The Art of A Sensible Investing


Bayangkanlah sebuah dunia di mana bursa saham hanya memperkenankan kita untuk membeli saham dan tidak diperbolehkan menjualnya. Anda tentu mengatakan hal tersebut tidak masuk akal karena jika kita membeli saham pastilah ada pihak yang menjualnya. Untuk kali ini, anggaplah kenyataannya adalah seperti itu.

Apa yang Anda hadapi setelah membeli saham sebuah emiten? Anda tidak bisa mengharapkan untuk mendapatkan capital gain dari kenaikan harga sahamnya. Anda akan menghadapi kenyataan sesungguhnya bahwa ketika membeli saham suatu perusahaan, Anda telah membeli bisnisnya.

Let’s talk about business!

Sebenarnya hal tersebut mirip dengan apa yang terjadi ketika kita berinvestasi pada sebuah perusahaan tertutup yang sahamnya tidak dijual di bursa saham atau manakala kita membeli sebuah franchise.

Apakah karena kita tidak bisa menjual sahamnya kembali di bursa, bisnisnya juga ikut berhenti? Tidak. Perusahaan tersebut tetap menjalankan bisnisnya tidak perduli apakah sahamnya bisa diperjualbelikan secara bebas di bursa atau tidak. Perusahaan tersebut tetap berekspansi dan mencari peluang-peluang baru untuk menumbuhkan bisnisnya. Setiap tahunnya perusahaan tetap melaporkan pada Anda mengenai kondisi keuangannya, termasuk juga berapa laba yang diperoleh. Sebagian dari laba yang diperoleh akan dipergunakan untuk membiayai operasional bisnis dan ekspansi sementara sisanya akan dibagikan sebagai dividen yang merupakan imbal hasil kita sebagai pemegang sahamnya.
Dividen, sebuah kata yang seringkali terlupakan manakala kita terlalu fokus dalam mengejar capital gain dan tidak menyadari bahwa dividenlah imbal hasil sebenarnya dari sebuah bisnis.

Katakanlah Anda membeli saham tersebut di harga 2.000 rupiah sementara laba per lembar yang dihasilkan adalah 160 rupiah. Keuntungan per tahun dari modal yang sudah kita tanamkan adalah 8% (160 / 2000). Dengan kata lain, P/E ratio saham tersebut adalah 12.5x. Apakah sudah selesai sampai di situ? Belum. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak seluruh keuntungan dibagikan ke pemegang saham. Ada laba yang ditahan dan dipergunakan untuk membiayai operasional perusahaan serta ekspansi. Katakanlah perusahaan tersebut membagikan 40% labanya sebagai dividen dan sisanya ditahan. Itu artinya bagian keuntungan usaha yang kita peroleh adalah 64 rupiah (40% x 160 rupiah) per lembar saham yang kita miliki. Jumlah dividen dibagi dengan harga pembelian saham kita ini disebut dengan dividend yield dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Untuk kasus perusahaan dalam cerita ini, dividend yield-nya adalah 3.2% (64 / 2000).

Jika kita terbiasa mengharapkan capital gain yang cukup tinggi dari saham, imbal hasil 3.2% per tahun sepertinya terlihat sangat kecil. Sebagai informasi, imbal hasil per tahun rata-rata IHSG adalah 20% atau sepuluh kali lipat dari dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam cerita ini. Bahkan jika dibandingkan dengan imbal hasil sukuk sebesar 8.75% per tahun pun dividend yield-nya jauh lebih kecil.

Apakah ceritanya berhenti sampai di situ? Belum.

Masih ingatkah sebagian laba yang ditahan oleh perusahaan dan dipergunakan untuk mengembangkan bisnisnya? Dengan menggunakan laba yang ditahan tersebut, perusahaan membangun pabrik baru dan membuka wilayah pemasaran baru. Sebagai akibatnya, penjualan perusahaan pun meningkat dan demikian juga dengan labanya. Sebagai hasil dari ekspansi, laba perusahaan tumbuh 15% setiap tahunnya. Dalam cerita ini, pada tahun setelahnya labanya naik 15% dari 160 rupiah menjadi 184 rupiah per lembarnya. Seperti tahun sebelumnya, 40% laba yang diperoleh dibagikan sebagai dividen dan Anda sebagai pemegang saham menerima 74 rupiah per lembarnya.
Jika perusahaan terus tumbuh seperti itu, dividen yang Anda terima akan terus meningkat sebesar 15% setiap tahunnya.

dividend_growth
Dalam 5 tahun, dividen yang Anda terima adalah 112 rupiah per lembar. Jumlah itu mengalami peningkatan sebesar 75% dari jumlah dividen yang Anda terima pada tahun pertama sebesar 64 rupiah per lembar. Jika dibandingkan dengan harga pembelian sahamnya yaitu 2,000 rupiah per lembar, Anda mendapatkan keuntungan sebesar 5.6%.
Sebagai gambaran jika modal yang Anda tanamkan adalah 100 juta rupiah, pada tahun pertama Anda akan mendapatkan dividen 3.2 juta rupiah. Pada tahun kelima, Anda akan mendapatkan dividen sebesar 5.6 juta rupiah.

