BEI Super Companies (2018 late update)

Rempoa Shop

Sebelumnya saya mengucapkan mohon maaf karena sangat terlambatnya posting ini. Walaupun begitu, saya tetap berusaha untuk menyampaikannya.

Bagi yang baru membaca, dalam konteks di artikel ini Supercompanies adalah perusahaan-perusahaan yang labanya tumbuh secara konsisten selama 10 tahun terakhir. Sebagai tambahan, saya juga memberikan daftar perusahaan yang hanya sekali turun labanya selama 10 tahun terakhir.

SuperCompanies2018

Terdapat 9 perusahaan yang labanya secara konsisten naik selama satu dekade terakhir.  Terdapat 2 pendatang baru dalam daftar ini yaitu ICBP dan WSKT. Sementara itu karena pada tahun 2018 labanya turun, JRPT dan MREI berpindah ke dalam daftar Almost Perfect 2018.

Sementara itu, di dalam daftar Almost Perfect terdapat 23 perusahaan yang masuk dengan 8 perusahaan yang merupakan pendatang baru.

AlmostPerfect_2018

Sebagai catatan, walaupun terlempar dari daftar Super Companies, pertumbuhan laba UNVR cukup mengesankan dengan tingkat prediktabilitas 96%. Sepertinya penurunan laba bersih pada tahun 2015 hanya cegukan saja.

Disclaimer: Tulisan ini bukanlah ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual saham-saham terkait. Segala kerugian yang timbul sebagai akibat dari penggunaan tulisan ini sebagai acuan baik secara langsung maupun tidak langsung bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Rempoa Shop

Posted in Investasi | 1 Comment

Catatan Beberapa Buku (Bagian 1)

Kali ini saya akan mengulas beberapa buku yang telah saya baca. Buku-buku ini secara langsung maupun tidak berguna bagi para investor. Mengapa saya sebut bagian 1? Karena akan ada ulasan buku-buku lainnya. Mari kita mulai.

 

Value Investing from Graham to Buffett and Beyond (Bruce Greenwald)

Value

Jika ada buku yang mengubah persepsi saya tentang investasi, inilah salah satunya. Sebenarnya buku ini sudah banyak direkomendasikan oleh para penggiat value investor, namun saya baru-baru ini membacanya.

Ketika mulai membaca buku ini, saya langsung terpesona dengan pemaparan Bruce Greenwald tentang konsep value investing. Sangat jelas dan terstruktur. Saya menjadi paham bahwa ada beberapa komponen yang menentukan value dari sebuah perusahaan.

Yang menjadikannya lebih menarik lagi, buku ini juga menjelaskannya sampai ke level praktis dengan membedah laporan keuangan, menganalisis, dan kemudian menghitung valuasinya lengkap beserta asumsi-asumsi yang digunakan secara detail. Jika Anda seorang investor, pasti akan memahami pentingnya asumsi yang digunakan saat melakukan valuasi dan bukan hanya sekedar menghitungnya.

Bagi saya, buku ini sangat berharga dan layak untuk dibaca.

 

The Investment Biker (Jim Rogers)

Investment

Buku ini ditulis oleh Jim Rogers, salah satu investor terkemuka di dunia. Ia bersama dengan George Soros mendirikan Quantum Fund yang menjadi salah satu hedge fund terbesar.

Pada usia 37 tahun, Jim Rogers memutuskan untuk pensiun dan mulai mengajar di Columbia Business School. Selanjutnya, ia berkelana mengelilingi dunia dengan mengendarai motornya. Selama perjalanannya, ia banyak mendapatkan pandangan-pandangan baru tentang negara-negara yang dilaluinya. Jim Rogers bercerita tentang kondisi dan prospek ekonomi negara tersebut. Sebuah perpaduan sempurna antara seorang mantan manajer investasi, dosen, dan seorang petualang yang melihat dunia nyata dengan matanya sendiri.

