Buku Street Investing (dan buku lainnya) di Tokopedia

This gallery contains 2 photos.

IG : rempoashop Karena kebetulan saya ada beberapa stok buku Street Investing, saya memutuskan untuk menaruhnya di marketplace Tokopedia pada online store Rempoa Shop. Link-nya adalah sbb: https://www.tokopedia.com/rempoashop/street-investing-redevelop-the-ideas Di online shop saya tersebut, tersedia juga buku Investing Ideas yang merupakan … Continue reading

Gallery | Leave a comment

BEI Super Companies 2016 Update

Seperti tahun lalu, kali ini saya akan memberikan informasi mengenai emiten-emiten dengan pertumbuhan laba yang konsisten dalam jangka panjang. Daftar emiten tahun lalu dapat dilihat dalam artikel berikut:

The BEI Super Companies (update dengan LK 2015)

Seperti dikemukakan sebelumnya, penyebutan super company ini mengacu hanya pada konsistensi pertumbuhan laba selama 10 tahun terakhir. Untuk mengetahui apakah emiten-emiten tersebut benar-benar layak sebagai wahana investasi, Anda harus melakukan analisis yang lebih mendalam.

Perfect_2016

Terlihat bahwa terdapat 11 emiten yang labanya terus tumbuh selama 10 tahun terakhir. Terdapat 3 emiten baru yang masuk ke dalam daftar ini yaitu PT Kimia Farma, Tbk (KAEF), PT Metropolitan Kentjana, Tbk (MKPI), dan PT Pembangunan Perumahan (Persero), Tbk (PTPP).

Jika kita cermati, emiten-emiten tersebut labanya tumbuh rata-rata sebesar 25.7% per tahun atau dengan kata lain jika kita menggunakan aturan 72, labanya akan naik menjadi dua kali lipat setiap 3 tahun sekali. Sementara itu, emiten-emiten tersebut memiliki tingkat prediktabilitas berkisar antara 91% s.d 100%. Dengan kata lain, pertumbuhan laba emiten tersebut selama 10 tahun terakhir dapat diprediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Seperti juga tahun lalu, saya juga membuat daftar emiten yang selama 10 tahun terakhir labanya hanya pernah sekali turun.

Almostperfect_2016

Daftar ini berisikan 23 emiten. Jumlahnya meningkat dibandingkan dengan 17 emiten pada tahun 2015. Terlihat bahwa terdapat 9 emiten baru yang masuk ke dalam daftar tersebut. Sementara itu, terdapat 4 emiten yang sebelumnya masuk ke dalam daftar super companies namun sempat sedikit tersandung sehingga masuk ke dalam daftar almost perfect.

Disclaimer:

Artikel ini adalah hasil dari penelaahan pribadi dari penulis dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham emiten-emiten yang telah disebutkan. Segala keuntungan dan kerugian yang terkait dengan pembelian atau penjualan saham tidak menjadi tanggung jawab penulis.

 

Posted in Aneka Ria Riset Investasi, Investasi | Tagged , | 2 Comments

Bedah Buku: Value Investing from Graham to Buffett and Beyond

51wmd2b0u04l-_sx330_bo1204203200_Sudah lama saya ingin membeli buku ini. Walaupun sudah banyak sekali buku yang membahas tentang investasi khususnya value investing, kali ini sepertinya berbeda. Saya pribadi mendapatkan banyak tambahan pengetahuan setelah membaca buku ini.
Penulisnya, Bruce Greenwald adalah Robert Heilbrum Professor of Finance and Asset Management di Columbia University Graduate School of Business. Jangan terlalu terintimidasi oleh gelarnya karena Anda akan mendapatkan tambahan wawasan yang mencerahkan pikiran.

Di dalam buku ini, Greenwald mengadopsi pendekatan value investing dari Benjamin Graham dan mengemasnya agar tetap relevan untuk masa kini.
Terus terang saja buku ini diperuntukkan bagi orang-orang yang telah memiliki kemampuan membaca laporan keuangan. Greenwald tidak memberikan porsi untuk membahas cara membaca laporan keuangan, melainkan langsung menuju pada topik utamanya.
Buku ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Introduction to Value Investing
  2. Three Sources of Value
  3. Value Investing in Practice: Profiles of Eight Value Investors

Bagi saya pribadi, yang paling menarik adalah bagian ke-2, yaitu Three Sources of Value. Pada bagian ini, Greenwald membahas 3 metode valuasi yang berbeda dengan pendekatan umum. Greenwald dengan tegas menyatakan bahwa metode Discounted Cash Flow (DCF) membutuhkan terlalu banyak asumsi sehingga sangat rentan terhadap kesalahan.
Ketiga pendekatan valuasi yang dibahas oleh Greenwald adalah:
1. Valuasi berdasarkan aset

Metode ini berdasarkan pada konsep Net Net Working Capital yang diperkenalkan oleh Benjamin Graham. Hanya saja, Greenwald melakukan penyesuaian dengan menyertakan aset tidak lancar ke dalam perhitungan.

