Mengosongkan Buku di Rak

Buku adalah jendela ilmu. Untuk membantu para pembaca menemukan buku-buku investasi yang berkualitas, saya menyediakan toko online Rempoa Shop di Tokopedia. Setiap kali ada buku bagus yang saya anggap perlu untuk dibaca akan dipajang di sana. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Kebetulan saya mau mengurangi jumlah buku di rak, jadi ada update untuk buku-buku yang ada di sana.Semoga bermanfaat dan silakan kunjungi di:
Rempoa Shop

Posted in Investasi | Leave a comment

Bank Digital

Salah satu tren lain yang mencuat selama masa pandemi ini adalah menjamurnya bank digital atau disebut juga dengan neo bank. Bank digital bisa didefinisikan sebagai bank yang tidak memiliki cabang secara fisik. Segala transaksi dilakukan secara online. Pandemi memberikan para nasabah ketertarikan tersendiri terhadap bank digital karena adanya keterbatasan mobilitas.

Sepintas mirip ya dengan m-banking. Mungkin perbedaannya adalah pada digital banking, untuk proses registrasi rekening dan verifikasinya pun dilakukan secara online.

Para pemain bank digital sudah lumayan banyak. Ada bank Jago lewat apps Jago, bank DBS Indonesia melalui apps Digibank, BTPN melalui apps Jenius,

Pola pendirian bank digital umumnya ada 2 macam.

Yang pertama adalah dengan melakukan akuisisi terhadap bank kecil. Cara pertama ini cukup mendapatkan angin karena adanya policy dari OJK yang mewajibkan bank untuk memiliki modal  inti minimum Rp 3 triliun pada akhir tahun 2022.  Contohnya adalah akuisisi PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia terhadap Bank Arto yang kemudian diubah namanya menjadi Bank Jago.

Yang kedua adalah transformasi bank besar konvensional menjadi bank digital. Cara kedua ini bisa dibilang lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.  Saya belum menemukan bank mana yang menempuh cara ini. Ada yang bisa memberikan info?

Oleh karenanya, beberapa bank besar pun memilih cara pertama. Contohnya adalah BCA yang akan meluncurkan BCA Digital setelah mengakuisisi  Bank Royal dengan nilai hampir Rp 1 triliun pada tahun 2019. Alternatifnya, bank konvensional bisa membuat anak usaha baru khusus untuk bank digital.

Selain bank konvensional, siapa lagi yang tersaingi oleh kehadiran bank digital? Fintech. Bank digital mampu menawarkan semua layanan yang ditawarkan oleh Fintech. Dan yang terpenting, bank digital bisa mendapatkan dana dari tabungan, sementara fintech umumnya mendapatkan dana dari investor. Hal ini akan berpengaruh sekali dalam hal skalabilitas ke depannya. Oleh karenanya, Fintech mau tidak mau harus bekerja sama dengan bank.

Walapun begitu, bank digital masih memiliki banyak tantangan yang harus diatasi. Yang pertama adalah masalah security. Karena seluruh proses transaksi dilakukan secara online, aspek security menjadi sangat vital dan tidak bisa ditawar. Yang kedua adalah biaya infrastruktur. Walaupun tidak membutuhkan investasi fisik, untuk membangun bank digital diperlukan investasi platform yang cukup besar. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi bank-bank kecil. Yang ketiga, dibutuhkan regulasi yang jelas. Yang keempat, verifikasi data nasabah akan menjadi sangat kritikal.

Jelas sekali bahwa fenomena munculnya bank digital adalah salah satu bentuk disrupsi. Bank digital akan meminimalisasi kebutuhan akan pekerja seperti layaknya bank biasa. Ekspansi pun akan lebih mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan investasi secara fisik.

Bagi seorang investor, dengan adanya business model baru, valuasi bank digital akan berpotensi menjadi cukup tinggi. Hal ini bisa terjadi jika diasumsikan bank digital akan mampu menggerus pangsa pasar bank konvensional. Sebuah asumsi umum yang biasa digunakan oleh perusahaan startup.

Kita bisa melihat belakangan ini harga saham bank-bank yang  dikabarkan akan menjadi digital sempat dikerek tinggi sekali walaupun pada akhirnya longsor juga. Jadi naiknya karena valuasinya tinggi atau hanya spekulasi?

