Krisis Tidak Sepenuhnya Buruk


Bagaimanapun buruknya kondisi ekonomi ketika dilanda resesi, yang harus selalu kita ingat adalah bahwa resesi hanyalah bagian dari sebuah siklus ekonomi. Kita tidak bisa mengharapkan ekonomi akan berada dalam kondisi ekspansi terus-menerus. Ekspansi ekonomi akan memicu inflasi sampai ke taraf tertentu dan mengakibatkan ekonomi mulai mengalami kontraksi. Ekonomi yang bergairah di sisi lain akan memicu pertumbuhan utang yang tidak terkendali akibat dari optimisme yang berlebihan.

Ketika orang-orang menyadari bahwa harga rumah yang dimilikinya naik terus, mereka akan cenderung untuk membeli rumah lagi. Kali ini bukan untuk ditinggali melainkan untuk berinvestasi. Ketika uang di tangan tidak mencukupi, mulailah mereka mengambil utang. Mereka percaya bahwa harga rumah akan naik terus dan tidak akan pernah turun. Tanpa terasa bubble mulai terbentuk. Kenaikan harga rumah tidak lagi hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar namun juga rasa optimis yang berlebihan. Ketika kita menggunakan rasio dalam menakar harga sebuah aset, kita akan dengan cepat menyadari apabila kenaikan harga aset tersebut mulai berada di luar akal sehat. Cepat atau lambat, bubble akan pecah dan menyisakan cerita pilu setelahnya.

Catatan historis mengenai bubble bagi saya sangat mengagumkan. Bubble bisa muncul dalam berbagai bentuk namun tetap dengan pola yang serupa. Manusia cenderung untuk mudah lupa sehingga dari masa ke masa siklus boom and bust terus terulang.

Sebagai seorang investor kita harus memahami bahwa di balik suramnya kondisi ekonomi sebagai akibat dari krisis ada beberapa hal positif yang terjadi dan menggiring ekonomi menjadi sehat kembali.

Membersihkan Utang Yang Berlebihan

Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, masa akhir dari fase ekspansi cenderung dipenuhi oleh euforia. Semua orang merasa optimis dan cenderung lebih berani untuk mengambil risiko, termasuk di dalamnya adalah keberanian untuk berutang. Jumlah utang akan terus membesar sampai kemudian harga tidak dapat terdorong naik lagi. Pada saat itulah ekonomi akan mulai meluncur turun. Orang-orang yang terlalu berani berutang akan kalang kabut karena pendapatan usahanya turut meluncur turun sementara para kreditur dengan setia menunggu pelunasan utang mereka.

Banyak sekali cerita pahit tentang bisnis yang gulung tikar karena terhantam oleh resesi. Utang yang selama ini dicicil oleh pendapatan bisnis mereka menjadi beban yang terlampau berat untuk ditanggung. Sebagian perusahaan lain yang tidak terlalu agresif berutang masih bisa bertahan walaupun sudah setengah ‘modar’. Pada saat inilah berlaku teori ‘survival of the fittest’. Hanya perusahaan yang tangguh dan penuh perhitungan dalam berutang akan selamat.

Ketika ekonomi mengalami kontraksi, utang-utang yang berlebihan akan berkurang drastis. Dengan sendirinya ekonomi membersihkan racun-racun secara alamiah dan membuatnya lebih sehat.

Perbaikan Regulasi di Sektor Keuangan

Ketika krisis terjadi dan mencapai puncaknya, borok-borok yang selama ini tertutupi akan lebih mudah terlihat. Ketika ada banyak perusahaan yang mengalami masalah yang sama, kita secara intuitif akan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Jika tidak cepat diantisipasi keadaannya akan bertambah parah dan menyebar dengan cepat. Pada kondisi seperti ini, biasanya pihak otoritas akan segera mengisolasi sumber masalah agar tidak menyebar ke mana-mana. Setelah kondisi sudah terkendali, mereka akan melakukan perbaikan regulasi untuk mencegah agar kejadian yang sama tidak terulang di masa mendatang.

Perbaikan regulasi ini juga akan sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis investor. Perbaikan regulasi dan juga transparansi akan membuat investor lebih merasa aman dan tenang dalam berinvestasi sehingga membuat kondisi lebih sehat untuk dapat melangkah ke depan.

Harga Saham Menjadi Lebih Murah

Mr. Market adalah makhluk yang aneh. Mood-nya bisa berubah secara ekstrim dari hari ke hari. Pada kondisi normal, Mr. Market terlihat sangat waras dan berperilaku normal. Akan tetapi ketika sedang kambuh penyakitnya, jangan ditanya apa yang bisa dilakukannya. “Esuk dele, sore tempe” seperti orang Jawa bilang. Apa yang dikatakannya tidak bisa dipegang. Seperti yang dikatakan oleh Benjamin Graham, Mr. Market itu mengidap penyakit Manic-Depressive. Seperti halnya pada manusia, manic-depressive atau diebut juga dengan gangguan bipolar ditandai dengan adanya dua kondisi kejiwaan yang muncul secara bergantian. Pada kondisi pertama, suasana hati penderita sangat riang dan penuh energi di ambang batas normal. Fase ini disebut mania. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa hari. Setelah itu, fase kedua terjadi. Penderita mengalami suasana hati yang teramat suram, berbalik 180 derajat dari fase pertama.

