Tentang Rempoa Shop

Buku adalah jendela ilmu. Untuk membantu para pembaca menemukan buku-buku investasi yang berkualitas, saya menyediakan toko online Rempoa Shop di Tokopedia. Setiap kali ada buku bagus yang saya anggap perlu untuk dibaca akan dipajang di sana. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Rempoa Shop

Posted in Investasi | 1 Comment

Berlari Melawan Diri Sendiri

Awal tahun ini saya memutuskan untuk mulai berolahraga karena ingin lebih bugar. Yang saya pilih adalah berlari. Saya memantau perkembangannya dengan aplikasi di hape dan saya cukup puas dengan hasilnya. Terkadang saya melihat bagaimana catatan lari teman-teman lain. Saya menjadi merasa berlari kurang cepat dan kurang jauh. Ketika saya mencoba berlari lebih cepat dan berlari lebih jauh, saya menghadapi kenyataan bahwa tubuh saya tidak merespon dengan baik. Saya merasa kelelahan dan pada akhirnya bertanya-tanya apa yang hendak saya capai. Sejak itu, saya kembali pada tujuan semula, yaitu menjaga tubuh tetap sehat. Berlari dengan kadar yang secukupnya.

Seringkah Anda mendengar orang yang mendapatkan keuntungan fantastis karena harga saham yang dimilikinya terbang tinggi? Apakah Anda menjadi iri dan tanpa pikir panjang memborong saham dan berharap keberuntungan yang sama menghampiri? Jangan!

Kita tidak bisa membuyarkan segala rencana dan persiapan yang kita miliki karena emosi sesaat. Melakukannya hanyalah akan memberikan hasil yang buruk. Jika rencana investasi Anda berjalan dengan baik, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merasa gagal. Portfolio Anda yang tidak memberikan hasil secemerlang milik orang lain bukanlah sebuah masalah.

Jika Anda merasakannya, yang Anda lawan adalah diri sendiri.

Posted in Basic Investing, Investasi | Tagged , | Leave a comment

Jalan Sunyi Seorang Value Investor

Bursa saham yang hiruk pikuk dengan aksi para pelakunya mungkin bukan tempat yang tepat bagi seorang value investor.

Walaupun di masa kini hampir seluruh transaksi jual beli di bursa saham dilakukan secara online melalui aplikasi yang disediakan oleh pihak sekuritas, suasana ramai tetap terasa di grup-grup sosial media. Setiap harinya selalu ada saja berita dan informasi baru yang dapat menjadi bahan diskusi dan pada akhirnya menggerakkan orang-orang untuk melakukan transaksi. Dari tahun ke tahun nilai transaksi saham di BEI terus meningkat. Tercatat nilai transaksi tahunan BEI naik hampir dua kali lipat dalam satu dasawarsa terakhir, yaitu dari Rp 1.064 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 2.040 triliun pada tahun 2018.

Terlepas dari semua itu, terdapat satu hal yang tidak berubah. Tujuan berinvestasi adalah memperoleh keuntungan. Orang yang membeli saham mengharapkan keuntungan baik dari kenaikan harga saham maupun dividen. Untuk mencapainya, para pelaku pasar menggunakan berbagai macam strategi. Kita mengenal analisis fundamental, analisis teknikal, bandarmologi, astronacci, dsb. Beragamnya metode yang digunakan tak pelak tercermin pada dinamismya fluktuasi di bursa saham. Secara natural, fluktuasi harga saham akan berpotensi menimbulkan greed (keserakahan) dan fear (ketakutan) pada pelaku pasar. Kondisi psikologis ini akan semakin terasa apabila pelaku pasar tersebut adalah pendatang baru yang terlebih jika belum memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang cukup memadai.

Di balik riuh rendahnya bursa saham, terdapat sejumlah pelaku pasar yang menganut aliran value investing. Sesuai dengan namanya, seorang value investor akan berusaha untuk membeli saham yang harganya lebih murah dibandingkan dengan nilai sebenarnya. Jika sudah cukup familiar dengan prinsip value investing tentu Anda mengenal Ben Graham. Buku karyanya yang fenomenal, Security Analysis yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1934 telah menggugah banyak orang hingga saat ini. Salah satu muridnya yang paling terkenal adalah Warren Buffett yang sangat kepopulerannya bahkan terdengar sampai di luar komunitas pasar modal. Kutipan-kutipan perkataan Buffett yang ikonik acap kali menghiasi artikel dan diskusi tentang bisnis dan bursa saham. Selain Warren Buffett, dunia mulai mengenal murid-murid lain dari Ben Graham melalui artikel yang dituliskan oleh Warren Buffett dengan judul The Superinvestors of Graham and Doddsville. Di antaranya adalah Walter Schloss (almarhum), Bill Ruane, dan Irving Kahn.

