Channel Baru Investing Ideas di IG

Seiring dengan waktu, saya memutuskan untuk memulai posting pemikiran-pemikiran tentang investasi di IG @investasijalanan

Terkadang ide-ide investasi muncul begitu saja di kepala dan waktu yang terbatas membuat saya tidak menuliskannya di blog. Dengan posting di IG @investasijalanan saya berharap ide-ide tersebut tetap dapat tersampaikan dengan baik.

Blog ini dimulai pada tahun 2008. Tidak lama setelahnya, ekonomi dunia diguncang oleh krisis subprime mortgage yang kemudian menjalar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada titik tersebut, saya menyadari pentingnya melakukan sharing tentang investasi saham dan semakin intens menulis di blog ini.

Kini, 12 tahun kemudian, dunia telah memasuki fase baru. Social media telah menjadi makanan sehari-hari. Para investor saham baru kemungkinan besar adalah para digital natives yang akan memberikan warna baru pada dunia investasi saham di Indonesia.

Semangat berbagi itu masih ada. Saya memulai sharing tentang investasi saham di IG karena menyadari bahwa banyak investor baru yang haus akan ilmu. Saya berusaha untuk sharing menggunakan media yang familiar bagi mereka. Dengan demikian informasi tentang investasi saham akan bisa menjangkau audiens yang lebih luas.

Terima kasih untuk kesetiaan Anda untuk membaca di blog ini selama 12 tahun terakhir. Kini kita akan melangkah ke era baru yang semoga dapat membawa kebaikan.

Tentu saja untuk beberapa pemikiran tertentu membutuhkan penjelasan yang lebih rinci. Oleh karenanya saya akan tetap menulis di blog ini.

IG: @investasijalanan

Toped: http://www.tokopedia.com/rempoashop

Continue reading
Posted in Investasi | 1 Comment

Buku-Buku di Rak

Karena terlalu penuh, saat ini saya hendak mengurangi buku-buku di rak saya dan saya taruh di Rempoashop.

Mengapa saya mau mengurangi buku koleksi saya? Yang pertama seperti sudah disebutkan di atas, yaitu karena rak buku saya sudah terlalu penuh. Yang kedua mungkin agak konyol karena saya terkadang membeli buku yang sama lebih dari sekali. Sebenarmya bisa jadi juga saya mendapatkan edisi yang lebih baru sehingga untuk judul yang sama ada lebih dari satu buah.

Jadi, jika berminat silakan berkunjung ya ke Rempoashop .

Posted in Investasi | Leave a comment

Study Case: PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk (SIDO)

Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, saya akan mencoba melakukan study case terhadap salah satu perusahaan dengan menggunakan alur naratif dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan. Perusahaan yang akan kita bahas adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk (SIDO) yang termasuk dalam sektor consumer goods.

Jamu adalah obat tradisional Indonesia yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1300 M. Di zaman modern ini, jamu mendapatkan nama baru yaitu herbal. Banyaknya jenis jamu di Indonesia tidak terlepas dari tempatnya yang terletak di khatulistiwa sehingga beriklim tropis dan merupakan tempat yang ideal untuk tumbuhnya berbagai tanaman herbal.

Sido Muncul mungkin salah satu nama yang terlintas ketika orang membicarakan tentang jamu. Walaupun secara resmi berdiri pada tahun 1951 yang ditandai oleh selesainya pembangunan pabriknya, ramuan jamu cikal bakalnya sudah dibuat sejak tahun 1930-an oleh Ibu Rahmat Sulistio di Yogyakarta.

Dengan demikian, sebagai sebuah bisnis perjalanan Sido Muncul sudah cukup panjang dan berhasil melalui berbagai macam kondisi ekonomi. Ini adalah salah satu aspek yang selalu saya perhatikan dalam memilih saham.

Sebagai produsen jamu, tantangan Sido Muncul adalah membuat produk-produknya tetap relevan di zaman modern ini. Walaupun bukan pekerjaan yang mudah, sepertinya Sido Muncul berhasil melakukannya. Kuncinya adalah branding dan proses produksi. Jika kita melihat bagaimana produk-produknya dikemas dan dipasarkan memang terlihat modern dan tidak seperti jamu tradisional yang selama ini kita ketahui.

Berikut adalah tabel analisis laporan keuangan SIDO untuk kurun waktu 2015 – 2019.

