Buku Street Investing (dan buku lainnya) di Tokopedia

This gallery contains 2 photos.

Karena kebetulan saya ada beberapa stok buku Street Investing, saya memutuskan untuk menaruhnya di marketplace Tokopedia pada online store Rempoa Shop. Link-nya adalah sbb: https://www.tokopedia.com/rempoashop/street-investing-redevelop-the-ideas Di online shop saya tersebut, tersedia juga buku Investing Ideas yang merupakan cikal bakal dari … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Langganan Hasil Riset Fundamental Saham

Selamat siang,

Saat ini kami mulai membuka pendaftaran langganan analisis fundamental saham. Kami secara rutin akan memberikan:

  1. Analisis komprehensif terhadap suatu saham
  2. List saham potensial
  3. Update kinerja secara kuartalan atau ketika ada perubahan fundamental yang signifikan.

Capture contoh hasil risetnya seperti di bawah ini:

ASGR_Sample

Hasil report akan dikirimkan 3-4x per bulan.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi LINE ID: parahitairawan

Posted in Berita | Tagged | 2 Comments

Tidaklah Mudah Menjadi Investor Jangka Panjang

One thing on psychology, which we’ve always known, is that every investor says they’re long-term – and they are until the market takes a hit.

~ Steve Forbes ~

Street_InvestingInvestasi dalam jangka panjang berpotensi memberikan laba kumulatif yang tinggi karena dalam jangka panjang harga saham cenderung naik. Tentu saja ada beberapa hal yang perlu kita pahami terkait dengan pernyataan tersebut.

Pertama, jika kita melihat ke belakang, IHSG memang cenderung naik dari tahun ke tahun. Sejak tahun 1997, tercatat IHSG naik hampir 5 kali lipat.

IHSG

Sumber : Yahoo! Finance

Satu hal yang perlu untuk kita sadari adalah bahwa meskipun IHSG naik, belum tentu saham-saham yang kita miliki otomatis akan naik juga. Manakala IHSG jatuh karena memburuknya kondisi ekonomi, kemungkinan akan ada beberapa perusahaan yang bisnisnya terpukul sampai pada titik tidak bisa bangkit kembali. Sebagai contoh ketika ekonomi berkontraksi, penjualan perusahaan akan tergerus sehingga perusahaan harus memiliki dana yang cukup untuk dapat menutupi biaya operasionalnya. Umumnya, ketika kondisi ekonomi memburuk likuiditas juga akan menyurut. Perusahaan akan lebih sulit untuk mencari pinjaman yang dibutuhkan untuk menutup biaya operasional. Perusahaan yang terlalu besar utangnya akan menghadapi permasalahan yang lebih besar karena plafon pinjamannya semakin kecil sementara mereka tetap harus membayar bunga utangnya.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mencermati perusahaan-perusahaan yang mampu untuk survive dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

Kedua, kondisi psikologis investor sangat rentan terhadap fluktuasi pasar. Jika kita melihat pasar turun dalam hingga 40% seperti tahun 2008, artinya banyak saham yang turun jauh lebih dalam daripada itu. Kerugian di atas kertas sebesar itu sangat mungkin menggentarkan hati para investor. Tidak ada yang tahu kapan pasar akan pulih karena informasi yang muncul cenderung simpang siur. Investor yang bijak dan berpengalaman akan melakukan review terhadap portfolionya dan memastikan bahwa kondisi fundamental saham-saham yang dimilikinya cukup kuat untuk bertahan. Di saat yang sama ia akan mulai mengumpulkan dana untuk diinvestasikan ke saham-saham yang sudah terdiskon besar. Mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dilakukan. Namun kenyataannya mekanisme adalah seperti itu.