 

The Smartest Guys in The Room (Bethany McLean and Peter Elkind)

Smartest

Saya mengenal tentang Enron ketika menpelajari studi kasusnya di bangku kuliah. Enron adalah salah satu skandal bisnis terbesar di AS.

Buku ini bercerita tentang kebangkitan Enron sampai dengan kejatuhannya ketika terbukti melakukan manipulasi terhadap laporan keuangannya. Jika Anda ingin untuk memahami kasus Enron, buku ini adalah yang terbaik.

Sebagai investor, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga dari kasus di buku ini bahwa kita tidak bisa menelan mentah-mentah apa yang dituliskan dalam laporan keuangan. Kita harus teliti membaca penjelasannya dan berpikir secara jernih apakah yang dipaparkan masuk akal atau tidak.

Buku yang sangat bermanfaat untuk dibaca

 

Business Adventures (John Brooks)

Adventures

Buku ini menarik perhatian saya karena direkomendasikan oleh 2 orang penting di dunia bisnis dan investasi, yaitu Bill Gates dan Warren Buffett. Bill Gates mengatakan bahwa buku ini adalah buku tentang bisnis terbaik yang pernah dibacanya.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 dan ditulis oleh salah satu kontributor The New Yorker, John Brooks. Cerita yang ada di buku ini di antaranya adalah kebangkitan Xerox, kronologi terjadinya crash di Wall Street, dan devaluasi di US pada tahun 1967.

Buku ini ditulis dengan sangat baik dan enak untuk dibaca. Banyak pelajaran tentang bisnis dan keuangan yang bisa kita petik dari sini.

The Intelligent Investor (Benjamin Graham)

Intelligent

Hampir semua value investor mungkin telah mengenal buku ini. Jadi saya tidak akan panjang lebar membahasnya. Beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari buku ini adalah konsep ‘businesslike investing’ dan ‘margin of safety’.

Sangatlah menakjubkan buku yang berusia hampir satu abad ini masih relevan dengan kondisi sekarang.

 

Demikian sedikit ulasan untuk bagian 1. Saya akan mengulas buku-buku lainnya di bagian-bagian selanjutnya.

Rempoashop

Posted in Buku Yang Saya Baca, Investasi | Tagged , | Leave a comment

Tentang Rempoa Shop

Buku adalah jendela ilmu. Untuk membantu para pembaca menemukan buku-buku investasi yang berkualitas, saya menyediakan toko online Rempoa Shop di Tokopedia. Setiap kali ada buku bagus yang saya anggap perlu untuk dibaca akan dipajang di sana. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Rempoa Shop

Posted in Investasi | 1 Comment

Berlari Melawan Diri Sendiri

Awal tahun ini saya memutuskan untuk mulai berolahraga karena ingin lebih bugar. Yang saya pilih adalah berlari. Saya memantau perkembangannya dengan aplikasi di hape dan saya cukup puas dengan hasilnya. Terkadang saya melihat bagaimana catatan lari teman-teman lain. Saya menjadi merasa berlari kurang cepat dan kurang jauh. Ketika saya mencoba berlari lebih cepat dan berlari lebih jauh, saya menghadapi kenyataan bahwa tubuh saya tidak merespon dengan baik. Saya merasa kelelahan dan pada akhirnya bertanya-tanya apa yang hendak saya capai. Sejak itu, saya kembali pada tujuan semula, yaitu menjaga tubuh tetap sehat. Berlari dengan kadar yang secukupnya.

Seringkah Anda mendengar orang yang mendapatkan keuntungan fantastis karena harga saham yang dimilikinya terbang tinggi? Apakah Anda menjadi iri dan tanpa pikir panjang memborong saham dan berharap keberuntungan yang sama menghampiri? Jangan!

Kita tidak bisa membuyarkan segala rencana dan persiapan yang kita miliki karena emosi sesaat. Melakukannya hanyalah akan memberikan hasil yang buruk. Jika rencana investasi Anda berjalan dengan baik, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merasa gagal. Portfolio Anda yang tidak memberikan hasil secemerlang milik orang lain bukanlah sebuah masalah.

