Kinerja Keseluruhan Emiten Selama Satu Dekade


“Those who cannot remember the past are condemned to repeat it”

-George Santayana-

 

Satu dekade bukanlah waktu yang singkat, terutama jika mengingat banyaknya informasi yang masuk ke smartphone kita setiap menit atau bahkan setiap detik. Banyak sekali yang bisa terjadi dalam satu dekade, dan tidak kalah banyak pula hal yang bisa kita pelajari dalam kurun waktu tersebut.

Street_InvestingKali ini saya akan membawa Anda dalam perjalanan menyusuri satu dekade di bursa saham kita. Umumnya, sebuah siklus ekonomi dari periode ekspansi sampai dengan konstraksi terjadi dalam 5-10 tahun. Oleh karena itu cukup tepat kiranya apabila kita mencoba untuk mengamati perubahan dan tren yang terjadi selama itu.

Saya menggunakan data mulai dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2013. Seperti yang kita ketahui, pada awal dekade tersebut Indonesia mulai bangkit kembali setelah didera oleh krisis moneter yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia terjun ke titik nadir dan menyebabkan terjadinya pergantian rezim pemerintahan. Walaupun sempat terseok-seok pada awalnya, pada pertengahan dekade Indonesia mulai berjalan tegak dengan ditandai oleh tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi. Pada akhir tahun 2000-an, pertumbuhan ekonomi ditandai dengan maraknya golongan menengah yang jumlahnya terus meningkat pesat. Kita menyaksikan bagaimana kencangnya roda ekonomi berputar. Walaupun begitu, seperti lazimnya sebuah siklus ekonomi, Indonesia pun mulai mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013. Setelah selama tiga tahun berturut-turut ekonomi melaju di atas 6% per tahun, pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi menurun menjadi 5,78%. Sampai dengan pertengahan tahun 2014, tercatat pertumbuhan ekonomi (year-on-year) terus menurun hingga menyentuh level 5,12%.

Di bursa saham, kebangkitan ekonomi Indonesia juga diikuti oleh menanjaknya IHSG. Siapa yang menyangka IHSG yang sempat menyentuh level 350 pada tahun 2001 bisa menyentuh level 5200 pada tahun 2013? Jika dihitung-hitung, dalam satu dekade IHSG telah meningkat 15 kali lipat. Walaupun sempat terkoreksi cukup tajam akibat peningkatan nilai impor, IHSG kembali bertengger di level tersebut pada tahun 2014.

Satu Dekade di Bursa Saham

Untuk meneliti lebih lanjut, saya akan mengajak Anda melintasi masa sepuluh tahun di bursa saham. Yang akan saya sajikan adalah data rata-rata dari seluruh emiten. Tentu saja bisa dibilang ini membutuhkan usaha yang cukup besar. Tidaklah mudah untuk mengumpulkan angka-angka di dalam laporan keuangan seluruh emiten selama belasan tahun. Yang saya percaya, segala susah payah saya ini akan bisa memberikan manfaat. Jika kita selama ini hanya bisa memantau rasio keuangan untuk masing-masing emiten, pada tulisan berikut kita bisa memantau pergerakan keseluruhan emiten.

Perjalanan akan kita mulai dengan pertumbuhan laba bersih. Ada dua grafik pada gambar di bawah. Grafik pertama menggambarkan tingkat pertumbuhan per tahun sementara grafik kedua menggambarkan tingkat pertumbuhan laba pada tahun 2013. Keduanya dijabarkan pada level industri.

Earnings_CAGR

Hasilnya yang diperoleh cukup mengejutkan. Industri pertambangan menempati peringkat pertama dengan CAGR 53,2% dan diikuti oleh industri infrastruktur dengan CAGR 46,9%. Hal tersebut dapat dipahami mengingat sampai dengan tahun 2007 (sebelum krisis global) harga komoditas mengalami masa kejayaan. Krisis global menandai kejatuhan harga komoditas. Hal tersebut terlihat lebih jelas manakala kita melihat grafik pertumbuhan tahun 2013. Pertumbuhan industri pertambangan turun drastis menjadi hanya 4,7% dan menduduki peringkat ketiga dari bawah.