20200810_SIDO_Analysis

Kemampuan Untuk Memperoleh Laba Secara Konsisten

Terlihat bahwa revenue SIDO naik dengan stabil selama 5 tahun terakhir walaupun bisa dibilang tidak terlalu tinggi. Yang menarik adalah mereka bisa memperbaiki Gross Profit Margin secara konsisten sehingga laju pertumbuhan Gross Profit bisa mencapai 17.4%. Sementara itu, OPEX yang tumbuh hanya 13.1% per tahun membuat laju pertumbuhan operating profit pun cukup tinggi, yaitu 20.8%. Kita pun bisa mengamati bahwa beban bunga SIDO kecil sekali sehingga Times Interest Earning Ratio (TIER) sangat tinggi. Dan itu merupakan hal yang bagus. Pada bottom line, laba bersih terus meningkat dengan laju pertumbuhan 16.6% selama 5 tahun terakhir.

Yang hendak saya sampaikan di sini adalah bahwa SIDO mampu untuk terus tumbuh dan sekaligus mengendalikan OPEX sehingga labanya bisa naik secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini merupakan poin penting karena konsistensi adalah kunci untuk mengetahui baik tidaknya kinerja suatu perusahaan.

Kemampuan untuk Mengelola Pertumbuhan

Setelah mengetahui bahwa perusahaan mampu untuk memperoleh laba secara konsisten, selanjutnya kita akan mencari tahu apakah biaya yang dikeluarkan agar dapat tumbuh masih dalam taraf wajar.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa agar dapat tumbuh, SIDO hanya memerlukan capex yang relatif kecil dibandingkan dengan revenue-nya dengan capex to revenue ratio berada di kisaran hanya 4% – 5% per tahunnya. Dengan demikian dapat dipahami mengapa SIDO bisa memberikan dividen yang cukup besar bagi para pemegang sahamnya. Tercatat selama 5 tahun terakhir dividend payout ratio (DPR) selalu lebih tinggi daripada 75%. Jika SIDO mampu untuk terus tumbuh ke depannya, maka dividen yang diterima investor kemungkinan akan terus meningkat.

Apa yang bisa kita simpulkan?

SIDO mampu untuk mengelola laba yang diperoleh sehingga dapat membiayai pertumbuhan bisnisnya dengan baik dan sekaligus memberikan keuntungan bagi investornya dalam bentuk dividen. Kinerja yang baik tersebut juga menyebabkan harga sahamnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Kemampuan untuk Mengelola Laba

Selanjutnya, kita ingin mengetahui apakah SIDO mampu untuk memberikan tingkat keuntungan yang layak bagi para investornya. Terlihat bahwa SIDO memiliki ROE yang cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ini artinya, setiap rupiah yang dibelanjakan menjadi aset akan menghasilkan laba yang lebih tinggi lagi sehingga kenaikan laba bersihnya lebih tinggi dari kenaikan ekuitasnya.

Demikian pula dengan Return of Retained Earnings (RORE). Sisa laba bersih yang ditahan dapat dialokasikan dengan baik dalam bisnisnya sehingga menghasilkan keuntungan lebih besar lagi.

Hal lain yang impresif adalah bahwa perusahaan ini mampu tumbuh dengan baik tanpa utang. Dalam hal ini utang didefinisikan sebagai liabilitas yang berbunga. Liabilitas SIDO cukup besar sebagai hasil dari operasional bisnisnya (utang usaha) yang merupakan proses yang normal.

Review Kinerja H1-2020

Tahun 2020 adalah tahun yang sangat menantang. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia tidak luput mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kita telah melihat bagaimana kejatuhan industri penerbangan dan pariwisata sebagai dampaknya.

Secara intuitif, SIDO sebagai produsen herbal dan farmasi akan dapat bertahan dalam kondisi ini karena kebutuhan akan obat-obatan termasuk obat tradisional akan meningkat. Mari kita lihat datanya.

20200810_SIDO_Analysis_H2_2020

Terlihat bahwa pertumbuhan penjualan melambat menjadi 3.5% YoY. Operating profit dan net profit tumbuh lebih tinggi sebagai hasil dari efisiensi biaya yang dilakukan. SIDO bahkan mampu untuk mencetak pertumbuhan laba bersih dua digit pada H1 2020.

Mari kita mencoba membedah lebih lanjut sumber revenue dari SIDO.

20200810_SIDO_Analysis_Segments_H2_2020

Terlihat bahwa terjadi kenaikan yang signifikan pada penjualan makanan dan minuman yang menyumbang 32.6% revenue SIDO (sebelumnya hanya 28.6%). Kenaikan ini berhasil mengkompensasi penurunan penjualan jamu herbal dan suplemen sehingga secara keseluruhan penjualan SIDO masih meningkat selama 6 bulan pertama 2020. Sebagai informasi, penurunan penjualan jamu herbal dipicu oleh penurunan ekspor ke Filipina sebagai dampak dari Pandemi.

