Buku Street Investing (dan buku lainnya) di Tokopedia

This gallery contains 2 photos.

IG : rempoashop Karena kebetulan saya ada beberapa stok buku Street Investing, saya memutuskan untuk menaruhnya di marketplace Tokopedia pada online store Rempoa Shop. Link-nya adalah sbb: https://www.tokopedia.com/rempoashop/street-investing-redevelop-the-ideas Di online shop saya tersebut, tersedia juga buku Investing Ideas yang merupakan … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Membaca Laporan Keuangan Bag. 4: Harga Pokok Penjualan

 

 

Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk disebut dengan Harga Pokok Penjualan (HPP). Istilah lain HPP adalah Beban Pokok Penjualan, Cost of Goods Sold (COGS) atau Cost of Revenue. Cost of revenue biasanya digunakan oleh perusahaan yang menyediakan jasa.

MYOR_HPP

Karena HPP adalah biaya langsung, umumnya nilainya berbanding lurus dengan pendapatan. Komponen HPP umumnya adalah bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang terkait dengan proses produksi. Jadi, biaya-biaya seperti biaya distribusi dan biaya pemasaran tidak termasuk dalam HPP karena tidak terkait langsung dengan proses produksi. Secara umum dikatakan bahwa semakin rendah HPP semakin baik.
Lalu bagaimana cara menghitung HPP? HPP dihitung dengan menjumlahkan jumlah persediaan (inventory) pada awal tahun dengan barang yang diproduksi sepanjang tahun dan kemudian dikurangkan dengan jumlah persediaan pada akhir tahun. Untuk lebih jelasnya, kita bisa memperhatikan contoh perincian perhitungan HPP dari MYOR berikut ini. Perincian HPP ini dapat dilihat pada penjelasan laporan keuangan MYOR 2015 nomor 24 pada halaman 55.

MYOR_HPP_det

Terlihat bahwa HPP (dalam laporan keuangan MYOR disebut dengan Beban Pokok Penjualan) adalah jumlah persediaan di awal tahun (Rp 542,8 miliar) + jumlah produksi sepanjang tahun (Rp 10,601.5 miliar) – jumlah persediaan di akhir tahun (Rp 241,8 miliar).
Perincian perhitungan biaya produksi bisa berbeda antar emiten, apalagi pada emiten jasa. Sebagai contoh, komponen penyusun HPP untuk PT Panorama Sentrawisata, Tbk (kode BEI: PANR) akan terlihat sangat berbeda dengan MYOR. Komponen HPP dari PANR adalah biaya perjalanan wisata, biaya jasa transportasi, biaya hotel, biaya jasa konvensi, biaya tiket pesawat, dan biaya penyusutan (depresiasi). Mengapa biaya penyusutan masuk ke dalam perhitungan HPP? Hal tersebut akan kita diskusikan pada topik tentang depresiasi.

Artikel sebelumnya:

 

 

 

Posted in Investasi | Leave a comment

Membaca Laporan Keuangan Bag. 3: Pendapatan

Pendapatan (revenue) biasa disebut juga dengan penjualan (sales) atau top line. Misalkan seorang tukang bakso menjual 15 ribu mangkok bakso setiap tahun. Jika harga per mangkok adalah 10 ribu rupiah, maka kita katakan pendapatan tukang bakso tersebut dalam setahun adalah 150 juta rupiah. Jadi pada umumnya, penjualan adalah harga barang dikalikan dengan volume penjualan.

Yang sering saya temui adalah tertukarnya istilah pendapatan dengan laba. Dalam bahasa sehari-hari, pendapatan disebut juga dengan omzet. Adapun laba adalah pendapatan setelah dikurangi dengan biaya/beban.