Seperti yang bisa diduga, industri properti yang ‘booming’ beberapa tahun belakangan terlihat pada kedua grafik di atas. Properti menempati peringkat ketiga selama satu dekade terakhir dengan CAGR laba bersih 42,1% dan bahkan pada tahun 2013 memimpin dengan pertumbuhan 42,8%. Hal menarik lainnya adalah lemahnya sektor pertanian yang menempati peringkat terbawah. Pada tahun 2013 bahkan laba rata-ratanya turun 17,8%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan rata-rata emiten pada tahun 2013 lebih rendah daripada CAGR selama dekade terakhir. Hal tersebut sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013.

Secara keseluruhan, sebenarnya grafik di atas khususnya CAGR laba bersih cukup mengejutkan saya. Sektor pertanian yang menempati peringkat terbawah ternyata masih memiliki CAGR 25,2%. Apakah Anda bisa membayangkan memiliki saham yang labanya terus tumbuh sebesar 25,2% per tahun selama 10 tahun? Dan itu adalah yang kita dapatkan jika kita memiliki saham dari industri yang paling rendah pertumbuhannya. Tentu saja banyak juga saham yang berkinerja buruk dan untuk itulah kita melakukan analisis dalam usaha untuk terhindar dari saham-saham buruk tersebut.

Perjalanan akan kita lanjutkan kembali. Kali ini kita akan memantau perkembangan return on capital (ROE).

Avg_ROE

Terlihat bahwa selama 10 tahun terakhir ROE rata-rata emiten cenderung meningkat. Jika sampai dengan tahun 2008 ROE masih single digit, mulai pada tahun 2010 kita bisa menyaksikan ROE rata-rata meningkat menjadi double digit. Sayangnya pada tahun 2013, ROE rata-rata kembali turun ke level 9,7%.

Dari grafik tersebut, ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Terlihat bahwa sejak tahun 2010, ROE rata-rata terus menurun dari 11,8% menjadi 9,7% pada tahun 2013. Walaupun masih terbilang tinggi dibandingkan dengan rata-rata selama 10 tahun, kita harus tetap waspada karena ada kemungkinan banyak emiten yang pertumbuhan asetnya terlalu cepat dibandingkan dengan permintaan.

Pada tahun 2013, industri konsumsi, keuangan, dan properti menempati peringkat teratas dengan ROE masing-masing secara berturut-turut mencapai 13,4%, 11,9%, dan 11,5%. Sementara itu, ROE rata-rata pada tahun 2013 untuk seluruh emiten adalah 9,7%.

Saya sempat menyinggung mengenai adanya kemungkinan banyak emiten yang terlalu agresif berekspansi sehingga menurunkan ROE-nya. Untuk melihat dengan lebih jelas, kita akan mengamati bagaimana perkembangan nilai belanja modal (capital expenditure atau capex).

Mengapa capex?

Pertumbuhan jumlah aset terutama aset tetap terkait langsung dengan besarnya capex. Kenaikan capex adalah salah satu indikasi bahwa emiten cukup optimis memandang potensi pendapatan ke depan. Oleh karena itu, kita bisa melakukan pengamatan dengan membandingkan nilai capex relatif terhadap pendapatannya (revenue).

Capex_Revenue

Pada grafik di atas, terlihat bahwa perbandingan capex terhadap revenue selama satu dekade terakhir cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Manakala pada tahun 2002 rasio capex to revenue berada di level 6,4%, pada tahun 2013 rasio tersebut melonjak drastis menjadi 10,2%. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan capex lebih tinggi daripada pertumbuhan revenue. Sebenarnya hal ini cukup wajar terjadi pada kondisi ekonomi yang sedang dalam fase ekspansi. Walaupun begitu, kita perlu mewaspadai adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang secara langsung berpotensi menurunkan pertumbuhan revenue.

Jika kita melihat data tahun 2013, industri infrastruktur memiliki rasio capex to revenue tertinggi yaitu 17%. Apakah hal tersebut ada hubungannya dengan program MP3EI pemerintah yang menekankan pada pembangunan infrastruktur. Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki masalah ketersediaan infrastruktur, khususnya di daerah luar Jawa. Untuk memaksimalkan potensi yang ada, mau tidak mau pembangunan infrastruktur harus mendapatkan perhatian khusus.

