Memilih Saham Ketika Ekonomi Melambat


SlowdownSumber: sixsimplerules.com

Seperti yang kita ketahui, saat ini dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. IMF memprediksikan pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 3.3%, turun 0.2% dari proyeksi sebelumnya. Penurunan tersebut dipicu oleh krisis di Eurozone khususnya Yunani serta terjadinya kontraksi ekonomi di Amerika Utara. Di samping itu, diperkirakan bahwa gonjang-ganjing bursa saham di China menyebabkan investor mengkhawatirkan kondisi ekonominya.

Street_InvestingSejalan dengan hal tersebut, World Bank juga menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi hanya 4.7%, turun dari proyeksi sebelumnya yaitu 5.2%. Penurunan tersebut dipicu oleh menurunnya konsumsi masyarakat serta belanja pemerintah yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, turunnya harga komoditas (yang berkontribusi cukup besar terhadap GDP) dan pengetatan kredit turut menunjang kondisi tersebut.

Beberapa hari yang lalu, seperti yang dilansir oleh detik.com, BCA menyatakan bahwa 80% industri yang berada dalam portfolionya mengalami penurunan pada semester I 2015. Hanya beberapa industri yang mengalami kenaikan tingkat pertumbuhan. Di antaranya adalah bahan kimia plastik, makanan & minuman, farmasi, dan pariwisata.

BCA_detik

Sumber: www.detik.com

Evaluasi kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan tahun 2014 juga menunjukkan hal yang serupa, Hal tersebut telah dibahas pada artikel sebelumnya di sini.

Kesimpulannya, Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun 2015 ini. Laporan keuangan emiten untuk semester I 2015 pun telah mengindikasikan hal yang senada.

Ketika memilih saham, kita umumnya melakukan screening dengan menggunakan beberapa rasio yang bisa mengindikasikan bagaimana kinerja emiten. Ketika kondisi ekonomi sedang memburuk, hanya sedikit saham saja yang lolos dari screening. Yang perlu diingat adalah bahwa rasio keuangan hanyalah indikator kinerja suatu perusahaan. Walaupun kinerjanya menurun, bukan berarti bisnisnya tidak bagus. Manakala penjualan menurun dan biaya operasional meningkat seperti kondisi saat ini, perusahaan yang bagus pun akan terlihat menurun kinerjanya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, kita harus memastikan bahwa perusahaan memiliki bisnis yang bagus. Secara kualitatif kita bisa melihat beberapa aspek. Di antaranya adalah kuatnya moat, kredibilitas dan kapabilitas pihak manajemen, serta GCG (Good Corporate Governance) dari perusahaan.

Kedua, kita sebaiknya membalik pola screening. Apa maksudnya? Ketika ekonomi berekspansi, urutan menganalisis rasio keuangan akan dimulai oleh yang terkait dengan profitabilitas (pertumbuhan laba, ROE, ROA) dan kemudian disusul oleh solvabilitas (DER, interest coverage) dan likuiditas (current ratio, acid test). Urutan analisis tersebut bukan berarti bahwa ketika ekonomi sedang booming kita tidak perlu memperhatikan likuiditas. Hanya saja, kita bisa lebih memberikan toleransi jika nilainya sedikit berada di bawah ambang batas. Sebagai contoh, kita bisa saja meloloskan emiten dengan DER > 1 dengan asumsi bahwa arus kas ke depan akan digunakan untuk membayar utang sehingga menurunkan leverage.

Bagaimana jika ekonomi mengalami kontraksi? Urutannya akan kita ubah menjadi likuiditas, solvabilitas, dan baru kemudian profitabilitas. Ekonomi yang memburuk akan memaksa emiten untuk adu napas. Penjualan yang menurun akan memaksa emiten untuk menggunakan cadangan kas untuk menutup biaya operasi. Keadaaan akan semakin memburuk manakala utangnya jatuh tempo dan perusahaan tidak memiliki cadangan credit line. Ketika ini terjadi, perusahaan akan berada pada posisi yang sulit dan bahkan bisa mengambil langkah-langkah yang menyakitkan seperti melakukan PHK, menambah modal eksternal (yang akan menggerus porsi kepemilikan), menutup sebagian lini usaha, dan yang terburuk menyatakan kebangkrutan.

Oleh karena itulah kita harus benar-benar memperhatikan aspek likuiditas dan solvabilitas ketika ekonomi sedang memburuk. Perusahaan yang kokoh dan tidak banyak berutang akan selamat dan bisa ikut kembali bertarung ketika ekonomi membaik.

Ketiga, kita benar-benar harus memperhatikan aspek valuasi. Walaupun pada umumnya ketika ekonomi melambat harga saham juga ikut terseret dan menyebabkan harganya terlihat murah, kita tetap harus melakukan valuasi dengan seksama. Pastikan bahwa asumsi yang kita gunakan bersifat konservatif dan masuk akal.

Keempat, selalu sediakan cadangan dana yang bisa kita gunakan untuk menambah investasi kita. Kita akan kehilangan kesempatan bagus manakala harga saham sedang murah-murahnya namun kita tidak memiliki dana tambahan investasi.

Kelima, evaluasi portfolio secara berkala. Pastikan bahwa kinerjanya masih bagus dan tidak ada faktor yang bisa mengancam kelangsungan bisnis perusahaan dalam portfolio kita.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Memilih Saham Ketika Ekonomi Melambat

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s