Sampai pada titik ini mungkin Anda akan berkata, “Yah, masih kecil juga. Masa Cuma dapat 5.6% per tahun? Mendingan beli sukuk.”

Apa yang Anda pikirkan benar. Oleh karena itu, mari kita maju selangkah lagi.

Saya Mau Beli Murah

Bagaimana jika ternyata Anda bisa membeli saham tersebut dengan harga hanya 1,000 rupiah per lembar? (jika sudah terbiasa dengan dunia saham, hal tersebut sangat mungkin terjadi).

Karena Anda membeli dengan harga 50% lebih murah, otomatis jumlah lembar saham yang Anda dapatkan lebih banyak dan yang menarik, dividen yang Anda terima per lembar sahamnya tetap sama berapapun harga yang Anda bayarkan untuk membeli sahamnya. Dividend yield pada tahun pertama melonjak menjadi 6.4% (dua kali lipat) dan pada tahun kelima menjadi 11.2%. Dengan modal 100 juta rupiah, pada tahun pertama Anda akan mendapatkan dividen sebesar 6.4 juta rupiah dan pada tahun kelima Anda akan mendapatkan dividen sebesar 11.2 juta rupiah.
Kali ini, pada tahun kelima imbal hasil yang Anda dapatkan telah melebihi imbal hasil sukuk yang hanya 8.75%. Bahkan pada tahun kesepuluh, dividen yang Anda terima akan menjadi 22.5% dari investasi Anda semula. Nilai tersebut bahkan melebihi imbal hasil rata-rata IHSG.

Terlihat bahwa dividen mampu untuk memberikan imbal hasil investasi yang cukup bagus. Dan hal tersebut dicapai tanpa harus memperhatikan pergerakan sahamnya dari waktu ke waktu karena pada dunia tersebut tidak ada istilah capital gain.

Sekarang marilah kita kembali ke dunia nyata. Bursa saham yang ada adalah bursa yang normal di mana kita bisa memperjualbelikan saham secara bebas. Ya, Anda bisa mengharapkan capital gain 🙂

Walaupun begitu, kali ini Anda seharusnya sudah menyadari bahwa tanpa mengandalkan capital gain-pun Anda bisa memperoleh keuntungan investasi yang cukup memuaskan dari dividen yang diperoleh. Satu hal lagi, jika kita belajar dari cerita di atas kita akan memahami bahwa semakin murah harga pembelian saham, semakin besar imbal hasil yang akan kita terima.

Study Case: PT Adira Multifinance, Tbk (kode BEI: ADMF)

Seperti halnya emiten lain, ADMF tak urung terseret turun harganya ketika terjadi krisis global pada tahun 2008. Pada akhir tahun tersebut, kita bisa membeli saham ADMF di harga 1,450 rupiah per lembar. Padahal pada tahun yang sama ADMF berhasil mencetak laba sebesar 1,020 rupiah per lembarnya. Dengan kata lain, saham ADMF dijual dengan P/E ratio hanya 1.2x. Dari laba yang diperoleh, dividen yang dibagikan adalah sebesar 280 rupiah per lembar. Dengan demikian imbal hasil dari dividen adalah sebesar 19.3%.
Dari tahun ke tahun, laba ADMF terus tumbuh. Pada tahun 2012, EPS ADMF mencapai 1,419 rupiah per lembar dengan jumlah dividen yang dibagikan 792 rupiah per lembar. Itu artinya, jika dibandingkan dengan harga pembelian semula pada tahun 2008, imbal hasil yang kita terima adalah sebesar 54.6%.

Kesimpulannya, jika kita bisa membeli pada harga yang cukup murah, imbal hasil yang diperoleh akan sangat memuaskan.

Dan kita sama sekali tidak memperdulikan di harga berapa saham ADMF diperjualbelikan setelahnya.

That’s what I call a sensible investing.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

5 Responses to The Art of A Sensible Investing

  1. Heru says:

    Kira2 krisis berikutnya kapan datangnya bro?
    Kalau mengikuti siklus 10 tahunan di 2018 , ada indikasinya tidak ke tahun tsb ? 🙂

    Like

  2. herry tjhung says:

    mantaaaab…..jadi lebih tenang investasi jangkah panjang saham berfundamental bagus dan rajin bagi deviden.

    Like

  3. AS INTERNATIONAL says:

    Mantappppp Pak Parahita Sharingnya.. Thanks Banget.. Luar Biasa !!!!!

    Like

  4. prayudi says:

    saya setuju dengan artikel diatas,..
    tapi untuk case ADMF perlu hati-hati, karena tidak liquid,.
    dulu, waktu awal2, saya pernah keep saham ini dengan tujuan (waktu itu), dividen jangka panjang,..
    tapi karena ambil di 12000 (waktu itu saya pikir, itu udah gak bakal turun lagi) dan tidak naik-naik,..
    setelah 2tahunan saya menyerah, dan cutloss.
    sekarang orientasi investasi saya masih tetap emiten dengan dividen yield tinggi, tapi yg lebih liquid.

    Like

  5. onlyprint says:

    thank atas info bisnisnya… 🙂

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s