Siklus Kehidupan, The Ode of The Old-World Companies


Street_InvestingKetika menduduki bangku Sekolah Dasar, kita belajar tentang metamorfosis. Contoh yang paling populer adalah daur hidup kupu-kupu. Dimulai dari telur menjadi larva. Larva berubah menjadi ulat. Ulat berubah menjadi kepompong dan kemudian menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Pada umumnya, satu siklus metamorfosis kupu-kupu memakan waktu sekitar 10-15 hari dan relatif tidak berubah dari dahulu hingga sekarang.
Seperti halnya kupu-kupu, perusahaan pun memiliki siklus hidup. Dimulai dari membangun dan kemudian bertumbuh, dewasa, dan yang terakhir menurun. Jika pada fase penurunan perusahaan mampu untuk bangkit kembali, kita mengenal yang disebut dengan S-Curve. Perusahaan akan mengulang siklus kehidupan dari awal dan kembali menikmati masa kejayaannya.

Apabila kita menengok sejarah, perusahaan besar seperti Coca-Cola, General Electric, atau Walmart mengalami siklus hidup yang bisa mencapai puluhan tahun. Perusahaan-perusahaan tersebut saat ini telah mengalami fase dewasa dan masih berlanjut hingga saat ini.

Di Indonesia, kita memiliki Unilever, Bank BRI, atau Tempo Scan Pacific. Perusahaan tersebut telah bercokol puluhan tahun dan bahkan BRI mulai didirikan lebih dari seabad silam. Sampai dengan saat ini perusahaan-perusahaan tersebut masih menjalani bisnisnya dengan baik dan lebih dari itu, mereka masih mengalami pertumbuhan.

Yang menarik, di era Internet ini tampaknya siklus hidup perusahaan semakin lama menjadi semakin pendek. Kita ambil contoh Telkomsel. Pemimpin pasar untuk industri seluler ini sejak berdiri pada tahun 1995 telah mengalami fase pertumbuhan yang sangat tinggi selama kurun waktu hanya sedikit lebih lama dari satu dasawarsa dan saat ini mulai stabil. Di industri seluler, kita telah melihat bagaimana the big three (Telkomsel, Indosat, dan XL) pertama kali memasuki pasar dan mengubah gaya hidup masyarakat. Komunikasi mulai menjadi kebutuhan sehari-hari bersamaan dengan pangan, sandang, dan papan yang merupakan kebutuhan primer. Pada awal tahun 2000-an, seiring dengan terbentuknya pasar, para pemain baru mulai bermunculan dan berharap dapat turut menikmati kue seluler yang menggiurkan. Sebut saja Telkom dengan produknya Flexy, Bakrie Telecom dengan produknya Esia, Mobile-8 dengan produknya Fren (belakangan melakukan merger dengan Sinarmas Telecom dan meluncurkan produk SmartFren), serta Hutchison 3 dengan produknya ‘3’. Sebenarnya masih ada beberapa pemain lain namun pada umumnya layu sebelum berkembang. Beberapa tahun belakangan peta persaingan mulai bergeser kembali, para pemain non-big three mulai goyah. The big-three terus melaju mendominasi pertarungan walaupun dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan masa keemasaannya.

Yang perlu dicatat, kesemuanya itu terjadi hanya terjadi dalam dua dasawarsa. Sebuah kurun waktu yang pendek untuk ukuran industri. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang telah disebutkan di awal artikel yang mengalami siklus jauh lebih lama dari itu.

Contoh yang lebih baru dan masih ‘hot’ adalah bisnis ojek online. Dimulai dari GoJek yang didirikan pada tahun 2011 dan kemudian disusul oleh Grabbike yang menawarkan layanan serupa. Kehadiran penyedia layanan ojek via online ini cukup membuat kegemparan. Dimulai dari langkah ekspansi besar-besaran dengan perekrutan pengemudi secara massal, perang tarif yang intens sampai dengan gesekan yang terjadi dengan para tukang ojek konvensional yang merasa lahannya telah dimakan oleh para penyedia jasa layanan ojek via online tersebut.

Pelajaran yang dapat kita peroleh dari beberapa fenomena bisnis tersebut adalah semakin memendeknya siklus hidup perusahaan. Bisnis yang didirikan semakin cepat mengalami fase pertumbuhan. Sebagai akibatnya, tidak terhitung perusahaan-perusahaan yang layu sebelum berkembang. Inovasi yang dicapai telah dihajar oleh inovasi lain sebelum sempat mengembangkan sayap secara demografis dan geografis.

Beberapa waktu yang lalu, Rhenald Kasali menulis artikel yang berjudul “Hati-hati “Sudden Shift”, Fenomena Perubahan Abad Ke-21”. Intinya, Beliau mengungkapkan bahwa saat ini telah terjadi perubahan yang sangat cepat di berbagai industri. Mengutip Beliau, perpindahan terjadi secara tiba-tiba (sudden), cepat sekali (speed), dan membuat kita terkaget-kaget (surprise). Artikel tersebut secara tidak langsung membantu menjelaskan fenomena memendeknya siklus kehidupan perusahaan.

Pertanyaan penting selanjutnya adalah bagaimana kita sebagai investor menyikapinya?

Pola pikir utama seorang investor, terutama yang menganut gaya ala Opa Buffett akan selalu berusaha mencari perusahaan dengan bisnis yang mampu untuk berjaya dalam kurun waktu yang lama, kalau perlu selama-lamanya (jika ada). Hal ini menjadi ironi manakala kita dihadapkan pada fenomena memendeknya siklus bisnis. Keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan semakin cepat melemah dan tentu saja menjadi faktor yang kurang menguntungkan apabila kita hendak memegang suatu saham dalam jangka panjang.

Pilihan yang lebih mudah untuk diambil adalah mencari saham-saham old-school yang memenuhi kriteria para begawan investasi terdahulu. Keputusan tersebut bisa jadi tepat dan kita akan memperoleh imbal hasil yang tidak mengecewakan. Walaupun begitu, ada satu hal yang perlu untuk kita perhatikan. Semakin lama, saham-saham old-world akan semakin besar dan menua. Ruang bertumbuhnya akan semakin terbatas dan sebagai konsekuensinya, semakin lama akan semakin sulit untuk mencari saham-saham dengan imbal hasil memuaskan dengan cara seperti itu.

Jika Anda ingin menjadi penyintas (baca: survivor) ketika berinvestasi, prinsip konservatisme tetap harus dipegang. Meskipun begitu, pemahaman terhadap perubahan fundamental ekonomi juga jangan sampai terlupakan. Perusahaan-perusahaan baru akan menggantikan perusahaan lama dengan model bisnis yang baru dan meskipun lebih pendek siklusnya, akan selalu ada perusahaan pemenang yang bisa mempertahankan nafasnya lebih lama dan menikmati keberhasilannya manakala struktur ekonomi baru telah mulai stabil.

Gallery | This entry was posted in Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s