Concern:

  • Walaupun kinerja SIDO terlihat cukup baik, outlook perekonomian pada H2 2020 yang kurang menggembirakan akan berpotensi menekan kinerjanya.
  • Ada kemungkinan tren penjualan segmen akan berbalik arah ketika pandemi mereda. Impact dari kemungkinan itu belum masuk dalam pembahasan dalam tulisan ini.

 

Disclaimer:

Tulisan ini adalah media edukasi dalam berinvestasi sahamdan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk menjual atau membeli saham terkait. Segala akibat kerugian yang timbul sebagai akibat dari penggunaan tulisan ini sebagai acuan baik secara langsung maupun tidak langsung bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Rempoashop

Posted in Investasi | 3 Comments

Karena Laporan Keuangan Bukanlah Hanya Kumpulan Angka

Seringkali orang bertanya pada saya, perusahaan yang bagus itu seperti apa?

Jawabannya bisa sederhana bisa juga lebih kompleks. Sederhana jika jawabannya adalah perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang bisa menghasilkan keuntungan. Walaupun begitu, apakah kita bisa serta merta menginvestasikan uang kita dalam perusahaan hanya berdasarkan fakta tersebut? Saya akan menjabarkannya lebih rinci lagi.

Perusahaan yang bisa menghasilkan keuntungan adalah hal yang bagus. Alan tetapi jika keuntungan tersebut hanyalah sementara, apakah kita masih bisa tetap berpendapat seperti itu? Sebagai contoh, jika perusahaan menjual aset, maka keuntungannya akan bertambah karena akan dicatat sebagai other income dan berpotensi melambungkan laba bersih pada tahun berjalan. Sayangnya, keuntungan tersebut tidak akan berulang di masa mendatang. Jadi kalau hanya sekedar untung sekali belum bisa dikatakan bahwa sebuah perusahaan adalah bagus. Kata kuncinya adalah konsistensi. Perusahaan yang secara konsisten dapat menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang jauh lebih baik daripada perusahaan yang mendapatkan keuntungan besar hanya sekali. Kita memang bisa saja memanfaatkan situasi tersebut dan menghasilkan return yang tinggi. Akan tetapi sebagai investor jangka panjang, sepertinya bukan hal seperti itu yang kita cari. Kita akan berusaha mencari perusahaan yang terus tumbuh dalam waktu lama dan memberikan investornya keuntungan secara konsisten.

Mencari perusahaan yang di masa mendatang berkinerja baik tentu saja membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Kita harus melihat berbagai aspek baik kualitatif maupun kuantitatif agar bisa berhasil.

Kali ini kita akan mencoba untuk menelusuri secara kuantitatif dengan membaca laporan keuangannya. Walaupun cara tersebut bisa dilakukan, kita akan kehilangan esensi dasarnya. Semua perusahaan akan terlihat sama saja karena kita hanya melihat angka, padahal dalam kenyataannya tidak seperti itu.

Oleh karenanya, yang saya maksud dengan ‘membaca’ bukan hanya menghitung berbagai macam rasio dan kemudian membuat kesimpulan. Kita akan berusaha mengikuti alur bagaimana sebuah bisnis dijalankan dan kemudian mencari informasi relevan yang terdapat dalam laporan keuangan sehingga angka-angka yang kita baca menjadi lebih bermakna.

Ketika sebuah perusahaan baru didirikan, ia akan menggunakan modalnya untuk membeli berbagai macam aset yang berfungsi untuk menjalankan bisnisnya dan memperoleh revenue/sales. Bisnis tanpa penjualan tidak akan berjalan. Hal ini sangatlah jelas. Lebih lanjut lagi, kita tentu menginginkan bisnisnya terus berjalan dengan baik dan terus dapat meningkatkan penjualannya dari waktu ke waktu. Dengan membaca laporan keuangan, kita bisa melihat apakah perusahaan mampu melakukan hal tersebut.

Agar dapat menjalankan bisnisnya dan memperoleh penjualan, perusahaan harus mengeluarkan biaya operasional untuk membeli bahan baku, melakukan promosi, membayar gaji karyawan, dll. Jika penjualan lebih besar daripada biaya operasional, maka perusahaan akan memperoleh laba yang kita sebut laba usaha. Seperti juga dengan penjualan, kita juga ingin melihat bahwa perusahaan bisa mengelola biaya operasionalnya dengan baik sehingga secara konsisten dapat memperoleh laba.

