(Mencoba) Mengalahkan Pasar


Di kalangan akademis, hipotesis pasar efisien (efficient market hypothesis) atau biasa disebut dengan EMH mendapatkan perhatian yang sangat besar. Berlandaskan teori tersebut, tidak ada seorang pun yang mampu untuk memperoleh imbal hasil lebih besar dari pasar secara terus-menerus. Informasi yang ada saat ini diasumsikan telah terefleksi pada harga saham sehingga secara keseluruhan ekspektasi imbal hasil yang kita peroleh adalah setara dengan pasar. Kepercayaan pada hipotesis tersebut mencapai puncaknya manakala pada tahun 2013 Eugene Fama, Lars Peter Hansen, dan Robert Shiller berhasil memperoleh hadiah Nobel di bidang ilmu ekonomi terkait dengan risetnya yang terkait dengan hipotesis tersebut. Di dunia akademis, perlawanan terhadap EMH merupakan bunuh diri dan membuat Anda terkucil.

Sebagai referensi, bunyi dari EMH adalah sebagai berikut:

  1. Pada bentuk lemah, harga saat ini telah merefleksikan informasi yang dibawa oleh harga di masa lalu. Dengan demikian, analisis teknikal yang menggunakan harga masa lalu sebagai acuan tidak dapat dipergunakan untuk mengungguli pasar secara terus menerus.
  2. Pada bentuk semi-kuat, harga saat ini telah merefleksikan informasi tidak hanya pada harga masa lalu, namun juga seluruh informasi yang telah dipublikasikan (misalnya berita atau laporan keuangan). Pada bentuk ini, kita tidak bisa menggunakan analisis teknikal ataupun fundamental untuk mengungguli pasar secara terus menerus.
  3. Pada bentuk kuat, harga telah merefleksikan seluruh informasi yang ada sehingga kita tidak akan bisa menemukan saham murah secara konsisten.

Apabila kita telah memutuskan untuk menjadi investor aktif, kebenaran EMH akan menjadi sebuah dilema. Apa gunanya kita bersusah payah melakukan analisis terhadap suatu saham sebelum berinvestasi apabila pada akhirnya imbal hasil yang diperoleh sama dengan imbal hasil pasar? Pada kondisi tersebut, akan lebih baik kita berinvestasi pada reksa dana atau ETF yang mencerminkan indeks dan menggunakan waktu kita yang berharga untuk hal-hal lain.

Terus terang saja, EMH ini cukup kontroversial karena berlandaskan pada asumsi yang susah kita temui pada kenyataan di lapangan. Sebagai contoh, EMH mengasumsikan bahwa pelaku pasar secara rasional menanggapi sebuah informasi. Pada kenyataannya, pemahaman setiap orang terhadap informasi yang sama sangat mungkin berbeda-beda sehingga keputusan yang diambil pun juga bermacam-macam. Akibatnya, secara kolektif keputusan yang mereka ambil yang tercermin pada harga saham akan cenderung bias. Adanya perilaku manusia yang susah untuk ditebak dan seringkali irasional menjadi tantangan tersendiri bagi EMH.

Tantangan terhadap EMH ini pun tak urung dilontarkan oleh Warren Buffett. Isi argumen Sang Begawan Investasi tersebut pada intinya adalah jika memang EMH benar, tidaklah masuk akal sekelompok investor dengan filosofi investasi tertentu dan pilihan saham yang berbeda-beda bisa secara konsisten mengalahkan pasar selama belasan hingga puluhan tahun.

Bagaimana dengan Bursa Efek Indonesia (BEI)? Berdasarkan pengalaman saya, pada kondisi normal pasar cenderung efisien namun pada kurun waktu tertentu bisa berubah menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, ketika berita buruk muncul, pasar akan merespon dengan melakukan aksi jual sehingga harga cenderung turun. Akan tetapi, seberapa akurat para pelaku pasar menerjemahkan dampak dari berita buruk tersebut ke dalam harga saham? Kadangkala para pelaku pasar melakukan tindakan yang over reaktif sehingga ada kemungkinan penurunan harga saham yang terjadi terlalu besar. Pada kondisi demikian, apabila jeli kita bisa memanfaatkannya dengan membeli saham-saham yang dijual terlalu murah. Hal sebaliknya terjadi manakala pasar dalam kondisi bullish? Apakah kenaikan tersebut ditopang oleh kondisi fundamental yang membaik ataukah hanya sentimen saja? Jika memang harga saham naik lebih tinggi daripada kondisi fundamentalnya, ada baiknya kita berpikir untuk mulai menjual saham yang sudah terlalu mahal.

Bagi seorang investor yang jeli, kondisi pasar yang tidak efisien dapat dimanfaatkan untuk dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari pasar.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to (Mencoba) Mengalahkan Pasar

  1. Willy says:

    Pak Hit, saya rasa ada yang kurang pas di atas pas anda bilang:
    “Kepercayaan pada hipotesis tersebut mencapai puncaknya manakala pada tahun 2013 Eugene Fama, Lars Peter Hansen, dan Robert Shiller berhasil memperoleh hadiah Nobel di bidang ilmu ekonomi terkait dengan risetnya yang terkait dengan hipotesis tersebut. Di dunia akademis, perlawanan terhadap EMH merupakan bunuh diri dan membuat Anda terkucil.”

    Berbeda dengan Fama dan Hansen yang memang mendewa-dewakan konsep EMH, Robert Shiller justru adalah salah satu penantang utama EMH dan pendiri dari aliran Behavioral Finance, dan sangat terkenal setelah mempengaruhi Alan Greenspan dengan konsep ‘‘irrational exuberance’-nya.

    Fama jelas sangat jengkel karena teori EMH-nya yang dia dengung-dengungkan disanggah oleh Shiller dan kaum BF, dan bahkan ada rumor kalau mereka terus saling menyindir (dan hampir mengarah ke adu jotos) pada seremoni Nobel 2013 karena posisi mereka yang memang berlawanan dalam perkembangan Modern Finance….

    Sumber:
    http://www.forbes.com/sites/hershshefrin/2013/10/17/my-behavioral-take-on-the-2013-economics-nobel/
    http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_J._Shiller

    Like

  2. parahita says:

    Terima kasih untuk koreksinya pak Willy

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s