Menjadikan Kopi Sebagai Raja di Negeri Sendiri


Processed with VSCOcam with s4 preset

Graha Kopi. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sore ini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Graha Kopi yang berada di bilangan Graha Raya, Cileduk. Di tempat yang tidak bisa dibilang besar ini, terpampang berbagai macam jenis kopi dari seluruh nusantara, mulai dari Aceh sampai dengan Papua. Indonesia memang adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Kopi Sumatra atau kopi Jawa sangat harum namanya di kalangan penggemar kopi dunia. Bagi saya seorang penggemar kopi, tempat ini bagaikan surga. Dengan harga yang terjangkau, kita bisa memperoleh jenis kopi berkualitas tinggi yang beberapa di antaranya bisa dibilang langka.

Kopi merupakan salah satu anugerah yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan tropis. Tanaman kopi hanya bisa tumbuh di area antara Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn. Saya tidak bisa memastikan apakah memang suatu kebetulan atau tidak, negara-negara yang berada di area tersebut sebagian besar dikategorikan sebagai negara berkembang. Mungkin hanya Singapura dan Australia yang menjadi pengecualian. Harus diakui bahwa kolonialisme pada abad ke-16 sampai dengan abad ke-19 memiliki andil yang cukup besar terhadap berkembangnya jumlah perkebunan kopi.

large-map-of-the-tropics-3Sumber: Over-exploitation of Tropical Birds

Indonesia sendiri tercatat sebagai eksportir kopi terbesar ke-4 di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Yang perlu dicatat, sebagian besar yang diekspor oleh Vietnam adalah kopi Robusta yang umumnya tidak masuk di dalam perhitungan para coffee afficionados.

Coffee_ExportersPada tahun 2013, ekspor kopi Indonesia sebesar 532 ton, meningkat sebesar 65% dari tahun 2002. Ironisnya, kopi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia adalah kopi sachet yang umumnya bukan kopi premium grade. Bagi saya hal ini sungguh menyedihkan mengingat penggemar kopi dunia sangatlah menghargai kopi Indonesia.

Ekspor_KopiPerbedaan tempat menanam akan menghasilkan kopi yang berbeda-beda. Di Indonesia, daerah produsen kopi yang terkenal terbentang dari Aceh hingga Papua. Sebut saja Aceh Gayo, Mandailing, Linthong, Jawa, Toraja, hingga Wamena di Papua. Daerah-daerah yang saya sebutkan itu hanya sebagian dari daerah penghasil kopi di Indonesia.

Di kalangan penggemar kopi dikenal sebuah istilah “third wave coffee”. Istilah ini mengacu pada gerakan yang menghargai kopi sebagai sebuah hasil karya seni. Proses pengolahan kopi mulai dari biji kopi yang baru dipetik hingga pemanggangan dan penyeduhan diperlakukan mirip seperti wine. Secara singkat sejarah kopi modern dapat dibagi menjadi tiga gerakan, yaitu:

  1. First wave: mengacu pada pesatnya pertumbuhan konsumsi kopi. Ikon: Folgers, Maxwell House
  2. Second wave: mengacu pada pendefinisian kopi specialty grade yang menghargai kualitas dan dari mana kopi berasal. Ikon: Starbucks, The Coffee Bean & Tea Leaf.
  3. Third wave: mengacu pada penghargaan kopi sebagai sebuah karya seni. Ikon: Intelligentsia, Counter Culture Coffee, dan Stumptown Coffee Roasters.

Demam third wave coffee tak pelak pun mulai melanda Indonesia. Ikon untuk gerakan ini di Indonesia di antaranya adalah Common Grounds, 1/15, dan Tanamera. Kedai-kedai kopi tersebut mulai mendapatkan pelanggan setia yang mencari kopi dalam bentuknya yang murni. Jika pada second wave coffee jenis minuman yang diandalkan adalah espresso dan turunannya, pada third wave coffee, penyeduhan kopi secara manual menjadi patronnya.

ThirtyThreeBrewThirty Three Brew, Surabaya. Sumber: dokumentasi pribadi

Terus terang saja, gerakan third wave coffee ini menurut saya memberikan dampak positif bagi kopi Indonesia. Jika dahulu kita mengenal hanya kopi Arabica atau Robusta, sekarang ini nama daerah penghasilnya juga mulai menjadi signature dan menjadi salah satu faktor penentu konsumen dalam pemilihan kopinya. Kita kini mengenal kopi Arabica Sumatra Sidikalang. Dalam skala yang lebih ekstrim, nama kebun penghasilnya pun turut disebutkan.

Walaupun begitu, pengenalan indikator geografis tersebut masih terbatas sebagai pengetahuan di antara para penggemar kopi. Masyarakat awam masih membutuhkan edukasi lebih lanjut untuk mengenal kopi produksi negeri sendiri.

Melihat perkembangan yang terjadi, kopi sangatlah potensial menjadi komoditas ekspor Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif kuat. Kopi Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kopi dari negara penghasil kopi lain. Tentu saja masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk dapat memberikan nilai tambah bagi kopi Indonesia. Mulai dari konsistensi hasil panen, kesempurnaan proses pemanggangan, hingga packaging yang lebih menarik. Kesemuanya itu akan menjadikan kopi Indonesia lebih terhormat dan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hanya sekedar komoditas belaka.

Dan yang lebih penting lagi, kopi Indonesia akan menjadi raja di negeri sendiri.

Street_Investing

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Dongeng Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menjadikan Kopi Sebagai Raja di Negeri Sendiri

  1. prayudi says:

    Mantabs,.. Pak Parahita,..

    Saya juga penggemar kopi,.. tapi masih kopi sachet,.. hihihi,..

    ” Ironisnya, kopi yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia adalah kopi sachet yang umumnya bukan kopi premium grade”

    kalo saya melihat selain faktor edukasi, juga karena masalah ekonomi,.. di desa umumnya orang-orang minum teh, atau kopi item,..
    dulunya kopi item sachetan tidak banyak,.. sekarang banyak malah buat praktis,..

    untuk penikmat kopi wave 2~3 seperti artikel diatas, mungkin baru sebatas di kota-kota besar, ataupun dikalangan “the have” or anak muda masa kini,..
    karena ditempat saya pun, lebih banyak yang suka kopi item dari pada kopi cream,..

    thanks artikelnya,.. pak,..

    Like

  2. parahita says:

    @prayudi
    Kalau kopi hitam yang bukan specialty grade sepertinya masih terjangkau harganya

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s