ROE Breakdown: Studi Kasus SMSM


Artikel ini bisa dibilang adalah kelanjutan dari artikel mengenai SMSM di sini. Jika Anda memperhatikan grafik ROE SMSM pada artikel tersebut, terlihat bahwa ROE-nya terus naik dari tahun ke tahun. Secara umum dapat dikatakan bahwa ini adalah indikasi yang bagus. Perusahaan ini mampu untuk meningkatkan labanya dari tahun ke tahun. Berdasarkan masukan seorang teman, saya akan mencoba untuk mengetahui apa yang memicu kenaikan tersebut. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah metode analisis duPont. Metode analisis tersebut pernah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya di sini.

Dengan menggunakan analisis tersebut, kita akan memecah ROE menjadi tiga rasio, yaitu net profit margin, assets turnover, dan equity multiplier. Untuk sekedar mengingatkan, net profit margin adalah rasio yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat profitabilitas bisnis. Komponen kedua, yaitu assets turnover digunakan untuk mengetahui seberapa efisien penggunaan aset untuk memperoleh pendapatan. Komponen terakhir, yaitu equity multiplier digunakan untuk mengetahui tingkat leverage suatu perusahaan. Hasil kali dari ketiga komponen tersebut adalah ROE, atau jika dituliskan:

Return on Equity = Net Profit Margin x Assets Turnover x Equity Multiplier

Sebenarnya kita bisa memecah ROE lebih kecil lagi. Namun untuk menjaga kesederhanaan tanpa mengurangi esensinya, kita akan menggunakan analisis duPont tiga langkah tersebut. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, saya akan menampilkan data sampai dengan sepuluh tahun ke belakang.

Bagaimana hasilnya?

SMSM - DuPont

Hasilnya sangat menarik. Ketiga komponen pembentuk ROE menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan paling mencolok diperlihatkan oleh komponen net profit margin. Pada tahun 2013, net profit margin SMSM meningkat hampir dua kali lipat apabila dibandingkan dengan tahun 2002.

Jika kita gali lebih dalam lagi, ada kemungkinan kenaikan net profit margin yang pesat tersebut diakibatkan karena tingginya fixed cost perusahaan. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten membuat kontribusi fixed cost semakin kecil sehingga sensitivitas kenaikan laba bersih terhadap pendapatan semakin tinggi.

Mengenai assets turnover, terlihat bahwa sejak tahun 2011 cenderung menurun. Sepertinya SMSM cukup agresif berekspansi untuk mengantisipasi pendapatan di tahun-tahun berikutnya. Dugaan ini diperkuat dengan nilai equity multiplier yang cenderung meningkat pada kurun waktu yang sama.

Sampai dengan tahun 2013, ROE SMSM masih cenderung meningkat. Walaupun begitu, SMSM sebaiknya lebih selektif dalam berekspansi mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan melemah sampai dengan tahun depan.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s