Greenwald juga memperkenalkan konsep Asset Reproduction Value yang menurut saya sangatlah berharga. Pada dasarnya asset reproduction value adalah total biaya yang harus dikeluarkan oleh kompetitor agar dapat membuat perusahaan yang identik dengan perusahaan yang hendak kita nilai. Total biaya tersebut adalah value-nya. Saya jadi teringat pada Warren Buffett yang mengatakan bahwa ia mencari perusahaan yang bisnisnya tidak mudah untuk ditiru, bahkan jika kompetitor bersedia untuk mengeluarkan modal yang sangat besar. Terlihat sekali bahwa Warren Buffett mendasarkan pemikirannya pada konsep asset reproduction tersebut.

Pada bagian ini, langkah-langkah untuk menghitung asset reproduction dipaparkan dengan sangat jelas dengan disertai contoh-contoh riil. Saya sarankan Anda membawa kalkulator ketika membaca buku ini hehehe.

2. Earnings Power Value
Konsep earnings power value yang dibahas pada bagian ini juga merupakan penjabaran dari pemikiran Ben Graham bahwa untuk menghitung laba sebenarnya, kita harus menghitung laba yang menggambarkan arus kas yang dapat terus dipertahankan tanpa adanya pertumbuhan. Dengan kata lain, earnings power mensimulasikan tingkat laba apabila perusahaan tidak mengeluarkan biaya untuk menunjang pertumbuhan.
Secara singkat perhitungannya adalah sebagai berikut:

Earnings Power Value (EPV) = Adjusted Earnings x 1/R

dengan R adalah cost of capital.

Adapun adjusted earnings adalah tingkat laba apabila perusahaan tidak berinvestasi untuk meningkatkan laba bersih.

Selisih antara EPV dengan Asset Reproduction Value disebut dengan Franchise Value. Jika pada konsep Asset Reproduction, kita menilai perusahaan dengan mengasumsikan bahwa perusahaan tidak memiliki competitive advantage, maka jika EPV > Asset Reproduction Value memberikan arti bahwa terdapat competitive advantage yang dimiliki perusahaan sehingga bernilai lebih tinggi daripada kompetitornya.

Seperti juga pada bagian sebelumnya, cara menghitung EPV dan adjusted earnings dipaparkan dengan terperinci. Bahkan ada dua sub bagian khusus yang membahas studi kasus pada perusahaan nyata, yaitu WD-40 dan Intel.

3. Value of Growth
Pada pendekatan ketiga ini, Greenwald mulai memasukkan unsur growth dalam perhitungan. Walaupun begitu, ia menjelaskan bahwa growth ini memiliki unsur ketidakpastian yang sangat tinggi. Oleh karenanya kita harus mempergunakannya secara hati-hati. Tidak semua growth akan menambahkan nilai pada bisnis. Growth tidak ada artinya apabila return on capital lebih kecil daripada cost of capital. Pertumbuhan seperti itu akan merusak nilai perusahaan. Konsep ini mungkin mirip dengan EVA (Economic Added Value) yang umum digunakan.
Walaupun bagi saya bagian tentang Three Sources of Value adalah yang paling menarik, pada bagian ketiga kita bisa mempelajari prinsip-prinsip investasi dari 8 value investor ternama, yaitu:

  • Warren Buffett
  • Mario Gabelli
  • Glenn Greenberg
  • Robert H. Heilbrum
  • Seth Klarman
  • Michael Price
  • Walter and Edwin Schloss
  • Paul D. Sonkin

Sebagai informasi, studi kasus tentang Asset Reproduction Value pada Hudson General merupakan karya asli dari Mario Gabelli yang merupakan pemilik saham mayoritas perusahaan tersebut.

Akhir kata, menurut saya buku ini adalah buku yang wajib dibaca oleh para investor khususnya value investor. Anda akan mengetahui bagaimana seorang value investor in action ketika membedah suatu perusahaan dan melakukan valuasi.

Selanjutnya, saya akan mencoba melakukan valuasi dengan ketiga pendekatan tersebut pada emiten di BEI. Akan kita lihat hasilnya.