MYOR_Pendapatan

Pada laporan keuangan MYOR tahun 2015, terlihat bahwa penjualannya adalah Rp 14,82 triliun. Angka ini apabila berdiri sendiri tidak banyak artinya. Namun jika kita bandingkan dengan penjualan tahun lalu yang mencapai Rp 14,17 triliun, kita bisa mengetahui bahwa pertumbuhan pendapatannya pada tahun 2015 adalah 4,6%. Besarnya pendapatan tidaklah menjamin perusahaan akan memperoleh laba. Apabila biaya operasionalnya melebihi pendapatan, perusahaan akan mengalami kerugian. Oleh karena itulah dalam melakukan analisis, kita tidak bisa menafsirkan besarnya pendapatan tanpa menyertakan pos-pos lain untuk memperoleh informasi yang lebih terperinci.

Apakah ada informasi lain yang bisa kita dapatkan terkait dengan pendapatan? Ada.

Mari kita mencoba melihat ke dalam penjelasan laporan keuangan. Jika telah mengunduhnya, Anda bisa melihat pada halaman 59.

MYOR_Pendapatan_Detail.png

Sangatlah menarik mengetahui bahwa 48,7% penjualan MYOR berasal dari ekspor. Jika porsi ekspor cukup besar, umumnya dampak fluktuasi US Dollar terhadap penjualan akan teredam.

Artikel sebelumnya:

Posted in Investasi | 2 Comments

Membaca Laporan Keuangan Bag. 2: Laporan Laba Rugi

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya

Salah satu cara termudah membaca laporan keuangan adalah dengan memulai dari laporan laba rugi. Alasannya? Pada laporan laba rugi kita akan langsung mengetahui apakah suatu perusahaan untung atau rugi dalam kurun waktu tertentu. Jadi, jika dalam laporan keuangan tahun 2015 suatu perusahaan menyatakan bahwa ia memperoleh laba bersih sebesar Rp 200 miliar, hal tersebut berarti bahwa selama setahun, sebesar itulah laba bersih yang berhasil diperolehnya.

Sebagai informasi, emiten-emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia diwajibkan untuk merilis laporan keuangan tiap kuartal walaupun hanya laporan keuangan tahunan saja yang harus melalui proses audit.

Pada umumnya, laporan laba rugi dapat kita pisahkan menjadi tiga bagian, yaitu: pendapatan/penjualan, biaya/beban, dan laba. Secara sederhana yang disebut laba adalah pendapatan dikurangi dengan biaya. Dengan melakukan analisis secara seksama, laporan laba rugi dapat membantu kita mengetahui apakah suatu perusahan memiliki kinerja yang bagus atau tidak. Tentu saja ada beberapa alat bantu yang bisa kita gunakan untuk dapat menemukan perusahaan-perusahaan yang bagus. Salah satunya adalah rasio keuangan. Dengan membandingkan suatu pos dengan pos yang lain, kita akan dapat melihat lebih jelas apakah perusahaan memiliki kondisi keuangan yang baik atau tidak.

Pada bagian-bagian selanjutnya, saya akan mencoba menjelaskan cara membaca laporan keuangan beserta tambahan beberapa topik yang menurut saya tidak kalah pentingnya.
Sebagai contoh, saya akan menggunakan laporan keuangan PT Mayora Indah, Tbk (kode BEI: MYOR) tahun 2015. Kita akan mencoba membaca dan melakukan analisis sehingga dapat mengambil kesimpulan apakah emiten ini memiliki kinerja yang baik atau tidak. PT Mayora Indah, Tbk bergerak di bidang produksi makanan dan memiliki enam divisi, yaitu biskuit, gula-gula, wafer, coklat, kopi instan, dan minuman sereal. Merek-merek utamanya antara lain Roma, Kopiko, Beng-Beng, Choki-Choki, Torabika, dan Energen.

LK_MYOR_2015_full

Pada bagian selanjutnya, kita akan mendiskusikan masing-masing pos satu persatu.

Posted in Investasi | 4 Comments

Membaca Laporan Keuangan Bag. 1: Mengenal Laporan Keuangan

“Mengingat bahwa kemampuan membaca laporan keuangan sangat penting, saya akan mencoba menuliskan seri artikel tentang hal tersebut. Artikel akan diterbitkan secara periodik. Saya sebisa mungkin akan memberikan contoh kasus di dunia nyata agar pembaca bisa lebih mudah memahaminya.”