Ben Graham mengembangkan metodologi untuk mencari saham-saham yang murah dengan melakukan analisis kuantitatif berdasarkan angka-angka yang terdapat di dalam laporan keuangan. Pada masa itu, apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baru. Sebagai gambaran, salah satu tokoh terkenal yang satu zaman dengan Ben Graham adalah Jesse Livermore yang terkenal dengan julukan Boy Plunger karena berhasil mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan komoditas saat depresi besar melanda Amerika Serikat pada tahun 1929. Buku berjudul Reminiscences of A Stock Operator yang mengisahkan tentang sepak terjang tokoh yang bernama Larry Livingstone di pasar modal. Diduga kuat Larry Livingstone adalah alias dari Jesse Livermore. Sangat berbeda dengan Ben Graham, Jesse Livermore terkenal karena melakukan hasil analisis terhadap pergerakan harga saham untuk melakukan transaksi. Tokoh terkenal lainnya adalah W. D Gann yang menganalisis pergerakan harga saham dengan bantuan ilmu geometri dan matematika kuno. Walaupun masih menjadi perdebatan, ia juga diduga menggunakan ilmu astronomi dan astrologi sebagai panduan. Di tengah-tengah metodologi-metodologi tersebut, apa yang dilakukan oleh Ben Graham adalah sesuatu yang baru. Ia mempercayai bahwa harga saham pada akhirnya akan mengikuti kondisi fundamental bisnisnya.

Emosi adalah lawan dari Value Investor

Seiring dengan berlalunya waktu, pemahaman mengenai value investing pun semakin berkembang. Jika Ben Graham hanya semata mengandalkan angka-angka pada laporan keuangan dalam pengambilan keputusan investasi, muridnya yang terkenal yaitu Warren Buffett telah melangkah lebih jauh. Pertimbangannya dalam berinvestasi melibatkan analisis bisnis secara kualitatif. Dalam hal ini, ia banyak mendapatkan pencerahan ketika membaca karya seorang investor besar yaitu Philip Fisher yang berjudul Common Stocks and Uncommon Profit. Dalam berinvestasi, Fisher menitikberatkan faktor kualitas bisnis dalam analisisnya terhadap suatu saham. Selain itu, tentu saja pandangan rekan Buffett yang bernama Charlie Munger tidak dapat diabaikan begitu saja. Munger selalu menekankan pada Buffett bahwa perusahaan dengan bisnis yang kuat (wonderful) jauh lebih baik daripada perusahaan yang bisnisnya biasa-biasa saja. Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan investor apakah Buffett menjauh dari metodologi awal yang dikembangkan oleh Ben Graham karena semakin membesarnya dana kelolaan ataukah memang karena telah menemukan pendekatan baru yang lebih relevan. Apa pun itu, kualitas bisnis telah menjadi faktor penting dalam melakukan analisis terhadap suatu saham.

Sampai di sin, kita telah mengetahui bahwa metodologi value investing telah cukup komprehensif dan dapat digunakan untuk melakukan analiisis saham dengan sangat baik. Sayangnya, tingkat penguasaan terhadap metodologi value investing tidak selalu linier dengan tingkat kebethasilan investasi. Kemampuan menganalisis saham adalah satu hal. Namun kemampuan untuk bertindak sesuai dengan hasil analisis tersebut adalah hal yang lain. Manakala hati tergetar ketika melihat harga saham yang kita miliki jatuh dalam sehingga kita memutuskan untuk menjualnya, segala macam analisis yang telah kita lakukan menjadi tidak ada gunanya. Pun ketika jari terasa gatal untuk membeli saham karena terus naik, kita telah menjauhkan diri dari usaha yang telah susah payah kita lakukan ketika melakukan analisis. Oleh karenanya, seorang value investor selain melakukan analisis dengan benar juga harus memiliki perut yang kuat untuk menahan emosinya.