Posted in Buku Yang Saya Baca, Investasi | Tagged , | 3 Comments

Membaca Laporan Keuangan Bag. 6: Marjin Laba Bruto (Studi Kasus TELE)

 

 

Kali ini kita akan mencoba melakukan analisis lebih mendalam terhadap marjin laba bruto. Terdapat dua komponen yang mempengaruhi laba bruto, yaitu penjualan dan harga pokok penjualan. Oleh karenanya, untuk mengetahui lebih terperinci kita bisa membedah sampai ke level segmen operasinya. Emiten yang menjadi bahan analisis adalah PT Tiphone Mobile Indonesia, Tbk yang memiliki usaha distribusi voucher telepon seluler dan penjualan telepon selular. Di Bursa Efek Indonesia, emiten ini memiliki kode TELE.
Sebagai pembuka mari kita perhatikan data historis penjualan dan HPP TELE dari tahun 2010 s.d 2015.

tele_rev_hppSumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Terlihat bahwa selama enam tahun terakhir, pendapatan dan HPP TELE tumbuh cukup tinggi secara eksponensial. Kita akan membedah apa saja sumber pendapatannya untuk mengetahui peranan masing-masing lini usaha.

tele_segment

Sumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Segmen telepon selular memberikan kontribusi pendapatan tertinggi yaitu 65.38% dan disusul oleh segmen voucher sebesar 34.6%. Segmen jasa perbaikan hanya menyumbang 0.01% pendapatan TELE. Agar lebih jelas, selanjutnya kita akan melihat bagaimana kontribusi masing-masing lini usaha dari waktu ke waktu. Dengan melakukannya, kita akan memiliki gambaran lini usaha mana yang akan lebih berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan secara keseluruhan di masa mendatang.

tele_segement_historis

Sumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Dari grafik di atas, kita mendapatkan informasi yang menarik. Pada tahun 2010, 93.07% penjualan TELE didominasi oleh segmen voucher sementara segmen telepon selular hanya menyumbang 6.92% pendapatan TELE. Sejalan dengan waktu, kondisi tersebut berubah. Kontribusi segmen voucher terus menurun dan pada tahun 2015 hanya menyumbang 65.38% penjualan TELE. Sementara itu, segmen telepon selular semakin meningkat kontribusinya dan mencapai 34.6% pada tahun 2015.
Secara intuitif, fenomena tersebut terjelaskan oleh penetrasi pasar seluler yang sangat tinggi dan mendekati tahap jenuh. Sementara, penjualan telepon selular masih memiliki prospek yang cerah karena konsumen akan terus mengganti handset yang dimilikinya.
tele_segment_growth

Sumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Grafik di atas memperlihatkan bagaimana pesatnya pertumbuhan penjualan segmen telepon seluler. Dengan tingkat pertumbuhan penjualan 78.9% per tahun, segmen telepon selular jauh meninggalkan segmen voucher yang ‘hanya’ tumbuh 20.8% per tahun. Segmen jasa perbaikan memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada segmen voucher namun secara nominal sangat kecil.

tele_segment_gpm

Sumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Setelah membedah sumber pendapatan, kita akan mencoba untuk melihat marjin laba bruto masing-masing segmen. Pada grafik di atas terlihat bahwa marjin laba bruto segmen voucher (6%) lebih tinggi daripada telepon selular (4.1%). Hal yang menarik akan kita dapatkan dari grafik berikut.

tele_seluler_gpm

Sumber: Laporan keuangan TELE 2010-2015, diolah

Terlihat bahwa marjin laba bruto segmen telepon selular terus menurun dari tahun ke tahun. Menariknya, pada semester 1 2016, marjin laba bruto segmen telepon selular kembali meningkat. Hal ini merupakan indikasi positif mengingat TELE semakin mengandalkan segmen telepon selular sebagai sumber pendapatannya.
Berdasarkan contoh kasus ini, kita bisa melihat bahwa dengan melakukan analisis terhadap marjin laba bruto, banyak sekali informasi penting yang dapat kita peroleh. Selalu perhatikan informasi yang ada di dalam penjelasan laporan keuangan karena seringkali membantu kita dalam melakukan analisis.

Artikel sebelumnya:

Posted in Investasi | 1 Comment

Membaca Laporan Keuangan Bag. 5: Marjin Laba Bruto (Gross Profit Margin)

 

 

Laba bruto (gross profit) adalah keuntungan yang didapatkan setelah mengurangkan penjualan/pendapatan dengan HPP. Marjin laba bruto (gross profit margin) didapatkan dengan cara membagi laba bruto dengan pendapatan/penjualan.