Hambatan psikologis lainnya adalah ketakutan kehilangan keuntungan ketika harga saham naik. Jika harga saham naik cukup tinggi, banyak investor yang merealisasikan keuntungan untuk kemudian melihat harga sahamnya naik lebih tinggi lagi. Hal tersebut adalah wajar karena pada dasarnya manusia itu takut dengan kerugian. Permasalahannya adalah kita tidak bisa mengharapkan keuntungan 10x lipat (tenbagger) apabila kita menjual sahamnya ketika telah memberikan keuntungan 100%. Memang benar bahwa untuk memperoleh saham tenbagger tidaklah mudah pada kenyataannya. Yang bisa kita lakukan adalah terus memantau kinerja perusahaan apakah masih memiliki prospek yang bagus. Selama masih bagus kinerjanya dan secara keuangan masih kokoh, kita bisa mempertimbangkan untuk tidak menjual sahamnya walaupun sudah naik tinggi.

Jika Anda hendak menjadi investor jangka panjang, ada baiknya mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas. Apakah Anda siap untuk menghadapi jalan yang terjal dan naik turun?

Posted in Investasi | Leave a comment

The BEI Super Companies (update dengan LK 2015)

Street_InvestingSekitar 4 tahun yang lalu (tahun 2012), saya pernah menulis artikel di blog ini yang berjudul The BEI Super Companies. Artikel tersebut memaparkan daftar emiten BEI dengan laba bersih yang terus tumbuh selama 9 tahun berturut-turut. Untuk mengingat kembali, sampai dengan tahun 2011, hanya ada 9 emiten yang mampu secara konsisten tumbuh labanya.

Mengapa emiten-emiten tersebut saya sebut A Super Company?

Tidaklah mudah untuk terus tumbuh di tengah gelombang ekonomi yang terus naik turun. Jika sebuah perusahaan terus perkasa kinerjanya selama satu dekade, itu artinya perusahaan tersebut mampu melewati satu siklus ekonomi dengan baik. Tidaklah banyak emiten yang bisa melakukannya.

Tentu saja memuktakhirkan data tersebut dengan laporan keuangan 2015 yang baru-baru ini dirilis akan menjadi sangat menarik. Apakah emiten-emiten yang dahulu masuk ke dalam daftar masih bertahan? Apa saja emiten-emiten yang berhasil masuk ke dalam daftar?

Daftar The BEI Super Companies disusun hanya berdasarkan konsistensi kenaikan laba bersih tanpa memperhitungkan hal-hal lain. Akan menjadi sangat ceroboh apabila kita hanya mengandalkan data ini untuk berinvestasi. Walaupun begitu, tentu saja emiten yang masuk ke dalam daftar bisa menjadi bahan pertimbangan kita untuk melakukan analisis lebih lanjut.

SuperComp2015Tercatat ada 12 emiten yang masuk ke dalam daftar The Super Companies. Anda bisa membandingkannya dengan daftar sebelumnya. Apa sajakah emiten yang berubah? Hanya ada empat emiten yang bertahan. Itu artinya ada 8 emiten baru yang masuk ke dalam daftar.

Apakah terbayang PT Ace Hardware Indonesia, Tbk yang pada tahun 2005 laba bersihnya hanya Rp 17.5 miliar mampu melipatgandakannya menjadi Rp 588.3 miliar pada tahun 2015?  Bahkan PT Unilever Indonesia, Tbk yang sering disebut sebagai mature company-pun tetap mampu menumbuhkan labanya sebesar 15% per tahun.

Seperti juga artikel sebelumnya, saya juga akan memberikan daftar emiten yang “nyaris” masuk ke dalam kategori Super Companies. Emiten-emiten ini selama satu dekade terakhir sempat tersandung sekali walaupun pada akhirnya bisa bangkit kembali.

AlmostPerfect2015Jika pada tahun 2011 ada 18 emiten yang “Almost Perfect”, pada tahun 2015 terdapat 17 emiten. Sebenarnya ada 1 emiten lagi yang berpotensi masuk ke dalam daftar namun laporan keuangannya belum dirilis sampai dengan artikel ini dibuat.