Apakah, laba usaha tersebut bisa langsung dibagikan kepada investor dalam bentuk dividen? Belum. Ingat, ketika didirikan perusahaan memerlukan modal untuk membeli aset. Modal tersebut bisa saja berasal dari kantong sendiri yang kita sebut dengan ekuitas atau bisa juga berasal dari pinjaman yang kita sebut sebagai utang (debt). Dengan berutang, perusahaan harus membayar pokok dan bunganya. Oleh karenanya, kita mengurangkan laba usaha dengan beban bunga (interest expense) dan hasilnya kita sebut dengan laba sebelum pajak. Setelah membayar pajak ke negara, sisa yang didapatkan perusahaan barulah bisa diklaim sebagai laba bersih. Sekali lagi, kita menginginkan laba bersih tumbuh secara konsisten sejalan dengan pertumbuhan penjualan. Jika beban bunga terlalu besar sebagai akibat dari besarnya utang, ada kemungkinan laba usaha yang diperoleh tidak akan bersisa atau malah kurang sehingga perusahaan merugi. Hal seperti ini tentulah tidak kita inginkan. Untuk itu, kita lihat seberapa besar utang dan beban bunganya. Secara pribadi, saya merasa nyaman jika beban bunga jumlahnya maksimum hanya 30% dari laba usaha. Jika beban bunga terlalu tinggi, manakala bisnisnya sedang tidak lancar, maka laba bersih akan tergerus cukup besar. Hal ini tentu tidak kita inginkan.

Sebagai contoh, kondisi pandemi saat ini adalah batu ujian bagi sebuah perusahaan. Menurunnya aktivitas ekonomi akan berpengaruh pada tingkat penjualan. Jika perusahaan tersebut terlalu agresif berutang, laba usaha yang didapat bisa termakan oleh jumlah bunga yang harus dibayar. Kondisi bisa semakin buruk jika bahkan penjualannya tidak bisa menutupi biaya operasional, terlebih lagi jika banyak komponen biaya operasional yang bersifat tetap (fixed cost). Ada penjualan atau tidak, perusahaan harus membayar fixed cost tersebut. Ada baiknya kita melihat seberapa besar fixed cost yang harus ditanggung oleh perusahaan. Contohnya antara lain adalah sewa gedung, gaji karyawan, beban bunga, tagihan listrik, dll. Oleh karenanya, dalam kondisi seperti ini perusahaan akan sebisa mungkin mengurangi biaya operasional agar bisnisnya dapat terus berjalan.

Berdasarkan penjelasan di atas, ada beberapa angka dalam laporan keuangan yang perlu kita teliti. Ada kemungkinan juga kita perlu menghitung beberapa rasio keuangan untuk membantu dalam melakukan analisis. Angka-angka tersebut a.l:

• Revenue/sales

• Biaya operasional

• Laba usaha

• Beban bunga

• Laba bersih

• Beberapa rasio: marjin laba usaha, marjin laba bersih, times interest earned, debt to equity ratio.

Hasil analisis sampai dengan didapatnya konsistensi laba kita sebut sebagai kemampuan untuk memperoleh laba secara konsisten yang merupakan komponen pertama untuk menentukan bagus tidak perusahaan secara kuantitatif.

Selanjutnya, bisa saja perusahaan terus mendapatkan keuntungan tetap dari tahun ke tahun. Namun sebagai investor kita mengharapkan perusahaan terus bertumbuh. Aset yang dimiliki perusahaan saat ini memiliki kapasitas tertentu. Manakala alat-alat produksi telah bekerja mencapai kapasitas maksimum, seberapapun besarnya permintaan, perusahaan akan mengalami kesulitan untuk memenuhinya. Oleh karenanya dalam kondisi tersebut perusahaan harus mengalokasikan dana untuk menambah alat produksi baru. Laba bersih yang cukup besar akan dapat digunakan untuk membiayai capex (capital expenditure) untuk menambah alat produksi. Akan lebih baik lagi jika investor masih mendapatkan sisa laba bersih setelah dikurangi capex dalam bentuk dividen. Perusahaan bisa saja menambah utang atau meminta investor untuk menambah modal melalui penerbitan saham baru untuk membiayai capex. Namun secara pribadi sebagai investor lebih mengharapkan capex dapat dibiayai oleh laba hasil operasional bisnisnya.

