Hidup dari Dividen


Bisakah kita menutup biaya hidup dari dividen?

Pertanyaan tersebut muncul di salah satu grup di sebuah sosial media yang saya ikuti. Topik tersebut sangat menarik. Selama ini kita mengenal beberapa orang yang membiayai kehidupan sehari-harinya dari trading saham namun jarang sekali ada yang membahas apakah seorang investor saham juga bisa hidup dari hasil investasinya.

Pada dasarnya dengan membeli saham suatu perusahaan, kita memiliki sebagian dari perusahaan tersebut. Dengan demikian, sebagai investor kita berhak untuk mendapatkan sebagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan sebagai dividen. Besarnya dividen yang dibagikan bergantung pada besarnya keuntungan yang didapatkan serta kebijakan masing-masing perusahaan. Pada umumnya tidak semua keuntungan yang diperoleh akan dibagikan sebagai dividen. Sebagian keuntungan kemungkinan ditahan karena perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi. Apabila manajemen perusahaan beranggapan bahwa ekspansi yang akan dilakukan tidak akan memberikan keuntungan yang memadai, ada kemungkinan seluruh keuntungan akan dibagikan menjadi dividen.

Besarnya imbal hasil dividen yang diterima oleh investor umumnya berkisar antara 1,5% – 2,5%. Jika kita membandingkannya dengan imbal hasil obligasi/sukuk yang berkisar antara 7% – 10%, nilai tersebut terlihat kecil, terutama apabila kita ingin menggunakan dividen sebagai sumber pendapatan utama. Terlepas dari adanya potensi pertumbuhan dividen dari tahun ke tahun, bagaimana caranya kita bisa memperoleh pendapatan yang memadai dengan berinvestasi saham?

Ada satu cara yang bisa kita lakukan. Jika kita perhatikan, harga saham setelah cum dividend (tanggal penentuan siapa pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen) akan turun senilai dividen yang dibagikan. Makna dari penurunan harga saham tersebut adalah bahwa dividen yang dibagikan akan menurunkan nilai perusahaan karena terjadi penurunan aset, dalam hal ini kas. Artinya, apabila kita menjual sebagian saham yang kita miliki, pengaruhnya sama dengan apabila kita mendapatkan dividen. Keduanya akan menurunkan nilai investasi kita sejumlah nilai saham yang kita jual atau dividen yang dibagikan. Perbedaannya, jumlah saham yang akan kita jual bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Strategi ini disebut dengan self-made dividend.

Sebagai contoh, tahun ini perusahaan membagikan dividen yang besarnya 2,5% dari harga sahamnya saat itu. Jika menginginkan dividen sebesar 6% misalnya, juallah 3,5% saham Anda. Dampak kedua aksi tersebut akan sama terhadap nilai investasi Anda. Jika imbal hasil rata-rata investasi kita adalah 25% per tahun, penjualan saham senilai 6% masih bisa ditoleransi karena sisa keuntungan 21% masih lebih tinggi dari tingkat inflasi. Dengan demikian, walaupun Anda menjual sebagian saham yang dimiliki, nilai investasi akan terus meningkat dari tahun ke tahun dan tetap mengalahkan inflasi.

Strategi ini cukup bisa diandalkan apabila kita memiliki saham yang jarang membagikan dividen. Kita bisa mengklaim ‘dividen’ dengan cara menjual sebagian kecil saham yang kita miliki. Permasalahan dari strategi ini adalah apabila harga saham sedang turun tajam. Seringkali perusahaan yang berfundamental bagus sekalipun turun tajam harganya. Pada kondisi tersebut, strategi self-made dividend akan terasa menggerus investasi kita. Untuk mengurangi risiko tersebut, diversifikasi investasi akan sangat membantu. Dengan diversifikasi, risiko penurunan tajam sebagai akibat dari ulah saham tertentu dapat dikurangi.

Sebagai tambahan, kita sebenarnya dapat memanfaatkan momen penurunan harga saham dengan membeli sahamnya lebih banyak. Untuk itu tentu saja kita memerlukan dana segar. Bagaimana cara mendapatkannya? Jika Anda menerapkan strategi self-made dividend dengan menjual 6% dari nilai investasi tiap tahunnya, sisakan 1% untuk disimpan sebagai uang tunai. Masukkanlah 1% self-made dividend itu ke dalam sukuk/obligasi. Apabila sewaktu-waktu harga saham jatuh, Anda bisa memanfaatkan tabungan Anda tersebut untuk membeli saham yang telah jatuh harganya tersebut.

Gallery | This entry was posted in Investasi, Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Hidup dari Dividen

  1. AS INTERNATIONAL says:

    Mantappp Pak Parahita. Thanks. Dividen Untuk Gaya Hidup.

    Salam,

    Aswanto!

    Like

  2. Luthfi says:

    kutipan : “Artinya, apabila kita menjual sebagian saham yang kita miliki, pengaruhnya sama dengan apabila kita mendapatkan dividen”

    1. Sebaiknya turut dipertimbangkan pula perbedaan besarnya pajak antara pilihan menjual sebagian saham dengan pajak dividen :
    a. Pajak penjualan saham : 0.1% dari harga penjualan
    b. Pajak Dividen : 10% dari nilai dividen
    Lebih sedikit pajak yg dibayarkan kepada negara dengan metode menjual sebagian saham.

    2. Kekurangan dari ‘metode menjual saham’ adalah hal ini membuat porsi kepemilikkan kita atas perusahaan menjadi berkurang, dimana efeknya porsi dividen yang merupakan hak kita di masa depan juga menjadi berkurang.

    Like

  3. investasi says:

    begitulah pola investasi para orang kaya

    Like

  4. Kelly says:

    Hidup dari dividen kurang menjamin karena perusahaan tidak selalu membagikan dividen. pojokinvestasi.com

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s