Pada daftar “Almost Perfect” tersebut kita juga bisa melihat banyak nama besar. Jika jeli, Anda akan bisa menemukan apa perbedaan tabel tersebut dengan tabel pada artikel sebelumnya. Anda akan bisa melihat sektor mana yang ganti mendominasi tabel tersebut.

Pertanyaan yang lebih penting, apakah kita bisa mencari emiten-emiten seperti itu di masa mendatang? Dengan filosofi dan strategi investasi yang tepat, saya yakin kita bisa melakukannya.

 

Posted in Aneka Ria Riset Investasi | Tagged | 5 Comments

Rasio-Rasio Tidak Umum Yang Saya Gunakan

Street_InvestingDalam berinvestasi, filosofi yang saya gunakan adalah membeli saham berfundamental bagus dengan harga yang wajar. Lebih baik lagi apabila saya bisa membeli dengan harga yang murah. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya memandang bahwa sebuah perusahaan yang bagus seharusnya memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Mampu menghasilkan laba secara konsisten
  • Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan
  • Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Untuk mengetahui apakah perusahaan dapat melakukan hal-hal tersebut, diperlukan beberapa parameter untuk mengukurnya. Akibatnya, terkadang saya menggunakan rasio-rasio keuangan yang tidak umum. Mari kita lihat satu-persatu.

  1. Mampu menghasilkan laba secara konsisten

Untuk keperluan ini, biasanya saya melihat laju pertumbuhan laba bersih selama lima tahun terakhir. Saya mengharapkan paling tidak laba bersih perusahaan tumbuh secara konsisten sebesar 15% per tahun.

Untuk mengetahui konsistensi pertumbuhannya, saya menghitung tingkat predictability pertumbuhan laba bersihnya. Secara teknis, predictability adalah tingkat akurasi kenaikan laba bersih apabila diasumsikan tumbuh secara eksponensial. Predictability maksimum adalah 100%. Saya mengharapkan tingkat predictability lebih dari 90%.

Mengapa predictability sangat penting?

Apabila laba bersih semakin dapat diprediksi, semakin akurat hasil valuasi kita. Jika laba bersih perusahaan tidak stabil dari tahun ke tahun, kita akan kesulitan untuk mencari harga wajar perusahaan.

  1. Mampu untuk mengalokasikan laba pada proyek-proyek yang menguntungkan

Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk berekspansi. Kejelian pihak manajemen akan membuat tingkat keuntungan dari aktivitas ekspansi tersebut tetap tinggi. Untuk mengukurnya, saya menggunakan beberapa rasio seperti ROE (Return on Equity) dan ROTC (Return on Total Capital). Prinsip kerja dari kedua rasio tersebut hampir sama. Perbedaannya, dengan menggunakan ROTC kita memfaktorkan utang dalam perhitungan. ROTC penting karena kadangkala ada perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi namun diperoleh dengan memanfaatkan leverage (utang) yang besar.

Untuk menganalisis lebih lanjut, saya menggunakan rasio laba bersih dibagi dengan jumlah utang jangka panjang. Saya menghendaki nilainya minimal 20% yang berarti utang jangka panjangnya dapat dilunasi oleh laba bersih dalam waktu maksimal lima tahun.

  1. Mampu untuk menjaga agar laba tidak terbuang percuma

Intinya adalah mengetahui apakah cash flow perusahaan cukup sehat. Biasanya saya menggunakan perbandingan antara jumlah operating cash flow selama 5 tahun dengan jumlah laba bersih selama 5 tahun. Biasanya pada perusahaan yang sehat nilainya akan lebih besar dari 75%. Semakin tinggi semakin baik.

