Rasio-Rasio Tidak Umum Yang Saya Gunakan


Street_InvestingDalam berinvestasi, filosofi yang saya gunakan adalah membeli saham berfundamental bagus dengan harga yang wajar. Lebih baik lagi apabila saya bisa membeli dengan harga yang murah. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya memandang bahwa sebuah perusahaan yang bagus seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Mampu menghasilkan laba secara konsisten
  • Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan
  • Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Untuk mengetahui apakah perusahaan dapat melakukan hal-hal tersebut, diperlukan beberapa parameter untuk mengukurnya. Akibatnya, terkadang saya menggunakan rasio-rasio keuangan yang tidak umum. Mari kita lihat satu-persatu.

  1. Mampu menghasilkan laba secara konsisten

Untuk keperluan ini, biasanya saya melihat laju pertumbuhan laba bersih selama lima tahun terakhir. Saya mengharapkan paling tidak laba bersih perusahaan tumbuh secara konsisten sebesar 15% per tahun.

Untuk mengetahui konsistensi pertumbuhannya, saya menghitung tingkat predictability pertumbuhan laba bersihnya. Secara teknis, predictability adalah tingkat akurasi kenaikan laba bersih apabila diasumsikan tumbuh secara eksponensial. Predictability maksimum adalah 100%. Saya mengharapkan tingkat predictability lebih dari 90%.

Mengapa predictability sangat penting?

Apabila laba bersih semakin dapat diprediksi, semakin akurat hasil valuasi kita. Jika laba bersih perusahaan tidak stabil dari tahun ke tahun, kita akan kesulitan untuk mencari harga wajar perusahaan.

  1. Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan

Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk berekspansi. Kejelian pihak manajemen akan membuat tingkat keuntungan dari aktivitas ekspansi tersebut tetap tinggi. Untuk mengukurnya, saya menggunakan beberapa rasio seperti ROE (Return on Equity) dan ROTC (Return on Total Capital). Prinsip kerja dari kedua rasio tersebut hampir sama. Perbedaannya, dengan menggunakan ROTC kita memfaktorkan utang dalam perhitungan. ROTC penting karena kadangkala ada perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi namun diperoleh dengan memanfaatkan leverage (utang) yang besar.

Untuk menganalisis lebih lanjut, saya menggunakan rasio laba bersih dibagi dengan jumlah utang jangka panjang. Saya menghendaki nilainya minimal 20% yang berarti utang jangka panjangnya dapat dilunasi oleh laba bersih dalam waktu maksimal lima tahun.

  1. Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Intinya adalah mengetahui apakah cash flow perusahaan cukup sehat. Biasanya saya menggunakan perbandingan antara jumlah operating cash flow selama 5 tahun dengan jumlah laba bersih selama 5 tahun. Biasanya pada perusahaan yang sehat nilainya akan lebih besar dari 75%. Semakin tinggi semakin baik.

Selain itu, saya juga memantau Free Cash Flow (FCF) dari tahun ke tahun. FCF didefinisikan sebagai operating cash flow dikurangi dengan capital expenditure (capex). Jika nilainya positif, artinya perusahaan mampu membiayai ekspansinya dengan dana internal. Walaupun begitu, kita juga harus mempertimbangkan lebih lanjut karena perusahaan yang sedang tumbuh pesat biasanya memiliki FCF negatif karena potensi laba di masa mendatang jauh lebih besar daripada laba saat ini. Sebagai konsekuensi, perusahaan harus mengalokasikan capex yang cukup besar agar tidak kehilangan kesempatan.

  1. Catatan Tentang Valuasi

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah melakukan valuasi. Pada dasarnya, valuasi yang saya lakukan adalah untuk mengetahui apakah di harga saat ini, saham yang akan saya beli berpotensi untuk mendapatkan imbal hasil yang layak di tahun-tahun mendatang. Metode yang saya gunakan untuk valuasi sudah pernah dijabarkan pada artikel sebelumnya di blog ini.

Jika hendak melangkah lebih maju, Anda bisa menggunakan metode valuasi pada artikel ini.

Advertisements
This entry was posted in Stock Picking Strategies, Strategi Investasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Rasio-Rasio Tidak Umum Yang Saya Gunakan

  1. Gandhi says:

    Terima kasih pak untuk blog ini. Bagaimana dengan filosofi Warren Buffet yang mengatakan bahwa dalam berinvestasi lebih ke membeli bisnis daripada membeli saham, mungkin ada rasio lagi yang membandingkan : discrepancies between the value of a business and the price of small pieces of that business in that market.(http://www.businessinsider.co.id/warren-buffett-graham-and-doddsville-lecture-2015-8/?r=US&IR=T#.VwHmy-YoGXA) Apakah ini bisa diterapkan pada situasi ekonomi sekarang dengan perubahan yang begitu cepat ? Terima kasih

    Like

  2. ASBWE says:

    Thanks Banget Pak Parahita..

    Salam

    Like

  3. parahita says:

    @Gandhi
    “discrepancies between the value of a business and the price of small pieces of that business in that market.”

    Sedikit penjelasan:
    the value of a business –> harga wajar saham
    the price of small pieces of that business in that market –> harga saham di bursa

    Disrepancies: –> perbedaan

    Jadi ya memang itulah yang selama ini dibahas di blog ini

    Like

  4. Gandhi says:

    Terima kasih pak

    Like

  5. Ian says:

    Dear Pak Parahita, untuk poin no 1 memprediksi laba secara konsisten, tools apa yg digunakan untuk mengetahui predictability diatas 90%? Boleh tolong untuk dijelaskan. Terima kasih Pak

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s