Terkait dengan belanja modal, ada satu rasio lagi yang perlu kita perhatikan yaitu debt to equity rasio (DER). Tingginya jumlah belanja modal tentu membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Pada kondisi normal, biaya untuk belanja modal ini dapat dipenuhi dari arus kas internal perusahaan. Hal yang berbeda terjadi apabila perusahaan berekspansi secara agresif. Mau tidak mau perusahaan harus mencari sumber pendanaan eksternal melalui penerbitan saham baru atau berutang. Grafik berikut menggambarkan perkembangan DER dari tahun ke tahun untuk melihat apakah ada pengaruh kenaikan rasio capex to revenue terhadap besarnya utang.

DER

Terlihat bahwa selama tiga tahun terakhir, DER rata-rata keseluruhan emiten cenderung terus naik. Hal ini sejalan dengan meningkatnya rasio capex to revenue seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa emiten-emiten berekspansi cukup agresif dan mulai lebih banyak berutang untuk mengantisipasi pertumbuhan pendapatan ke depan.

Walaupun cenderung naik, nilai DER rata-rata pada tahun 2013 (0,68) masih sedikit di bawah rata-rata untuk satu dekade (0,69). Berdasarkan data tersebut, kita bisa menduga bahwa ekspansi yang dilakukan walaupun cukup agresif namun masih berada dalam tingkat yang normal.

Untuk lebih meyakinkan lagi, kita akan mencoba memastikan apakah beban bunga sebagai hasil dari kenaikan utang belum sampai pada tahap yang memberatkan operasionalnya. Rasio yang bisa kita gunakan adalah time interest earned (TIE) yang merupakan perbandingan antara laba operasional dengan beban bunga. Semakin tinggi TIE, semakin bagus karena besarnya utang perusahaan masih sejalan dengan pertumbuhan pendapatannya.

TIE

Sampai dengan tahun 2012, terlihat bahwa nilai TIE cenderung terus meningkat. Jika pada tahun 2002 nilai TIE rata-rata hanyalah 3,4x, pada tahun 2012 nilai TIE melonjak menjadi 16,2x. Artinya untuk setiap 100 rupiah laba usaha, 16,2 rupiah dipergunakan untuk membayar bunga utang.

Sayangnya, pada tahun 2013 nilai TIE turun drastis menjadi hanya 10,7x. Walaupun masih bisa dibilang tinggi (nilai TIE sebesar 3x masih bisa dibilang cukup wajar), fenomena ini perlu mendapatkan perhatian. Kombinasi antara penurunan pertumbuhan pendapatan dan kenaikan jumlah utang menjadi penyumbang utama penurunan TIE rata-rata.

Jika kita melihat data tahun 2013, terlihat bahwa industri properti memiliki TIE tertinggi yaitu sebesar 16,5x. Sementara itu, industri infrastruktur menempati peringkat terbawah. Secara intutitif, kita bisa menduga ada kemungkinan pembangunan infrastruktur menjadi penyebabnya.

What Next?

Setelah melihat data historis, apa kemungkinan yang terjadi di tahun-tahun mendatang? Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian.

  1. Perusahaan harus lebih berhati-hati dan bersikap selektif dalam berekspansi. Kesalahan dalam berekspansi akan membebani kinerja di masa mendatang.
  2. Perhatikan sektor-sektor yang tumbuh secara konsisten.
  3. Satu atau dua tahun ke depan adalah masa transisi. Perusahaan yang prudent dan piawai dalam menjalankan bisnisnya akan bertahan. Perusahaan yang ceroboh akan mengalami masa-masa yang berat.
Gallery | This entry was posted in Aneka Ria Riset Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kinerja Keseluruhan Emiten Selama Satu Dekade

  1. AS says:

    Thanks Pak Parahita..

    Like

  2. prayudi says:

    2 thumbs up!!
    thanks,.

    Like

  3. aldo says:

    ekstra effort nih mas,ngumpulin data segitu banyak.sukses terus mas

    Like

  4. Pingback: » Anatomi Pelambatan Ekonomi Indonesia

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s