Selain itu, saya juga memantau Free Cash Flow (FCF) dari tahun ke tahun. FCF didefinisikan sebagai operating cash flow dikurangi dengan capital expenditure (capex). Jika nilainya positif, artinya perusahaan mampu membiayai ekspansinya dengan dana internal. Walaupun begitu, kita juga harus mempertimbangkan lebih lanjut karena perusahaan yang sedang tumbuh pesat biasanya memiliki FCF negatif karena potensi laba di masa mendatang jauh lebih besar daripada laba saat ini. Sebagai konsekuensi, perusahaan harus mengalokasikan capex yang cukup besar agar tidak kehilangan kesempatan.

  1. Catatan Tentang Valuasi

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah melakukan valuasi. Pada dasarnya, valuasi yang saya lakukan adalah untuk mengetahui apakah di harga saat ini, saham yang akan saya beli berpotensi untuk mendapatkan imbal hasil yang layak di tahun-tahun mendatang. Metode yang saya gunakan untuk valuasi sudah pernah dijabarkan pada artikel sebelumnya di blog ini.

Jika hendak melangkah lebih maju, Anda bisa menggunakan metode valuasi pada artikel ini.

Posted in Stock Picking Strategies, Strategi Investasi | Tagged , , | 4 Comments

Menjelajah ke dalam Penjelasan Laporan Keuangan

Street_InvestingSebagai bagian dari laporan keuangan, penjelasan laporan keuangan tidaklah kalah pentingnya. Banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan dari sana. Jika Anda hendak memahami laporan keuangan lebih dalam, mau tidak mau Anda harus mengeksplorasi bagian penjelasannnya. Karena setiap emiten memiliki model bisnis yang berbeda, tentu saja bagian penjelasan laporan keuangan antar emiten bisa berbeda-beda, sesuai dengan disesuaikan dengan operasional bisnisnya.

Walaupun sebenarnya banyak sekali informasi dalam penjelasan laporan keuangan, kali ini kita akan mendiskusikan poin-poin yang utama saja dan biasa dibutuhkan oleh investor. Sebagai contoh, saya akan menggunakan laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk (kode BEI: GIAA) tahun 2015 yang telah dirilis.

1. Sejarah Pendirian dan Informasi Umum Perusahaan

Pada bagian ini kita bisa melihat kapan perusahaan didirikan dan bergerak di bidang usaha apa saja. Informasi ini bisa dilihat pada halaman 8.

InformasiUmum

Dijelaskan bahwa perusahaan berdiri pada tanggal 31 Maret 1950 dan berkntor pusat di Jakarta.

Terlihat bahwa berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, lingkup usahanya ada 8 seperti pada gambar dia atas. Selain itu, kita juga mendapatkan informasi bahwa pada tahun 2015 perusahaan memiliki 16.792 karyawan.

 

LiniUSaha

2. Utang Usaha

UtangUsaha.png

Terlihat bahwa utang usaha terbesar perusahaan adalah kepada PT Pertamina (Persero) sebesar USD 34 juta. Kemungkinan ini adalah utang usaha untuk pembelian jet fuel. Nilai ini jauh menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai USD 104 juta. Informasi ini bisa dilihat pada halaman 80 laporan keuangan. Selain itu, komponen bahan bakar juga dominan untuk utang usaha kepada pihak ketiga.

Perincian Beban Operasional (OPEX)

Karena GIAA bergerak di bidang jasa penerbangan, maka komponen yang perlu mendapatkan perhatian besar adalah biaya bahan bakar. Perinciannya bisa kita lihat pada halaman 115.

Opex

Terlihat bahwa 47% beban operasional adalah biaya bahan bakar. Oleh karena itu, perubahan harga minyak sangat berpengaruh terhadap kinerja GIAA.

Informasi lain yang bisa kita dapatkan adalah beban penyusutuan (depresiasi) yang berguna untuk melakukan valuasi. Biasanya beban penyusutan ini muncul juga di bagian COGS. Namun karena GIAA bergerak di bidang jasa, nilai COGS-nya kecil dan bahkan tidak ada.

