Hasil Screening Saham ala Warren Buffett 2014, Masihkah Relevan?


Bagi saya, menguji kehandalan strategi investasi para maestro adalah kesenangan tersendiri. Tidak dapat dipungkiri, mereka sangat berdedikasi dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang luar biasa bagi perkembangan ilmu investasi saham. Salah satu di antara mereka, dan mungkin bisa disebut yang terbesar adalah Warren Buffett. Aksi investasinya selalu mengundang perhatian dan banyak memberikan pelajaran berharga.

Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk memperlihatkan bagaimana pemikiran Warren Buffett diterjemahkan dan diterapkan di Bursa Efek Indonesia. Apakah strategi investasinya relevan untuk diterapkan di Indonesia?

Meniru strategi Buffett secara keseluruhan bisa dibilang hampir tidak mungkin karena pada prakteknya ia banyak menekankan pemilihan saham dengan menggunakan parameter kualitatif. Yang bisa terukur adalah aspek kuantitatif dari strategi pemilihan sahamnya.

Sebelumnya, strategi pemilihan saham Warren Buffett ini pernah saya tuliskan di sini dan sini. Artikel tersebut menjadi acuan saya untuk mencoba mengetahui apakah sampai dengan saat ini masih relevan.

Saya menggunakan data dari laporan keuangan tahun 2013 dan kemudian melakukan back test dengan memeriksa imbal hasil yang diberikan dari akhir tahun 2013 sampai dengan tanggal 19 September 2014. Sebagai informasi, dalam kurun waktu yang sama IHSG memberikan imbal hasil sebesar 22.3%. Pada akhir tahun 2013, IHSG bertengger di level 4,274 dan pada tanggal 19 September 2014, IHSG berada di level 5,228.

Bagaimanakah hasilnya?

WB_Screen_2013

Tercatat ada 8 saham yang lolos screening, termasuk dalam hal valuasi. Sampai dengan tanggal 19 September 2014, portfolio modelnya telah memberikan imbal hasil sebesar 58.3%. Nilai ini jauh lebih tinggi daripada imbal hasil pasar (IHSG). Jika Anda lihat, pada portfolio model tersebut imbal hasil CITA jauh lebih tinggi daripada yang lain dan menjadi terlalu dominan menyumbang imbal hasil portfolio. Untuk menghilangkan keraguan, jika kita mengeluarkan CITA dari portfolio, imbal hasil yang diperoleh adalah 46.5%. Nilai tersebut tetaplah mengesankan.

Berdasarkan hasil tersebut, ada kemungkinan Anda bertanya-tanya. Mengapa sangat sedikit saham yang lolos dari screening. Terus terang saja penyebabnya adalah adanya filter initial return yang cukup sulit untuk dipenuhi oleh kebanyakan saham. Initial return adalah EPS dibagi dengan harga saham. Dengan kata lain, initial return adalah kebalikan dari P/E ratio. Buffett mensyaratkan initial return harus lebih besar dari imbal hasil sekuritas bebas risiko. Di Indonesia yang biasa dijadikan acuan adalah BI rate. Saat ini BI rate adalah 7.5%. Jika kita balik, nilai tersebut setara dengan P/E ratio 13.3x. Dalam pemilihan saham, P/E ratio-nya tidak boleh melebihi 13.3x. Tidak banyak saham yang memiliki P/E ratio di bawah itu.

Bagaimana jika kita mengabaikan filter itu dalam menyeleksi saham? Apakah hasilnya akan berbeda? Mari kita lihat.

WB_Screen_2013_excl

Terlihat bahwa jika kita mengabaikan filter initial return, jumlah saham yang lolos seleksi membengkak menjadi 23 jenis. Kita bisa melihat banyak nama besar di sana seperti HMSP, SMGR, dan UNVR. Namun apa yang kita dapatkan? Imbal hasil portfolio turun menjadi hanya 36.1% dan apabila kita mengeluarkan CITA dari portfolio, imbal hasilnya hanyalah 31.3%. Tentu saja dibandingkan dengan IHSG yang memberikan imbal hasil 22.3%, angka tersebut bisa dibilang cukup tinggi.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa sebagus apapun sahamnya, kita tidak bisa membelinya di harga berapapun. Kita sebaiknya memilih saham yang tidak terlalu mahal harganya walaupun secara fundamental sangat meyakinkan kinerjanya.