 

 

Laporan keuangan adalah gambaran dari kondisi keuangan perusahaan selama periode tertentu atau pada waktu tertentu. Oleh karenanya, sebagai investor kemampuan untuk membaca laporan keuangan sangatlah penting. Tanpa adanya kemampuan untuk membaca laporan keuangan, kita berpotensi untuk salah dalam mengartikan berita atau informasi terkait dengan kinerja perusahaan. Sebagai contoh, saya sering sekali bertemu dengan orang yang mengalami kesulitan untuk membedakan antara pendapatan (revenue) dengan laba (earning). Dalam kondisi tertentu, kesalahan penafsiran akan berakibat serius terhadap akurasi pengambilan keputusan investasi kita.

Sesuai dengan tujuannya, angka-angka di dalam laporan keuangan merefleksikan aktivitas bisnisnya. Oleh karenanya, akan lebih mudah untuk memahami laporan keuangan suatu perusahaan apabila kita mengetahui bagaimana perusahaan tersebut menjalankan aktivitas bisnisnya. Akan sangat berbahaya apabila kita menafsirkan laporan keuangan tanpa mengetahui apa yang dikerjakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Terkait dengan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa bisnis yang berbeda akan menghasilkan penyajian laporan keuangan yang berbeda pula. Walaupun setiap perusahaan mengikuti pedoman penyusunan laporan keuangan yang terstandardisasi, kita bisa melihat bahwa terdapat ciri khas tertentu yang membedakan angka-angka di dalam laporan keuangan perusahaan di suatu industri dengan industri yang lain.

Laporan keuangan yang sering menjadi bahan rujukan investor adalah laporan laba rugi (income statement), neraca (balance sheet), dan laporan arus kas (cash flow statement). Sebenarnya masih ada satu lagi yaitu laporan perubahan ekuitas (the statements of shareholders’ equity) namun jarang digunakan karena tidak terlalu banyak mengandung informasi penting. Keempat laporan keuangan tersebut beserta dengan penjelasannya akan dirilis oleh perusahaan secara berkala. Di Bursa Efek Indonesia, emiten yang terdaftar diwajibkan untuk mempublikasikan laporan keuangan tiap kuartal. Khusus pada akhir tahun, laporannya disebut dengan laporan keuangan tahunan.

Di dalam buku ini, selain menjelaskan cara membaca laporan keuangan kami juga akan memberikan panduan untuk menilai apakah angka-angka di dalam laporan keuangan menunjukkan bahwa perusahaan berkinerja baik atau tidak.

Faktor penentu keberhasilan investasi adalah kinerja perusahaan di masa mendatang. Sayangnya, kita tidak bisa mengetahuinya dengan akurat. Walaupun begitu, apabila memiliki informasi akurat mengenai kinerja keuangan perusahaan di masa lalu, akan lebih mudah bagi kita untuk memprediksikan kinerja perusahaan di masa mendatang.

Laporan keuangan yang telah dirilis oleh emiten dapat diunduh di http://www.idx.co.id. Selain itu, rangkuman laporan keuangan juga dapat dilihat di situs Financial Times (http://www.ft.com) atau Reuters (http://www.reuters.com).

Bagian kedua dapat dibaca di sini.

Posted in Investasi | 3 Comments

Mengandalkan Dividen untuk Pensiun?

IG: rempoashop

Mempersiapkan pensiun?

Sebenarnya masa pensiun saya masih relatif lama. Hanya saja tadi sempat terpikir bagaimana saya bisa membiayai biaya hidup manakala masa pensiun tiba. Apakah terlalu dini? Time flies bro/sis. Walaupun masih terasa lama, namun nanti tiba-tiba sudah di depan mata.