4. Risiko Usaha

Risiko perusahaan bisa dilihat pada halaman 121. Risiko yang dijelaskan adalah risiko keuangan, risiko harga bahan bakar pesawat, risiko nilai tukar mata uang non-fungsional, risiko suku bunga, risiko likuiditas, dan risiko kredit.

Terkait dengan risiko harga bahan bakar pesawat, perusahaan mengantisipasinya dengan menggunakan vanilla call option, khusus untuk penerbangan haji. Perusahaan juga melakukan analisis sensitivitas perubahan harga bahan bakar terhadap laba setelah pajak pada halaman 124.

FuelSensitivity

Perusahaan menjelaskan bahwa pada tahun 2015, setiap penurunan harga bahan bakar sebesar 1 USD/barrel, laba setelah pajak akan naik sebesar USD 7 juta.

Selain itu, perusahaan juga menjelaskan dampak dari perubahan kurs rupiah terhadap laba.

RateSensitivity

Pada tahun 2015, penguatan Rupiah sebesar 100 bp (basis poin) akan membuat laba setelah pajak naik sebesar USD 3 juta.

Selanjutnya, perusahaan juga menjelaskan dampak perubahan suku bunga terhadap laba setelah pajak.

InterestSensitivity

Terlihat bahwa pada tahun 2015 dan 2014, kenaikan suku bunga baik LIBOR maupun SBI akan berdampak positif terhadap laba setelah pajak.

 

5. Lini Usaha Perusahaan

Sebenarnya untuk GIAA, kita bisa melihat breakdown pendapatan pada laporan keuangan. Namun pada bagian penjelasan di halaman 157, kita bisa melihat margin dari masing-masing lini usaha.

InterestSensitivity

Demikianlah sekilas penjelajahan ke dalam penjelasan laporan keuangan. Tentu saja jika kita melihat penjelasan laporan keuangan untuk emiten lain ada kemungkinan akan berbeda. Yang penting adalah, dengan membaca penjelasan laporan keuangan, kita bisa mendapatkan informasi yang lebih terperinci sehingga analisis kita menjadi lebih baik.

Membaca laporan keuangan akan terasa membingungkan apabila Anda tidak memahami model bisnis dari perusahaan. Terlebih lagi apabila Anda tidak memiliki sedikit pengetahuan tentang laporan keuangan. Permasalahan akan menjadi lebih sulit apabila Anda mencoba untuk membaca penjelasan laporan keuangan. Walaupun begitu, dapat dikatakan bahwa pengetahuan cara membaca laporan keuangan ibaratnya mirip dengan saat pertama kali belajar mengendarai sepeda. Sulit pada awalnya namun ketika sudah bisa, akan bisa seterusnya. Setelahnya, Anda akan bisa melihat laporan keuangan sebagai suatu cerita utuh dan bukan hanya sekedar deretan angka di dalamnya.

Posted in Analisa Fundamental Saham (Bedah Bisnis), Investasi | Tagged | 1 Comment

Dilema Investor

Karena harga saham ditentukan oleh kesepakatan antara penjual dan pembeli, wajar saja apabila naik dan turun setiap waktu. Besarnya kenaikan dan penurunan harga saham ditentukan oleh ‘konsensus’ pembeli dan penjual hari itu. Jika memutuskan untuk menjadi investor, Anda akan memilih saham-saham yang berfundamental bagus dan memiliki prospek yang bagus di masa depan.