Jika Anda merasakannya, yang Anda lawan adalah diri sendiri.

Posted in Basic Investing, Investasi | Tagged , | Leave a comment

Jalan Sunyi Seorang Value Investor

Bursa saham yang hiruk pikuk dengan aksi para pelakunya mungkin bukan tempat yang tepat bagi seorang value investor.

Walaupun di masa kini hampir seluruh transaksi jual beli di bursa saham dilakukan secara online melalui aplikasi yang disediakan oleh pihak sekuritas, suasana ramai tetap terasa di grup-grup sosial media. Setiap harinya selalu ada saja berita dan informasi baru yang dapat menjadi bahan diskusi dan pada akhirnya menggerakkan orang-orang untuk melakukan transaksi. Dari tahun ke tahun nilai transaksi saham di BEI terus meningkat. Tercatat nilai transaksi tahunan BEI naik hampir dua kali lipat dalam satu dasawarsa terakhir, yaitu dari Rp 1.064 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 2.040 triliun pada tahun 2018.

Terlepas dari semua itu, terdapat satu hal yang tidak berubah. Tujuan berinvestasi adalah memperoleh keuntungan. Orang yang membeli saham mengharapkan keuntungan baik dari kenaikan harga saham maupun dividen. Untuk mencapainya, para pelaku pasar menggunakan berbagai macam strategi. Kita mengenal analisis fundamental, analisis teknikal, bandarmologi, astronacci, dsb. Beragamnya metode yang digunakan tak pelak tercermin pada dinamismya fluktuasi di bursa saham. Secara natural, fluktuasi harga saham akan berpotensi menimbulkan greed (keserakahan) dan fear (ketakutan) pada pelaku pasar. Kondisi psikologis ini akan semakin terasa apabila pelaku pasar tersebut adalah pendatang baru yang terlebih jika belum memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang cukup memadai.

Di balik riuh rendahnya bursa saham, terdapat sejumlah pelaku pasar yang menganut aliran value investing. Sesuai dengan namanya, seorang value investor akan berusaha untuk membeli saham yang harganya lebih murah dibandingkan dengan nilai sebenarnya. Jika sudah cukup familiar dengan prinsip value investing tentu Anda mengenal Ben Graham. Buku karyanya yang fenomenal, Security Analysis yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1934 telah menggugah banyak orang hingga saat ini. Salah satu muridnya yang paling terkenal adalah Warren Buffett yang sangat kepopulerannya bahkan terdengar sampai di luar komunitas pasar modal. Kutipan-kutipan perkataan Buffett yang ikonik acap kali menghiasi artikel dan diskusi tentang bisnis dan bursa saham. Selain Warren Buffett, dunia mulai mengenal murid-murid lain dari Ben Graham melalui artikel yang dituliskan oleh Warren Buffett dengan judul The Superinvestors of Graham and Doddsville. Di antaranya adalah Walter Schloss (almarhum), Bill Ruane, dan Irving Kahn.

Ben Graham mengembangkan metodologi untuk mencari saham-saham yang murah dengan melakukan analisis kuantitatif berdasarkan angka-angka yang terdapat di dalam laporan keuangan. Pada masa itu, apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baru. Sebagai gambaran, salah satu tokoh terkenal yang satu zaman dengan Ben Graham adalah Jesse Livermore yang terkenal dengan julukan Boy Plunger karena berhasil mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan komoditas saat depresi besar melanda Amerika Serikat pada tahun 1929. Buku berjudul Reminiscences of A Stock Operator yang mengisahkan tentang sepak terjang tokoh yang bernama Larry Livingstone di pasar modal. Diduga kuat Larry Livingstone adalah alias dari Jesse Livermore. Sangat berbeda dengan Ben Graham, Jesse Livermore terkenal karena melakukan hasil analisis terhadap pergerakan harga saham untuk melakukan transaksi. Tokoh terkenal lainnya adalah W. D Gann yang menganalisis pergerakan harga saham dengan bantuan ilmu geometri dan matematika kuno. Walaupun masih menjadi perdebatan, ia juga diduga menggunakan ilmu astronomi dan astrologi sebagai panduan. Di tengah-tengah metodologi-metodologi tersebut, apa yang dilakukan oleh Ben Graham adalah sesuatu yang baru. Ia mempercayai bahwa harga saham pada akhirnya akan mengikuti kondisi fundamental bisnisnya.