Seperti umumnya pada perusahaan startup, alat ukur untuk valuasi yang biasa digunakan terhadap perusahaan tradisional akan sulit untuk diterapkan.  Walaupun memiliki potensi pertumbuhan yang besar di masa mendatang, nilai valuasi yang tinggi belum tercermin dalam laporan keuangannya.

Permasalahan lain dalam valuasi perusahaan startup adalah semakin dominannya investasi pada aset intangible (tak berwujud). Di masa lalu perusahaan umumnya membeli aset tangible (tanah, pabrik, kendaraan) yang nilainya bisa dihitung dengan relatif lebih mudah. Untuk menghitung nilai aset intangible tidaklah semudah itu. Contohnya adalah platform, konten data, daily active users, dan lain sebagainya. Metode akuntansi saat ini lebih menitikberatkan pada aset tangible. Dan dengan contoh aset intangible seperti itu, akan menjadi tantangan yang sangat besar untuk mengakomodasinya dalam metode akuntasi.

Kita sekarang berada di dalam masa transisi antara old economy dan new economy. Struktur old economy sudah mulai banyak berubah namun new economy belum sepenuhnya diadaptasi dalam regulasi. Bagi seorang investor, hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Apakah kita bisa memanfaatkan perubahan pivotal yang sedang terjadi ini dengan baik? Atau kita masih percaya bahwa tatanan lama masih akan terus bertahan?

Itu adalah pilihan masing-masing. Gunakan kesempatan ini dengan baik.

Posted in Investasi | 2 Comments

Saham di Masa Pandemi

Masa pandemi ini bisa dibilang adalah periode yang cukup berat bagi para investor. Sejak diumumkannya COVID-19 sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal Maret 2020, jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah. Ekonomi Indonesia turut melambat dan mengalami resesi pada kuartal III 2020 setelah turun sebesar 3,49% YoY.

Kita telah melihat bagaimana bursa saham terkoreksi cukup dalam. Dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan, dari tanggal 14 Januari 2020 sampai dengan 24 Maret 2020, IHSG turun sebesar 37,7%. Sebagai perbandingan, pada krisis moneter 1997-1998, IHSG turun sebesar 65,3% dalam kurun waktu 15 bulan. Pada krisis global 2008, IHSG juga turun tajam sebesar 60,7% dalam kurun waktu 10 bulan. Oleh karenanya, penurunan kali ini cukup terasa karena terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Saya tidak mengalami krisis moneter ’97 sebagai investor sehingga tidak bisa banyak bercerita tentang itu. Lalu bagaimana perbandingan krisis global 2008 dengan penurunan pasar pada pandemi ini?

Pada krisis 2008, yang terjadi adalah kejatuhan harga hampir seluruh saham. Sebagai gambaran, pada titik nadirnya banyak sekali saham blue chip yang dijual dengan PER belasan atau bahkan single digit. Banyak perusahaan yang sangat bagus kinerjanya dan stabil dijual dengan harga sangat murah. Memang dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi untuk membeli saham pada saat itu karena secara psikologis, kondisi pasar terlihat sangat rentan untuk mengalami koreksi lebih dalam.

Pada pandemi saat ini, walaupun secara umum saham jatuh harganya, namun masih ada beberapa sektor yang malahan harga sahamnya naik karena diuntungkan pada kondisi ini misalnya saham-saham farmasi dan layanan kesehatan. Sementara itu di sisi lain banyak sektor yang tertekan cukup berat seperti pariwisata, perhotelan, dan transportasi.

Masa pandemi ini mengajarkan banyak hal pada saya tentang investasi. Saya lebih berhati-hati memilih saham yang akan saya beli. Pada saat seperti ini, kondisi kesehatan keuangan perusahaan sangatlah penting untuk dipahami. Penurunan pendapatan atau laba masih bisa ditoleransi (dengan asumsi tidak permanen) asalkan kondisi keuangannya masih cukup kuat. Yang dibutuhkan saat ini adalah persediaan cash yang cukup untuk operasional dan utang yang kecil sehingga tidak dibebani oleh pembayaran bunga.

Bursa juga diramaikan oleh banyaknya investor baru yang riuh rendah. Tercatat ada kenaikan jumlah investor sebesar 53,47% YoY menjadi 1,7 juta SID pada tahun 2020.  Kadang ramainya mereka berkomentar menjadi semacam hiburan bagi investor jaman rikiplik seperti saya ini.