Apakah Anda masih teringat apa yang terjadi ketika krisis global mengamuk pada tahun 2008? Apa yang Anda lihat di bursa saham? Saya ingat betul bahwa bursa saham pada saat itu seperti terkena angin puting beliung. Para pelaku pasar kocar-kacir dan kebingungan. Reaksi alamiah dari kondisi seperti ini adalah kepanikan sehingga investor cenderung untuk menjual saham yang dimilikinya. Pada kondisi psikologis terburuk, mereka akan menjual sahamnya di harga berapapun. Akibatnya, harga saham terus turun dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dan dari bulan ke bulan.

Kepanikan pasar yang terjadi pada tahun 2005 berskala lebih kecil namun memberikan dampak yang kurang lebih serupa. Kali ini industri reksa dana yang terhempas badai.

Krisis reksa dana yang terjadi pada tahun 2005 dapat digambarkan sebagai berikut. Kejadian berawal ketika para investor reksa dana, khususnya pendapatan tetap melihat bahwa nilai investasi mereka terus turun. Saat itu edukasi terhadap investor masih belum sebaik sekarang sehingga masih ada anggapan di kalangan investor bahwa reksa dana pendapatan tetap tidak bisa turun NAB nya. Oleh karena itu, penurunan NAB ditanggapi dengan kepanikan. Mereka berebutan melakukan redemption sampai pada skala yang sedemikian besarnya sehingga para manajer investasi terpaksa mencairkan sebagian portfolionya. Akibatnya bisa ditebak, NAB semakin turun dan investor semakin terdorong untuk melakukan redemption lebih lanjut. Siklus tersebut terus berulang dan industri reksa dana menjadi porak poranda.

Hasilnya?

Nilai Aktiva Bersih (NAB) keseluruhan reksa dana dari Rp 113,7 triliun pada bulan Februari 2005 menjadi hanya Rp 34 triliun pada akhir bulan September 2005. Tentu saja hal tersebut menjadi mimpi buruk bagi para manajer investasi, terlebih manajer investasi yang menerbitkan produk reksa dana pendapatan tetap yang terkena pukulan paling telak. Secara kasar dapat dikatakan bahwa pendapatan para manajer investasi yang berasal dari management fee anjlok hingga sepertiga dari jumlah sebelumnya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari kedua krisis yang saya berikan tersebut? Ketika krisis terjadi, para pelaku pasar akan cenderung over reaktif karena tidak bisa lagi menganalisis situasi dengan pikiran yang jernih. Akibatnya, harga saham akan turun tajam sampai ke level harga yang sebenarnya tidak masuk akal dapat kita lihat pada kondisi pasar yang normal. Jika masih memiliki dana cadangan, kita dapat memanfaatkan situasi ini dengan membeli saham-saham bagus dan harganya sudah banyak terdiskon. Kata kuncinya di sini adalah ketersediaan dana. Selalu sediakan dana cadangan untuk mengantisipasi crash agar Anda dapat membeli ketika harga sedang murah-murahnya.

Walaupun bukan mustahil, kecil kemungkinannya nilai suatu saham dapat berubah dalam hitungan hari. Kenyataannya, harga saham tidak terkait langsung dengan nilainya. Hal ini memungkinkan pasar menjadi manic depressive yang menyebabkan harga saham bak roller coaster sementara nilainya tidak berubah.

Agak susah memang mencoba bersikap rasional sementara saham yang kita miliki harganya sudah turun puluhan persen. Emosi kita berkata untuk jual sementara rasio kita mencoba untuk bertahan. Satu isi otak manusia saja sangat sulit untuk diterka. Ribuan kepala adalah sebuah crowd yang bisa melakukan apa saja bahkan dengan pemicu yang sangat sederhana.

Sebagai investor, kondisi pasar yang sangat bergejolak ini akan menjadi ujian bagi kita. Selalu ingat apa alasan kita membeli suatu saham dan apabila tidak ada yang mengubahnya untuk apa menjual di harga yang teramat rendah?

Kesimpulan

Walaupun krisis terasa begitu berat, kita harus tetap berpikiran jernih dalam menghadapinya. Jangan takut karena tidak takut adalah salah cara untuk tetap bersikap rasional di tengah kondisi chaos. Pada prinsipnya, selalu ada kesempatan di setiap krisis. Cepat atau lambat krisis akan berlalu dan ekonomi akan membaik kembali.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Krisis Tidak Sepenuhnya Buruk

  1. santosoyusak says:

    Jika kita beli saham yg harganya 1000 dan terjadi crash sehingga turun sampai 500. apakah kita perlu hold atau cut loss?
    dengan catatan ini perusahaan yg fundamentalnya bagus.
    bagi value investor mungkin aka hold dan malah buy pada saat harga turun (dengan catatan adanya ketersediaan dana) ya?

    tapi seandainya tidak ada dana segar, bagaimana seandainya cut loss pada posisi 800 dan beli lagi pada saat 500?

    mohon tanggapannya.
    makasi banyak pak.

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s