Permasalahan yang kita miliki tidak berhenti sampai di situ. Tatkala pasar sedang bullish, ada kemungkinan kita merasa sangat bodoh karena saham yang kita miliki tidak ikut naik harganya. Hal tersebut bisa teratasi apabila kita yakin bahwa kita memiliki saham yang bagus dan bisnisnya baik-baik saja sehingga seiring dengan berjalannya waktu akan naik sesuai dengan nilai sebenarnya.

Situasi serupa akan kita alami manakala pasar sedang bearish. Dibutuhlan keberanian untuk membeli saham yang murah setelah jatuh dalam. Crash di bursa saham akan menyebabkan orang-orang menjadi ketakutan dan cenderung menjauhi saham. Ketika memutuskan untuk membeli saham saat itu, mungkin tidak banyak yang menemani kita.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa seorang value investor harus bisa bertindak secara independen. Jika telah melakukan analisis dengan baik, hiruk pikuknya bursa saham tidak menjadi faktor penentu keputusan investasinya.

Dan ya memang benar, value investing adalah sebuah jalan yang sunyi.

Posted in Investasi | Tagged , , | 4 Comments

BEI Super Companies (2017 Update)

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, saya akan merilis perusahaan-perusahaan di BEI dengan rekam jejak pertumbuhan laba yang konsisten selama 10 tahun terakhir. Metodenya sangat sederhana, kita hanya melihat perusahaan apa saja yang labanya terus naik tanpa terputus selama satu dekade terakhir. Mari kita mulai.

SuperCompanies2017

Terlihat bahwa terdapat 9 perusahaan yang labanya naik terus menerus selama 10 tahun terakhir. Tercatat rata-rata tingkat pertumbuhan laba ke-9 perusahaan tersebut adlah 23,7% dengan tingkat prediktabilitas antara 88% – 99%. Sebagai gambaran, dengan pertumbuhan laba sebesar itu nilai investasi Anda akan naik sebesar 8x lipat dalam kurun waktu sepuluh tahun. Tentu saja hal tersebut cukup memuaskan.

Sebagai catatan, terdapat 2 saham yang terlempar dari daftar ini pada tahun 2017, yaitu MAYA dan MKPI setelah keduanya mencatatkan penurunan laba bersih dibandingkan dengan tahun 2016. Kita akan melihat lebih lanjut performa kedua saham tersebut pada daftar selanjutnya.

AlmostPerfect_2017

Berbeda dengan daftar sebelumnya, daftar di atas mencakup saham-saham yang hampir sempurna konsistensinya dalam mencatatkan kenaikan laba selama 10 tahun terakhir. Hanya ada 1 tahun ketika mereka mengalami penurunan laba. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, terdapat 2 saham yang sebelumnya masuk daftar Super Companies pada tahun 2016 terlempar masuk ke dalam daftar Almost Perfect pada tahun 2017, yaitu MAYA dan MKPI. Khusus untuk MKPI, terlihat bahwa sebenarnya pada tahun 2017 labanya turun sedikit saja dan tetap mampu mempertahankan tingkat prediktabilitas laba sebesar 91%.

Terdapat 3 pendatang baru pada daftar Almost Perfect yaitu ASDM, MFMI, dan ROTI. Total jumlah yang masuk ke dalam daftar ini adalah 21 emiten.

Walaupun kriteria yang digunakan hanyalah laba bersih, kenyataannya tidak banyak perusahaan yang mampu untuk terus tumbuh labanya selama 10 tahun sehingga saham-sahamnya layak untuk kita perhatikan dan telaah lebih mendalam.

Disclaimer: Tulisan ini bukanlah ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual saham-saham terkait. Segala kerugian yang timbul sebagai akibat dari penggunaan tulisan ini sebagai acuan baik secara langsung maupun tidak langsung bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Posted in Investasi | 10 Comments

Melakukan Valuasi dengan Menghitung Nilai Aset – Bagian ke-1

Saat ini metode valuasi saham yang umum digunakan adalah DCF (Discounted Cash-Flow) yang dilakukan dengan menghitung nilai masa kini dari arus kas di masa mendatang. Jika menggunakan asumsi yang akurat, DCF akan memberikan hasil valuasi yang baik. Walaupun begitu, penggunaan metode DCF mengharuskan kita untuk mengestimasikan arus kas di masa mendatang sehingga terdapat potensi kesalahan dalam perhitungannya.