Satu hal lagi yang bisa menjadi bahan renungan. Kinerja seperti itu bisa kita dapatkan dengan hanya menseleksi saham-saham yang memenuhi syarat dan selanjutnya tidak perlu ditengok-tengok lagi. Dengan begitu pun, portfolio kita mampu mengalahkan IHSG bahkan lebih dari 2x lipat.

Tentu saja ada beberapa problem yang harus kita pikirkan solusinya. Salah satunya adalah biasanya emiten merilis laporan keuangan tahunan pada bulan Maret atau ada jeda tiga bulan. Bagaimana cara memecahkan masalah tersebut? Mau tidak mau kita harus membuat proyeksi dan memperkirakan kinerja full year berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga. Walaupun cukup sulit, hal tersebut bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Yang saya percaya, tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Siapkah Anda?

Gallery | This entry was posted in Aneka Ria Riset Investasi, Stock Picking Strategies and tagged . Bookmark the permalink.

14 Responses to Hasil Screening Saham ala Warren Buffett 2014, Masihkah Relevan?

  1. Aswanto says:

    Wow.. Mantappp.. Thanks Pak Parahita.

    Salam,

    Aswanto!

    Like

  2. Franky Rivan says:

    Mantap pak hita! 5 dari saham yang lolos screening dari Sektor finance ya, 3 nya dari asuransi. Hmm..

    Like

  3. Ryo Kusumo says:

    Ini yang saya tunggu pak hita..thanks sharingnya

    Like

  4. repento says:

    hu hita itu IRR nya bi rate 7.5% ada kena potong pajak 20%. jadinya 6%. gimana kalau IRR nya pakai 6% (PER < 16.66x) saja biar lebih longgar.

    Like

  5. Tina says:

    Great

    Like

  6. scnainder says:

    dari 8 itu ada 4 yang tidak liquid,bahkan di CITA transaksi sebulan cuma 126 lot ga ada 10 juta rupiah transaksinya!!!!,,,jadi ini cara masuk dan keluarnya bagaimana?

    Like

  7. parahita says:

    @repento
    Kalau menghitung dividend yield berarti after tax juga?

    @scnainder
    Kalau kuatir dengan likuiditasnya, bisa memilih di antara 23 saham dalam list selanjutnya.

    Like

  8. scnainder says:

    masih bingung nih hu cara hitung RORE nya,kalau yg lain kan pakainya devident per share ya hu? kalau kita hitung dari retained earnings,eps kan hitungan nya per share,apa retained earning juga di bagi jumlah saham nya juga? kalau di bagi begitu saja hasilnya ga kena?

    Like

  9. repento says:

    yup. harusnya sih after tax ya hu

    Like

  10. david says:

    mas parahita, kl misal nya salah satu syarat ga terpenuhi brati ga bisa dong ya ?
    misal nya AVG ROE nya ga sesuai dengan persyaratan nya ?

    Like

  11. Bina Andhika says:

    Salam suhu dan rekan rekan yang lain..
    Saya kurang mengerti anga 13.3x itu didapat darimana ya?
    Ada yang bisa bantu jelaskan?
    Terima Kasih Banyak

    Like

  12. parahita says:

    @Scnainder
    Iya harus dihitung per share juga

    @David
    Iya, semua syarat harus terpenuhi

    @Bina Andhika
    13.3 itu 1/BI Rate atau 1/7.5%

    Like

  13. Bina Andhika says:

    Mas parahita, ini analisa data dari tahun berapa sampai tahun berapa mas?

    Like

  14. parahita says:

    Bukannya sudah ada penjelasannya di artikel?

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s