Melakukan Valuasi dengan Menghitung Nilai Aset – Bagian ke-1


Saat ini metode valuasi saham yang umum digunakan adalah DCF (Discounted Cash-Flow) yang dilakukan dengan menghitung nilai masa kini dari arus kas di masa mendatang. Jika menggunakan asumsi yang akurat, DCF akan memberikan hasil valuasi yang baik. Walaupun begitu, penggunaan metode DCF mengharuskan kita untuk mengestimasikan arus kas di masa mendatang sehingga terdapat potensi kesalahan dalam perhitungannya.

Terkait dengan hal tersebut, kali ini kita akan menggunakan metode alternatif dalam melakukan valuasi saham, yaitu valuasi berdasarkan nilai aset. Pada dasarnya terdapat dua asumsi yang bisa kita pilih dalam melakukan valuasi, yaitu:

Asumsi likuidasi
Pada pilihan pertama ini, kita akan menghitung nilai jual aset ketika perusahaan hendak dilikuidasi. Metode ini efektif digunakan apabila operasional perusahaan tidak berjalan dengan baik sehingga nilainya akan lebih tinggi jika dilikuidasi. Salah satu praktisi metode ini adalah Ben Graham yang memperkenalkan istilah NCAV (Net Current Asset Value). Pembahasan lebih terperinci tentang metode ini bisa dibaca pada artikel lalu.
Warren Buffett yang juga merupakan murid Ben Graham juga menggunakan metode ini pada masa-masa awal Partnership-nya. Salah satu kasusnya adalah ketika Buffett memutuskan untuk membeli Dempster Mill Manufacturing Company. Berikut kutipan dari Partnership Letter tahun 1963:

“Having read this far, you are entitled to a report on how we have done to date in 1962. For the period ending October 31st, the Dow-Jones Industrials showed an overall loss, including dividends received, of approximately 16.8%. We intend to use the same method or valuing our controlling interest in Dempster Mill Manufacturing at this yearend that we did at the end of last year. This involved applying various discounts to the balance sheet items to reflect my opinion as to what could be realized on a very prompt sale. Last year this involved a 40% discount on inventories, a 15% discount on receivables, estimated auction value of fixed assets, etc., which led to an approximate value or $35.00 per share.”

Perincian Buffett dalam melakukan valuasi terhadap Dempster Mill adalah sbb:

dempstermill_val

Seperti yang telah dijelaskan oleh Buffett dalam kutipan sebelumnya, inventory hanya dinilai sebesar 60% dari nilai buku (diskon 40%), receivables hanya dinilai 85%. Selain itu, prepaid expense hanya dinilai sebesar 25% dari nilai bukunya. Cash dinilai 100% (cash is cash, tidak perlu didiskon). Net plant equipment (PPE) hanya dinilai sebesar $800 dari nilai buku $1,383. Sementara itu, liabilities dinilai 100% (kewajiban harus dibayar penuh).

Terlihat bahwa setelah dikurangi liabilities, nilai bersihnya adalah $4,601 atau $35.25. Buffett Partnership mengakuisisi Dempster Mill dengan harga pembelian rata-rata $28 (margin of safety sekitar 20% dan PBV 0.63x).
Sebenarnya kondisi Dempster Mill tidak terlalu buruk, seperti yang diungkapkan oleh Buffett:

“The operations for the past decade have been characterized by static sales, low inventory turnover and virtually no profits in relation to invested capital.”

Dengan kata lain, penggunaan metode DCF pada kondisi operasional seperti itu akan gagal menggambarkan nilai perusahaan sebenarnya.
Sebagai tambahan, setelah membeli Dempster Mills, Buffett menunjuk Harry Bottle sebagai Direktur yang akhirnya bisa menambah nilai perusahaan. Setelah melakukan perbaikan di sana sini, dengan metode yang sama nilai Dempster Mill naik dari $35 menjadi $51.

Tentu saja, sebagai investor biasa kita tidak bisa melakukan hal tersebut (menunjuk Direktur baru). Namun tanpa melakukannya pun Buffett telah membeli bisnis senilai $35 dengan harga hanya $28 yang berpotensi memberikan keuntungan sebesar 25%.

Asumsi going concern
Jika pada asumsi likuidasi kita menghitung nilai jual asetnya, pada asumsi going concern, perusahaan dianggap akan terus beroperasi dan kita akan menghitung nilai perusahaan dengan memperkirakan berapa besar dana yang diperlukan untuk membeli aset sehingga dapat membangun perusahaan yang serupa. Metode ini dinamakan dengan reproduction cost. Kita akan membahas metode ini pada artikel selanjutnya (bagian ke-2).

This entry was posted in Investasi, Strategi Investasi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Melakukan Valuasi dengan Menghitung Nilai Aset – Bagian ke-1

  1. yono rahmansah says:

    trima kasih pencerahannya pa…

    Like

Sampaikan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s