Pandemi ini memaksa orang untuk tidak terlalu sering bepergian. Dan hal tersebut membuat saya memiliki waktu lebih banyak untuk berpikir. Sebagai contoh, belakangan ini yang banyak dibicarakan adalah matinya value investing karena returnnya yang tertinggal dibanding instrumen lain. Sejak dulu saya cukup sering mendengar ini. Kondisi yang dibilang membuat value investing mati mirip-mirip dari jaman dulu. Yang jelas saya masih percaya bahwa bursa saham berlaku seperti pendulum. Manakala simpangan telah mencapai maksimum, maka bandul akan kembali mendekati kenormalan.

Bagi saya, value investing tidak bisa dimaknai secara sempit. Sebagai contoh, value stock hanya ditandai dengan rendahnya nilai PER atau PBV. Pertumbuhan juga dapat ditranslasikan sebagai value. Bisnis yang berkualitas tinggi memiliki value lebih dibandingkan dengan bisnis yang biasa-biasa saja. Dan yang paling mendasar, kita harus memahami seperti apakah kriteria perusahaan yang bagus itu. Market cap dan nama besar tidak selalu berarti bahwa saham tersebut berkualitas tinggi.

Sekian sedikit catatan di minggu ini

Posted in Investasi | Leave a comment

Hebohnya Cryptocurrency

Fenomena maraknya investasi di cryptocurrency benar-benar membuat media sosial ramai belakangan ini. Kenaikan harganya yang luar biasa menjadi magnet yang membuat banyak orang tertarik untuk menjadikannya tempat untuk berinvestasi. Di balik riuh rendahnya perbincangan tentang itu, terdapat beberapa hal yang menjadi pikiran saya.

Sesuai dengan namanya, cryptocurrency dibuat dengan tujuan untuk menjadi alat tukar dan mendukung transaksi jual beli. Hal tersebut membuat cryptocurrency terlihat cukup menjanjikan. Terlebih lagi, Tesla diberitakan berencana untuk menjadikan bitcoin sebagai alat pembayaran bagi produk-produknya.

Saya tidak tahu banyak atau memang kurang update, namun saya jarang sekali bertemu orang yang membeli cryptocurrency dan menggunakannya sebagai alat tukar. Percakapan yang lebih sering terjadi adalah bagaimana cara menambangnya dan kenaikan harganya yang luar biasa. Jarang sekali saya mendengar orang yang menggunakannya untuk bertransaksi.

Karena tidak menghasilkan cash flow, maka keuntungan dari berinvestasi pada cryptocurrency adalah dalam bentuk capital gain. Pada instrumen investasi lain, cash flow bisa berbentuk uang sewa pada real estate atau dividen pada saham. Kedua instrumen tersebut menghasilkan dua jenis keuntungan, yaitu dari capital gain (kenaikan harga) dan cash flow yang dihasilkan. Pada cryptocurrency, keuntungannya utamanya dalam bentuk capital gain (yang belakangan ini memang sangat besar). Jika kita mengandalkan capital gain, maka kita harus bisa mengetahui berapa nilai wajarnya dan mengetahui potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Hal ini menjadi challenge bagi saya karena saya belum mengetahui bagaimana caranya menghitung atau setidaknya memperkirakan berapa nilai wajar dari cryptocurrency. Bagi orang lain mungkin hal tersebut tidak menjadi masalah karena pada kenyataannya mereka mendapatkan keuntungan. Namun bagi saya akan susah karena jika saya membelinya, maka saya harus menebak dan berasumsi bahwa harganya akan terus naik di masa mendatang tanpa ada landasan value yang jelas. Hal tersebut mempermudah saya dalam menentukan pilihan. Untuk saat ini akan menjadi penonton saja.

Mungkin saja suatu hari  nanti cryptocurrency akan menjadi media transaksi yang kuat dan membawa dunia menuju new economy. Sejarah membuktikan bahwa memang seringkali ekonomi berubah karena faktor yang tidak terduga. Mari kita pantau bersama bagaimana kelanjutannya.

Posted in Investasi | Leave a comment

Strategi Investasi Walter Schloss

Posted in Investasi | Leave a comment