Perusahaan yang bisa mengalokasikan sebagian laba bersih untuk membiayai capex dan sekaligus konsisten memberikan dividen pada investornya tentulah hal yang bagus. Biasanya perusahaan akan mengalokasikan capex dengan rasio tertentu terhadap penjualan/pendapatannya dengan asumsi setiap penambahan penjualan akan membutuhkan capex tertentu. Nilai capex to sales ini berbeda-beda antar industri. Ada industri yang membutuhkan capex yang besar agar dapat terus tumbuh dan ada industri yang hanya sedikit membutuhkan capex agar dapat terus tumbuh. Sebagai contoh, industri jasa mungkin lebih cenderung memerlukan tambahan biaya operasional dan bukan capex untuk menunjang kenaikan pendapatan. Sementara itu, industri manufaktur mungkin membutuhkan capex yang besar agar dapat tumbuh karena harus membeli mesin-mesin baru.

Angka-angka dalam laporan keuangan yang kita butuhkan a.l:

• Historical capex

• Historical revenue

• Rasio yang perlu dihitung: capex to revenue ratio, dividend payout ratio

Hasil analisisnya kita sebut sebagai kemampuan perusahaan untuk mengelola pertumbuhan. Kemampuan ini sangat penting karena kita tidak ingin laba yang telah diperoleh tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Setelah capex dipergunakan untuk menambah kapasitas produksi, selanjutnya kita ingin melihat apakah capex tersebut memberikan keuntungan yang setimpal dengan modal yang telah diberikan. Jika selama ini, dengan modal ekuitas 100, perusahaan bisa memperoleh laba bersih 20 atau dengan kata lain Return on Equity 20%, maka capex yang digunakan untuk menambah aset tentu diharapkan minimal juga memberikan tingkat keuntungan yang sama atau kalau bisa lebih tinggi. Dalam hal ini kita akan mencoba melakukan analisis efektivitas penggunaaan capex. Cara tidak langsung yang bisa digunakan adalah dengan melihat nilai ROE dari tahun ke tahun. Apabila nilainya konsisten dan laba terus tumbuh, maka dapat dikatakan perusahaan mampu mengalokasikan capex dengan baik. Kita perlu mencermati apabila dari tahun ke tahun ROE terus turun.

Kita juga bisa secara langsung mengamati efektivitas penggunaan laba bersih dengan menghitung Return on Retained Earnings (RORE). RORE dihitung dengan membagi kenaikan retained earnings selama beberapa tahun terakhir dengan kenaikan laba bersih. Dengan RORE, kita akan mengetahui apakah setiap laba yang ditahan dan tidak dibagikan sebagai dividen akan menghasilkan kenaikan laba bersih.

Hasil analisis tersebut kita sebut sebagai kemampuan untuk mengelola laba. Suatu perusahaan diharapkan dapat memberikan keuntungan yang setimpal dengan modal yang telah dipergunakan.

Angka-angka dan rasio yang diperlukan dalam analisis tersebut:

• Return on equity (ROE)

• Return on retained earnings (RORE)

Pada artikel berikutnya, kita akan mencoba untuk melakukan analisis terhadap suatu perusahaan berdasarkan alur yang telah dijabarkan di atas.

Rempoashop

Posted in Strategi Investasi | Tagged , , , | 4 Comments

BEI Super Companies (2018 late update)

Rempoa Shop

Sebelumnya saya mengucapkan mohon maaf karena sangat terlambatnya posting ini. Walaupun begitu, saya tetap berusaha untuk menyampaikannya.

Bagi yang baru membaca, dalam konteks di artikel ini Supercompanies adalah perusahaan-perusahaan yang labanya tumbuh secara konsisten selama 10 tahun terakhir. Sebagai tambahan, saya juga memberikan daftar perusahaan yang hanya sekali turun labanya selama 10 tahun terakhir.

SuperCompanies2018

Terdapat 9 perusahaan yang labanya secara konsisten naik selama satu dekade terakhir.  Terdapat 2 pendatang baru dalam daftar ini yaitu ICBP dan WSKT. Sementara itu karena pada tahun 2018 labanya turun, JRPT dan MREI berpindah ke dalam daftar Almost Perfect 2018.

Sementara itu, di dalam daftar Almost Perfect terdapat 23 perusahaan yang masuk dengan 8 perusahaan yang merupakan pendatang baru.

AlmostPerfect_2018

Sebagai catatan, walaupun terlempar dari daftar Super Companies, pertumbuhan laba UNVR cukup mengesankan dengan tingkat prediktabilitas 96%. Sepertinya penurunan laba bersih pada tahun 2015 hanya cegukan saja.

Disclaimer: Tulisan ini bukanlah ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual saham-saham terkait. Segala kerugian yang timbul sebagai akibat dari penggunaan tulisan ini sebagai acuan baik secara langsung maupun tidak langsung bukan menjadi tanggung jawab penulis.

Rempoa Shop

Posted in Investasi | 3 Comments