Valuation Reverse Engineering


Valuasi adalah proses untuk mencari harga wajar dari suatu saham. Metode valuasi yang saya tuliskan pada artikel saya di sini adalah salah satu contohnya. Metode valuasi tersebut menggunakan konsep time value of money untuk mencari nilai masa kini dari laba di masa mendatang. Pada umumnya output dari valuasi adalah harga wajar saham. Jika harga pasarnya lebih rendah daripada nilai wajarnya, maka kita katakan saham tersebut undervalued. Demikian pula sebaliknya, apabila harga pasarnya lebih tinggi daripada harga wajarnya, kita mengistilahkannya overvalued.

Pada metode valuasi tersebut, kita membutuhkan beberapa masukan, yaitu:

  • Long term EPS growth
  • Required return
  • Estimasi EPS tahun ini
  • Rata-rata historis P/E ratio
  • Rata-rata historis dividend payout ratio (DPO)

Dari kelima masukan tersebut, kita harus membuat asumsi terutama untuk long-term EPS growth dan required return. Karena berlandaskan asumsi, tentu saja hasil valuasinya tidak bisa 100% akurat. Hal ini akan berpotensi menimbulkan masalah manakala hasil valuasi kita jauh berbeda dari harga pasarnya. Well, jika memang hasil valuasi kita menunjukkan bahwa suatu saham undervalued, secara umum kita bisa membeli sahamnya. Masalahnya, apakah asumsi yang kita gunakan dalam proses valuasi sudah cukup akurat?

Bagaimana jika membalik cara berpikir kita.

Pada harga pasar saat ini, berapakah anggapan pasar tentang growth dari suatu saham? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan membalik proses valuasinya. Cara ini biasa disebut dengan reverse engineering. Mirip halnya dengan bidang teknik, istilah reverse engineering digunakan manakala kita ingin tahu bagaimana sebuah mesin dibuat sehingga bisa melakukan fungsi seperti sekarang ini.

Contoh kasus: PT Semen Indonesia, Tbk (kode BEI: SMGR)

Harga dan asumsi masukan valuasi untuk SMGR adalah sbb:

inputDengan menggunakan asumsi tersebut, didapatkan harga wajar SMGR adalah 16,997.

Pertanyaannya, pada harga saat ini (15,000) berapakah laju pertumbuhan laba bersih SMGR agar harga sahamnya merefleksikan nilai wajarnya?

Dengan melakukan trial dan error, didapatkan bahwa harga pasar SMGR saat ini merefleksikan laju pertumbuhan laba sebesar 7.19% per tahun. Apakah angka tersebut telah merefleksikan kondisi yang sebenarnya? Apakah dalam jangka panjang SMGR pertumbuhannya serendah itu?

Tentu saja untuk menjawabnya tidak bisa dengan hanya menerka-nerka. Kita bisa mencoba untuk mengestimasikan pertumbuhan labanya. Ada 2 cara yang biasa saya lakukan. Cara pertama, saya akan mengestimasikan laju pertumbuhan laba dengan mengacu pada data historis (seperti pada tabel di atas). Cara kedua, saya akan melihat pandangan pihak manajemen mengenai target pendapatan di masa mendatang dan kemudian membuat proyeksi laba bersihnya. Jika ingin lebih realistis dan datanya relatif mudah untuk didapatkan, saya menyarankan cara kedua.

Setelah melakukan estimasi, Anda akan bisa menilai apakah laju pertumbuhan laba seperti yang direfleksikan oleh harga saham saat ini cukup masuk akal. Jika ingin lebih kritis lagi, cobalah untuk mencari tahu apakah ada alasan tertentu yang menyebabkan pasar hanya menghargai sahamnya serendah itu. Apakah prospek bisnis ke depan kurang cerah ataukah memang pasar salah memberikan harga? Cobalah berbagai macam kemungkinan untuk melakukan pengujian hingga didapatkan penjelasan yang masuk akal.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi, Valuasi and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Valuation Reverse Engineering

  1. Luthfi says:

    ‘Reverse engineering’ utk mendapatkan growth versi pasar bisa diterapkan jika pasar menerapkan metode valuasi & asumsi yg sama (terutama asumsi utk required rate of return). Apakah pasar menggunakan metode & asumsi yg sama? Contoh pelaku pasar yg kemungkinan tidak menerapkan metode ini : para chartist.

    Like

  2. parahita says:

    Justru itu menariknya 🙂 Jika pasar tidak menggunakan metode yang sama, potensi harga saham menyimpang dari harga wajarnya semakin besar. Jika seluruh pelaku pasar menggunakan metode dan asumsi yang sama, harga saham akan merefleksikan harga wajarnya dan kita tidak bisa mendapatkan keuntungan di atas rata-rata pasar.

    Like

  3. randi says:

    mas parahita, sy pernah liat di statistic IHSG disitu ada average PE, boleh minta tolong share pengalaman mas, kapan saat yang tepat masuk dari statistic ihsg tersebut, terimakasih mas

    Like

  4. market whisper says:

    betul sekali pak parahita, buat tambahan sedikit, saya sadur, artikel ceramah kuliah buffet – SUperinvestor –

    ilustrasi nya :

    buffet ditanya, pak buffet, apa bapak tidak takut membagikan konsep investasi bapak, karena ternyata konsep bapak simple juga, nanti bapak makin sulit dong nyari margin di market.

    buffet jawab : enggak lah, saya yakin sifat manusia itu berulang, yaitu selalu membuat yang “mudah” menjadi “rumit”, dan semakin banyak kerumitan..maka pengikut konsep value yg simple ini bisa semakin kaya.

    hehehe…jadi rahasia prinsip2x buffet bukan cuma soal laporan keuangan dan semua penilaian kualitatif…tapi bagaimana mental investor memandang yang rumit menjadi simple.

    🙂

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s