Bedah Buku: Value Investing from Graham to Buffett and Beyond


51wmd2b0u04l-_sx330_bo1204203200_Sudah lama saya ingin membeli buku ini. Walaupun sudah banyak sekali buku yang membahas tentang investasi khususnya value investing, kali ini sepertinya berbeda. Saya pribadi mendapatkan banyak tambahan pengetahuan setelah membaca buku ini.
Penulisnya, Bruce Greenwald adalah Robert Heilbrum Professor of Finance and Asset Management di Columbia University Graduate School of Business. Jangan terlalu terintimidasi oleh gelarnya karena Anda akan mendapatkan tambahan wawasan yang mencerahkan pikiran.

Di dalam buku ini, Greenwald mengadopsi pendekatan value investing dari Benjamin Graham dan mengemasnya agar tetap relevan untuk masa kini.
Terus terang saja buku ini diperuntukkan bagi orang-orang yang telah memiliki kemampuan membaca laporan keuangan. Greenwald tidak memberikan porsi untuk membahas cara membaca laporan keuangan, melainkan langsung menuju pada topik utamanya.
Buku ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Introduction to Value Investing
  2. Three Sources of Value
  3. Value Investing in Practice: Profiles of Eight Value Investors

Bagi saya pribadi, yang paling menarik adalah bagian ke-2, yaitu Three Sources of Value. Pada bagian ini, Greenwald membahas 3 metode valuasi yang berbeda dengan pendekatan umum. Greenwald dengan tegas menyatakan bahwa metode Discounted Cash Flow (DCF) membutuhkan terlalu banyak asumsi sehingga sangat rentan terhadap kesalahan.
Ketiga pendekatan valuasi yang dibahas oleh Greenwald adalah:
1. Valuasi berdasarkan aset

Metode ini berdasarkan pada konsep Net Net Working Capital yang diperkenalkan oleh Benjamin Graham. Hanya saja, Greenwald melakukan penyesuaian dengan menyertakan aset tidak lancar ke dalam perhitungan.

Greenwald juga memperkenalkan konsep Asset Reproduction Value yang menurut saya sangatlah berharga. Pada dasarnya asset reproduction value adalah total biaya yang harus dikeluarkan oleh kompetitor agar dapat membuat perusahaan yang identik dengan perusahaan yang hendak kita nilai. Total biaya tersebut adalah value-nya. Saya jadi teringat pada Warren Buffett yang mengatakan bahwa ia mencari perusahaan yang bisnisnya tidak mudah untuk ditiru, bahkan jika kompetitor bersedia untuk mengeluarkan modal yang sangat besar. Terlihat sekali bahwa Warren Buffett mendasarkan pemikirannya pada konsep asset reproduction tersebut.

Pada bagian ini, langkah-langkah untuk menghitung asset reproduction dipaparkan dengan sangat jelas dengan disertai contoh-contoh riil. Saya sarankan Anda membawa kalkulator ketika membaca buku ini hehehe.

2. Earnings Power Value
Konsep earnings power value yang dibahas pada bagian ini juga merupakan penjabaran dari pemikiran Ben Graham bahwa untuk menghitung laba sebenarnya, kita harus menghitung laba yang menggambarkan arus kas yang dapat terus dipertahankan tanpa adanya pertumbuhan. Dengan kata lain, earnings power mensimulasikan tingkat laba apabila perusahaan tidak mengeluarkan biaya untuk menunjang pertumbuhan.
Secara singkat perhitungannya adalah sebagai berikut:

Earnings Power Value (EPV) = Adjusted Earnings x 1/R

dengan R adalah cost of capital.

Adapun adjusted earnings adalah tingkat laba apabila perusahaan tidak berinvestasi untuk meningkatkan laba bersih.

Selisih antara EPV dengan Asset Reproduction Value disebut dengan Franchise Value. Jika pada konsep Asset Reproduction, kita menilai perusahaan dengan mengasumsikan bahwa perusahaan tidak memiliki competitive advantage, maka jika EPV > Asset Reproduction Value memberikan arti bahwa terdapat competitive advantage yang dimiliki perusahaan sehingga bernilai lebih tinggi daripada kompetitornya.

Seperti juga pada bagian sebelumnya, cara menghitung EPV dan adjusted earnings dipaparkan dengan terperinci. Bahkan ada dua sub bagian khusus yang membahas studi kasus pada perusahaan nyata, yaitu WD-40 dan Intel.

3. Value of Growth
Pada pendekatan ketiga ini, Greenwald mulai memasukkan unsur growth dalam perhitungan. Walaupun begitu, ia menjelaskan bahwa growth ini memiliki unsur ketidakpastian yang sangat tinggi. Oleh karenanya kita harus mempergunakannya secara hati-hati. Tidak semua growth akan menambahkan nilai pada bisnis. Growth tidak ada artinya apabila return on capital lebih kecil daripada cost of capital. Pertumbuhan seperti itu akan merusak nilai perusahaan. Konsep ini mungkin mirip dengan EVA (Economic Added Value) yang umum digunakan.
Walaupun bagi saya bagian tentang Three Sources of Value adalah yang paling menarik, pada bagian ketiga kita bisa mempelajari prinsip-prinsip investasi dari 8 value investor ternama, yaitu:

  • Warren Buffett
  • Mario Gabelli
  • Glenn Greenberg
  • Robert H. Heilbrum
  • Seth Klarman
  • Michael Price
  • Walter and Edwin Schloss
  • Paul D. Sonkin

Sebagai informasi, studi kasus tentang Asset Reproduction Value pada Hudson General merupakan karya asli dari Mario Gabelli yang merupakan pemilik saham mayoritas perusahaan tersebut.

Akhir kata, menurut saya buku ini adalah buku yang wajib dibaca oleh para investor khususnya value investor. Anda akan mengetahui bagaimana seorang value investor in action ketika membedah suatu perusahaan dan melakukan valuasi.

Selanjutnya, saya akan mencoba melakukan valuasi dengan ketiga pendekatan tersebut pada emiten di BEI. Akan kita lihat hasilnya.

Advertisements
This entry was posted in Buku Yang Saya Baca, Investasi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Bedah Buku: Value Investing from Graham to Buffett and Beyond

  1. Eko Budiyanto says:

    Tks buat sharenya pak Hita …

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s