Terkait dengan hal tersebut, kali ini kita akan menggunakan metode alternatif dalam melakukan valuasi saham, yaitu valuasi berdasarkan nilai aset. Pada dasarnya terdapat dua asumsi yang bisa kita pilih dalam melakukan valuasi, yaitu:

Asumsi likuidasi
Pada pilihan pertama ini, kita akan menghitung nilai jual aset ketika perusahaan hendak dilikuidasi. Metode ini efektif digunakan apabila operasional perusahaan tidak berjalan dengan baik sehingga nilainya akan lebih tinggi jika dilikuidasi. Salah satu praktisi metode ini adalah Ben Graham yang memperkenalkan istilah NCAV (Net Current Asset Value). Pembahasan lebih terperinci tentang metode ini bisa dibaca pada artikel lalu.
Warren Buffett yang juga merupakan murid Ben Graham juga menggunakan metode ini pada masa-masa awal Partnership-nya. Salah satu kasusnya adalah ketika Buffett memutuskan untuk membeli Dempster Mill Manufacturing Company. Berikut kutipan dari Partnership Letter tahun 1963:

“Having read this far, you are entitled to a report on how we have done to date in 1962. For the period ending October 31st, the Dow-Jones Industrials showed an overall loss, including dividends received, of approximately 16.8%. We intend to use the same method or valuing our controlling interest in Dempster Mill Manufacturing at this yearend that we did at the end of last year. This involved applying various discounts to the balance sheet items to reflect my opinion as to what could be realized on a very prompt sale. Last year this involved a 40% discount on inventories, a 15% discount on receivables, estimated auction value of fixed assets, etc., which led to an approximate value or $35.00 per share.”

Perincian Buffett dalam melakukan valuasi terhadap Dempster Mill adalah sbb:

dempstermill_val

Seperti yang telah dijelaskan oleh Buffett dalam kutipan sebelumnya, inventory hanya dinilai sebesar 60% dari nilai buku (diskon 40%), receivables hanya dinilai 85%. Selain itu, prepaid expense hanya dinilai sebesar 25% dari nilai bukunya. Cash dinilai 100% (cash is cash, tidak perlu didiskon). Net plant equipment (PPE) hanya dinilai sebesar $800 dari nilai buku $1,383. Sementara itu, liabilities dinilai 100% (kewajiban harus dibayar penuh).

Terlihat bahwa setelah dikurangi liabilities, nilai bersihnya adalah $4,601 atau $35.25. Buffett Partnership mengakuisisi Dempster Mill dengan harga pembelian rata-rata $28 (margin of safety sekitar 20% dan PBV 0.63x).
Sebenarnya kondisi Dempster Mill tidak terlalu buruk, seperti yang diungkapkan oleh Buffett:

“The operations for the past decade have been characterized by static sales, low inventory turnover and virtually no profits in relation to invested capital.”

Dengan kata lain, penggunaan metode DCF pada kondisi operasional seperti itu akan gagal menggambarkan nilai perusahaan sebenarnya.
Sebagai tambahan, setelah membeli Dempster Mills, Buffett menunjuk Harry Bottle sebagai Direktur yang akhirnya bisa menambah nilai perusahaan. Setelah melakukan perbaikan di sana sini, dengan metode yang sama nilai Dempster Mill naik dari $35 menjadi $51.

Tentu saja, sebagai investor biasa kita tidak bisa melakukan hal tersebut (menunjuk Direktur baru). Namun tanpa melakukannya pun Buffett telah membeli bisnis senilai $35 dengan harga hanya $28 yang berpotensi memberikan keuntungan sebesar 25%.

Asumsi going concern
Jika pada asumsi likuidasi kita menghitung nilai jual asetnya, pada asumsi going concern, perusahaan dianggap akan terus beroperasi dan kita akan menghitung nilai perusahaan dengan memperkirakan berapa besar dana yang diperlukan untuk membeli aset sehingga dapat membangun perusahaan yang serupa. Metode ini dinamakan dengan reproduction cost. Kita akan membahas metode ini pada artikel selanjutnya (bagian ke-2).

Posted in Investasi, Strategi Investasi | Tagged | 1 Comment