun seiring dengan demand.

Negara-negara berkembang mendapatkan berkahnya. Para investor mulai melirik negara-negara tersebut (termasuk Indonesia) sebagai lahan investasinya. Hal tersebut diperkuat dengan kebijakan quantitative easing yang diterapkan oleh US Federal Reserve. Hot money mengalir deras ke Indonesia.

Money flows to Indonesia

Terlihat bahwa foreign direct investment (FDI) yang sempat menurun pada saat krisis perumahan terjadi kembali naik dengan kencang. Secara intuitif, kenaikan ini akan membuka banyak lapangan kerja seperti yang terlihat pada terus menurunnya angka pengangguran.

Banjir likuiditas menyebabkan USD terus melemah dan memicu BI untuk terus menurunkan suku bunga. Kenaikan daya beli dan ‘cheap money’ adalah pemicu yang luar biasa bagi munculnya gelombang besar middle class yang selama ini banyak disebut-sebut oleh media.

IHPR

Terlihat bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) mengalami lonjakan sejak kuartal I tahun 2011. Kenaikan tersebut semakin kencang pada akhir tahun 2012.

Apa penyebabnya?

real estate prices

Jika kita memperhatikan grafik di atas, terlihat bahwa semakin cepatnya kenaikan harga property seiring dengan meningkatnya jumlah kredit dari bank. Sejak tahun 2010, persentase kredit bank terhadap GDP terus mengalami kenaikan.

Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga untuk meredam penurunan rupiah belakangan ini sebenarnya juga memiliki potensi untuk meredam kenaikan harga properti tersebut.

Lalu bagaimana kondisi ekonomi Indonesia ke depan?

Komponen_GDP

Terus terang saja saya cukup terkejut melihat grafik di atas. Di balik ramainya pembahasan mengenai tingginya private consumption, ternyata data dari BPS menunjukkan bahwa porsi investasi terus meningkat. Investasi di sini adalah pembelian barang-barang modal yang akan digunakan untuk berproduksi. Ada kemungkinan kita masih bisa bernapas lega J

Dan kesimpulannya?

1.       Banjir likuiditas dan FDI adalah driver pertumbuhan GDP Indonesia sekaligus memicu lonjakan jumlah golongan middle class.

2.       Kita bisa memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan produktivitas. Data dari World Bank menunjukkan bahwa new business registered melonjak dari 25 ribu menjadi 43 ribu pada tahun 2012. Semakin banyak orang Indonesia yang berani berwiraswasta.

3.       Seperti juga cerita-cerita sebelumnya, akan selalu berlaku mekanisme survival of the fittest. Goncangan terhadap pasar modal dan ekonomi Indonesia akan memunculkan banyak kesempatan. Pick the best stock. Lihat emiten mana saja yang mampu untuk menahan goncangan.

Gallery | This entry was posted in Aneka Ria Riset Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

7 Responses to The Indonesia’s Economic Saga

  1. Benni says:

    Mas parahita, saya mau bertanya itu gross investment yang meningkat byk lari ke sektor mana kira-kira dan apakah porsi besar atau sekelas UKM ?

    Like

  2. AnalisNubi says:

    Apa hubungannya Produktivitas dengan jumlah wirausahawan ?

    Like

  3. parahita says:

    Wirausahawan akan menyerap tenaga kerja dan menurunkan angka pengangguran sehingga akan meningkatkan produktivitas.

    Like

  4. AnalisNubi says:

    Ohh cuma beda pandangan: kalau definisi yg saya pahami produktivitas itu: Output/tenaga Kerja. Menurut saya lebih tepat kalau istilahnya membuka lapangan pekerjaan baru. *cuma kasih pandangan yang berbeda bro* 🙂

    Like

  5. parahita says:

    Kalau sebelumnya pengangguran, output/workforce = 0. Kalau ada lapangan pekerjaan berarti output/workforce > 0. Cmiiw.

    Like

  6. AnalisNubi says:

    Sorry..bukan tenaga kerja = output/Labor hehehehe. gw masih salah “ngeh” kalau labor itu bukan TK #duh.

    Like

  7. Pingback: Apakah Kita Terlalu Optimis? | Pojok Ide Investasi

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s