Terlepas dari hal tersebut, saya akan membahas salah satu alternatif sumber pendapatan di masa pensiun, yaitu dividen. Tentu saja banyak sumber pendapatan lain yang bisa kita manfaatkan seperti obligasi/sukuk, tabungan, atau menyewakan rumah kos. Jika Anda sempat merintis usaha, hasil dari usaha tersebut akan sangat membantu. Saya memilih untuk membahas tentang dividen karena relevan dengan topik blog ini.

Pada dasarnya memilih saham yang layak diharapkan dividennya tidak berbeda jauh dengan memilih saham secara umum. Yang berbeda adalah penekanan pada aspek-aspek tertentu agar kita bisa menikmati dividen secara konsisten. Yang terpikir oleh saya di antaranya:

  1. Bisnisnya harus bagus dan kinerjanya konsisten dalam jangka panjang. Saya tidak menginginkan saham yang saya miliki memberikan dividen namun di tahun-tahun mendatang mengalami kesulitan usaha sehingga kesulitan untuk membayar dividen.
  2. Konsisten dalam membagikan dividen. Kita akan membahas poin ini setelahnya.
  3. Dividend yield yang tinggi. Dividend yield adalah perbandingan antara dividend per share dengan harga saham. Jika DPS 20 rupiah dengan harga saham 1,000 rupiah per lembar, artinya dividend yield saham tersebut adalah 2%.
  4. Pilih emiten yang bisnisnya cukup mature namun masih ada potensi untuk tumbuh. Yang dimaksud dengan mature adalah telah memilki market share yang cukup besar serta stabil bisnisnya. Walaupun begitu, kita sebaiknya memilih emiten yang masih bisa tumbuh. Dengan demikian pokok investasi kita terus tumbuh dan bisa melawan inflasi.
  5. Secara pribadi saya tidak memilih saham-saham komoditas/cyclical yang kinerjanya sangat dipengaruhi oleh siklus ekonomi. Di masa pensiun kita mengharapkan pendapatan yang stabil. Hal tersebut sulit kita peroleh dari emiten-emiten berbasis komoditas.
  6. Pilih saham-saham dengan dividend payout ratio (DPR) yang tidak terlalu tinggi.DPR adalah perbandingan antara dividen dengan laba bersih. Jika DPR terlalu tinggi, manakala labanya turun perusahaan akan cenderung mengurangi dividen yang dibagikan.
  7. Selalu perhatikan cash flow dan posisi cash perusahaan. Bagaimanapun juga dividen dibayarkan menggunakan cash. Jika cash flow perusahaan tidak begitu baik atau sering kekurangan cash, kita harus waspada. Salah satu hal yang paling sering dihilangkan dalam kondisi itu adalah dividen.

Berbicara tentang dividen, cara paling mudah adalah melirik saham-saham BUMN/BUMD. Pemerintah membutuhkan dividen untuk membiayai APBN sehingga kemungkinan kecil BUMN tidak membagikan dividen. Tentunya hal tersebut tidak berlaku jika usahanya masih mengalami kerugian. Oleh karena itulah pendalaman terhadap prospek bisnisnya harus tetap dilakukan. BUMN yang bisa kita lirik antara lain BBNI, BMRI, TLKM, SMGR, KAEF, JSMR dan lain-lain.

Selain saham BUMN, kita juga bisa memantau saham-saham yang masuk ke dalam kategori Blue Chip seperti INDF, ICBP, KLBF, UNVR, MYOR, INTP, ASII, dsb.

Pada umumnya dividend yield berkisar antara 2-5%. Relatif kecil memang, terutama apabila dibandingkan dengan obligasi/sukuk yang bisa memberikan yield 7-8%. Namun ada hal yang menjadi keunggulan saham yaitu harganya yang cenderung naik seiring pertumbuhan bisnisnya. Jika bisnisnya terus tumbuh, demikian pula dividennya. Dengan demikian dividen yang kita dapatkan akan terus tumbuh.

Posted in Basic Investing | Tagged | Leave a comment