Emosi adalah lawan dari Value Investor

Seiring dengan berlalunya waktu, pemahaman mengenai value investing pun semakin berkembang. Jika Ben Graham hanya semata mengandalkan angka-angka pada laporan keuangan dalam pengambilan keputusan investasi, muridnya yang terkenal yaitu Warren Buffett telah melangkah lebih jauh. Pertimbangannya dalam berinvestasi melibatkan analisis bisnis secara kualitatif. Dalam hal ini, ia banyak mendapatkan pencerahan ketika membaca karya seorang investor besar yaitu Philip Fisher yang berjudul Common Stocks and Uncommon Profit. Dalam berinvestasi, Fisher menitikberatkan faktor kualitas bisnis dalam analisisnya terhadap suatu saham. Selain itu, tentu saja pandangan rekan Buffett yang bernama Charlie Munger tidak dapat diabaikan begitu saja. Munger selalu menekankan pada Buffett bahwa perusahaan dengan bisnis yang kuat (wonderful) jauh lebih baik daripada perusahaan yang bisnisnya biasa-biasa saja. Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan investor apakah Buffett menjauh dari metodologi awal yang dikembangkan oleh Ben Graham karena semakin membesarnya dana kelolaan ataukah memang karena telah menemukan pendekatan baru yang lebih relevan. Apa pun itu, kualitas bisnis telah menjadi faktor penting dalam melakukan analisis terhadap suatu saham.

Sampai di sin, kita telah mengetahui bahwa metodologi value investing telah cukup komprehensif dan dapat digunakan untuk melakukan analiisis saham dengan sangat baik. Sayangnya, tingkat penguasaan terhadap metodologi value investing tidak selalu linier dengan tingkat kebethasilan investasi. Kemampuan menganalisis saham adalah satu hal. Namun kemampuan untuk bertindak sesuai dengan hasil analisis tersebut adalah hal yang lain. Manakala hati tergetar ketika melihat harga saham yang kita miliki jatuh dalam sehingga kita memutuskan untuk menjualnya, segala macam analisis yang telah kita lakukan menjadi tidak ada gunanya. Pun ketika jari terasa gatal untuk membeli saham karena terus naik, kita telah menjauhkan diri dari usaha yang telah susah payah kita lakukan ketika melakukan analisis. Oleh karenanya, seorang value investor selain melakukan analisis dengan benar juga harus memiliki perut yang kuat untuk menahan emosinya.

Permasalahan yang kita miliki tidak berhenti sampai di situ. Tatkala pasar sedang bullish, ada kemungkinan kita merasa sangat bodoh karena saham yang kita miliki tidak ikut naik harganya. Hal tersebut bisa teratasi apabila kita yakin bahwa kita memiliki saham yang bagus dan bisnisnya baik-baik saja sehingga seiring dengan berjalannya waktu akan naik sesuai dengan nilai sebenarnya.

Situasi serupa akan kita alami manakala pasar sedang bearish. Dibutuhlan keberanian untuk membeli saham yang murah setelah jatuh dalam. Crash di bursa saham akan menyebabkan orang-orang menjadi ketakutan dan cenderung menjauhi saham. Ketika memutuskan untuk membeli saham saat itu, mungkin tidak banyak yang menemani kita.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa seorang value investor harus bisa bertindak secara independen. Jika telah melakukan analisis dengan baik, hiruk pikuknya bursa saham tidak menjadi faktor penentu keputusan investasinya.

Dan ya memang benar, value investing adalah sebuah jalan yang sunyi.

Posted in Investasi | Tagged , , | 4 Comments