Street_InvestingMasalahnya adalah terkadang saham-saham yang telah kita miliki tiba-tiba jatuh harganya tanpa penyebab yang jelas. Anda telah bekerja keras mendalami sahamnya, mulai dari membaca laporan keuangannya, mencermati hasil paparan publik, mengikuti perkembangan berita yang terkait dengan bisnisnya, berbicara dengan rekan-rekan yang bekerja di industri tersebut, dan banyak hal lainnya untuk mendapatkan keyakinan bahwa saham tersebut layak untuk dibeli. Beberapa waktu setelah Anda membeli sahamnya, tiba-tiba harganya terjun bebas. Hal tersebut memang terasa menjengkelkan dan alamiah. Ada kemungkinan muncul berita baru yang jelek yang belum kita ketahui. Bukan tidak mungkin juga harga saham bisa bergerak liar hanya karena rumor yang beredar antar grup-grup sosial media. Yang lebih sering terjadi adalah harga saham turun mengikuti pasar yang cenderung bearish. Kemungkinan terakhir tersebut sebenarnya tidak perlu untuk terlalu dikhawatirkan karena secara fundamental, perusahaannya masih baik-baik saja.

Lalu bagaimana harga saham jatuh karena ternyata ada berita buruk yang mengancam kinerja keuangannya?

Jika memang berita tersebut mengancam kelangsungan bisnis perusahaan secara permanen, jangan ragu untuk menjualnya. Dasar kita untuk memiliki sahamnya sudah tidak relevan lagi. Masalahnya, bagaimana jika kita pada kondisi belum mengetahui apakah memang ada berita negatif yang terkait dengan perusahaan tersebut?

Pada kondisi tersebut, posisi kita menjadi lebih sulit.

  • Jika Anda tidak menjualnya dan ternyata belakangan memang ada berita buruk, maka harga sudah turun sangat jauh.
  • Jika Anda menjualnya dan ternyata tidak ada penyebab yang jelas mengapa harga saham anjlok, maka ada kemungkinan Anda akan ketinggalan kereta apabila harga saham rebound dengan cepat.

Opsi kedua terlihat bisa menghindarkan kita pada risiko kerugian yang besar walaupun ada kemungkinan kita akan mengalami opportunity loss. Permasalahannya, itu berarti kita harus sering mengamati harga sahamnya dan saya pribadi tidak mau sepanjang hari memantau harga saham yang saya miliki.

Lalu bagaimana?

Saya percaya bahwa “sometimes shit happens”. Terkadang hal-hal buruk terjadi. Kita tidak bisa mengetahui apakah suatu hari nanti perusahaan tersebut salah satu pabriknya terbakar atau kalah dalam tender besar sehingga target penjualan tidak tercapai. Pasar akan menghukumnya dengan memukul jatuh harga sahamnya. Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari hal-hal tersebut walaupun dengan riset yang cermat, kita bisa mengurangi kemungkinannya.

Jika kita telah meneliti sahamnya dengan cermat dan ternyata masih ‘kecolongan’ juga, maka yang terpenting adalah bagaimana respon kita terhadap kejadian tersebut. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, yang saya lakukan biasanya adalah:

  1. Jika ada saham yang ingin kita beli, biasakan untuk membelinya secara bertahap.
  2. Melakukan diversifikasi portfolio. Pada kondisi bullish, diversifikasi akan terlihat ‘bodoh’ karena akan ada saham-saham yang tertinggal oleh saham-saham lainnya sehingga portfolio kita tidak bisa ‘ngebut-ngebut amat’. Manfaat diversifikasi sesungguhnya akan kita nikmati ketika ‘shit happens’. Kerugian kita akan teredam dibandingkan dengan apabila kita memilikinya dalam porsi besar.
  3. Jika memang secara fundamental memburuk, apalagi bersifat permanen terhadap bisnisnya, jangan ragu untuk menjual sahamnya. Anda tidak memiliki dasar untuk tetap memiliki sahamnya.

Tidak ada kejadian dengan peluang terjadi 0% atau 100%. Peluangnya selalu berada di antaranya sebaik apapun kita mempersiapkan diri. Oleh karena itu, persiapan untuk mengantisipasinya sangatlah penting.

Posted in Basic Investing, Investasi, Strategi Investasi | Tagged | 4 Comments