LK_MYOR_GPM
Pada prinsipnya, semakin besar marjin laba bruto semakin baik. Marjin laba bruto yang rendah biasanya mengindikasikan bahwa perusahaan berada di dalam industri yang ketat persaingannya. Perusahaan terpaksa membanting harga agar tetap bisa bertahan di dalam industri tersebut. Sebagai investor, apakah hal tersebut yang kita inginkan? Tentu saja tidak. Perusahaan yang memiliki moat lebar akan leluasa menaikkan harga tanpa kuatir kehilangan pelanggan sehingga marjin laba bruto tetap terjaga. Hal yang sebaliknya akan terjadi manakala suatu perusahaan tidak memiliki moat. Perusahaan mengalami kesulitan untuk menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan secara signifikan. Akibatnya, marjin laba kotor terus tergerus dari waktu ke waktu. Sebagai informasi, moat atau parit adalah istilah yang dilontarkan oleh Warren Buffett yang mengacu pada halangan bagi kompetitor untuk bersaing dengan perusahaan kita. Manakala terjadi perang tarif di suatu industri, kita bisa melihat bahwa marjin laba bruto akan tergerus. Perusahaan yang terlemah akan tersingkir karena kehabisan dana. Sementara itu, perusahaan lainnya tidak luput dari dampaknya karena akan mengalami penurunan dana yang seharusnya bisa dipergunakan untuk ekspansi.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kata kuncinya selain marjin laba kotor yang tinggi, kita juga harus memastikan bahwa nilainya konsisten dari waktu ke waktu. Umumnya suatu bisnis dianggap cukup menguntungkan apabila memiliki marjin laba kotor minimal 30% yang konsisten dari tahun ke tahun. Walaupun begitu, angka tersebut bukanlah harga mati. Perusahaan distribusi akan sangat berbahagia jika mendapatkan marjin laba kotor setinggi itu karena mereka hanya mengambil selisih harga beli dan harga jual. Hal sebaliknya dialami oleh perusahaan jasa yang memiliki HPP sangat rendah atau bahkan tidak ada. Sangatlah tidak relevan apabila kita membandingkan HPP perusahaan jasa dengan perusahaan distribusi karena model bisnis mereka sangat berbeda.

Artikel sebelumnya:

 

 

Posted in Investasi | 3 Comments

Membaca Laporan Keuangan Bag. 4: Harga Pokok Penjualan

 

 

Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk disebut dengan Harga Pokok Penjualan (HPP). Istilah lain HPP adalah Beban Pokok Penjualan, Cost of Goods Sold (COGS) atau Cost of Revenue. Cost of revenue biasanya digunakan oleh perusahaan yang menyediakan jasa.

MYOR_HPP

Karena HPP adalah biaya langsung, umumnya nilainya berbanding lurus dengan pendapatan. Komponen HPP umumnya adalah bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang terkait dengan proses produksi. Jadi, biaya-biaya seperti biaya distribusi dan biaya pemasaran tidak termasuk dalam HPP karena tidak terkait langsung dengan proses produksi. Secara umum dikatakan bahwa semakin rendah HPP semakin baik.
Lalu bagaimana cara menghitung HPP? HPP dihitung dengan menjumlahkan jumlah persediaan (inventory) pada awal tahun dengan barang yang diproduksi sepanjang tahun dan kemudian dikurangkan dengan jumlah persediaan pada akhir tahun. Untuk lebih jelasnya, kita bisa memperhatikan contoh perincian perhitungan HPP dari MYOR berikut ini. Perincian HPP ini dapat dilihat pada penjelasan laporan keuangan MYOR 2015 nomor 24 pada halaman 55.

MYOR_HPP_det

Terlihat bahwa HPP (dalam laporan keuangan MYOR disebut dengan Beban Pokok Penjualan) adalah jumlah persediaan di awal tahun (Rp 542,8 miliar) + jumlah produksi sepanjang tahun (Rp 10,601.5 miliar) – jumlah persediaan di akhir tahun (Rp 241,8 miliar).
Perincian perhitungan biaya produksi bisa berbeda antar emiten, apalagi pada emiten jasa. Sebagai contoh, komponen penyusun HPP untuk PT Panorama Sentrawisata, Tbk (kode BEI: PANR) akan terlihat sangat berbeda dengan MYOR. Komponen HPP dari PANR adalah biaya perjalanan wisata, biaya jasa transportasi, biaya hotel, biaya jasa konvensi, biaya tiket pesawat, dan biaya penyusutan (depresiasi). Mengapa biaya penyusutan masuk ke dalam perhitungan HPP? Hal tersebut akan kita diskusikan pada topik tentang depresiasi.

Artikel sebelumnya:

 

 

 

Posted in Investasi | 3 Comments