Saham = Obligasi dengan Bunga Yang Terus Naik


Obligasi adalah instrumen investasi yang akan memberikan kupon (bunga) secara berkala dengan jumlah tetap sampai dengan jatuh tempo. Nilai pokok investasi kita akan dikembalikan pula saat jatuh tempo. Sebagai contoh, jika kita berinvestasi sebesar 10 juta rupiah dengan kupon 8,5%, maka kita akan mendapatkan kupon sebesar 850 ribu rupiah setiap tahunnya sampai dengan jatuh tempo.

Sementara itu, saham adalah instrumen investasi yang memberikan kita dividen sebagai bagi hasil dari laba bersih. Dividen yang kita terima bergantung pada kebijaksanaan pihak manajemen serta kinerja dari perusahaan. Pada kondisi normal, dividend yield biasanya lebih kecil dari kupon obligasi. Walaupun begitu, jika laba perusahaan terus meningkat, kemungkinan besar dividen yang kita terima pun akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Lalu, lebih menguntungkan mana?

Membandingkan Saham dengan Obligasi

Untuk membandingkan saham dengan obligasi, ada beberapa asumsi yang akan digunakan, yaitu:

  • Obligasi jatuh tempo dalam 5 tahun. Agar sebanding, diasumsikan saham yang dimiliki akan dijual pula 5 tahun mendatang. Saat jatuh tempo 5 tahun mendatang, pokok awal investasi kita akan dikembalikan sementara nilai penjualan saham akan naik sebanding dengan pertumbuhan labanya.
  • Kupon dan dividen yang didapatkan tidak diinvestasikan kembali
  • Kupon obligasi 8.5% per tahun, dividend yield5%
  • Required return obligasi sama dengan BI rate yaitu 7.5% sementara required return saham adalah 11.1%. Required return saham lebih tinggi dari obligasi karena mengandung risiko yang lebih tinggi.

Untuk membandingkannya, saya menggunakan metode discounted cash flow. Artinya, seluruh cash flow sampai 5 tahun mendatang akan dicari nilai masa kininya (present value) untuk mengetahui manakah yang lebih menguntungkan.

Hasil simulasinya adalah sebagai berikut:

Stock_vs_Bond

Terlihat bahwa dalam waktu 5 tahun, hasil penjualan saham adalah 25,505 sementara nilai obligasi tetap sebesar 10,000 ditambah dengan kupon terakhir sebesar 850 sehingga totalnya menjadi 10,850. Internal rate of return (IRR) obligasi sama dengan kuponnya yaitu 8.5% sementara IRR saham adalah 23%. Pada kondisi normal, saham akan memberikan keuntungan lebih tinggi dari obligasi.

Bagaimana Jika Membeli Saham Terlalu Mahal?

Ilustrasi di atas menggambarkan apabila kita membeli saham pada harga yang normal. Saham dibeli dengan P/E ratio 20x yang sama dengan rata-rata historisnya. Bagaimana jika kita membeli saham dengan harga yang lebih mahal, katakanlah pada P/E ratio 30x? Karena harga beli lebih mahal, maka secara logis internal rate of return juga akan turun. Sebagai contoh, jika kita membeli saham dengan P/E ratio 30x sementara secara historis saham tersebut dihargai dengan P/E ratio rata-rata hanya 20x, IRR akan turun menjadi hanya 13%. Walaupun masih lebih tinggi daripada IRR obligasi (8.5%), tentu saja sebagai investor kita sebaiknya membeli saham pada P/E ratio yang lebih rendah untuk memperbesar keuntungan.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

IRR_Tracking

Terlihat bahwa semakin tinggi harga pembelian kita (P/E ratio lebih tinggi), maka internal rate of return akan semakin mengecil. Pada kasus ini, jika kita membeli saham tersebut dengan P/E ratio di atas 33x, maka IRR akan lebih kecil dari required return (11.1%) sehingga hasil investasi kita tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kesimpulan

  1. Untuk bisa membandingkan saham dengan obligasi, kita menganggap saham adalah obligasi dengan kupon yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Nilai dividen sangat bergantung pada kinerja perusahaan. Jika perusahaan merugi, kita tidak akan mendapatkan dividen. Oleh karena itu, kita harus sangat memperhatikan aspek fundamental dalam berinvestasi saham.
  2. Semakin tinggi harga pembelian, tingkat keuntungan kita semakin menurun. Ben Graham mengantisipasi hal ini dengan mengenalkan konsep margin of safety yang bisa mengurangi kerugian kita manakala skenario tidak berjalan seperti yang diharapkan.
  3. Sangatlah penting untuk berinvestasi pada saham yang kinerja dan labanya tumbuh secara konsisten. Laba yang susah diprediksi akan membuat estimasi investasi menjadi lebih sulit dan meningkatkan ketidakpastian.

Catatan:

Dividend yield = dividend per share / stock price

Jika diatur ulang,

Dividend yield = (DPS/EPS) x (EPS/stock price) = dividend payout ratio x (1/PER) = DPO/PER

P/E ratio rata-rata IHSG adalah 14,8x. Secara historis, dividend payout ratio rata-rata historis adalah 28%. Dengan demikian dapat diestimasikan dividend yield rata-rata adalah 1,9%.

Sementara itu, imbal hasil rata-rata IHSG dari tahun 1997 s.d 2013 adalah sekitar 23% (di luar dividen). Jika kita asumsikan laba rata-rata emiten tumbuh sama dengan imbal hasil IHSG, maka IRR rata-rata emiten adalah 25,3%. Artinya, jika dividen ditambahkan sebagai imbal hasil, maka imbal hasil rata-rata kita per tahun adalah sebesar itu. Jika kita hanya menginginkan imbal hasil sebesar 11.1%,maka P/E ratio maksimum saat pembelian adalah 26.4x.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s